KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 37


__ADS_3

Part 37


"Sayang! Lala!" teriak Kana yang memasuki rumahnya.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Tentu saja Kaila ada dirumah, malam ini.


'Ceklek!'


Kaila keluar dari kamarnya dan tersenyum pada suaminya. "Baru pulang, sayang?"


Kana mengangguk, mengerucutkan bibirnya dan langsung memeluk istrinya dengan manja.


"Tadi lagi ramai pasien. Jadi aku gak bisa pulang cepet." Kana menghela napas. "Dua belas jam gak liat kamu, aku jadi kangen. Apalagi sama Kala," ucap Kana seraya mengusap perut istrinya.


Kaila terkekeh dan menatap perutnya. "Lihat, Kala. Papamu makin manja."


Kana tersenyum dan mendekat ke perut Kaila. "Kamu cepet besar dong, nak. Biar cepet keluar terus kita main bareng."


Kaila tersenyum dan mengusap wajah Kana. "Iya, sayang. Kala pasti cepet besar."


Kana terkekeh dan berdiri tegap. "Oh ya, tadi aku beliin kamu martabak." Kana berjalan menuju meja dan mengambil martabak yang telah ia beli tadi.


Kaila terkekeh dan meraih martabak itu. "Asik, dari pagi aku dapet makanan mulu."


Kana tersenyum lebar. "Oh ya?"


Kaila mengangguk. "Tadi pagi-pagi Elsa dateng bawa brownies, terus Bima dateng bawa bubur. Siangnya, Kiara dateng bawa seblak. Eh, malem-malem dapet martabak."


Kana terkekeh dan mengacak rambut Kaila gemas. "Itu artinya, mereka semua sayang sama kamu. Kamu harus bersyukur karena banyak yang sayang sama kamu."


Kaila mengangguk. "Aku bener-bener bersyukur." Kaila terkekeh dan membuka martabak di tangannya. "Makan di ruang tengah yuk?"


Kana mengangguk dan mengikuti langkah istrinya menuju ruang tengah.


Sesampainya diruang tengah, Kaila segera membuka martabak itu dan mengambilnya.


"Wah, rasa anggur!" seru Kaila.


Wanita itu memang amat menyukai selai anggur. Maka tak heran jika ia begitu senang saat mengetahui martabak yang Kana bawa berisi selai anggur.


Kana tersenyum melihat Kaila yang memakan martabak itu dengan lahap.


Merasa di perhatikan, Kaila pun menoleh. "Kok cuma ngeliatin? Ayo dong, ikut makan."


Kana tersenyum dan mengangguk. Meraih martabak itu dan melahapnya.


"Kamu tahu gak filosofi martabak?"


Kaila menggeleng.


"Mau aku ceritain?" tanya Kana.


Kaila mengangguk. "Mau. Tapi, sambil tidur gimana?"


Kana mengangguk setuju.


"Yeay! Yaudah, kamu ganti baju dulu aja. Aku tunggu dikamar."


Kana mengangguk lalu mengecup pipi Kaila sebelum istrinya masuk ke kamar.


Kana berjalan menuju kamar sebelah yang biasa ia gunakan untuk meletakkan semua barang-barang kedokterannya serta pakaian yang ia gunakan untuk berdinas.


Setelah mandi dan berganti pakaian tidur, Kana masuk ke kamar tidur dan menghampiri istrinya yang tengah tertidur pulas.


Kana terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Katanya nungguin, malah ditinggal tidur."


Kana tersenyum dan naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


"Kaila lucu kalau lagi tidur," ucap Kana yang tengah memperhatikan istrinya tidur dengan mulut terbuka.


Kana meraih ponselnya, lalu memotret moment langka yang jarang ia temui. Sebab, selama ini selalu Kana dahulu yang tidur lebih dulu. Jadi tak heran jika Kana tertawa melihat istrinya yang tidur dengan mulut terbuka lebar.


"Tapi tetep cantik kok." Kana tersenyum dan mengecup kening istrinya.


"Eeeh—" Kaila meregangkan tubuhnya dengan membuka matanya.


Wanita itu bangun lagi dan menatap suaminya dengan rasa kantuk.


"Kamu udah ganti baju?" ucap Kana dengan mata sayu.


Kana tersenyum dan memeluk istrinya. "Iya, sayang."


"Jadi cerita?" tanya Kaila dengan kembali menguap.


Kana terkekeh dan menarik selimut untuk menyelimuti istrinya. "Lain kali aja. Kamu lanjutin tidur gih. Udah malem."


Kaila mengangguk, memiringkan tubuhnya menghadap Kana dan memeluk lelaki itu.


