KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 19


__ADS_3

Part 19


“Tapi saya ada fotonya, Pak!” ucap Kana seraya mengeluarkan foto dari saku jaketnya. “Ini Pak, orangnya.”


Jaya meraih foto itu dan menatapnya. Dan detik setelahnya, raut wajah Jaya berubah. Hal itu yang membuat Kana penasaran.


“Bapak kenal?”


Jaya mengangguk. “Dia Angga.”


Seketika, senyum Kana tercipta. “Dia dimana Pak sekarang?”


“Kamu anaknya?” tanya Jaya pada Kana.


Kana menggeleng. “Bukan, Pak.”


“Lalu?” Jaya menaikkan kedua alisnya.


“Saya calon menantunya.” Kana menatap wajah Jaya dengan serius. “Bapak bisa beritahu saya alamatnya?”


Jaya mengangguk. “Bisa,” jawabnya membuat Kana kembali tersenyum.


-o0o-


Setelah mendapatkan alamat dari ketua RW setempat, Kana segera menghubungi Kaila, Wilka dan juga Kevin untuk segera menemuinya.


Kana yakin, Kaila pasti sangat senang dengan kabar ini. Penantian Kaila untuk bertemu dengan Ayahnya akhirnya akan terealisasi.


“Kana pasti bahagia!” Kana mengangguk dan kembali menatap kertas yang berada di tangannya.


“Kan!” teriak seseorang membuat Kana menoleh.


Rupanya itu adalah Kevin. Laki-laki itu berlari menghampirinya. “Udah dapet alamatnya?” tanya Kevin dengan napas terengah-engah.


Kana mengangguk. “Kita tunggu Kaila sama Wilka ya. Abis itu kita jalan,” ucapnya dan di angguki oleh Kevin.


“Kok bisa cepet sih? Pakai cara apa?” tanya Kevin penasaran.


Kana menyunggingkan senyumnya. “Kana gitu loh!” jawabnya membuat Kevin menatapnya malas.


Tak berselang lama, Kaila datang dan di susul oleh Wilka setelahnya.


“Udah dapet petunjuk?” tanya Kaila dengan senyuman lebar di wajahnya.


Kana tersenyum dan segera memberikan kertas yang ketua RW tadi tulis. “Ini alamatnya.”


Dengan tangan gemetar, Kaila meraih kertas itu. “Jadi bener Papaku ada disini?” tanyanya.


Kana mengangguk membenarkan.


“Alhamdulillah. Akhirnya gak sia-sia ya pencarian kita ini,” ucap Wilka dan di angguki ketiganya.


“Kamu bisa dapet alamat ini gimana ceritanya?” tanya Kaila penasaran.


Kana tertawa. “Aku kepikiran buat nemuin RWnya langsung. Dan akhirnya aku dapet petunjuk. Ketua RW bilang, Papamu memang tinggal di komplek ini.”


“Sama kakakku?” tanya Kaila.


Kana diam. “Aku lupa gak nanya.”


Kaila mengangguk mengerti. “Yaudah gak papa. Yang penting kita udah dapet alamat ini.”


Kana tersenyum. “Yaudah ayo, kita langsung kesana aja. Kayanya gak terlalu jauh dari sini.”


Ketiganya mengangguk dan mereka pun berjalan menuju alamat yang sudah dituliskan oleh ketua RW tersebut.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17:45 WIB. Dan kini, mereka berempat telah sampai di sebuah rumah berwarna cokelat tua dengan pagar berwarna putih. Rumah tersebut cukup besar. Bahkan jika di bandingkan rumah-rumah disebelahnya, rumah ini berada paling depan.


“Kayanya Papa Kaila orang punya,” lirih Kevin di telinga Wilka.


“Coba hidupin belnya,” ucap Kana.


Kaila menoleh. “Gak bisa di pencet.”

__ADS_1


Tak berselang lama, seseorang keluar dan berjalan mendekat.


“Itu ada satpam,” ucap Kevin yang melihat seorang satpam berjalan mendekat.


“Tanya, Kai,” ucap Wilka.


Kaila mengangguk dan menunggu satpam itu sampai di depannya.


“Permisi, Pak!” ucap Kaila dengan senyuman.


