
Part 39
Dua minggu telah berlalu.
Hari ini bertepatan pada tanggal 22 Agustus.
Di sebuah rumah bernuansa Jerman dengan gaya modern, terlihat Kaila tengah merias wajahnya menggunakan alat make up yang ia miliki.
Beberapa alat make up itu ada yang ia beli saat di Jerman. Benar, Kaila memang awet menggunakan make up. Sebab, wanita itu lebih suka menggunakan make up natural. Mungkin hanya lipcream, bedak dan alis. Untuk mascara, ia jarang menggunakan. Bulu matanya sudah lentik sejak lahir. Jadi ia tak perlu repot-repot mengubah bulu matanya.
Ibu hamil berusia dua puluh enam tahun itu terlihat cantik dengan gaun buatannya yang berwarna salem.
Warna yang sama dengan dresscode pernikahan Elsa.
Hari ini, ia dan suaminya akan menghadiri pernikahan Elsa. Tentu pernikahan yang sudah ia tunggu-tunggu.
Bukan hanya mereka saja yang undang. Tetapi Keiza dan Aji, Wilka dan Kevin, serta Bima bersama pasangannya.
Siapa lagi jika bukan Siska.
Membahas soal hubungan Bima. Dua minggu lalu ia telah bertemu kedua orangtua Siska. Tentu bukan karena disengaja.
Awalnya Bima takut dan ragu. Takut jika ayah Siska adalah orang yang galak dan sangar. Ia takut, orangtua Siska akan menyerbunya dengan ribuan pertanyaan.
Ternyata ia salah, ayah Siska adalah sosok orang yang hangat dan ramah. Tentu saja hal itu membuat Bima nyaman dan yakin jika Bima bisa mendekati putri tunggalnya.
Hebat bukan? Seorang putri tunggal dari keluarga kaya raya yang memiliki bebarapa saham di Jakarta, Kalimantan dan juga Kanada.
Bicara soal putri tunggal, Siska tak hanya putri tunggal dan kaya raya. Ayah Siska memiliki darah Indonesia dan Kanada. Jadi tak heran jika Siska memiliki wajah Westernd yang terlihat jelas. Mungkin bawaan dari ayahnya.
Bahkan, jika mengingat waktu itu, Bima rasanya ingin tertawa.
Kalian tahu apa?
Saat pertama kali Bima melihat ayah Siska, lelaki itu berbicara menggunakan bahasa Inggris yang membuat Siska dan Ibunya tertawa.
"Ngapain pakai bahasa Inggris? 'Kan Papa bisa ngomong bahasa Indonesia," ucap Siska dengan gelak tawa membuat Bima malu.
Kembali ke Kaila, wanita itu sudah siap dan tampil cantik.
Kana yang berdiri di depan pintu pun tampak terpesona dengan kecantikan yang dimiliki istrinya.
"Cantik banget sih istri aku."
Kaila menoleh dan terkekeh. "Siapa dulu suaminya?"
"Kana Bintang Artana!" ucap Kana sembari menaikkan kerah bajunya.
Kaila terkekeh dan mendekat. Memperbaiki kerah baju dan juga dasi Kana.
Saat di rapihkan, Kana malah memperhatikan perut istrinya.
Kaila pun tersenyum dan menaikkan kedua alisnya. "Kenapa?"
"Gak sabar liat jagoan lahir."
Kaila terkekeh. "Nanti kalau aku udah hamil besar, gak usah USG ya?"
Kana melebarkan mata. "Kenapa?"
"Pengen kejutan aja. Cewek atau cowok lahirnya. Lagipula Mama Alina sama Papa Kavin juga dulu gitu. Mereka katanya gak USG waktu kamu di kandungan."
Kana tersenyum. "Yaudah gimana mau kamu aja. Aku ikutin."
Kaila tertawa kecil dan mengusap pipi Kana. "Ganteng banget suami aku."
Kana terkekeh lalu menoleh pada jam yang melingkar di lengannya. "Yaudah yuk, jalan!"
Kaila mengangguk dan berjalan bersama dengan suaminya.
"Nanti pulang dari pesta, kita mampir beli gado-gado depan taman yuk! Aku tiba-tiba pengen makan gado-gado."
Kaila berdecak dan menggelengkan kepala. "Ini yang hamil siapa, yang nyidam siapa," ucapnya tertawa.
-o0o-
Di tempat lain, terlihat Elsa tengah di dandani oleh perias pengantin.
Hanya ia sendiri dan perias pengantin di ruangan ini.
Sebenarnya, ia tengah menunggu Kaila datang. Satu-satunya sahabat yang masih setia bersamanya hingga sekarang.
