KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 43


__ADS_3

Part 43


Jam dinding sudah menunjukkan pukul Delapan pagi. Namun hingga saat ini, Kana belum juga menampilkan batang hidungnya di hadapan Kaila.


"Ayo, Kai!" seru Naira yang sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Kaila bareng Kana, Tan."


Naira membulatkan bibirnya. "Yaudah, kalau gitu Tante berangkat kerja dulu ya?"


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Kalau gitu hati-hati, Tan."


"Iya, Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam," jawab Kaila dan berjalan keluar menuju gazebo.


'Drrtt!'


Ponsel Kaila bergetar. Ia segera merogoh ponselnya di dalam saku dan meraihnya. Senyumnya mengembang saat mengetahui terdapat pesan masuk dari Kana.


Namun, belum sampai Satu menit, senyum Kaila memudar. Ia akhirnya berjalan menuju garasi dan menghampiri Tantenya disana.


"Tan, Kaila bareng Tante ya?"


"Loh, memang Kananya gak jadi jemput?"


Kaila menggeleng. "Kana barusan bilang kalau dia udah sampai sana."


Naira membulatkan bibirnya membrntuk huruf 'o'. "Yaudah, ayo naik!"


Kaila mengangguk dan naik ke mobil Naira.


"Kamu hari ini sampai jam berapa sekolahnya?" tanya Naira seraya mulai melajukan mobilnya.


"Kayanya gak sampai siang, Tan. Soalnya ini Cuma ambil secret letter doang."


"Oh, yang kata kamu buat acara promnight?"


Kaila mengangguk membenarkan.


"Yaudah, nanti kalau pulang, bareng temen kamu aja ya? Jangan pulang sendiri. Inget, mau bagaimana pun Papa tiri kamu masih ngincer kamu."


Kaila mengangguk. "Oh ya, Tan. Tante udah tahu belum kalau Mama gugat cerai suaminya?"


Naira mengangguk. "Semalem Mama kamu cerita sama Tante lewat telpon. Tadinya Tante mau ngasih telponnya ke kamu, Cuma kayanya semalem kamu udah tidur."


"Iya, Tan."


"Nah, karena itu Kai Tante semakin khawatir sama kamu. Pasti Papa tiri kamu bakal nyari-nyari kamu dengan kejadian ini."


"Iya, Tan."


"Kamu harus hati-hati ya? Jangan pergi sendirian. Minta temenin Elsa kek, Kana kek, atau siapalah temen kamu."


Kaila mengangguk dan tersenyum.


"Soal Bima, dia beneran berangkat ke Jerman?" tanya Naira kembali.


"Iya, Tan. Tadi subuh dia ngabarin Kaila kalau dia udah sampai Bandara buat terbang ke Jerman."


Naira mengangguk. "Ya, semoga pilihan dia ini yang terbaik ya, Kai? Semoga aja dengan perginya dia ke Jerman, dia bisa merasa bebas dan jauh dari Papanya yang jahat itu."


"Iya, Tan. Semoga juga Bima baik-baik aja di sana."


Naira tersenyum dan menaikkan kecepatan mobilnya.


Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di depan sekolah Kaila. Kaila segera turun dan berjalan masuk menuju sekolahnya.


Pagi ini, sekolah terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa dari mereka yang masih berada di sana.


"Kaila! Kai!"


Kaila mengedarkan pandangannya. Ia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.


"Kaila! Kai! Kaila!"


Kaila menyunggingkan senyumnya saat melihat Elsa berteriak ke arahnya.

__ADS_1


"Lo ini, di panggilin juga. Gak, nengok-nengok!" ucap Elsa membuat Kaila tertawa.


"Abisnya gak keliatan," ucap Kaila dengan kekehan.


Elsa tersenyum. "Oh ya? Lo mau tahu gak? Gue dapet sugar dady!" seru Elsa seraya menunjukkan secret letternya.


"Sugar dady?"


Elsa mengangguk. "Gue gak tahu sih siapa, yang jelas nicknamenya sugar dady. Ahh, gue gak sabar buat acara besok!" seru Elsa kegirangan.


Kaila terkekeh melihat sahabatnya tersebut.


"Oh ya, El. Kok sekolah masih sepi?"


"Bukan masih, tapi udah."


"Maksudnya?" tanya Kaila tak mengerti.


"Jadi, yang udah ambil secret letter, boleh langsung pulang. Ya makanya itu sekolah udah sepi."


"Jadi tadi banyak yang udah ambil?"


Elsa mengangguk membenarkan.


"Kana juga?"


"Kana?"


Kaila mengangguk. "Iya, Kana. Dia udah ambil secret letternya?"


Elsa mengedikkan bahu. "Udah kali ya? Abisnya tadi gue liat secret letternya tinggal beberapa lagi, gitu. Ya mungkin aja Kana udah ngambil dan langsung pulang."


Kaila diam, dan melamun.


"Yah, malah ngelamun. Kesambet entar lo."


Kaila menggeleng. "Kalau gitu, temenin gue ambil secret letter gue yuk?"


Elsa mengangguk dan membawa Kaila menuju ruang OSIS.


"Dek, absen punya kelas Dua Belas IPA Satu mana?" tanya Kaila.


"Ngapain lo minta absen kelas orang?" tanya Elsa yang berada di samping Kaila.


"Sttt!" lirih Kaila agar Elsa diam.


"Sebentar ya Kak, tadi ada disini kok," ucap Anggota OSIS itu. "Rayen, absen pengambil secret letter punya kelas Dua belas IPA Satu mana?" tanyanya pada teman yang juga ikut membagikan.


"Di bawa Bu Ratih. Tadi dia pinjem bentar buat ngisi absennya, katanya," jawab laki-laki bernama Rayen tersebut.