Satpam itu mengangguk dan membuka gerbang. “Ada apa ya?” ucap satpam tersebut.


Kaila tersentak saat melihat wajah satpam itu. Begitupun dengan yang lainnya.


“Cari siapa ya?” ucap satpam tersebut.


Kaki Kaila terasa lemas. Ia menatap seragam itu dan membaca nama yang tertulis di seragam itu.


‘ANGGA ZELINO’


“Papa?” ucap Kaila akhirnya.


Laki-laki itu melebarkan mata saat gadis asing di hadapannya tersebut menyebutnya dengan sebutan ‘Papa’.


Kana mencoba memberi kekuatan pada Kaila dengan menggenggam tangan gadis itu. Menyalurkan kehangatan dan cinta, agar gadis itu tetap kuat.


Laki-laki bernama Angga itu masih diam membeku. Ia tak mengerti dengan pemandangan di depannya. “Maaf, sepertinya kamu salah orang,” jawab Angga dengan senyuman.


Kaila menggeleng. “Gak mungkin aku salah orang. Dan gak mungkin aku gak bisa ngenalin Papaku sendiri. Ini aku, Pa. Kaila!” ucap Kaila dengan air mata yang tak dapat ia bendung lagi.


Angga tersenyum. “Maaf nak, kamu salah orang.”


Kaila menggeleng. “Aku Kaila, Pa. Kaila Zeline Qirani, anak Papa. Anak Angga Zelino.”


Angga tetap tersenyum. “Sepertinya kamu salah,” ucap lelaki itu dan segera menutup gerbang.


“Pa! Pa, tunggu dulu! Ini aku! Aku mau bicara sama Papa! Kaila kangen sama Papa, Pa!” teriak Kaila.


Lelaki bernama Angga itu tak mendengarkan. Ia tetap mengunci gerbang membiarkan gadis di depan itu berteriak memanggilnya.


“Om, saya gak tahu ya apa masalah keluarga, Om. Tapi ini udah keterlaluan, Om!” timpa Wilka.


Kana menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tak tega dengan Kaila. Gadis itu sangat terluka melihat Ayahnya tak mengakuinya sebagai anak. Kana segera menarik Kaila ke dalam pelukannya.


“Kan, dia kenapa gak ngakuin aku?” ucap Kaila dengan tangisan di wajahnya.


“Kamu yang tenang ya?” ucapnya seraya mengusap lembut rambut Kaila, mencoba member ketenangan.


“Om! Om Angga! Ini Kaila, anak Om!” teriak Wilka yang masih kesal.


Kevin menghela napas panjang dan berjalan menghampiri Kaila. “Kai, kamu gak salah orang ‘kan?”


Kaila menggeleng. “Enggak, Vin. Aku beneran yakin, dia Papaku.”


“Iya, Kevin! Orang mukanya aja mirip. Namanya aja sama!” ucap Wilka kesal.


Kevin diam. Ia masih tak mengerti mengapa Ayah Kaila tak mau mengakui Kaila sebagai anaknya.


Kaila menghela napas dan bangkit. Ia kembali berdiri di depan gerbang itu dan berteriak,”OKE, KALAU PAK ANGGA GAK MAU NGAKUIN SAYA SEBAGAI ANAK. TAPI PAK ANGGA HARUS INGET, SAYA SELALU NGAKUIN PAK ANGGA SEBAGAI AYAH SAYA. MESKIPUN SAYA TIDAK PERNAH DI PERLAKUKAN SEBAGAI ANAK SEJAK SAYA LAHIR!” teriak Kaila dan berlari pergi.


“Kai, Kaila!” teriak Kana yang melihat kekasihnya itu berlari pergi.


“Kevin, ayo! Kejar Kaila!” ucap Wilka dan ikut mengejar Kaila yang sudah berlari.


Kana menghela napas panjang dan mengimbangi langkah kekasihnya. “Kai, tunggu!” Kana menahan tangan gadis itu membuat gadis itu menghentikan langkahnya. “Aku tahu gimana perasaan kamu.”


Kaila menunduk. Hatinya benar-benar sakit. Jauh-jauh ia datang dari Yogyakarta ke Jakarta, berharap ayahnya akan senang dengan kehadirannya. Namun ternyata ia salah.


