
Part 6
"Makasih ya, Pak." Kaila menyerahkan selembar uang kepada supir angkot dan menginjakkan kaki di sekolahnya.
Hari ini hari Rabu dan pelajaran pertama yang harus ia lalui adalah pelajaran olahraga. Bagi sebagian orang, olahraga adalah pelajaran yang paling di tunggu. Hal itupun berlaku bagi Kaila.
Gadis berdarah Jawa itu sangat menyukai pelajaran olahraga, dan olahraga yang sangat ia sukai adalah Baseball.
Kebetulan sekali jadwal olahraga hari ini adalah Baseball. Sebab itulah Kaila sangat bersemangat dan tak sabar untuk berganti pakaian dan berkumpul di lapangan.
"Eh, cewek!"
Kaila tak merespon. Ia terus berjalan dan tak mempedulikan seseorang yang berteriak memanggilnya.
"Yaelah, cantik-cantik tuli."
Kaila menghela napas dan menghentikan langkahnya. Dengan wajahnya memerah dan terlihat ingin marah, Kaila berbalik badan.
"Di panggilin juga, gak nengok-nengok!"
Kaila memutar bola matanya. "Jadi nama lo Bima Aksana?" ucap Kaila setelah membaca nametag yang terpasang di seragam laki-laki tersebut.
Bima tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Bima Aksana. Cowok baik-baik yang selalu di sangka playboy."
Kaila memutar bola mata dan membalas jabatan tangan Bima. "Kaila."
"Nama lengkap?"
"Kaila Zeline Qirani."
"Umur?"
"18 tahun."
"Cita-cita?"
"Pergi dari hadapan lo sekarang juga!" ucap Kaila dan berjalan pergi.
"Et! Et! Tunggu dulu." Bima menahan tangan Kaila agar tidak pergi.
"Kenapa lagi sih?" ucap Kaila yang mulai kesal dengan Bima.
Bima tersenyum dan meraih sesuatu dari dalam sakunya. "Nih," ucapnya memberikan sebuah foto pada Kaila.
Kaila mengerutkan dahinya dan menatap foto di tangannya.
"Buat apa?" tanya Kaila tak mengerti.
Bima tersenyum. "Supaya otak lo terngiang-ngiang ketampanan gue."
-o0o-
"Makasih ya lo selalu nebengin gue," ucap Adinda yang turun dari motor Kana.
Kana mengangguk seraya melepas helm-nya.
"Yuk!" ajak Adinda yang masih menunggu Kana.
Kana menaruh helm di atas motor dan berjalan mengimbangi langkah Adinda.
"Pagi ini pelajaran kita Kimia 'kan?" tanya Adinda.
Namun tak ada respon dari Kana.
"Kan? Hari ini pelajaran pertama Kimia 'kan?" tanya kembali.
Kana tak menjawab. Ia terdiam dan menatap seseorang di ujung sana.
Akhirnya Adinda pun mengikuti arah pandangan Kana.
Raut wajahnya berubah kesal saat menyadari jika Kana sedang memandang gadis bernama Kaila itu yang tengah bersama Bima.
"Bima lagi, Bima lagi. Kenapa sih sama cowok itu? Perasaan setiap ada anak baru, di pepet mulu."
Kana tak menjawab. Sorot matanya masih mengarah pada sepasang muda-mudi itu.
__ADS_1
-o0o-
"Udah deh, gak penting banget tahu gak nyimpenin foto lo!"
Bima menghela napas dan melipat kedua lengannya. "Lo gak tahu manfaat nyimpen foto gue?"
Kaila menggeleng. "Gak tahu dan gak pengen tahu!" ucapnya dan berjalan pergi.
"Eh! Tunggu!" teriak Bima dan berlari mengejar Kaila.
-o0o-
"Lo gak naksir cewek itu 'kan Kana?" tanya Adinda pada laki-laki di sebelahnya.
Kana menggeleng. "Bukan tipe gue," ucapnya dan berlalu pergi.
Mendengar jawaban Kana, Adinda pun tersenyum lega. "Semoga aja tipe lo adalah gue," lirihnya dan berjalan mengimbangi langkah Kana.
"Kana! Itu Kana!" teriak beberapa gadis membuat Kana menghela napas lelah dan mempercepat langkahnya. Ia sedang tidak ingin berurusan dengan gadis-gadis tersebut.
-o0o-
Setelah melakukan pemanasan, Oka selaku guru olahraga pun menjelaskan mengenai olahraga hari ini. "Baik, olahraga yang kita mainkan hari ini adalah Baseball. Sebelumnya kita mulai, apa disini ada yang jago bermain Baseball?" tanya Oka pada seluruh murid 12 IPA 3 tersebut.
"Kaila, Pak!" teriak Elsa yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kaila.
"Lo mah, gue malu," bisik Kaila di telinga Elsa.
Oka mengerahkan pandangannya. "Ayo yang namanya Kaila, silahkan maju."
Kaila menghela napas menutupi rasa gugubnya dan maju ke depan menghampiri Oka.
"Kamu yang namanya Kaila?" tanya Oka saat Kaila sampai di hadapannya.
-o0o-
"Ji, Kana! Tungguin gue dong!" teriak Adinda seraya mengimbangi langkah kedua sahabatnya untuk menuju laboratorium Kimia.
Aji menghentikan langkah dan menunggu gadis tersebut. Sedangkan Kana, laki-laki itu sudah berlalu tanpa memperdulikan kedua sahabatnya.
