KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 38


__ADS_3

Part 38


"Kak, Mama, Kak," ucap Kiara saat melihat Kaila sudah kembali.


Gadis kecil itu sempat terkejut melihat kehadiran Keiza kemari. Namun ia langsung menangis menghampiri Kaila.


Kaila memeluk Kiara, menyaksikan ibunya yang semakin drop.


"Mbak Kaila?" ucap salah satu perawat yang menghampiri.


"Iya, sus?" ucap Kaila.


"Keadaan Bu Nabila semakin parah. Dokter sudah merekomendasikan untuk segera melakukan prosedur angioplasty yang sudah di jelaskan tadi. Apakah Mbak Kaila dan keluarga sudah siap?" tanya perawat itu.


Kaila menoleh pada Keiza.


Keiza mengangguk. "Kami siap, Sus!"


Kaila tersenyum dan menggenggam tangan Keiza.


"Baik, kami akan segera melakukan tindakan tersebut kurang lebih memakan waktu 30 menit hingga beberapa jam. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ibu Nabila."


Kaila mengangguk. "Terima kasih, Sus."


"Kita berdoa yang terbaik buat Mama ya?" ucap Keiza.


Kiara mengerutkan dahinya. "Mama?"


Kaila tersenyum dan merangkul Kiara. "Nanti kakak jelasin ke Kiara ya?"


Kiara mengangguk dan memeluk Kaila.


-o0o-


"Gue takut nyokap Kaila kenapa-napa," ucap Adinda pada kedua sahabatnya. Kana dan Aji.


Aji merangkul pundak gadis itu. "Kita bantu do'a demi Kaila."


Kana tersenyum melihat kedua sahabatnya itu begitu perhatian dengan kekasihnya. "Thank you banget ya kalian udah seperhatian ini sama Kaila. Terutama lo Din, gue gak nyangka lo bakal setulus ini sama Kaila."


Adinda tersenyum. "Gue sadar dulu gue banyak salah sama dia. Gue selalu iri, benci, dan gue rasa, ini waktunya gue buat menebus semuanya. Lagipula gue sadar, umur gue gak lama lagi, jadi gue akan melakukan yang terbaik dan pastinya gak akan lagi bikin orang sekitar gue sakit hati."


Kana tersenyum, begitupun dengan Aji. Kedua laki-laki itu menatap Adinda dengan tatapan tulus.


Adinda menghela napas panjang dan memejamkan mata. Berdoa yang terbaik untuk semuanya.


"Denger-denger, Bima mau pulang ke Indo ya?" ucap Aji.


Kana mengangguk. "Mungkin besok dia sampai Indonesia."


"Eh, memang Bima kemana sih? Kok gue lupa," ucap Adinda.


"Jerman deh kalau gak salah," ucap Aji.


Adinda membulatkan bibirnya. "Jauh juga ya? Terus dia sama siapa coba disana? Bukannya nyokap kandungnya udah meninggal, terus bokapnya 'kan di penjara sih?"

__ADS_1


Kana menggeleng tak tahu. "Bima orangnya mandiri. Jadi gue rasa, gak perlu ada siapa-siapa untuk dia sampai disana."


Aji mengangguk membenarkan. "Bener, lo bilang, Kan. Mau gimana pun, sebenarnya gue salut sama orang kaya Bima. Dia selalu fine, walaupun kehidupannya gak baik-baik yang seperti kita kira. Waktu gue tahu kalau nyokap Bima meninggal karena bokapnya di umur dia yang masih kecil, gue bener-bener merubah sikap gue ke dia. Yang awalnya gue benci banget, perlahan benci itu memudar."


Adinda mengangguk. "Gue juga. Dan kalian tahu? Saat gue pacaran sama dia, gue bener-bener gak pernah tahu kalau kehidupannya sepahit itu. Dia selalu nunjukkin sikap konyol dan gak waras dia, supaya orang gak tahu kalau dia sebenarnya rapuh."


Kana tersenyum. "Dulu gue pernah benci banget sama dia, sampai gue berniat buat ngabisin dia karena terus merebut Kaila dari gue. Tapi ternyata gue salah, dia malah nyerahin Kaila ke gue dan janji supaya gue selalu jaga Kaila."


Adinda menoleh pada Kana. "Jaga Kaila ya, Kan? Jangan bikin dia nambah sedih. Sakit nyokapnya udah cukup bikin semangat dia hilang. Lo harus kuatin dia."


Kana mengangguk. "Gue pasti lakuin itu, Din."


Adinda tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya ke pundak Aji.


-o0o-


Waktu terus berjalan, prosedur telah dilakukan Dua jam yang lalu. Namun dokter maupun perawat belum juga keluar dari ruangan yang menjadi tempat berlangsungnya tindakan tersebut.


Kiara. Gadis itu menatap Keiza tak biasa. Ia tak menyangka jika 'Kakak Cantik' yang ia sebut adalah kakaknya, meskipun dari ayah yang berbeda.