“Kai,” ucap Wilka yang sudah berada di sampingnya. “Kamu gak papa?”


Kaila mengangguk. “Aku kuat!” Kaila tersenyum getir.


Wilka menatap Kaila dengan tatapan iba dan segera menariknya ke dalam pelukan. “Kamu kalau mau nangis, nangis aja, Kai.”

__ADS_1


Kaila menggeleng. “Udah terlalu banyak air mata yang aku keluarin, Wil.” Kaila tersenyum dan melepaskan pelukannya. “Kita pulang aja yuk?” ucapnya pada ketiganya.


“Tapi soal papamu?” ucap Kevin.


Kaila menghela napas panjang dan mencoba tersenyum. “Biarin aja. Lagipula dia gak mau ngakuin aku sebagai anaknya. Yang penting, dia udah tahu kalau sampai sekarang aku masih menganggap dia sebagai ayah. Sampai kapan pun itu.”


Wilka, Kevin, serta Kana menatap Kaila dengan tatapan penuh makna. Gadis itu benar-benar berbeda.  Bahkan ia masih bisa tersenyum dengan banyaknya penderitaan yang ada.


“Yaudah, yuk! Kita pulang aja,” ucap Kaila tersenyum dan berjalan masuk ke mobil.


Wilka, Kevin dan Kana saling memandang, sebelum akhirnya mengangguk dan ikut masuk ke dalam mobil.


“Kamu beneran gak papa mau pulang sekarang?” tanya Wilka kembali meyakinkan Kaila.


Kaila mengangguk. “Seenggaknya aku udah lihat Papaku baik-baik aja aku udah seneng,” ucapnya.


Kana tersenyum. “Yaudah, kita jalan ya?” ucapnya dan di angguki ketiganya.


Kana memutarkan kunci dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.


‘Tok! Tok! Tok!’


Keempatnya menoleh saat seseorang mengetuk kaca mobil Kana.


Wilka melebarkan mata. “Kai, itu papamu!”


Kaila mengangguk dan segera membuka pintu mobil untuk menemui papanya.


Kaila berdiri dan memandang laki-laki di hadapannya itu.


“Kaila.”


Kaila diam. Ia melihat mata ayahnya yang memerah.


Angga menangis dan menarik puterinya ke dalam pelukan. “Maafin, Papa.”


“Papa akhirnya inget aku?” lirih Kaila dengan suara gemetar.


Angga mengusap air matanya. “Maafin Papa, nak. Papa bukannya gak mau ngakuin kamu sebagai anak Papa. Tapi Papa malu sama kamu.”


Kaila tersenyum. “Kedua kalinya Kaila denger kalimat ini.” Kaila melepas pelukan itu dan memandang wajah Angga. “Papa tahu? Saat Kaila berhasil nemuin Mama, Mama bilang hal yang sama. Mama bilang Mama malu sama Kaila.” Kaila tersenyum getir. Dan kali ini air matanya jatuh.


“Maafin kami berdua nak.”


Kaila mengangguk. “Aku udah maafin Mama dan Papa dari dulu. Bahkan Kaila gak pernah merasa benci sama kalian.”


Angga menatap putrinya dengan perasaan rindu.


“Pa, aku pengen ketemu kakak.”


Mendengar kalimat itu. Raut wajah Angga berubah.


Kaila mengerutkan dahinya. “Pa, kakak disini ‘kan?”


Angga menunduk.


“Pa! Jawab aku! Kakak dimana?”


-o0o-


#Author-Note 


“Hai, hai!


Kira-kira kakak Kaila dimana ya? Kenapa raut wajah Papanya berubah seketika?


Huhu…


Bye the way, maaf ya kalau aku upnya agak lama. Soalnya sambil urus skripsi, huhu ^^


Doain semuanya lancar ya, supaya aku juga punya banyak waktu buat lanjutin kisah ini.


Sebelumnya juga, aku mau ucapin makasih banyak buat kalian semua yang tetep stay di kisah ‘KANA (The Series)’. Aku yakin banget, tanpa kalian, Kana (the series) gak bakal bisa sampai dititik ini. 

__ADS_1


Makasih untuk like dan dukungannya. Semoga doa baik kalian kembali ke kalian.


Aamiin.”


__ADS_2