KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 48


__ADS_3

Part 48


Kana tersenyum memandang gadis yang kini tengah melihat-lihat barang yang tersusun rapih di setiap barisannya.


"Masih banyak?" tanya Kana.


Gadis itu dan menoleh dan tersenyum. "Sebentar ya?"


"Lama juga gak papa kok," ucap Kana.


Kaila terkekeh dan meraih dua buah kacamata di hadapannya. "Beli ini yuk?"


"Buat?"


"Buat foto aja. Kayanya lucu," jawab Kaila dengan polosnya.


Kana tersenyum lalu mengangguk. "Sini biar gue yang bayar."


Kaila menggeleng. "Gue aja."


"Ya janganlah, gue aja."


Kaila berdecak. "Gue."


Kana menghela napas dan menatap lekat gadis di hadapannya tersebut. "Yaudah, tapi nanti gue yang bayar makan ya?"


Kaila mengangguk setuju.


"Mau makan apa tapi?" tanya Kana.


Kaila menggigit bibir bawahnya tampak berpikir. "Ayam kayanya enak!"


"Lo suka ayam?"


Kaila mengangguk. "Suka banget!"


Kana terkekeh seraya mengusap pucuk kepala Kaila. "Yaudah, abis ini kita makan ayam ya?"


Kaila mengangguk seraya menyengir kuda. "Foto dulu tapi!" seru Kaila seraya menunjukkan kacamata di tangannya.


Kana mengangguk dan menuruti keinginan kekasihnya tersebut.


-o0o-


Setelah selesai berbelanja, sepasang kekasih itu terlihat berada di sebuah toko ayam yang tak jauh dari swalayan tempat mereka berbelanja tadi.


Keduanya asik menikmati ayam dan menu lainnya.


Sesekali keduanya saling memandang dan tersenyum. Siapapun yang melihatnya, jelas menyangka jika sepasang kekasih itu sedang di mabuk cinta.


"Kaila."


"Iya?" Kaila menaikkan kedua alisnya.


"Aku—"


"Aku? Tumben pakai aku kamu," ucap Kaila tertawa.


Kana menyunggingkan senyumnya. "Lo gue terlalu cuek untuk kita yang romantis."


"U—huk!" Kaila terbatuk.


"Minum-minum." Kana menyerahkan sebotol air pada gadis itu.


Kaila meneguk botol tersebut dan meminumnya. "Tadi gue gak salah denger?"


"Enggaklah! 'Kan kita memang romantis." Kana menaikkan sebelah alisnya.


Kaila menggelengkan kepala dan tertawa. "Iya, iya."


"Jadi mulai sekarang panggilnya aku kamu aja ya? Ah, atau gak kita buat panggilan sayang aja sekalian."


Kaila mengerutkan dahinya. "Panggilan sayang gimana maksudnya?"


"Ya gini. Kamu panggil aku Nana, aku panggil kamu Lala."


"Kana! Apaan sih. Lucu tahu gak!" seru Kaila yang tak percaya Kana akan sebucin ini dengannya.


"Ya gak lucu, Lala. Itu romantis. Beda dari yang lain," ucap Kana membuat Kaila menggelengkan kepala. "Ya, ya? Please, Lala."


Kaila menghela napas dan mengangguk. "Iya deh, terserah Nana aja."


Kana mengulum senyumnya dan menoleh ke arah lain


"Nana."


Kana menatap Kaila dan menaikkan kedua alisnya. "Kenapa, Lala?"


"Mantan Nana ada berapa?"


"Mantan pacar?"

__ADS_1


Kaila mengangguk. "Iya mantan pacar."


Kana menggeleng.


"Gak ada?"


Kana mengangguk membenarkan. "Iya, gak ada."


"Seriusan? Gak ada mantan pacar?"


"Memang kamu gak pernah denger dari mereka-mereka kalau aku gak pernah punya pacar?" tanya Kana seserius mungkin.


"Ya pernah sih. Cuma agak gak yakin aja kamu gak pernah pacaran."


"Seriusan, aku gak pernah pacaran."


Kaila membulatkan bibirnya. "Gak pernah pacaran, tapi sekali pacaran bucin akut," lirih Kaila seraya mengaduk minumannya.


"Lala sendiri, berapa kali pacaran?"


"Satu."


"Berapa lama pacarannya?"


"Tiga tahun."


"TIGA TAHUN?"


Kaila mengangguk.


"Orang Jogja juga?"


"Iya."


"Terus orangnya sekarang dimana?"


"Dia pindah ke Bandung."


Kana menghela napas lega. "Bagus deh."


"Memang kenapa?" tanya Kaila tertawa.


"Ya takut aja kamu balikan sama dia kalau seandainya pulang ke Jogja."


"Ya enggaklah."


"Kenapa enggak?"


"Kamu siapa?"


"Kamu pacar aku."


Kana menyunggingkan senyumnya, lalu meraih tangan Kaila. "Jangan tinggalin aku ya, Kai?"


"Seharusnya aku yang bilang gitu, jangan tinggalin aku."


"Ya kalau aku gak mungkin ninggalin kamu."


"Yakin?"


