
Part 4
“GUE!” teriak seorang gadis membuat seisi kelas menoleh ke arahnya. “Gue siap jadi wakil dia.” Gadis itu tersenyum dan memandang Kana dengan tatapan penuh makna.
Kaila melebarkan matanya, begitupun dengan Wilka.
Wilka mendekatkan bibirnya ke telinga Gisel. “Sel, kamu gila—“
“Kenapa sih? Memang salah kalau aku daftar jadi wakil ketua? Enggak ‘kan? Terus apa masalahnya, Ka?”
“Ya gak ada masalah, cuma—”
Gisel menoleh pada Kaila. “Apa karena ketuanya punya pacar jadi aku ga bisa jadi wakil ketua?”
Wilka berdecak. “Gak usah makin ngawur sih Sel ngomongnya. Yaudah kalau kamu mau jadi wakil, gak ada yang ngelarang juga.”
Gisel tersenyum miring dan menyenderkan tubuhnya seraya melipat kedua lengannya.
Tiba-tiba suasan kelas menjadi canggung dan hening.
“Oke, temen-temen! Jadi kesimpulannya ketuanya Kana, Wakil ketua Gisel, Sekretaris Kaila, Bendara Wilka. Sekarang kita langjut ke sipend ya,” ujar Faiz.
“Sipend?” tanya Kevin mengerutkan dahinya. “Sipend apaan?”
Faiz mengangguk. “Jadi sipend itu singkatan dari seksi pendidikan. Ya, semacem asisten dosen. Tugasnya itu ngatur jadwal dosen yang masuk.”
“Oke, sip! Tulis, Kevin daftar jadi sipend! Kevin siap untuk mengatur supaya dosen gak masuk!” seru Kevin dengan percaya dirinya.
“Sipend apa dulu?” tanya Faiz.
“Lah, memang ada berapa jenis? Coba sebutin.”
“Ya sesuai mata kuliah kita.” Faiz membuka map yang berada di tangannya. “Ada Metodologi penelitian, biosains 1, ilmu kesehatan masyarakat-kedokteran pencegahan 1, biosains 2, bioetika, metodologi,terus ada mata kuliah umum juga semacem bahasa Indonesia, Pendidikan agama islam, bahasa inggris, kewarganegaraan.“
“Coba sebutin, mata kuliah utama tadi apa aja?” ujar Kevin.
“Metodologi penelitian, biosains 1—“
“Oke-oke, cukup!” Kevin berdiri “Catet! Kevin sipend mata kuliah kewarganegaraan!” serunya membuat beberapa teman sekelasnya bersorak.
“Kirain mah mau jadi sipend metodologi penelitian, gak tahunya,” umpat Kana.
“Punya temen gini amat,” umpat Wilka. “Yang satu punya niatan busuk, yang satu percaya dirinya terlalu akut.”
-o0o-
Setelah membagi struktur kelas dan beberapa sipend, mereka kembali dengan kesibukan masing-masing. Karena hari ini, dosen yang mengajar belum bisa hadir. Perkuliahan akan berjalan normal mulai hari esok.
“Kantin yuk!” seru Wilka. “Pengen lihat kantin kampus kita. Yuk Kai, yuk,” ajaknya pada Kaila.
“Boleh,” ucap Kaila.
Wilka tersenyum dan mengambil tasnya.
“Mau kemana?” tanya Gisel.
Wilka menoleh. “Kantin. Mau ikut?” tanyanya.
Gisel terdiam. Ia menoleh pada Kana yang masih duduk di kursi dan tak terlihat akan pergi. Dengan senyuman, Gisel menggeleng. “Kalian berdua aja,” ucapnya dan kembali duduk di kursinya.
“Oh yaudah,” ucap Wilka. “Ayo, Kan!” ajaknya pada Kana.
Kana mengangguk dan bangkit dari duduknya.
Wilka tersenyum miring saat melihat Gisel terlihat sebal karena Kana yang ikut dengannya dan Kaila.
__ADS_1
“Kakaikan!” teriak Kevin yang melihat ketiganya berjalan keluar. “Tungguin aku!”
“Apa Kakaikan?” tanya Kaila pada Kevin.
“Wilka, Kaila, Kana. Daripada nyebutin satu-satu, mending gabung sekalian. ‘Kan lebih efisien,” ucapnya membuat Wilka dan Kaila tertawa.
Kini keempatnya terlihat berjalan menuju kantin. Kana yang selalu berada di samping Kaila, dan Wilka yang tak lepas merangkul lengan Kaila. Terlihat sekali jika Wilka begitu senang berteman dengan Kaila.
“Kalian bisa gak si jalannya gak usaha berderet tiga-tigaan? Gak kasian apa lihat aku jalan sendiri dibelakang?” ucap Kevin sebal.
Kana menghela napas dan mundur beberapa langkah untuk mengimbangi langkah Kevin. “Puas lo?” ucapnya membuat Kevin menyengir kuda.
“Gak nyangka bisa jadi temennya Kana,” ucap Kevin dengan cengiran kudanya.
