KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 48


__ADS_3

Part 48


Semester baru telah dimulai.


Kana melangkah memasuki kelas dan berjalan menuju mejanya.



Pagi ini, kelas sudah dipenuhi dengan teman satu kelasnya. Mata Kana mengitari ruangan tersebut, namun— tak juga melihat Kaila disana.



Kana menghela napas dan menjatuhkan tasnya ke meja.



"Kana."



Kana menghela napas dan menoleh ke belakang. "Ada apa?"



Gisele menyunggingkan senyumnya. "Gimana Kaila? Udah di Jogja?"



Kana tak menjawab. Ia kembali menatap ke arah depan lalu menyumpalkan earphone ke telinga. Menguatkan volume dan terhanyut dengan suara musik di dalamnya.



"Gisele, lo dicariin orang tuh di depan, katanya mau nangih arisan," ucap salah seorang teman pada Gisele.



Gisele berdecak lalu bangkit dari kursinya. "Kana, gue keluar dulu ya?" ucap Gisele pada Kana lalu berjalan keluar menemui seseorang yang waktu itu pernah menemuinya di kosan.



Melihat Gisele pergi. Kana bernapas lega. Sepertinya, racun Gisele tak mempan pada dirinya. Cintanya terhadap Kaila begitu besar, hingga mengalahkan pengaruh Gisele yang mencoba memisahkannya dengan Kaila.



"Kana!"



"Kan! Kana!"



Kana menoleh ke arah pintu dan melihat Kevin bersama dengan Wilka berlari menghampirinya.



"Kan, penting!" ucap Wilka seraya mengatur napasnya.



Kana mengerutkan dahinya. "Kenapa?"



"Kak Keiza! Dia ada dikelasnya tadi," ucap Wilka membuat Kana melebarkan mata.



"Keiza ada disini?"



Kevin mengangguk. "Tadi kita berdua kesana buat ketemu Flero dan kita gak sengaja lihat Keiza disana."



"Yaudah ayo kesana!" ucap Kana pada keduanya.



Kana melangkah lebih dulu. Ia ingin segera bertemu dengan Keiza dan menanyakan soal Kaila.



"Kana, mau kemana?" tanya Gisele yang melihat Kana di depan dan hendak pergi.



Kana tak merespon, ia mempercepat langkahnya menuju kelas Keiza.



"Kan, tungguin, Kan!" teriak Wilka dan juga Kevin.



Kana memperlambat langkahnya menunggu kedua temannya itu.



"Ayo!" ucap Wilka.



Keduanya mengangguk dan melangkah bersama menuju kelas Keiza.



Kini kelas Keiza berada di depan mereka, ketiganya melangkah masuk tanpa mempedulikan mereka\-mereka yang merupakan kakak tingkat ketiganya.



"Kak Kei!" ucap Kana membuat gadis bernama Keiza itu menoleh.



"Kana?"



"Dimana Kaila?" ucap Kana tanpa berbasa\-basi.



Keiza terdiam. Ia bangkit dari duduknya dan mengajak ketiganya keluar dari kelas.



"Kak, jelasin," ucap Kana saat keduanya sudah berada di depan kelas.



Keiza mengangguk dan menunduk. Menghela napas lalu memandang wajah Kana. "Kaila pergi."



Kevin dan Wilka melebarkan mata. "Pergi?"



Keiza mengangguk.



"Maksudnya?" ucap Kana tak mengerti.

__ADS_1



Keiza menghela napas. "Kaila kecewa sama lo, Kan."


"Ma—maksudnya?" tanya Kana yang masih tak mengerti.



Keiza melipat kedua lengannya di depan dada. "Kemarin gue sama Kaila sampai di Indonesia." Keiza mengangguk. "Kita memang gak bisa ngehubungin lo sama sekali, karena hp kita sekeluarga di rampok di Jerman. Gue juga gak tahu kenapa akun sosial media kita menghilang gitu aja, mungkin semua itu ulah perampok yang udah bawa handphone kita."



Kana mengangguk. "Terus gimana Kaila bisa kecewa sama gue?"



Kemarin Kaila udah coba nelpon lo pakai nomor barunya, tapi lo gak angkat sama sekali.



Kana menutup mulutnya. Ia baru inget sejak kemarin ada nomor baru yang menelponnya. Namun tak pernah ia angkat.



"Dan kemarin, Kaila tiba\-tiba keinget masa kecilnya. Dia baru inget kalau ternyata lo adalah cucu dari tetangga dia dulu. Nek Iva."



Kana mengangguk membenarkan.



"Gue gak tahu kebetulan atau apa, dia liat lo dirumah lama kami. Dan lo—"



"Gue sama Gisele?" tanya Kana.



Keiza mengangguk. "Lo lagi pelukan sama Gisele."



Kana menepuk dahinya. "Astaga! Gue gak meluk Gisele!"



"Tapi Kaila liat secara langsung, Kan! Dia aja moto itu dan nunjukin ke gue," ucap Keiza.



"Dan lo juga percaya?" tanya Kana.



Keiza mengangguk. "Gue percaya karena dia adik gue."


"Tapi itu gak bener, Kak. Gue memang lagi sama Gisele saat itu. Tapi itu Gisele yang nyamperin gue."



