
Part 32
“Pak, kami gak di penjara ‘kan?” tanya Kaila saat ketiganya sudah berada di kantor polisi.
“Kalian harus nunggu orangtua kalian dulu, baru kalian bisa pulang.”
Kaila menghela napas. Ia sudah menelpon Wilka tadi dan meminta tolong untuk memberitahu Nabila dengan hati-hati.
Ia harap, Nabila baik-baik saja dengan kabar ini.
Polisi itu menoleh pada Erkan. “Kamu yang waktu itu disini juga ‘kan?”
Erkan mengangguk. Laki-laki itu tak banyak bicara. Bahkan, saat sampai disini, ia hanya diam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Pak, kalau orangtua saya gak bisa jemput kesini gimana?” tanya Kana.
“Memang orangtua kamu dimana?” tanya polisi tersebut.
“Jakarta, Pak.”
“Kalau gitu, kamu suruh wali kamu kesini. Kamu disini ada wali ‘kan?” tanya polisi itu.
Kana mengangguk. “Ada, Pak. Tapi saya gak mungkin ngabarin nenek saya. Nanti yang ada dia malah kena serangan jantung gimana?”
“Gak ada alasan. Salah siapa kamu bikin keributan?!” ucap polisi itu membuat Kana diam, lalu meraih ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu disana.
Kaila menggigit bibir bawahnya. Menatap sekeliling dengan tatapan asing. “Kenapa gue bisa nyasar sampai sini.”
“Kaila!” teriak Wilka dan juga Kevin yang kini berada di kantor polisi untuk menemui sahabatnya.
Kaila menoleh, begitupun dengan Kana dan juga Erkan.
Wilka memeluk Kaila dengan eratnya. “Kok kamu bisa beraninya sih ngehajar geng-geng motor?” tanyanya pada gadis yang saat ini tengah duduk di kursi bersama dengan Kana dan Erkan.
Kaila tersenyum. “Kalau bukan karena Kana di hajar mah, mana mungkin aku berani,” ucapnya membuat Kevin dan Wilka menggelengkan kepala tak habis pikir.
“Mamaku mana? Kalian udah ngabarin Mamaku ‘kan?” tanya Kaila.
Wilka mengangguk, lalu menoleh ke belakang. “Itu.”
Kaila mengikuti arahan tangan Wilka dan melihat Nabila berjalan ke arahnya.
Nabila menggelengkan kepala, menatap Kaila tak habis pikir, lalu memeluknya.
“Ma, maafin Kaila.”
Nabila mengangguk, lalu menoleh pada polisi.
“Pak, anak saya gak di penjara ‘kan?” tanyanya khawatir.
Polisi itu menggeleng. “Enggak, Bu. Anak ibu gak akan kami penjara. Tapi dia harus janji dan menandatangi kontrak untuk tidak melakukan keributan lagi.”
Nabila mengangguk. “Baik, Pak,” ucapnya lalu menoleh pada Kaila. “Ayo, kita pulang.”
“Ma, Kana gimana? Orangtuanya 'kan di Jakarta," bisik Kaila membuat Nabila diam.
Nabila menoleh pada Kana dan menatap laki-laki itu.
"Gimana, Ma?" bisik Kaila.
Nabila tersenyum lalu menoleh pada polisi di hadapannya. "Permisi, Pak. Saya wali dari Kana," ucapnya membuat Kana menoleh.
"Ibu siapanya saudara Kana?"
"Saya calon orangtuanya," ucap Nabila.
"Maksudnya?"
"Dia calon menantu saya. Saya Bapak bisa anggap saya walinya," ucap Nabila dengan senyuman.
Polisi itu mengangguk. "Baik, silahkan ibu tanda tangani kertas ini dan pastikan, saudara Kana tidak akan mengulangi perbuatannya."
Nabila mengangguk. "Saya akan memastikan kedua anak saya tidak akan mengulangi hal yang sama," ucapnya lalu meraih pena di meja.
__ADS_1
'Tok! Tok! Tok!'
Suara ketukan itu membuat mereka yang berada disana menoleh.
"Mama?" ucap Kana yang bangkit dari duduknya.
Alina menggelengkan kepala lalu berjalan menghampiri.
"Ibu siapa?" tanya polisi itu yang melihat Alina berjalan menghampiri.
"Saya ibu dari Kana," ucap Alina lalu menoleh pada Nabila yang kini tengah memegang kertas dan juga pena untuk menandatangani surat milik Kana.
Alina tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Makasih udah mau jadi wali Kana, tapi biar aku aja yang tanda tangan."
Nabila mengangguk ragu, lalu menyerahkan kertas itu.
"Mama sendiri? Papa mana?" tanya Kana.
"Papa kamu lagi ada urusan di Bangkok."
Kana bernapas lega. Untunglah ayahnya itu tidak berada disini. Jika berada disini, habislah Kana.
Alina menyerahkan kertas itu pada polisi. "Saya minta maaf sebagai orangtua Kana."
Polisi itu mengangguk dengan senyuman. "Saya harap, mereka tidak lagi mengulangi hal-hal seperti tadi."
