
Part 39
Matahari sudah menampilkan jati dirinya, membuat cahayanya masuk melalui celah jendela.
Nabila sudah sadar semalam. Namun ia hanya merespon sebentar dan kemudian tertidur. Hal itu, membuat Kaila tak sempat menjelaskan mengenai Keiza yang kembali.
"Apa kita bangunin Mama aja Kak buat sarapan?" tanya Kiara pada kedua kakaknya.
Keiza menoleh pada jam di tangannya. "Kita tunggu setengah jam lagi ya?"
Kiara mengangguk.
"Oh ya Kai, Kana kemana?" tanya Keiza pada Kaila.
"Lagi cari sarapan dia."
Keiza membulatkan bibirnya.
'Drrrttt!'
Di waktu yang bersamaan, ponsel Keiza berbunyi membuat ketiganya menoleh ke arah yang sama.
Keiza mengerutkan dahi membaca nama seseorang yang menelponnya.
"Siapa, Kak?" tanya Kaila.
"Gladis," ucap Keiza lalu mengangkat ponselnya. "Halo?"
"Kak, gawat kak!" ucap Gladis di seberang sana.
"Gawat kenapa?"
"Mama marah besar Kak! Mama marah karena kakak gak pulang semaleman. Mama ngira kalau Kakak lagi sama Kak Erkan."
Keiza memejamkan mata seraya memukul pelan dahinya. "Tapi kamu gak bilang yang sebenarnya, 'kan?"
"Enggak, Kak. Aku bilang kalau Kakak ada kerja kelompok di temen Kakak yang cewek. Tapi Mama gak percaya."
Keiza menghela napas panjang. "Yaudah, Kakak pulang sekarang," ucap Keiza lalu menutup sambungannya.
"Kenapa, Kak?" tanya Kaila.
"Mama angkat kakak marah besar karena kakak gak pulang semaleman. Dia ngira, Kakak gak pulang karena lagi sama Erkan."
Kaila menggelengkan kepalanya.
"Kakak pulang dulu ya? Kamu gak papa 'kan disini? Kana sebentar lagi balik kesini 'kan?" tanya Keiza.
Kaila mengangguk. "Iya, Kak. Kana sebentar lagi balik kok. Kakak gak papa kalau mau pulang. Kelarin dulu aja masalah dirumah."
Keiza mengangguk dan tersenyum. Meraih tasnya dan berjalan pergi.
Setelah Keiza pergi, Kaila menghela napas dan menoleh pada adiknya.
"Sebenarnya ada apa sih, Kak?" tanya Kiara.
Kaila tersenyum tipis. "Gak papa kok."
'Tok! Tok! Tok!'
"Assalamualaikum, makanan datang!" seru Kana membuat kakak beradik itu menoleh dan tersenyum.
"Kakak bawa apa?" tanya Kiara memandang beberapa kantong plastik di tangan Kana.
"Kakak bawa bubur ayam buat kita sarapan. Oh ya, kakak juga beliin susu buat Kiara. Kiara 'kan kalau pagi selalu minum susu 'kan?" tanya Kana.
Kiara mengangguk seraya memamerkan deretan giginya.
"Kak Keiza mana?" tanya Kana pada Kaila.
"Dia pulang. Mama angkatnya marah karena dia gak pulang semaleman."
Kana membulatkan bibirnya. "Yaudah gih, kamu sarapan dulu. Biar aku yang suapin Mama Bila kalau bangun."
"Kamu gak sarapan juga?" tanya Kaila.
"Aku masih kenyang," jawab Kana.
Kaila menggeleng. "Gak. Aku suapin aja kalau gitu."
Kana tersenyum. "Yaudah, suapin ya?"
__ADS_1
Kaila mengangguk lalu meraih kotak sterofom berisikan bubur ayam tersebut. "Ini punya Kiara, di makan ya?"
Kiara mengangguk meraih kotak seterofom tersebut.
Kaila tersenyum lalu membuka bubur ayam miliknya dan mengaduknya. "Gak papa 'kan kalau aku aduk?"
Kana mengangguk, menunggu gadis itu menyuapkan sesendok bubur kepadanya.
"Buka mulutnya," ucap Kaila menyuapi bubur tersenyum.
Kana membuka mulutnya dan mengunyah suapan bubur di mulutnya. "Enak!"
Kaila tersenyum. "Enakan ini atau bubur ayam yang waktu itu kita beli di deket lampu merah?"
"Enakan ini, jauh!" ucap Kana membuat Kaila melebarkan mata.
"Seriusan?"
Kana mengangguk.
"Coba ah," ucap Kaila lalu ngambil bubur itu menggunakan sendok.
"Sini sekarang aku yang suapin," ucap Kana mengambil alih sendok dari tangan Kaila dan menyuapkan ke dalam mulut Kaila. "Enak 'kan?"
Kaila mengunyah bubur itu dan mengangguk. "Iya, enakan ini."
Kana terkekeh.
"Kenapa?" tanya Kaila tak mengerti.
"Ada bubur yang ketinggalan," ucap Kana membersihkan bibir Kaila menggunakan ibu jarinya.
Kaila tersenyum malu lalu meraih segelas air minum dan meneguknya.
"Mama seneng lihat kalian kaya gini."
Kaila, Kana dan juga Kiara melebarkan mata dan menoleh saat mendengar suara Nabila. Rupanya wanita itu telah bangun dan tersenyum menyaksikan ketiganya.
"Mama udah bangun?" ucap Kaila berjalan menghampiri Ibundanya.
Nabila tersenyum dan meraih tangan Kaila.
"Kaila seneng Mama udah bangun dan bisa senyum lagi. Sekarang apa yang Mama rasain? Pusing?"