Melihat Kaila sepert ini, membuat Kana gemas. Ia membalas pelukan istrinya dan menepuk pelan punggung istrinya.


"Ush! Ush! Ush! Tidur ya sayang." Kana memejamkan mata dan tertidur dalam pelukan cinta.


-o0o-


'Ck!'


Bima berdecak dan membalikan tubuhnya kesana kemari.


Lelaki itu belum bisa tertidur.


Ia bangkit dari tidurnya dan menyandarkan tubuh ke beberapa tumpukan bantal.


"Kenapa sih, gue jadi gak tenang gini?" Ia menghela napas dan membuka aplikasi WhatsApp miliknya.


Mencari nama Siska dan menekan tombol ditelepon disana.


'Tuttt! Tutt!'


Bima berdecak. "Memanggil, lagi. Apa dia udah tidur ya?"


Bima mengembalikan layarnya dan menekan beberapa huruf alfabet disana.


'Ck!'


Bima berdecak. "Ceklis lagi. Gak tahu apa gue lagi mikirin dia?"


Bima melemparkan sembarang ponselnya, menarik selimut dan menutupi semua tubuhnya.


-o0o-


"Kenapa sih, Ka?" tanya Ibunda Siska yang bingung melihat tingkah putrinya bolak balik di depan kamar.


Siska menghela napas dan menoleh. "Siska kepikiran Bima, Ma."


"Bima?"

__ADS_1


Siska mengangguk.


"Ya kalau kepikiran, telpon aja lah."


Siska menghela napas dan mengusap wajahnya gusar. "Kalau gak gengsi, udah Siska telpon dari tadi, Ma. Cuma, Siska udah terlanjur malu sama Bima. Siska udah nyatain perasaan Siska secara langsung ke Bima."


Ibunya melebarkan mata dan tersenyum. "Terus-terus? Apa respon dia? Dia suka juga sama kamu?"


Siska tersenyum tipis. "Untuk sekarang belum, Ma. Tapi dia bakal berusaha untuk mencintai Siska." Siska menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di dinding. "Ternyata mencintai secara sepihak sesedih itu ya, Ma?"


Ibunya menggeleng. "Enggak, sayang. Menurut Mama, itu malah seru. Unik— dan asik." Ibunya mengangguk dan menatap Siska. "Mencintai secara sepihak itu menurut Mama suatu tantangan. Dimana, kita harus melangkah untuk mengambil hatinya. Mengambil langkah yang bahkan kita gak tahu akhirannya. Seperti kamu yang sering bikin eksperimen. Begitulah cinta sepihak, kadang terasa seperti eksperimen yang kita gak tahu hasilnya seperti apa."


Siska tersenyum dan mengangguk. "Mama bener."


Ibunya mengangguk dan mengusap pucuk kepala putrinya. "Tetap semangat mengambil hati Bima. Saat kamu melangkah, kesempatan itu terbuka lebar."


Siska tersenyum dan memeluk Ibunya. "Makasih ya, Ma. Mama udah dukung Siska."


"Tentu, sayang! Mama akan selalu mendukung kamu selagi itu membuat kamu bahagia."


Siska terkekeh dan mengecup pipi ibunya. "Siska masuk kamar dulu ya?" ucapnya dan berjalan masuk ke dalam.


Sesampainya di kamar, Siska langsung meraih ponselnya. Menghidupkan data seluler dan melihat semua riwayat panggilan tak terjawab yang masuk padanya.


Siska mengerutkan dahinya. "Bima abis nelpon aku?"


Ia tersenyum dan menekan tombol telepon di sebelah profil Bima.


-o0o-


'Klonteng! Klonteng!'


Aji terbangun dari tidur. Ia menyentuh kasur di sebelahnya dengan sedikit memukul pelan.


Matanya melebar saat istrinya tak ada di sebelahnya.


"Kemana Keiza?"


Aji segera bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar lalu menuju dapur yang berada di Villanya.


Malam ini, ia dan Keiza sudah berada di Villa di daerah Bandung. Villa ini adalah Villa milik keluarganya. Sehingga, Aji memutuskan untuk berbulan madu disini.


Awalnya keluarganya menyuruh mereka untuk berbulan madu ke luar Negeri. Namun keduanya menolak. Menurut mereka. Bandung adalah pilihan terbaik. Selain dekat, suhunya juga tepat.


"Jadi biar pelukan terus. 'Kan dingin," jawabnya jika ditanya alasan memilih Villa ini untuk tempat bulan madu.


Aji melangkahkan kakinya menuju dapur. Laki-laki itu terhenti saat melihat istrinya tengah memasak.