"Kak, maaf, absennya di bawa Bu Ratih."


Kaila mengangguk. "Gak papa, Dek. Kalau gitu, makasih ya?"


"Iya, Kak sama-sama."


Kaila tersenyum dan meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menuju kantin.


"Gue pesenin Es Jeruk aja ya?" ucap Elsa pada sahabatnya.


Kaila mengangguk dan berjalan menuju meja dengan nomor Delapan.


Setelah memesan dan mendapatkan apa yang diinginkan. Elsa kembali dan berjalan menghampiri Kaila yang sudah duduk disana. "Minumnya, kai."


"Makasih ya?"


Elsa mengangguk dan mengaduk pipet pada minumannya. "Lo tadi ngapain sih mau liat absen kelas Dua belas IPA Satu?"


"Gak papa sih. Cuma mau liat aja," jawab Kaila seraya meneguk minumannya.


"Liat nama Kana udah ngambil atau belum?" tanya Elsa yang sudah dapat menebaknya.


Kaila mengangguk.


"Kaila, Kaila, ada-ada aja lo," ucap Elsa dengan tertawa kecil. "Oh ya, buka geh Kai secret letternya. Gue pengen liat."


Kaila menghela napas dan mengangguk. Tangannya menyobek ujung amplop dan mengeluarkan selembar kertas di dalamnya.

__ADS_1


"Siapa-siapa?"


"Sabar, belum juga kebuka." Kaila membuka surat itu dan membacanya. "Pemeran pengganti?"


"Hah?" Elsa menarik kertas dari tangan Kaila dan membacanya. "Pemeran pengganti? Namanya pemeran pengganti?" tanya Elsa dengan gelak tawa.


Kaila menggelengkan kepala tak habis pikir. Bisa-bisanya ia mendapat pasangan dengan nama tersebut.


"Selamat pagi permisa, kembali lagi pada liputan pagi. Kabar terbaru datang dari seorang pemilik Perusahaan Aksana Tower yang diduga telah melakukan tindakan penipuan pada rekan bisnisnya perusahaan Artana Indo."


Kedua gadis itu menoleh ke arah televisi, lalu saling memandang.


"Itu 'kan perusahaan Papanya Bima dan Papanya Kana?" ucap Elsa.


Kaila mengangguk membenarkan dan kembali menoleh ke arah televisi.


"Hendry Aksana, selaku pemilik perusahaan Aksana Tower, telah di bawa ke Polres Jakarta Pusat untuk mendapatkan pemeriksaan. Dia di tangkap setelah Kavin Artana, selaku korban yang bersangkutan melaporkannya."


Kaila menggelengkan kepala tak percaya. Ia bangkit dari duduknya dan berlari pergi.


"Kaila, lo mau kemana?!" teriak Elsa.


"Gue pulang duluan!" jawab Kaila yang sudah berlari jauh.


Kaila menyunggingkan senyumnya dan berlari menuju gerbang. Di sana, terdapat Nabila yang tengah berdiri menunggunya.


"Mama!" teriak Kaila yang berlari ke dalam pelukan Nabila.


"Sayang," lirih Nabila memeluk Kaila dengan erat.


"Jadi berita yang di tv itu bener, Ma?" tanya Kaila.


Nabila mengangguk. "Iya, sayang. Sekarang Mama bebas," ucap Nabila dengan air mata bahagia yang menetes.


Kaila tersenyum bahagia dan kembali memeluk Mamanya. "Kaila seneng banget, Ma."


"Iya, sayang. Setelah proses perceraian Mama selesai. Kita pindah ke Jogja ya? Sama adik kamu juga."


Kaila mengangguk. "Iya, Ma. Kaila mau."


Nabila tersenyum dan mengusap pucuk kepala putrinya. "Yaudah, ayo kita jemput adik kamu di sekolahnya!"


Kaila mengangguk dan mengikuti Nabila menuju mobil.


"Mama seneng bisa deket kaya gini sama kamu, Nak."


Kaila tersenyum. "Kaila juga seneng, Ma."


Nabila tersenyum dan melajukan mobilnya. "Tadi pagi subuh-subuh Mama anter Bima ke Bandara."


Kaila mengangguk. "Papanya tahu kalau dia ke German, Ma?"


Nabila menggeleng. "Dia gak mungkin bilang ke Papanya. Karena dia pergi ke Jerman aja, karena ingin bebas dari Papanya, nak."


Kaila mengangguk mengerti. "Soal berita itu, Papanya Bima kenapa tega banget Ma menipu Papanya Kana?"


Nabila menggeleng. "Mama juga gak ngerti. Sebenarnya selama ini Papanya Bima memang sering berbuat curang sama rekan perusahaannya. Cuma— ya, namanya orang pinter, pasti sulit ketahuannya. Tapi untungnya Papanya Kana lebih pinter, jadi dia berhasil ngelaporin ke Polisi."


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Ngomongin Kana, gimana hubungan kamu sama Kana? Bener 'kan namanya Kana?"


"Iya, Ma. Kana."


"Dulu, setiap Mama lihat kamu sama Kana, Mama seneng banget. Karena Mama lihat, dia bisa bikin kamu bahagia," ucap Nabila seraya memandang putrinya.


Kaila tersenyum. Namun, menyebut nama Kana, Kaila menjadi kepikiran oleh lelaki itu. Entah mengapa, perasaannya sejak pagi tak enak mengenai Kana.


Kaila meraih ponselnya dan membuka kontak. Matanya tertuju pada kontak yang berada di favorit. Ia menekan nama itu dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Nelpon siapa?" tanya Nabila.


"Kana, Ma. Dari tadi Kaila kepikiran Kana."


"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2