KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 17


__ADS_3

Part 17


“Wellcome to Jakarta!” ucap Kana pada kedua sahabat baru dan juga kekasihnya.


Wilka tersenyum girang dan langsung menyambut cerahnya Ibukota di sore hari.  “Semoga pencarian kita nanti, berbuah manis ya,” ucap Wilka tersenyum pada ketiganya.


Kaila mengangguk dengan senyuman bahagia di wajahnya. “Aamiin.”


“Jadi gimana? Mau langsung cari apa gimana?” ucap Kevin yang sepertinya sudah siap dengan petualangan ini.


“Emm— kita ke rumah tanteku dulu ya. Kita cari info dulu tentang keberadaan Papa sama Kakakku.” ucap Kaila.


Wilka mengangguk. “Iya, bener. Kita kumpulin dulu semua informasi yang ada. Siapa tahu dengan itu, kita mudah buat cari mereka.”


“Yaudah gini aja.” Kana menjeda ucapannya. “Aku pesenin taksi buat kalian bertiga. Sementara, aku pulang ke rumah buat ambil mobil. ‘Kan gak mungkin kita cari Papa Kaila tanpa kendaraan.”


“Ah, iya juga!” ucap Wilka.


“Yaudah pesen gih,” ucap Kevin.


“Ya sabar.” Kana meraih ponselnya dan menekan sebuah tombol di sana.


Tak berselang lama, sebuah taksi melintas dan berhenti di depan mereka. Kaila, Wilka dan juga Kevin segera naik ke dalam taksi tersebut. Setelah memastikan ketiganya masuk dan mobil tersebut berlalu pergi, Kana segera menghentikan sebuah ojek untuk menuju ke rumahnya.


“Jalan Antasari ya Pak,” ucap Kana dan di angguki oleh ojek tersebut.


-o0o-


“Assalamualaikum.”


‘Tok! Tok! Tok!’


“Assalamualaikum, Tante!” seru Kaila setelah beberapa kali mengetuk pintu berwarna cokelat tua tersebut.


“Jangan-jangan gak dirumah, Kai,” lirih Wilka.


“Tapi itu mobilnya ada kok,” ucap Kevin yang melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di garasi.


“Coba ketok lagi Kai,” usul Wilka.


Kaila mengangguk dan kembali mengetuk pintu tersebut.


‘Tok! Tok! Tok! Tok!’


“Assalamualaikum, Tante Naila!” seru Kaila kembali.


‘Tok! Tok! Tok!’


“Kurang kuat, Kai. Sini aku manggil.” Wilka beralih untuk menggantikan Kaila.


‘Tok! Tok! Tok!’ 


“ASSALAMUALAIKUM TANTE KAILA!” teriak Wilka.


“Naila, bukan Kaila!” ucap Kevin membuat Kaila terkekeh.


“Oh Naila ya?” Wilka menaikkan kedua alisnya malu. “Oke, ulang-ulang.”

__ADS_1


‘Tok! Tok! Tok!’


“TANTE NAILA, ASSALAMUALAIKUM!”


‘Ceklek!’


Knop pintu memutar membuat Wilka mundur beberapa langkah. “Tuh, kedengeran suaraku.


Dan beberapa detik setelahnya, pintu terbuka lebar dan menampilkan Naila di sana.


Mata Naila memandang beberapa orang di depannya. Hingga ia tertuju pada gadis yang sejak dulu ia sayangi


“Kaila?” Naila tersenyum lebar dan langsung memeluk keponakannya tersebut.


“Tante, Kaila kangen,” lirih Kaila yang sudah berada dalam pelukan Naila.


Naila terkekeh dan mengusap rambut Kaila. “Tante juga kangen sama kamu. Oh ya, gimana Kiara? Dia betah sama sekolah barunya?”


Kaila mengangguk. “Betah, Tante. Bahkan dia pengen banget berangkat sekolah sendiri. Cuma Mama belum ngijinin, takut Kiara kenapa-napa.”


“Iya, bener-bener.” Naila tersenyum lalu menoleh pada kedua sahabat Kaila. “Ini siapa?”


Kaila tersenyum dan memperkenalkan kedua sahabatnya. “Yang ini namanya Kevin, Tante.” Kaila menunjuk Kevin.


“Dia orangnya nyebelin, tante,” ucap Wilka.


Naila tersenyum dan menoleh pada Kevin.


“Halo Tante, salam kenal!” Kevin menunjukkan deretan giginya dan bersalaman dengan Naila sebagai rasa hormat.


“Salam kenal ya, Kevin.”


Naila tersenyum dan menoleh pada Wilka.


“Halo, Tante. Saya Wilka.” Wilka pun tersenyum dan ikut bersalaman dengan Naila.


“Oh, kamu yang teriak panggil Tante tadi ya?” ucap Naila membuat Wilka tersenyum malu.


“Dia memang gitu Tante, orangnya,” ucap Kevin menambahi.


Naila tersenyum lalu menoleh pada Kevin. “Kamu pacarnya dia?”


“Bu— bukan, Tante! Dia mah bukan pacar saya,” ucap Wilka berterus terang.


“Oh, Tante pikir kalian berdua pacaran,” ucap Naila. “Yaudah, maaf ya Tante udah salah ngira.”


Kevin tersenyum getir. “Gak papa kok, Tan. Memang dari dulu banyak yang ngira kita berdua pacaran. Padahal mah, Wilka tahu perasaan saya aja enggak,” ucapnya seolah-olah telah tersakiti.