Aji tertawa. "Namanya juga Kana, kalau jalan gak pernah nengok-nengok, lurus aja."
Adinda tertawa mendengar ucapan Aji. "Yaudah yuk," ajaknya.
Aji mengangguk dan keduanya pun berjalan menuju laboratorium Kimia yang berada di ujung.
-o0o-
"Jadi kamu mantan ketua tim Baseball di sekolah lamamu?" tanya Oka pada gadis di hadapannya.
Kaila mengangguk membenarkan.
"Coba tunjukkan kemampuan kamu. Bapak pengen lihat," ucap Oka seraya menyerahkan tongkat Baseball pada Kaila.
Dengan penuh percaya diri dan yakin, Kaila pun meraih tongkat tersebut.
"Semangat Kaila!" teriak Elsa saat melihat sahabatnya bersiap menerima bola.
"Siap?" tanya Oka pada Kaila.
Kaila mengangguk membuat beberapa teman sekelasnya semakin yakin dengan kemampuan Kaila dalam bermain Baseball.
"Kaila! Kaila!" teriak teman sekelasnya.
"SEMANGAT KAILA! LO PASTI BISA!" teriak Bima dari balik jendela kelasnya.
Rupanya laki-laki itu memperhatikan Kaila sejak tadi.
"Satu, dua!" Oka melemparkan bolanya.
Dengan waktu yang amat cepat, tongkat Kaila berhasil mengenai bola yang Oka lemparkan. Ia memukulnya dengan sangat kuat.
"Gila!" teriak Elsa saat bola yang Kaila pukul melayang jauh dari dugaan.
"Eh, itu Kana! Awas kena Kana!" teriak teman sekelasnya yang melihat bola itu mengarah pada Kana yang tengah berjalan.
__ADS_1
"KANA! AWAS!" teriak Kaila.
Merasa di panggil, Kana pun menoleh. Namun saat ia menoleh, sebuah bola melayang ke arahnya dan mengenai wajah membuatnya terjatuh.
Kaila memukul kepalanya dan merutuki kebodohan yang sudah ia lakukan. "Kenapa bisa kena dia sih?"
Dengan rasa takut dan bersalah, ia pun berlari dan menghampiri Kana yang tengah berusaha bangkit.
Kana berdecak dan menahan rasa sakit.
Namun saat Kaila sampai di hadapannya. Pandangan laki-laki itu terlihat kabur, dan detik setelahnya Kana kembali jatuh dengan keadaan pingsan.
"Kana!" teriak Adinda melihat Kana terjatuh pingsan.
Kaila terlihat bingung dan takut. Akhirnya ia pun mencoba mengangkat tubuh Kana.
"Emang lo kuat?" tanya Aji yang sudah berada di sampingnya.
Kaila menggeleng.
Tanpa berbasa-basi, Aji pun mengangkat tubuh Kana dan membawanya ke ruang UKS.
Kaila merutuki kebodohannya dan berlari mengikuti Aji.
"Eh, Kaila!" teriak Adinda membuat Kaila menghentikan langkah dan menoleh. "Kalau terjadi apa-apa sama Kana, lo harus berurusan sama gue!" ancamnya.
Kaila tak mendengarkan, ia terus berlari untuk melihat keadaan Kana saat ini. Ia tak ingin laki-laki terluka karenanya.
"Satu orang saja yang menunggu Kana disini. Yang lain kembali ke kelas," ucap Perawat yang berjaga di UKS.
"Saya aja Bu yang jagain Kana!" ucap Adinda membuat Kaila menoleh ke arahnya.
"Enggak! Saya aja. Saya yang udah bikin Kana pingsan. Jadi saya aja yang jagain sampai dia sadar."
Semuanya menoleh pada Kaila. Begitupun Aji.
"Iya, Kaila aja yang nungguin Kana. Dia harus tanggung jawab sampai Kana sadar," ucap Aji membuat semua yang berada di UKS mengangguk setuju. Kecuali Adinda.
"Tapi—" potong Adinda.
"Gak ada tapi-tapian, kita harus ke laboratorium sekarang." Aji menarik tangan Adinda agar pergi dari UKS.
Adinda menatap Kaila tajam dan berlalu mengikuti Aji.
Setelah ruangan sepi, kini tinggal Kana, Kaila dan perawat yang berada di dalam.
"Kita tunggu saja sampai dia sadar. Sepertinya sebentar lagi dia akan sadar," ucap perawat tersebut.
Kaila mengangguk. "Iya, Bu."
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Nanti kalau Kana sadar, kamu bisa panggil saya di ruangan sebelah."
Kaila mengangguk dan membiarkan perawat itu pergi.
Kini tinggallah ia berdua bersama Kana. Rasa takut kembali menyeruak, ia takut jika Kana tidak sadar dan keluarga Kana akan menuntutnya.
"Apa yang harus gue lakuin?" Kana menggigit bibir bawahnya bingung.
"Gue kipasin aja deh," ucapnya lalu meraih kipas dan akan mengipasi wajah Kana.
Namun belum sempat ia lakukan, Kana sudah sadar terlebih dahulu.
Kaila tersenyum. "Alhamdulillah! Gue panggil perawat dulu." Kana bangkit dari kursinya.
"Tunggu!" Kana meraih tangan Kaila dan menahannya.
"Gue gak butuh perawat."
"Hah?" Kaila menaikkan alisnya tak mengerti.
"Gue butuh lo disini."
'Deg!'
...-o0o-...
__ADS_1