"Mbak Elsa," lirih perias pengantin itu.
"Iya, Mbak? Ada apa?" tanya Elsa dengan senyuman di wajahnya.
Perias pengantin itu tersenyum. "Sebenarnya saya pengen tanya ini. Tapi saya malu."
Elsa tertawa. "Ada apa, Mbak?"
"Saya penasaran Mbak. Kalau boleh tahu, Mbak Elsa sama calon suami udah pacaran berapa lama ya?"
Elsa tersenyum.
"Maaf ya Mbak, kalau lancang. Soalnya 'kan Mbak Elsa sama calon suami tetanggaan tuh. Jadi saya kepo, hehe."
Elsa tersenyum dan mengangguk. "Gak papa, Mbak. Aku seneng kok kalau ada yang nanyain. Berarti banyak yang seneng 'kan sama hubungan kami?"
Perias penganti itu mengangguk dengan senyuman.
Elsa menatap dirinya di depan cermin dan tersenyum. "Aku kenal dia sebenarnya udah lama banget, Mbak. Dia dulu tetangga samping rumah aku. Suka sama aku dari kecil, tapi baru ngungkapin perasaannya waktu kami SMP. Tapi kebetulan waktu SMP, kami gak satu sekolah. Dia di SMP satu sini, kalau aku di SMP 2 Pondok Aren sana."
Perias pengantin itu mengangguk dan menunggu Elsa melanjutkan ceritanya.
"Nah, waktu kami SMP, Arnold ini sempet nembak aku sih. Tapi aku gak mau, karena waktu itu kita masih SMP dan aku juga lagi suka sama temen sekalas aku waktu itu."
Perias pengantin itu mengangguk.
"Terus gak lama dari dia nembak aku dan aku tolak itu, dia pindah ke Singapur. Aku gak tahu alasan dia pindah karena aku atau memang karena urusan keluarga, aku juga kurang tahu. Soalnya keluarga mereka juga langsung jual rumah mereka. Ini lho Mbak, rumah sebelah yang ditinggali Janda anak satu. Itu 'kan dulu rumahnya Arnold."
Elsa tersenyum dan melanjutkan ucapannya.
"Nah, setelah dia ke Singapur, hampir sebelas tahun aku gak ketemu dia tuh. Eh tiba-tiba dia balik ke Indonesia awal tahun kemarin. Terus beli rumah Tantenya yang sekarang dia tempatin sama keluarganya."
__ADS_1
"Rumah tantenya?"
Elsa mengangguk. "Iya. Deket kok dari sini. Tapi dia masuk gang Melati."
Perias pengantin itu membulatkan bibirnya.
"Waktu aku tahu dia kembali. Awalnya aku malu mau nyapa dia. Ada perasaan gak enak juga. Eh, tiba-tiba dia malah deketin aku dan nembak. Katanya, sampai sekarang dia masih kepikiran aku."
Elsa tertawa.
"Aku ngerasa berdosa banget sih sama dia. Karena aku gak pernah kepikiran dia sama sekali setelah dia pergi. Jadi waktu tahu dia kepikiran aku mulu, ya aku luluh hatinya. Gimana ya? Kaya menemukan seseorang yang memang di dambakan gitu lho, Mbak."
Perias pengantin itu mengangguk dan terkekeh. "Intinya kalau jodoh, memang gak kemana ya, Mbak?"
Elsa mengangguk. "Bener, Mbak! Kadang jodoh kita itu gak pernah terduga. Aku aja gak pernah kepikiran loh, kalau akhirnya bakal nikah sama dia. Karena jujur, aku tuh sebelum tahu Arnold balik ke Indo, aku masih ngarepin orang yang aku taksir masa SMP. Padahal jelas-jelas aku tahu dia gak suka aku." Elsa tertawa dan menggelengkan kepala.
'Tok! Tok! Tok!'
Keduanya menoleh ke arah pintu yang tertutup itu.
Namun tak lama, pintu itu terbuka dan menampilkan Kaila disana.
"Elsa! My bestie in my life!" teriak Kaila.
"Jangan lari-lari!" teriak Elsa.
Namun Kaila sudah sampai di depannya.
"Takut nanti dedenya kenapa-napa," ucap Elsa seraya memeluk perut sahabatnya tersebut.
Kaila terkekeh. "Makasih lho tante udah perhatian sama Kala."
"Namanya mau dikasih nama Kala?" ucap Elsa.
Kaila menangguk. "Kala. Kana Kaila," ucap Kaila terkekeh.
"Berarti nanti nama anak gue Elnold. Elsa Arnold!" seru Elsa.
