KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 3


__ADS_3

Part 3


Kaila menatap dirinya di cermin. Mengambil sebuah lipstick dan ia kenakan pada bibirnya yang mungil. Meraih tas berwarna cokelat dan ia padukan dengan tubuhnya yang sudah terlihat cantik dengan gaun berwarna merah muda.


Ia meraih sepatu yang baru saja ia beli tadi dan dikenakannya.


Gadis itu menoleh pada koper yang masih berdiri di dekat lemari.


"Lupa mau balikin," ucapnya dengan kekehan.


Benar, ia memang belum menukarkan koper itu. Karena itulah Kaila membeli baju dan sepatu baru untuk ia kenakan di makan malam bersama Kana hari ini.


"Biarin aja deh, biar masih ada waktu buat lama-lama sama dia," ucap Kaila lalu berjalan meninggalkan kamar hotelnya tersebut.


Kaila mengunci pintu dan berjalan menyusuri koridor.


"Permisi," ucap Kaila saat melewati beberapa orang yang tengah mengobrol.


"Bentar deh, itu Kaila bukan sih?"


Kaila refleks menoleh sedikit saat namanya di sebut.


"Kaila siapa?"


"Kaila designer terkenal yang tinggal di Jerman itu."


Kaila tersenyum tipis. Ternyata ada yang mengenalinya disini.


"Kaila! Kaila!" teriak orang-orang itu membuat Kaila menghentikan langkahnya.


Wanita itu menoleh dan tersenyum pada beberapa orang yang menghampirinya.


"Iya?" Kaila menaikkan kedua alisnya.


"Nah 'kan bener, Kaila!"


Kaila tersenyum lebar.


"Kamu di Indonesia sekarang? Kamu beneran Kaila yang designer asal Jerman itu 'kan?" tanya orang-orang itu.


Kaila mengangguk. "Iya, betul."


"Wah, kamu ada project di sini?" tanya orang itu kembali.


Kaila menggeleng dengan senyuman. "Cuma pengen liburan dan nemuin keluarga disini."


Orang-orang itu bertepuk tangan. "Kamu hebat banget! Kamu tahu gak sih? Aku itu salah satu pengemar kamu. Aku sampai beli baju yang waktu model kamu pakai di Fashion Show di Jerman tahun kemarin."


Kaila melebarkan mata. "Oh ya?"


Orang itu mengangguk. "Gaun desain kamu bener-bener bagus! Oh ya, aku boleh minta nomor kamu? Siapa tahu kamu bisa bantu aku untuk ngedesain gaun pernikahan aku."


Kaila mengangguk. "Dengan senang hati."


"Beneran?"


Kaila mengangguk dan tersenyum.


"Oke, oke, sebelum itu aku mau foto sama kamu ya? Aku mau nunjukin ke calon suami aku dulu kalau aku ketemu sama desaigner favoritku."


Kaila tersenyum dan membiarkan orang itu mengambil foto dengannya.

__ADS_1


Setelah melayani beberapa orang itu. Kaila pun kembali berjalan pergi dan menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas.


Tujuannya kali ini adalah Kafe yang berada sembilan ratus meter dari sini atau lebih tepatnya berdekatan dengan sekolahnya dulu. Sekolah yang mempertemukan Kaila dengan Kana.


Jika diingat lebih lama, sekolah itu juga yang mempertemukan Alina dengan Kavin. Hanya saat itu Kavinlah yang menjadi murid baru di sekolah Alina, sedangkan kisah ini Kaila-lah yang menjadi murid baru disekolah Kana.


"Udah sampai, Mbak."


Kaila tersenyum dan menyerahkan dua lembar uang kertas pada supir taksi itu.


Wanita itu turun dan melangkah memasuki kafe. Suasana kafe malam ini cukup sepi. Bahkan tak ada seorang pengunjung pun yang datang.


"Maaf, ini kafenya buka 'kan?" tanya Kaila pada seorang pelayan yang menghampirinya.


Pelayan itu mengangguk dan tersenyum. "Kafe ini sudah di sewa Dokter Kana untuk makan malam."


Kaila cukup terkejut. Gadis itu refleks membuka mulutnya. Niat sekali Kana, sampai-sampai menyewa sebuah kafe hanya untuk makan malam dengannya.


"Sebentar lagi Dokter Kana datang. Silahkan duduk," ucap pelayan itu lalu pergi.


Kaila mengangguk dan duduk di kursi di belakangnya. Wanita itu menoleh pada sekitar. Ia juga baru menyadari kursi-kursi lain yang biasa tertata tak ada. Hanya ada dua kursi yang mungkin saja untuknya dan juga untuk Kana.


'Ting!'