"Kalau gitu, apa mereka boleh pulang, Pak?" tanya Wilka.
Polisi itu mengangguk. "Iya, boleh."
Wilka tersenyum dan langsung memeluk Kaila.
"Tapi tidak dengan Erkan. Dia belum boleh pulang sampai orangtuanya datang," ucap polisi itu membuat mereka menoleh pada Erkan.
Alina memandang laki-laki itu. "Orangtua kamu dimana?" tanyanya pada Erkan.
Erkan diam. Laki-laki itu tak menjawabnya.
"Papanya pengacara, Ma. Katanya bentar lagi dateng," ucap Kana yang menjawabnya.
"Gak perlu," ucap Erkan.
"Gak papa," ucap Alina dengan senyuman.
Kana menghela napas dan menatap ibunya. "Mama kok bisa disini? 'Kan Kana ngabarin baru beberapa menit."
Alina tersenyum. "Mama sebenarnya udah sampai disini dari pagi. Cuma Mama sengaja gak ngabarin kamu. Biar kejutan. Eh, malah Mama yang dikejutin sama kamu."
Kana tertawa kecil. "Sorry ya, Ma."
Alina mengangguk dengan senyuman lalu menoleh ke sisi kirinya. "Kaila."
Kaila tersenyum, lalu memeluk Alina.
Kana melebarkan mata melihat hal tersebut. "Ma-mama?"
Alina tertawa. "Kenapa?"
"Mama bukannya?" tanya Kana dibuat bingung.
Alina tertawa. "Sebenarnya Mama udah lama restuin kamu sama Kaila."
"Dan Kaila udah tahu?" tanya Kana.
Kaila tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
"Gimana bisa aku gak tahu?" ucap Kana tak habis pikir.
"'Kan Mamamu memang minta aku rahasiain ini," ucap Kaila menyengir kuda.
Disisi lain, Nabila memperhatikan hal tersebut dengan senyuman hangat. Entah mengapa, ia begitu bahagia melihat Alina menerima purtinya.
"Alina."
__ADS_1
Alina menoleh dan menatap Nabila penuh tanya. "Iya?"
Nabila tersenyum. "Makasih ya?"
"Untuk?" Alina melepas pelukannya pada Kaila dan menatap Nabila penuh tanya.
"Terima kasih kamu udah nerima anak saya."
Alina tersenyum, lalu mengangguk. "Kita gak pernah tahu Bil, jika ternyata akhirnya anak kita ditakdirkan bersama."
Nabila mengangguk dengan senyuman.
"Maafin aku juga ya kalau sebelumnya ada ucapanku yang bikin kamu sakit hati," ucap Alina.
Nabila mengangguk. "Aku juga minta maaf kalau pernah bikin kamu salah paham."
Wilka dan Kevin yang tak mengerti pun hanya saling memandang satu sama lain.
"Nyokap gue sama nyokap Kaila, punya masa lalu. Mereka berurusan sama cowok yang sama, yaitu bokap gue," ucap Kana pada Wilka dan Kevin.
Wilka dan Kevin membulatkan bibirnya, lalu tersenyum malu karena di tatap oleh dua wanita itu. Nabila dan Alina.
"Ini siapa?" tanya Alina. "Kok kaya Aji sama Adinda."
Kana tersenyum. "Dia Kevin sama Wilka, Ma. Modelannya memang kaya Aji sama Adinda," ujar Kana.
Alina membulatkan bibirnya.
"Oh ya Ma, Aji sama Adinda sehat-sehat 'kan?" tanya Kana.
Alina mengangguk. "Kemarin mereka dari rumah. Sebenarnya mau Mama ajak kesini, cuma mereka ada kuliah."
Alina tersenyum, lalu menoleh pada jam di tangannya. "Udah mau malem." Alina menoleh pada Erkan. "Nak, orangtua kamu gak dateng juga?"
'Tok! Tok! Tok!'
"Permisi," ucap seseorang membuat mereka menoleh.
"Papa?" ucap Erkan yang melihat Papanya datang.
"Oh ini bokap lo?" ucap Kana yang memandang laki-laki berpostur tinggi tersebut.
Laki-laki itu tersenyum dan berjalan menghampiri anaknya dan juga polisi.
"Maaf saya terlambat."
"Tidak apa-apa, Pak Rafa" ucap Polisi itu.
"Rafa?"
Laki-laki yang bernama Rafa itu menoleh ke seseorang yang memanggilnya.
Ia mengerutkan dahi. Seperti mengenalnya.
"Alina?"
...-o0o-...
a/n :
Hai, hai, yang baca kisah sebelumnya (Started Without Love) pasti tahu dong siapa Rafa.
Yaps!
Rafa, mantan pacar Mamanya Kana.
Huhu, gak pernah kepikiran sih, kalau permantanan para orangtua berkumpul di kisah anak-anaknya.
Terima kasih ya udah nungguin aku update yang lama ini.
I'm sorry :(
I'm so busy :(
__ADS_1
Tapi aku akan selalu usahain untuk update kok ♥️