Wilka menoleh dan mengerutkan dahinya. “Ih, apasih Kevin ini, gak jelas.”


Naila tertawa. “Udah-udah ayo masuk dulu aja. Kita ngobrol-ngobrol di dalem.”


Ketiganya mengangguk dan masuk ke rumah tersebut.


“Ngomong-ngomong, Kana kemana? Dia gak ikut ke Jakarta juga?” ucap Naila mencari calon keponakannya tersebut.


“Dia masih pulang ke rumahnya, Tan. Mau ambil mobil katanya,” jawab Kaila.

__ADS_1


“Kenapa gak pakai mobil Tante aja? Kasian Kana jauh-jauh pulang ke rumahnya buat ambil mobil,” ujar Naila.


Kaila mengangguk. “Iya sih, Tan. Cuma kirain Tante bakal keluar pakai mobil.”


“Enggak, Kai.”


“Oh ya, Tante. Jadi soal Papa dan Kak Kirana, Tante ketemu mereka dimana?” ucap Kaila tanpa berbasa-basi lagi.


“Kalau Kirana, Tante belum pernah lihat dia selama di Jakarta. Tapi kalau Papamu, udah dua kali ini Tante gak sengaja ketemu dia.” Naila menghela napas. “Pertama ketemu, dia ada di tempat kerja Tante. Dari yang Tante denger, dia daftar jadi security di sana. Tapi saat dia ketemu Tante, dia langsung ngehindar dan berhenti kerja di hari itu juga.”


“Itu kapan, Tan?” ucap Kaila penasaran.


“Udah ada Satu bulan kalau gak salah,” ucap Naila. “Nah, yang kedua, ceritanya Tante lagi ngunjungin rekan kerja Tante di rumahnya. Terus pas Tante baru masuk komplek itu, Tante ngeliat Papamu. Tapi Tante belum sempet ngikutin, dia udah pergi gak tahu kemana.”


“Jadi, ada kemungkinan Papa tinggal di komplek itu ya Tan?” pikir Kaila.


Naila mengangguk. “Tante sih mikirnya gitu. Nah, ini Tante udah catet alamatnya. Kayanya Kana tahu komplek ini. Ya, lumayan jauh sih. Tapi Tante percaya ke kalian, kalian pasti bisa!”


Kaila tersenyum dan meraih tangan Naila. “Daoin ya, Tan. Semoga usaha kita dan keinginan Kaila untuk mempertemukan Mama dan Kak Kirana gak sia-sia.”


Naila tersenyum dan memeluk keponakannya tersebut. “Tante pasti doain yang terbaik buat kamu, Kai. Kamu anak baik. Tante yakin, kamu bisa mempersatukan lagi keluargamu.”


Kaila tersenyum dan di waktu bersamaan, air matanya menetes. Kaila sudah tidak mampu lagi menahan air matanya.


“Hey, jangan nangis,” ucap Naila.


Kaila mengangguk. Namun, air matanya tak henti untuk menetes. “Kaila, Kaila pengen punya keluarga kaya orang-orang, Tan. Hiks. Kaila pengen punya keluarga yang utuh.”


Melihat Kaila menangis seperti ini, membuat Kevin dan Wilka ikut sedih.


“Dari kecil Kaila belum pernah merasakan arti kehangatan sebuah keluarga, Tan. Kaila selalu sendiri.”


Naila menitihkan air matanya. Ia tahu bagaimana penderitaan Kaila sejak dulu. Gadis itu bahkan tidak pernah mendapatkan kehangatan dari keluarganya.


Dengan helaan napas, Naila menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Tante tahu gimana perasaan kamu. Tapi kamu harus sadar, sekarang Mamamu udah kembali. Kamu udah kumpul lagi sama Mamamu, sama adikmu. Iya ‘kan?”


Kaila mengangguk. Namun, air matanya semakin deras.


“Hey, jangan gini geh. Liat nih, ada siapa,” ucap Naila seraya melepaskan pelukannya.


Kaila menoleh dan melihat Kana sudah berada di sampingnya.


“Kenapa nangis?” ucap Kana memandang wajah Kaila.


Kaila menggeleng dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Gadis itu malu karena kekasihnya sudah berada di sini.


“Jangan nangis geh,” lirih Kana seraya mengusap lembut rambut Kaila dengan penuh kasih sayang. “Jangan nangis ya? Kita cari lagi keluarga kamu. Oke? Jangan nangsi lagi geh. ‘Kan pacar Kana orangnya kuat. Ya ‘kan?”


Wilka tersenyum dan berbisik di telinga Kevin. “Kana kayanya sayang banget sama Kaila.”


“Yaiyalah, namanya juga pacarnya,” jawab Kevin dengan penuh penekanan.


Wilka menghela napas. “Ya iya tahu pacarnya. Cuma, beda aja gitu. Biasanya cowok ke pacarnya tuh, ya perhatian-perhatian biasa gitu. Dan ini beda,” ujarnya.


“Ya berarti Kana sayang banget sama Kaila,” bisik Kevin di telinga Wilka.


Wilka menghela napas. “Ya dari tadi juga aku bilang gitu, Kevin!”

__ADS_1


Kevin tertawa, lalu mengusap wajah Wilka membuat gadis itu kesal.


-o0o-   


__ADS_2