Suara bel berbunyi saat seseorang masuk ke dalam. Kaila refleks menoleh ke arah pintu dan melihat laki-laki yang ia tunggu sudah berjalan menghampirinya.


Jantung Kaila berdegub kencang saat Kana berdiri tepat di depannya.


"Boleh aku duduk?"


Kaila mengangguk gugub. Matanya berfokus pada laki-laki di depannya yang terlihat rapih menggunakan jas berwarna hitam dengan rambut yang tertata rapih bak seorang pangeran.


Tanpa Kaila sadari, wanita itu bahkan hampir 'melongo' saat Kana tersenyum manis ke arahnya. Betul saja Kaila terpana. Lagipula wanita mana yang tak terpana dengan ketampanan yang Kana miliki.


Keluarga itu memang memiliki paras yang tampan dan juga cantik.


"Kamu udah dari tadi?" tanya Kana membuat Kaila tersadar.


Kaila menggeleng. "Enggak, kok. Barusan aja dateng."


Kana mengangguk dan mendudukkan dirinya di hadapan Kaila. Dan kali ini, Kana-lah yang terpana dengan kecantikan Kaila.


"Kana."


Kana refleks tersadar lalu tersenyum. "Kamu cantik banget."


Kaila tersipu malu. "Kamu juga."


Kana menaikkan kedua alisnya. "Aku juga cantik?"


Pipi Kaila refleks memerah. "Bukan— bukan cantik."


"Terus? Apa?"


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Eum— itu—"


"Itu apa?"


"Ah, udahlah!" ucap Kaila mencoba menghentikan obrolan ini.


Kana tertawa. "Bilang aja aku ganteng."

__ADS_1


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Gitu deh!"


Kana tertawa, lalu menatap Kaila dengan lekat.


Sadar akan tatapan Kana, Kaila pun membuang tatapannya ke arah lain. Jantungnya benar-benar berdegub kencang akan hal ini. Ia tak sanggup lagi.


"Permisi."


Keduanya reflek menoleh ke arah yang sama saat seorang pelayan datang.


"Apa bisa saya antarkan sekarang makanannya, Dok?" tanya pelayan itu.


Kana mengangguk setuju. "Silahkan."


Pelayan itu mengangguk lalu menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya pada pelayan lain yang sudah siap dengan makanan yang mereka bawa.


Kaila menatap takjub saat pelayan-pelayan itu menaruh makanan yang Kana pesan ke atas meja.


"Kamu pesan sebanyak ini?" tanya Kaila.


Kana mengangguk. "Aku pesan semua makanan dan minuman best seller disini."


Kaila tersenyum dan mengangguk, lalu menatap Kana dengan lekat. "Aku bangga sama kamu, Na."


Kana menaikkan kedua alisnya. "Bangga karena?"


"Kamu udah berhasil jadi dokter yang hebat!"


Kana tersenyum lebar. Laki-laki itu senang dengan pujian yang Kaila berikan. "Kamu juga Dokter yang hebat, La."


Kaila tersenyum miris dan menggeleng. "Aku gagal jadi dokter."


Kana langsung terdiam begitu mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kaila. "Maksud kamu?"


Kaila menghela napas dan tersenyum. "Aku gak bisa nerusin mimpi itu."


Kana tersenyum dan menggenggam tangan Kaila. "Gak papa. Meskipun kamu gak jadi dokter sekalipun, kamu tetap penyembuh kerinduan aku."


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Kamu tahu? Setelah aku merelakan mimpi itu, tiba-tiba mimpi masa kecilku tercapai!"


Kana melebarkan mata. "Oh ya?"


Kaila mengangguk. "Fashion Designer adalah mimpiku dulu. Sebelum aku ketemu sama kamu, Na."


Kana tersenyum. "Aku seneng La, kamu bisa gapai mimpi itu."


Kaila mengangguk. "Sebenarnya alasan aku ambil jurusan itu setelah melepas mimpi buat jadi Dokter, karena aku pengen liat orang bahagia dengan karyaku. Apalagi gaun pernikahan, itu bener-bener suatu kebahagiaan buat aku ketiga seorang pengantin bisa menggunakan gaun buatanku, Na."


Kana tersenyum. "Semoga kamu juga bisa pakai gaun buatanmu dipernikahanmu ya, La."


Kaila tertawa senang lalu tersipu malu. Mendengar Kana membahas hal itu, justru membuat Kaila salah tinggah.


Tidak! Tidak!


Kana bukan membahas pernikahan dengannya. Tapi mengapa Kaila malah salah tingkah?


Kaila menghela napas, memejamkan mata dan menggeleng.


"Kamu kenapa, La?"


Kaila terdiam membeku. Wajahnya sudah memerah.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2