“Dih, ogah amat dah gue punya temen kaya lo!” ucap Kana mengedikkan bahu.
-o0o-
Sore ini, Aji terlihat memasukkan bukunya ke dalam tas dan menghampiri gadis yang kini tengah duduk sendiri di depan kelas.
“Adinda.”
Sang pemilik nama menoleh dan tersenyum. “Pulang sekarang?”
Aji mengangguk. “Udah jam 4 juga,” ucapnya memandang jam yang melingkar di tangannya.
“Kita mau langsung pulang atau kemana dulu?” tanya Adinda yang berjalan berdampingan dengan Aji.
“Memang kamu pengen kemana?” tanya Aji balik.
“Emmm— pengen ke ruko Oma. Aku pengen minta maaf kalau selama ini aku sering nunjukin sifatku yang gak sopan ke Oma.”
Aji tampak berpikir. “Kamu yakin mau kesana?”
Adinda mengangguk. “Aku pengen minta maaf sama orang-orang yang mungkin dulunya kesel atau gak suka sama aku. Dan juga— orang yang udah aku sakitin perasaannya.” Adinda menghela napas. “Ji, semalem kamu beneran nelpon Kana?”
Aji mengangguk.
Aji tersenyum, dan mengusap pucuk kepala Adinda. “Kamu gak usaha khawatir, Kana pasti baik-baik aja disana. ‘Kan ada Kaila.”
Adinda mengangguk. “Kamu bener. Ada Kaila,” ucapnya dengan senyuman tipis.
“Yaudah yuk,” ajak Aji untuk melanjutkan langkah.
“Emm— Ji,” panggil Adinda membuat Aji menoleh.
“Aku pengen nelpon Kaila, boleh?” tanyanya.
“Kenapa enggak? Memangnya kamu mau ngomong apa sama dia?” tanya Aji dengan lembutnya.
Laki-laki itu setiap berbicara dengan Adinda selalu terdengar lembut. Terlihat sekali jika ia begitu mencintai gadis disebelahnya tersebut.
“Aku mau minta maaf juga sama Kaila.”
Aji mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. “Ini,” ucapnya menyerahkan ponsel.
Adinda mengangguk dan men-dial nomor Kaila.
“Berdering gak?” tanya Aji.
“Berdering kok. Ah, ini di angkat!” serunya saat tulisan bordering berganti menjadi angka berjalan.
“Halo,” terdengar suara gadis di seberang sana.
Adinda tersenyum tipis dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinga. “Halo, Kaila.”
__ADS_1
“Adinda?”
Adinda mengangguk refleks. “Apa kabar?”
“Ba—baik. Aku baik.”
Adinda tersenyum. “Syukurlah.”
“Kamu mau ngomong sama Kana? Biar aku kasih hpku ke dia?”
“Gak, gak usah, Kai. Aku cuma pengen ngomong sama kamu kok,” ucap Adinda yang terlihat gugub.
“Ngomong apa ya? Hehe.”
Adinda menghela napas. “Kai.”
“Iya?”
“Aku minta maaf ya kalau selama ini udah jahat sama kamu. Maaf juga kalau saat promnight itu aku marah-marahin kamu karena Kana pergi.”
Terdengar suara tawa kecil di seberang sana. “Iya, Adinda. Gak papa kok. Lagipula aku juga udah lupain soal itu.”
Adinda tersenyum. “Makasih banyak ya, Kai.”
“Iya, sama-sama. Aku juga minta maaf ya kalau selama ini bikin kamu kesel atau gimana karena aku deket Kana.”
“Iya, Kai. Gak papa kok. Lagipula mau gimanapun, memang kamu yang pantes dapetin Kana.”
“Adinda.”
Adinda mengerutkan dahinya. “Iya?”
“Jaga kesehatan ya?” ucap Kaila. “Jangan pernah nahan semuanya sendirian. Banyak orang yang sayang sama kamu.”
Adinda tersenyum. “Iya, Kai. Makasih banyak ya?”
“Iya, sama-sama.”
“Yaudah Kai, kalau gitu, aku tutup ya telponnya.”
“Gak mau ngomong sama Kana? Kana ada di sebelahku nih.”
Adinda menggeleng refleks. “Gak usah, Kai. Lain kali aja.”
“Oh yaudah, iya.”
“Aku tutup ya? Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Adinda menekan tombol berwarna merah dan menyerahkan kembali ponsel tersebut pada Aji.
“Udah?” tanyanya.
Adinda mengangguk. “Aku lega udah bicara sama Kaila,” ucap gadis itu dengan senyuman manisnya.
Aji terkekeh dan kembali mengusap kepala gadis itu dengan gemas.
“Makasih ya sayang,” ucap Adinda memeluk Aji.
“Akhirnya di panggil sayang juga,” ucap Aji membuat Adinda tersenyum malu.
“’Kan aku pacar kamu. Boleh dong aku manggil sayang?”
Aji mengangguk lalu meraih tangan Adinda. Menautkan jari keduanya, dan melangkah bersama.
__ADS_1
-o0o-