Aji terkekeh dan mendudukan dirinya di kursi. "Masak apa sih, sayang?"


"Astagfirullah!" teriak Keiza yang terkejut dengan kehadiran Aji.


Aji terkekeh.


"Kamu ini, dateng gak manggil-manggil, tahu-tahu ada dibelakang," gerutu Keiza dengan kesal.


Aji tertawa kecil. "Aku tadi udah manggilin kamu, tapi kamu gak denger."


"Iya, manggil dalam hati," ucap Keiza membuat Aji terkekeh.


"Memang kamu lagi masak apa sih malem-malem gini?" tanya Aji penasaran lalu melihat makanan yang masih berada di wajan.


Keiza menyengir kuda. "Aku laper tengah malem. Buka kulkas ada kwetiaw. Aku masak aja deh."


Aji tersenyum. "Yaudah, aku ambilin dipiring juga ya?"


Keiza berjalan menuju rak dan mengambil dua piring disana.


"Aku buatnya agak pedes, yang," ujar Keiza.


Aji mengangguk. "Gak papa. Paling nanti aku kenyang minum," ucap Aji membuat Keiza terkekeh.


"Ish, malem-malem masih sempetnya aja ngelawak."


Aji terkekeh dan mengetuk-ketukan jemarinya di meja, tak sabar menunggu kwetiaw goreng buatan istrinya datang.


"Silahkan!" ucap Keiza lalu meraih krupuk yang berada di atas meja.


"Ini apa sih?" ucap Keiza mengambil bungkusan yang belum terlihat isinya apa.


"Itu basreng. Tadi tetangga sebelah yang kasih. Enak katanya."


Keiza membulatkan bibirnya. "Jadi ini basreng yang kaya di Jakarta itu 'kan?"


Aji mengangguk.


"Bedanya ini yang beneran?" Keiza menaikkan kedua alisnya.


Aji tertawa. "Ya yang itu juga beneran, atuh."


Keiza tertawa. "Maksudnya yang ini asli yang buat urang Bandung?"


Aji mengangguk. "Tetangga sendiri malah yang buat."


Keiza terkekeh dan langsung melahap basreng itu. "Eumm—"


"Kenapa?" tanya Aji penasaran.


"Enak banget! Gak bohong. Jujur enak banget. Kaila suka banget kayanya sama ini," ucap Keiza sembari melihat jajanan itu.


Aji terkekeh. "Tapi banyak micinnya."


Keiza mengangguk. "Tapi gak papalah. Selagi gak over ini makannya."


Aji mengangguk dan langsung melahap kwetiaw yang berada di depannya.


Keiza memperhatikan suaminay yang tengah asik melahap makanan buatannya. "Enak?"


Aji mengangguk. "Gak terlalu pedes kok."


Keiza tersenyum dan menyandarkan dagunya dengan lengan lalu menatap suaminya dengan senyuman hangat.


Aji mengerutkan dahinya. "Kenapa sih, yang?"


Keiza terkekeh dan menggeleng. "Aku lagi bayangin kalau program hamil kita berhasil."


Aji tersenyum. "Yaudah, makanya makan dulu kwetiawnya. Nanti kita buat baby lagi."


Keiza mengerucutkan bibirnya. "Baru juga tadi buat."


"Buat lagi, sampai berhasil!" ucap Aji yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.


"Aw! Aw! Sakit sayang," lirih Aji.


Keiza tertawa kecil. "Abisnya ngeselin."

__ADS_1


"Ngeselin tapi kamu juga pengen 'kan?"


"Ah, Aji! Jangan nyebelin ah!" ucap Keiza kesal lalu melahap kwetiaw buatannya.


-o0o-


'Tringgg!'


Suara alarm berbunyi.


Kaila membuka matanya dan meraih jam weker di nakas.


Ia membuka perlahan matanya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


Kaila melebarkan mata. Ia menoleh ke samping dan melihat Kana masih tertidur pulas.


Namun, wajah Kana terlihat pucat dan lelah.


Kaila meletakkan punggung tangannya di dahi Kana.


"Astaga, panas banget!" ucap Kaila.


"Na, Na, Nana," lirih Kaila memanggil suaminya agak bangun.


Kana terlihat menggigil. Ia membuka mata dan menarik tangan Kaila.


"Badan kamu panas, aku kompres ya?" ucap Kaila. "Obat penurun panas ada dimana? Biar aku ambilin."


Kana menggeleng. Ia menarik tangan Kaila dan juga tubuhnya.


"Gak perlu. Aku mau gini aja," ucap Kana sembari memeluk tubuh istrinya.