"Yakinlah. Buktinya aku yang udah sampai Kanada aja, balik lagi ke Indonesia demi kamu."


Kaila mengangguk. "Makasih ya?"


"Udah deh jangan makasih terus. 'Kan memang udah seharusnya kaya gini. Kita berakhir bersama."


"Iya, iya, bawel."


"Bawel-bawel gini juga pacar kamu."


Kaila menyengir kuda.


"Senyum terus dari tadi."


"Kamu juga."


"Iya deh, salah lagi. Kaila selalu benar."


"Et! Gak Lala lagi?"


Kana menepuk dahinya. "Lupa! Iya deh, salah lagi. Lala selalu benar."


Kaila menggelengkan kepala dan tertawa.


"Kana."


"Hmm?" Kana menaikkan kedua alisnya.


"Aku pengen nanya ini. Cuma, belum kesampaian aja dari waktu itu."


"Nanya apa?" Kana memandang Kaila penuh tanya.

__ADS_1


Kaila mengaduk minumannya lalu memandang Kana. "Kamu kenapa sih kalau di sekolah beda banget sama sekarang?"


"Maksudnya?"


"Ya kenapa kamu di sekolah sama di depanku beda."


"Ya bedalah. Kamu 'kan spesial. Ya walaupun aku tadinya bingung gimana cara bikin kamu seneng bareng aku. Tapi 'kan akhirnya aku belajar."


"Kamu belajar?"


Kana mengangguk.


"Belajar sama siapa?"


"Sama Papa. Kamu gak tahu ya, dulu Papaku berjuang mati-matian buat dapetin Mamaku."


"Seriusan?"


Kana mengangguk. "Kamu mau denger cerita mereka gak?"


"Mau! Ceritain," pinta Kaila.


Kana mengangguk. Namun detik setelahnya, raut wajahnya berubah.


"Kenapa?" tanya Kaila bingung.


"Aku lupa. Papa aku sama Mama kamu juga 'kan punya masa lalu."


"Gak papa. Aku pengen tahu."


"Beneran gak papa?"


"Iya."


Kana menghela napas dan akhirnya mengangguk. "Aku mulai dari awal ya?"


"Oke!" jawab Kaila tersenyum.


"Tapi aku singkat aja ya? Lagipula banyak banget kalau mau diceritain semua."


"Iya, sayang."


Kana menyengir kuda, lalu melanjutkan ucapannya. "Jadi, sebelumnya Mamamu sama Papaku sahabatan dari kecil. Mereka berdua saling suka. Tetapi saat SMP, Papaku pindah ke Jakarta. Baru Satu tahun di Jakarta, Papaku pindah lagi ke Bali. Tetapi sendiri. Dia sekolah di Bali kurang lebih Tiga tahun, terus pindah lagi ke Jakarta."


Kaila menggelengkan kepala tak habis pikir. "Kenapa pindah-pindah?"


"Kata Papaku sih, karena sangking pinternya."


kaila membulatkan bibirnya tanda mengerti.


"Nah, saat di Jakarta dia ketemu Mamaku. Jadi pertemuan mereka tuh kaya di sengaja gitu. Oma nyuruh Mama buat nganterin kue ke rumah Papa, nah di sanalah mereka ketemu. Disitu Papa langsung naksir sama Mama."


Kaila tersenyum membayangkan hal tersebut.


"Tapi enggak sama Mama. Karena situasinya Mamaku belum bisa move on dari pacarnya. Lama kelamaan deket, akhirnya Papaku berhasil buat jatuh cinta Mamaku. Dan saat Mamaku sadar kalau dia suka sama Papaku. Papaku pergi dan ngelanjutin hidup di Jogja. Di sanalah Papaku ketemu lagi sama Mamamu. Mereka berdua kalau gak salah pacaran akhirnya. Tapi—"


"Tapi apa?" tanya Kaila penasaran.


"Tapi Papaku belum bisa move on dari Mamaku. Aku gak tahu gimana jelasnya, tapi akhirnya Mamamu ngerelain Papa buat Mama."


Kaila diam dan menunduk. "Mama sebaik itu."


Melihat Kaila, Kana pun meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Itu masa lalu mereka. Biarin jadi urusan mereka. Sekarang kita fokus sama hubungan kita ya?" pinta Kana.


Kaila mengangguk dan tersenyum.


"Aku sayang kamu, Kaila."


"Aku juga."


"Aku cinta kamu."


"Aku juga."


"Juga apa?"


"Juga sayang dan cinta sama kamu!" seru Kaila membuat Kana terkekeh.


Kana menatap jam tangan yang melingkar di tangannya, lalu memandang sekeliling.


"Kenapa?" tanya Kaila.


Kana menggeleng dengan senyuman. "Besok 'kan kamu berangkat ke Jogja duluan, gimana kalau hari kita habisin waktu berdua?" usul Kana.


"Ayo! Kita mau kemana?" tanya Kaila tak sabar.


Kana terkekeh dan mengacak pucuk kepala Kaila. "Giliran soal kaya gini aja, semangat!"


Kaila tersenyum lalu memamerkan deretan giginya.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2