"Arsa, geh! Masa Elnold," ucap Kaila yang malah membuat Elsa tertawa.
"Ah, iya ya, Kai? Masa Elnold. Aneh banget anjir. Kaya nama Elmo malah. Elnold, Elmo," ucapnya tertawa.
Kaila menggelengkan kepala tak habis pikir. "Arsa yang bagus," ucap Kaila.
Elsa mengangguk. "Bener-bener, Arsa." Elsa melebarkan mata. "Ih, nanti dikira adiknya Arsi lagi," ucap Elsa menyebut anak Anang Asyanti tersebut.
Kaila tertawa. Tak hanya Kaila, perias pengantin itupun ikut tertawa.
"Dahlah, biar Arnold aja yang kasih nama, biar kebule-bulean gitu."
Kaila tertawa dan menggelengkan kepala.
"Lo tdi kesini, pengantin pria belum dateng 'kan, Kai?"
"Belumlah! Masih jam Enam lewat, Elsa."
Elsa membulatkan bibirnya. "Kiarin udah dateng."
Elsa tertawa lalu menoleh pada periasnya. "Maaf ya, Mbak. Temenku ini walaupun kalem, kalau sama aku doyannya ngegas. Jadi gak cocok sama mukanya."
Kaila mengerucutkan bibirnya. "Enak bener kalau ngomong."
Elsa terkekeh. "I'm sorry my bestie." Elsa terkekeh dan meraih tangan Kaila. "Oh ya, Kai. Bima dateng 'kan?"
Kaila mengangguk. "Dateng deh kayanya. Soalnya dia waktu itu minta bikinin batik. Mungkin buat dipakai kesini."
"Lo yang buat?"
Kaila mengangguk.
"Sama punya pacarnya juga?"
Kaila menggeleng. "Pacarnya gak enak mau buat di gue. Katanya gue lagi hamil. Apalagi kalau buat kebaya agak ribet 'kan? Jadi takut gue kecapean katanya."
Elsa tertawa. "Pacar Bima pengertian banget. Lah gue sebagai sahabat lo, malah nyuruh lo bikin kebaya berpasang-pasang," ucap Elsa tak habis pikir.
Kaila mengangguk seraya mengerucutkan bibirnya. "Iya! Temen macam apa lo?" ucapnya lalu mengambil ponsel untuk memotret sahabatnya untuk ia jadikan instastory.
"Ih belum siap Kaila!" teriak Elsa membuat Kaila refleks menutup kedua telinganya.
"Berisik banget."
-o0o-
Keiza beserta Aji telah sampai di rumah acara.
Pernikahan Elsa dan Arnold memang di selenggarkan dirumah Elsa. Karena Elsa memiliki halaman depan yang luas serta terdapat lapangan kosong depan rumahnya, sehingga ia tak perlu lagi untuk menyewa gedung.
Keiza dan Aji berjalan masuk dengan bergandengan.
Disana, terlihat semua sudah berkumpul. Termasuk mempelai pria yang sudah bersanding dengan mempelai wanita.
"Kayanya udah selesai ijab qabul," lirih Keiza.
Aji mengangguk membenarkan.
Keiza mengedarkan pandangannya dan melihat Wilka dengan Kevin disana.
Keduanya mendekat dan duduk di samping sepasang suami istri itu.
"Udah selesai ijab qabulnya?" tanya Keiza.
Wilka dan Kevin mengangguk dengan senyuman. "Baru aja selesai."
Keiza tersenyum. "Kita telat, yang," ucap Keiza menoleh pada sang suami.
Aji mengangguk. "Macet banget tadi, jadi telat."
"Gak papa telat, yang penting amplopnya gak telat," ucap Kevin membuat Aji dan Keiza tertawa.
"Oh ya, Kaila dimana ya?" ucap Keiza mengitari pandangannya.
"Itu, Kak!" ucap Wilka menunjuk seseorang yang duduk di belakang pengantin wanita.
__ADS_1
Keiza tersenyum. Lalu pandangan keduanya saling tertuju.
Kaila tersenyum dan melambaikan tangannya.
Keiza mendudukkan dirinya dan menoleh ke sisi kanannya. Disana, ia melihat Bima bersama dengan Siska.
Pandangan Bima tak berhenti dari pengantin wanita. Ada rasa sedih disana.
-o0o-
Bima tersenyum tipis melihat kedua pengantin yang tengah berfoto menggunakan buku nikah.
Dengan Elsa yang memegang buku nikah istri dan Arnold yang memegang buku nikah suami.
Bima hanya tersenyum dan tersenyum miring.
