
Part 30
Keiza menatap lembaran kertas di hadapannya. Menyoretkan pena pada setiap opsi yang dipilih dan membawa ke depan setelah ia rasa selesai.
“Kei!” seru teman sekelasnya yang bernama Rahma.
Keiza menoleh. “Kenapa?”
“Erkan belum keluar?” tanya Rahma yang mengetahui permasalahan Erkan yang ditahan beberapa waktu lalu.
Keiza tersenyum dan mendekat ke telinga Rahma. “Dia dinyatain gak bersalah sepenuhnya. Polisi udah tahu kalau ada yang mengadu domba antara Erkan sama korban.”
Rahma membulatkan bibirnya. “Berarti dia gak tahan lagi?”
Keiza menggeleng dengan senyuman.
“Terus dia dimana sekarang?”
Keiza diam. Ia tak mungkin menceritakan kepada teman-temannya jika Erkan saat ini tengah bersembunyi. Bukan apa, Erkan belum siap keluar. Erkan tahu jika saat ini banyak yang mengincar dirinya. Khususnya geng motor yang telah berurusan dengannya.
“Kei, dimana Erkan? Kita susah loh gak ada dia. Kamu tahulah, dia ketua tingkat. Kalau dia gak masuk, gimana nasib kita semua?” ucap Rahma dengan helaan napas.
Keiza mengangguk membenarkan. Benar apa yang Rahma katakana barusan. “Dia ada kok, sebentar lagi juga dia bakal masuk kelas lagi kok,” ucap Keiza dan kembali ke bangkunya.
Keiza kembali dengan bangkunya dengan senyum tipis. Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Itu bukanlah buku biasa. Buku itu adalah buku harian Keiza yang selalu ia tulis sejak kecil. Banyak sekali foto-foto disana.
Ia ingat, ia mulai meletakan foto-foto disana setelah ia mengenal Wilko dan Erkan. Sebelumnya, buku harian itu hanya berisi tulisan-tulisan kerinduan hati Keiza.
“Drrrrttt!’
Ponsel Keiza berbunyi. Ia melihat ke depan dan memastikan jika dosen yang mengajarnya terlah keluar. Keiza segera meraih ponselnya dan mendekatkan ke telinga.
“Halo, Ma?”
“Halo,” ucap wanita paruh baya di seberang sana.
“Ada apa ya, Ma?” tanya Keiza dengan hati-hati.
“Kamu jam berapa kapan pulang dari kampus?” tanya wanita itu yang Keiza panggil dengan sebutan Mama.
Keiza menggeleng refleks. “Keiza gak tahu, Ma.”
“Gimana sih? Kamu yang kuliah, masa kamu gak tahu pulang jam berapa?”
Keiza menghela napas panjang. Butuh rasa sabar untuk menghadapi wanita itu. “Maaf, Ma. Keiza gak tahu jam berapa. Soalnya siang ini ada kuliah tambahan juga dari dosen luar.”
“Yaudah, pulang dari kampus. Kamu jemput adik kamu di tempat lesnya!” perintah wanita itu.
“Tapi Ma, Keiza ke kampus naik angkot tadi.”
“Terus kemana pacar kamu?! ‘Kan dia biasa bawa mobil.”
__ADS_1
Keiza mencoba tersenyum. “Erkan gak berangkat ke kampus, Ma.”
Wanita itu berdecak. “Yaudah, terserah kamu. Bilang aja gak mau jemput adik kamu,” ucap wanita itu lalu mematikan sambungannya.
Keiza menghela napas panjang menatap ponselnya. “Selalu aja gue yang salah,” Keiza menggelengkan kepala dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Kak.”
Keiza tersentak saat mendengar suara memanggilnya. Ia menoleh ke sisi kanannya dan melihat gadis yang ia temui pagi tadi berada disini.
“Kamu?” Keiza mengerutkan dahinya. “Ngapain kesini?”
Kaila tersenyum. “Aku tahu sebenarnya ini gak penting buat kakak, cuma— aku selalu kepikiran.” Kaila memberi jeda pada ucapannya. “Kakak ‘kan yang bayar biaya administrasi Mamaku?”
Keiza mengerutkan dahinya. “Soal ini lagi?”
Kaila mengangguk seraya memamerkan deretan giginya.
Keiza berdecak. “Gak penting banget, mau itu aku—”
“Iya, aku tahu!” potong Kaila. “Aku tahu ini memang gak penting buat kakak, cuma—“ Kaila menghela napas. “Harus aku ceritain kenapa aku begitu penasaran?”
Keiza diam. Gadis itu tak merespon sama sekali.