"Lo terlambat, Kan. Percuma lo jelasin ke gue pun percuma. Kaila udah pergi," ucap Keiza.



"Tapi kenapa Kak? Kenapa Kaila langsung pergi aja? Kenapa dia gak dengerin penjelasan Kana dulu?" ucap Wilka yang di angguki dengan Kevin.



Kaila menggigit bibir bawahnya. Lalu menceritakan semuanya.



"Jadi saat itu.....





"Ma," lirih Kaila memeluk Nabila.*




Nabila tersenyum dan mengusap kepala Kaila. "Jangan nangis, nak."*




Kaila mengangguk dan mengusap air matanya. *




Nabila tersenyum lalu memandang putra dan putrinya satu persatu. "Mama senang kita berempat kumpul kaya gini. Mama senang sekali."*




Keiza mengangguk dan tersenyum.*




"Makasih ya Kirana, kamu udah kembali sama Mama."*




Keiza mengangguk. "Iya, Ma."*




Nabila tersenyum. "Mama pengen bilang sesuatu sama kalian berempat."*




"Apa itu, Ma?" tanya Bima penasaran, begitupun yang lainnya.*




Nabila menunduk lalu menatap keempatnya. "Mama pengen kita berlima, memulai hidup baru disini. Kita lupain semua masalah yang ada di Indonesia, dan kita mulai semuanya di Jerman."*




Kaila terdiam. Begitupun dengan Keiza.*


__ADS_1



"Tapi Ma, gimana sama kuliah kita?" tanya Kaila akhirnya.*




Nabila menoleh. "Kamu baru selesai satu semester 'kan?" tanyanya.*




Kaila mengangguk.*




"Kamu lanjutin kuliah kamu disini ya?"*




"Terus Kak Kirana, Ma? Dia 'kan tinggal beberapa semester lagi kelar," ucapnya.*




Nabila mengangguk. "Keiza gak papa selesain kuliahnya dulu, baru dia balik ke sini lagi. Kalau Kaila 'kan baru masuk, jadi gak ada kata terlambat buat kamu mulai kuliah baru disini."*




Kaila terdiam. Gadis itu mundur beberapa langkah. Jelas saja ia memikirkan Kana. *




"Ma, apa ini gak terkesan mendadak?" tanya Keiza.*




Nabila menggeleng. "Mama udah pikirin ini secara matang-matang, nak. Dan soal rumah dan kebutuhan lain, Mama ada tabungan. Kita bisa gunain itu untuk beberapa tahun ke depan."*




Keiza menoleh pada Kaila. *




Ada rasa berat di antara keduanya.*




Melihat hal itu, Bima bisa merasakan. Jelas Bima tahu apa yang Kaila dan Keiza rasakan. Kedua gadis itu memikirkan orang terkasihnya di Indonesia.*




Bima berjalan menghampiri Nabila. "Ma, disini 'kan ada Bima. Gak papa ya kalau Kak Keiza sama Kaila selesain dulu kuliah mereka di Indonesia. Lagipula disini masih ada Kiara juga."*




Kiara mengangguk. "Iya, Ma. Kalau Mama mau tinggal disini, 'kan ada Kak Bima sama Kiara. Jadi biarin Kak Kei sama Kak Kai selesain dulu kuliahnya sampai jadi Dokter, terus kesini lagi mulai hidup baru."*




Nabila menoleh pada kedua putrinya secara bergantian. "Kalian yakin?"*




Kaila mengangguk. "Iya, Ma. Kita berdua janji, setelah kuliah kita selesai, kita bakal balik ke Jerman."*




Nabila mengangguk dan tersenyum. "Yaudah, Mama izinin kalian buat pulang ke Indonesia."*




Kaila dan Keiza tersenyum.*


Keiza menghela napas. "Jadi gitu," ucap Keiza setelah menjelaskan semuanya pada Kana dan kedua teman lainnya. "Kaila kekeuh buat kembali ke Indonesia karena Kana. Tapi setelah Kaila liat lo sama Gisele, dia mutusin buat kembali ke Jerman dan mulai kehidupan baru disana."



Kana mengusap wajahnya gusar. "Gak bisa dibiarin!" teriak Kana dan berlari pergi.



"Kana!" teriak Kevin dan juga Wilka yang melihat Kana berlari pergi.



Keiza menghela napasnya. Lalu meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.




-o0o-


'Drrttt!'


Ponsel bergetar. Kaila meraih ponselnya dan membuka aplikasi whatsapp miliknya.


Kak Keiza : Kana udah tahu.


Kaila menghela napas panjang lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"PERHATIAN! PERHATIAN! PARA PENUMPANG PESAWAT INDONESIA DENGAN NOMOR PENERBANGAN PI148 DENGAN TUJUAN JERMAN DI PERSILAHKAN NAIK KE PESAWAT UDARA MELALUI PINTU NOMOR SATU."


Kaila meraih kopernya dan melangkah pergi.


"Apapun alasan lo, maafin gue Kan, gue harus pergi."


-o0o-


a/n :


I'm sorry guys. Ini keinginan Kaila buat pergi. Jadi jangan demo ke authornya ya wkwk

__ADS_1


Kita berdoa aja yang terbaik buat hubungan keduanya. ^^


__ADS_2