Sebelumnya, Kaila sendiri sudah menceritakan pada Keiza, jika Kiara adik kandung mereka, telah meninggal dunia belasan tahun yang lalu.


Keiza bisa menerima. Meskipun itu terasa sulit. Namun, dengan adanya Kiara adik kecil mereka yang sekarang, mampu menutupi rasa sedihnya.


"Kak, mama bakal sembuh 'kan?" tanya Kiara pada Kaila.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Mama pasti sembuh."


Keiza menoleh dan tersenyum. "Kiara."


Kiara menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


Kiara mengangguk dan menghampiri Keiza.


"Maafin kakak gak bisa jaga adik-adik kakak dengan baik," ucap Keiza memejamkan mata memluk Kiara.


Kaila tersenyum tipis, lalu mengelus pundak Keiza. "Kakak itu kakak yang baik. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Terpisahnya kita bukan kesalahan kakak."


Keiza tersenyum dan meminta Kaila masuk ke dalam pelukannya. Akhirnya, ketiga kakak beradik itu pun bersatu dalam sebuah pelukan, memberikan sebuah kehangatan.


"Permisi."


Ketiga kakak beradik itu melepaskan pelukan saat Dokter telah berada di hadapan mereka.


"Bagaimana, Dok?" tanya Kaila.


Dokter itu tersenyum. "Tindakan telah dilakukan, dan alhamdulillah semua berjalan lancer. Untuk saat ini Ibu Nabila belum sadarkan diri. Mari kita semua berdoa agar Bu Nabila cepat sadar."


Ketiganya mengangguk.


"Oh ya, saya dengar, kalian berdua mengambil jurusan kedokteran 'kan?" ucap Dokter itu pada Keiza dan Kaila.


Keiza mengangguk. Begitupun dengan Kaila.


Dokter itu tersenyum. "Saya minta tolong dengan kalian, tolong beri edukasi kepada Ibu kalian ya jika Ibu kalian merasa nyeri dan juga memar. Karena hal itu memang sangatlah umum pada pasien yang telah mendapatkan tindakan angiplasti."

__ADS_1


Keiza mengangguk. "Siap, Dok."


Dokter itu mengangguk. "Jika hari ini Ibu Nabila sudah sadar, dan jika kondisinya besok sudah cukup baik, maka Ibu Nabila bisa dipulangkan ke rumah besok."


Kaila tersenyum. "Terima kasih banyak, Dok."


Dokter itu mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi ya?"


Dokter itu berjalan pergi meninggalkan mereka. Kaila, Keiza dan juga Kiara pun berjalan menuju ruangan untuk menemui ibunda mereka.


"Udah selesai tindakannya?" tanya Kana yang melihat Kaila beserta Keiza dan juga Kiara.


Kaila mengangguk lalu melihat cerahnya langit yang mulai meredup. "Udah sore ya?"


"Iya. Tadi Wilka kesini sebentar, anter makanan," ucap Kana menunjukkan sesuatu di tangannya.


"Terus dia dimana sekarang?"


"Pulang. Soalnya nanti malem dia sekeluarga mau ke Lampung, tempat Pamannya yang meninggal," ucap Kana menjelaskan.


"Jadi Wilko juga ikut?" tanya Keiza.


Kana mengangguk. "Kemungkinan. Oh ya, tadi ada anak cewek juga kesini. Namanya siapa ya? Lupa. Tadi dia bawain baju buat Kak Kei," ucap Kana menyerahkan paperbag pada Keiza.


"Gladis kesini?" tanya Keiza.


"Ah, iya! Namanya Gladis. Masih SMP 'kan kalau gak salah? Soalnya tadi dia pakai seragam SMP kesini."


Keiza mengangguk. "Dia nyariin aku gak? Atau titip pesan apa gitu?"


Kana menggeleng. "Enggak, tuh. Soalnya abis kasih baju, langsung pergi aja gak bilang apa-apa."


Keiza membulatkan bibirnya.


"Kalian mau ke ruangan 'kan?" tanya Kana.


Kaila mengangguk.


"Aku ikut masuk ya? Mau lihat keadaan Mama Bila," ucap Kana.


Kaila dan Keiza mengangguk mengiyakan.


"Lah Adinda sama Aji kemana?" tanya Kaila.


"Mereka lagi cari makan sama beli baju buat ganti kayanya. Mereka 'kan gak bawa baju ganti waktu kesini," ucap Kana.


"Aku jadi gak enak sama mereka," ucap Kaila.


"Jangan ngerasa gak enak, mereka ikhlas kok. Lagipula besok juga mereka pulang ke Jakarta kalau udah ketemu Bima," ucap Kana.


Kaila tersenyum dan mengangguk.


"Nanti malam aku tidur disini ya? Aku mau jagain kalian," ucap Kana menyebut Kaila beserta kakak dan adiknya.


Kaila mengangguk. "Iya, boleh."

__ADS_1


Semuanya tersenyum dan berjalan masuk ke ruang perawat Nabila.


-o0o-


__ADS_2