Kaila mengangguk. “Oke! Aku ceritain kenapa aku begitu pengen tahu siapa yang sebenarnya udah bayar administrasi rumah sakit Mamaku. Jadi, aku disini cuma hidup sama Mama dan adikku. Kami disini gak punya siapa-siapa. Itulah alasan kenapa aku penasaran. Gak mungkin dong tiba-tiba ada orang yang gak dikenal bayarin biaya rumah sakit!”
Keiza menghela napas panjang. Bangkit berdiri dan menatap Kaila yang kini juga berdiri di hadapannya. “Iya, kalau itu aku yang bayar kenapa?”
“Aku kasian sama adik kamu. Dia nangis-nangis dan bilang gak ada uang buat bayar rumah sakit. Orang mana yang tega liatnya? Coba deh kalau kamu berada diposisiku saat itu. Apa kamu bakal diem aja?” tanya Keiza.
Kaila menggeleng.
“Itulah kenapa aku bayarin rumah sakitnya.”
Kaila meraih tangan Keiza dan menunduk. “’Kak, makasih banyak ya.”
“Iya, iya, yaudah sana cepet keluar. Bentar lagi dosen masuk,” ucap Keiza.
“Kakak tenang aja, aku bakal ganti uang kakak kok. Kakak tenang aja.”
“Iya, yaudah sana pergi.”
Kaila tak mendengarkan gadis itu masih meraih tangan Keiza dan terus mengucapkan terima kasih.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Bu!” seru sebagian mahasiswa saat dosen yang akan mengajar memasuki kelas.
“Kaila?” ucap dosen itu membuat Kaila menoleh.
“Eh, Ibu Anita.” Kaila tersenyum padanya.
__ADS_1
“Kamu ngapain disini? Kamu ‘kan masih tingkat Satu,” ucap Bu Anita.
Kaila terkekeh malu. “Iya, Bu. Kaila cuma mampir.”
Bu Anita tersenyum lalu menoleh pada gadis di samping Kaila. “Ah, iya! Ini loh, yang ibu maksud. Kamu itu mirip sama kakak tingkatmu yang ini. Si Keiza. Nah ‘kan, namanya aja sama. Kei, Kai.”
Kaila tersenyum. “Iya, Bu. Namanya yang mirip. Mukanya beda,” ucap Kaila dengan cengiran kuda.
“Dek, coba nengok sini!” seru salah satu mahasiswa memanggil Kaila.
Kaila menoleh dan menatapnya.
“Ah, iya! Mirip— cantiknya,” ucap mahasiswa itu dengan senyuman genitnya.
“Eh, Aksa! Jangan di gangguin. Dia itu pacarnya Kana,” ucap Rahma membuat Keiza menoleh ke arahnya.
“Kana?” seru gadis-gadis lainnya.
“Hah? Kana yang maba ganteng itu?”
“Yang waktu itu bikin heboh seantero bukan sih?”
“Iya, pokoknya yang sekarang jadi ketua tingkat mereka.”
Dan masih banyak lagi yang gadis-gadis itu bicarakan.
Bu Anita berdecak. “Jadi kita mau kuliah apa bahas Kana?” tanya Bu Anita seraya melipat kedua lengannya di depan dada. “Kalau mau bahas Kana, ayo! Ibu paham soal dia. Mau tau tentang apa? Neneknya? Ibu kawan neneknya. Rumahnya? Ibu tahu dimana rumahnya. Bapaknya? Ibu paham gimana kecil bapaknya dulu. Mau tahu tentang apa?”
Kaila tersenyum dan menunduk. “Bu, Kaila permisi.”
“Kai! Salamin buat pacar lo, dong!” seru gadis-gadis di kelas itu.
Kaila menghela napas setelah berhasil keluar dari kelas yang berubah menyeramkan setelah nama Kana muncul.
“Bisa-bisanya, Kana yang notobene mahasiswa baru yang ingusan, di sukai kakak-kakak tingkat?” Kaila melebarkan matanya tak mengerti.
“Ya, namanya juga orang ganteng,” ucap Kana yang ternyata berada di dekat Kaila berdiri.
“Kana?” Kaila mengerutkan dahinya.
Kana terkekeh dan bangkit dari duduknya. “Di buat cemburu sama kakak tingkat ya?”
Kaila berdecak. “Kamu ngapain disini?” Kaila menaikkan kedua alisnya. “Oh! Jangan-jangan kamu kesini buat ngapelin kakak-kakak tingkat itu ya?”
Kana tertawa. “Heh! Enak aja!” ucap Kana mencubit pipi Kaila.
“Ih, jangan nyubit loh!” ucap Kaila melepas tangan Kana dari pipinya.
“Abisnya, nuduh terus kerjaannya,” ucap Kana membuat Kaila menyengir kuda.
-o0o-
__ADS_1