Ada rasa sedih yang cukup mendalam di hati Bima setelah ia menyadari jika ia sebenarnya mencintai Elsa, bukan wanita Jerman yang sempat ia pacari.
Bahkan saat pernikahan mantan kekasihnya yang di Jerman itu Bima tampak biasa sedih. Sedih memang, namun tidak sesedih ini.
Sayangnya, saat Bima menyadari perasaannya, semua sudah terlambat.
Elsa sudah memiliki Arnold, dan Bima sudah memiliki Siska yang sangat mencintainya.
Siska tak pernah marah ataupun menyerah. Meskipun ada rasa cemburu, ia terus yakin jika ia bisa berhasil mengambil hati Bima seutuhnya.
Setelah berfoto dengan buku nikah, kedua pengantian itu kembali berfoto dengan Arnold yang mencium kening Elsa.
Bima yang melihat itu hanya mengusap wajahnya gusar dan tersenyum pada gadis di sebelahnya.
Siska mencoba tersenyum dan mengusap punggung Bima. "Kak Elsa berhak bahagia sama Kak Arnold."
Bima tersenyum dan mengangguk. Meraih jemari Siska dan mengeratkannya. "Aku harus bahagia sama kamu."
Siska tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak Bima.
-o0o-
Setelah acara ijab qabul selesai. Seluruh keluarga dan tamu undangan dari pihak pengantin pria maupun wanita di persilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
Dan kini, terlihat Kaila dan Kana tengah menikmati santapan mereka di meja yang berisikan Enam kursi.
Hanya ada mereka berdua saat ini di meja itu. Dua bangku lainnya masih kosong. Mungkin sebentar lagi akan dipenuhi oleh Keiza dan Aji jika mereka melihat Kaila dan Kana tengah makan disini.
Kaila meneguk minumannya setelah menghabiskan beberapa suap.
"Waktu ijab qabul Elsa tadi, aku dari tadi ngeliatin Bima terus," lirih Kana sembari melirik Bima yang tengah makan bersama Siska di kursi lain.
Kaila mengikuti arah pandangan Kana. Wanita itu tersenyum. "Iya, aku juga ngeliatin dia. Dia tadi keliatan sedih banget."
"Tapi Bima harus bersyukur sih. Sekarang dia punya Siska yang sayang banget sama dia."
Kaila mengangguk. "Aku setuju. Siska memang keliatan sayang banget sama dia."
Kana tersenyum dan melanjutkan makannya.
"Halo!" seru Keiza yang sudah membawa makanannya bersama dengan Aji.
Kedua orang itu langsung duduk.
"Tahu gak sih? Tadi kita telat dong! Padahal pengen nyaksiin Elsa sama Arnold ijab qabul," ucap Keiza.
Aji mengangguk. "Yah, malah telat."
"Macet apa, Ji?" ucap Kana.
Aji mengangguk. "Daerah sana 'kan memang macet banget. Udah berusaha nyari jalan lain, eh ya tetep telat."
Kaila terkekeh. "Kita tadi malah berangkat jam Enam kurang."
"Sepi ya kalau jam segitu?" ucap Aji.
Kana mengangguk. "Cuma beberapa mobil sama motor doang."
Aji menghela napas. "Tahu gitu tadi kita berangkat jam enam juga, yang."
Keiza mengangguk dengan senyuman.
Mereka pun kembali menyantap hidangan yang telah mereka ambil.
Keiza mulai menyendokkan nasi dan sayur ke dalam mulutnya.
Namun, saat nasi itu baru masuk ke dalam mulutnya dan ia telan.
Rasa mual terasa begitu kuat.
Keiza tak mungkin memuntahkannya disini. Disini banyak tamu undangan.
"Kak, kenapa?" tanya Kaila yang memperhatikan kakaknya.
Keiza menggeleng dan menutup mulutnya menahannya agar tidak muntah.
Aji tampak panik dan memberikan Keiza sebuah kantong plastik yang berada di dekatnya.
Dengan sembunyi-sembunyi, Keiza memuntahkannya.
Keringat dingin bercucuran setelah ia memuntahkan semua makanan dalam mulutnya.
Kedua adiknya, Kaila dan Kana ikut panik.
"Kenapa, Kak?"
Keiza menelan salivanya dengan susah payah. "Aku mual dari tadi. Gak enak banget badan ini."
"Mual?" ucap Kana dan Kaila bersamaan.
Suami istri itu saling memandang.
"Jangan-jangan Kak Keiza hamil?"
Aji melebarkan mata. "Hamil?"
-o0o-
__ADS_1