"Tapi badan kamu—"


Kana menutup bibir Kaila dengan ujung jarinya. "Biarin gini aja. Ini nyaman banget," ucap Kana lalu mengeratkan pelukannya.


Kaila tersenyum. Ia harap, pelukan ini dapat menurunkan panas Kana.


Kaila menghala napas dan menatap wajah suaminya yang memejamkan mata. "Kayanya kamu kecapean karena kemarin. Kemarin kamu berangkat dari jam delapan dan pulang jam delapan. Pasti kamu capek banget."


Kana mengangguk. "Tapi capeknya kebayar sama pelukan kamu."


Kaila tersenyum dan mencium bibir Kana membuat laki-kaki itu tersenyum meskipun dengan mata terpejam.


-o0o-


Setelah memeluk Kana lama dan membiarkan lelaki itu tidur kembali, Kaila pun menjalankan aksinya.


Wanita berusia dua puluh enam tahun itu terlihat tengah memasak bubur untuk suaminya.


Setelah meninggalkan Kana dalam keadaan dahi di kompres, Kaila mengambil semua bahan masak yang berada di kulkas.


Ia terlihat telaten di dapur. Sebab, sejak dulu dia memang perempuan mandiri, terlebih setelah terpisahnya ia dengan orangtua serta kakak dan adiknya dulu semasa kecil.


Setelah bubur dirasa matang, Kaila segera mengambil mangkuk berukuran sedang dan menuang bubur ke dalam mangkuk tersebut.


Tak lupa, ia mengambil segelas susu yang sudah ia siapkan dan ia bawa ke kamar beserta bubur tadi.


"Sayang!" terus Kaila yang melihat Kana masih tertidur.


Kaila tersenyum dan menoleh pada ponselnya.


Disana, terlihat notifikasi pesan masuk dari Kevin.


Kevin : Iya, Kai. Gak papa. Semoga Kana cepet sembuh ya.


Kaila tersenyum.


Sebelumnya, Kaila mengirimkan pesan kepada Kevin dan memberitahu jika Kana tak bisa berangkat ke klinik karena demam.


Kaila tersenyum lega dan meletakkan bubur beserta susu tadi ke atas nakas. Lalu mendekat pada suaminya.


"Sayang," lirih Kaila sembari menyenggol tubuh suaminya.


Kana belum terbangun.


"Sayang, bangun gih," lirih Kaila.


Kana mengangguk. Membuka matanya perlahan dan menatap istrinya dengan tatapan sayu.


"Sarapan ya? Aku udah masakin bubur buat kamu," lirih Kaila.


Kana mengangguk. "Mau."


Kaila tersenyum dan segera mengambil mangkuk tadi. Mengambil bubur dengan sendok dan menyuapkannya ke dalam mulut Kana.


Kana melahap bubur itu membuat Kaila tersenyum lega.


"Makan yang banyak ya? Supaya fit lagi."


Kana mengangguk dengan senyuman. "Kamu juga ikut makan. Jangan aku aja."


Kaila terkekeh. "Iya, sayang. Tenang aja. Aku juga ikut makan kok." Kaila mengambil sesendok bubur dan memasukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya. "Tuh 'kan?" ucap Kaila dengan mulut yang penuh.


Kana terkekeh dan mengusap punggung Kaila.


"Makan lagi ya? Abis ini minum susu," ucap Kaila dan menyuapkan kembali bubur tersebut.


Setelah menghabiskan setengah mangkuk bubur, di sertai dengan segelas susu. Kana mencoba bangun dan menggerakan tubuhnya.


Kaila yang baru dari dapur dan kembali ke kamar terkejut melihat Kana tak ada.


Wanita itu berlari turun dan melihat Kana tengah berjalan di pinggir kolam.


Kaila menghela napas lega. "Aku kira kamu kemana."


Kana terkekeh. "Aku lagi gerakin badan biar gak lemes. Karena kalau kita sakit, jangan di nikmati. Nanti penyakitnya kesenengan."


Kaila tertawa. Namun benar apa yang Kana katakan.


Kaila tersenyum dan ikut menggerakkan tubuhnya.


"Sayang," lirih Kana.


Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


"Karaokean yuk!"


Kaila melebarkan mata. "Karaokean?"


Kana mengangguk. "Ini hari minggu 'kan?"


Kaila mengangguk. Tak biasanya Kana mengajaknya karaokean. "Kamu serius, yang?"


Kana tertawa, mendekat dan menarik lengan istrinya untuk bersiap.

__ADS_1


"Tumben-tumbennya," lirih Kaila di sertai gelengan kepala.


-o0o-


__ADS_2