"Beneran?" tanya Kaila.
Nabila mengangguk.
"Aku suapin sarapan ya, Ma?" ucap Kana yang sudah berada di samping Nabila.
Nabila menoleh dan tersenyum pada Kana, lalu mengangguk.
"Aku aja, Na," ucap Kaila.
Kana menggeleng. "Kamu selesain aja sarapan kamu. Biar aku yang suapin Mama."
"Tapi—"
Nabila menoleh pada Kaila. "Kamu selesain aja sarapan kamu, Mama pengen di suapin sama Kana."
Kaila mengangguk dan akhirnya mundur. Ia akan mengikhlaskan Ibunya di suapi oleh kekasihnya.
"Buka mulutnya, Ma," ucap Kana yang hendak menyuapi.
Nabila mengangguk dan menerima suapan dari Kana.
Keduanya terlihat dekat seperti ini. Layaknya seorang mertua dengan menantunya sendiri. Dan Kaila, senang melihat hal itu terjadi.
"Makasih kamu udah bikin Mama aku bahagia, Na."
-o0o-
"Assalamualaikum."
"Dari mana aja kamu?!"
Teriakan wanita itu membuat Keiza berhenti dan terdiam. Gadis itu menggenggam tasnya erat-erat menunggu wanita itu sampai di hadapannya.
"Semaleman kamu sama Erkan?" ucap wanita yang memiliki nama Sekar tersebut.
Keiza menghela napas panjang. "Keiza gak sama Erkan, Ma."
__ADS_1
"Halah, gak usah bohong kamu!"
Keiza berdecak. "Ma, aku sadar selama ini aku diem aja! Tapi sekarang enggak, Ma! Aku gak bisa diem terus! Aku gak bisa setiap hari di injak-injak sama Mama! Aku juga punya kebebasan, Ma! Aku punya kehidupan!"
Sekar melebarkan matanya. Tangannya memanas. "Berani kamu!"
"Ma! Cukup!" teriak Gladis yang melihat Sekar hendak menampar Keiza. "Cukup, Ma! Cukup!" Gladis menahan tangan Sekar agar tidak menampar Keiza.
"Tampar aja, Ma! Tampar aja, aku!" teriak Keiza.
Amarah Sekar semakin memuncak. Matanya memerah, tatapannya begitu tajam menatap wajah Keiza. "Kamu tahu? Kamu itu anak gak tahu diri! Orangtua kandung kamu gak becus merawat kamu! Seharusnya kamu bersyukur Mama sama Papa udah mau ngehidupin kamu sampai kamu kuliah kedokteran! Dan sekarang, lihat! Kamu berani melawan Mama? Ha?!"
Keiza menunduk. Air matanya menetes. Sebenarnya ia tak ingin lemah seperti ini. Namun, ucapan Sekar barusan benar-benar menyakiti perasaannya.
"Kalau bukan karena kami, kamu gak bakal bisa hidup seperti ini! Lihat Papa kandung kamu sekarang, dia kerja di rumah orang supaya bisa hidup. Seharusnya kamu bersyukur udah dikasih hidup mewah seperti ini!" Sekar mengatur napasnya yang menggebu. "Sekarang Mama tanya, apa Mama kandung kamu pernah cari-cari kamu? Enggak 'kan? Hidup kamu udah enak sekarang. Seharusnya kamu bersyukur, Keiza!"
Keiza menunduk. "Tapi aku gak pernah bahagia, disini."
"Okey, kalau kamu memang gak bahagia tinggal disini. Silahkan pergi! Silahkan! Pintu rumah ini terbuka lebar buat kamu pergi!" teriak Sekar.
"Ma, jangan! Gladis gak mau di tinggal Kak Keiza," ucap Gladis memohon pada Ibunya.
Keiza memejamkan mata. Semua ucapan yang keluar dari mulut Sekar benar-benar menyakitinya. Ia tak sanggup lagi mendengarnya.
"Pergi!" teriak Sekar.
Keiza mengangguk. "Oke, aku bakal pergi!" ucap Keiza lalu berlari ke kamarnya.
"Kak, jangan pergi!" teriak Gladis yang menghampiri Keiza.
Keiza tak mendengarkan. Gadis itu mengambil koper di atas lemari dan memasukkan semua baju-bajunya ke dalam koper.
"Kak, jangan dengerin Mama. Gladis mohon," pinta Gladis agar kakaknya tersebut tak meninggalkannya.
Keiza menoleh dan menatap Gladis dengan tatapan nanar. "Maafin kakak," ucapnya menarik Gladis ke dalam pelukan. "Maafin kakak ya. Kakak cuma bisa jagain kamu sampai sini. Mulai sekarang, kamu harus bisa jaga diri. Kamu harus selalu hati-hati ya?"
Gladis menggeleng. "Gladis gak mau pisah sama kakak."
Keiza tersenyum. "Maafin kakak ya?" ucap Keiza lalu melepas pelukan itu dan kembali memasukkan semua barang-barang miliknya.
"Kak."
Keiza tak mendengarkan. Ia menutup koper itu dan bangkit berdiri. "Kakak pamit," ucapnya dan berjalan pergi.
"Kak Kei!"
-o0o-
"Jadi, Kirana ada disini?" tanya Nabila setelah mendengar penjelasan dari Kaila.
Kaila mengangguk. "Dia juga yang waktu itu bayar biaya rumah sakit waktu Mama tiba-tiba pingsan dan dilariin ke rumah sakit."
Nabila menitihkan air mata haru. "Mama kangen sama Kirana. Mama pengen ketemu sama dia. Mama penge peluk dia secara langsung."
"Kirana disini, Ma."
Semuanya menoleh saat melihat Keiza sudah berdiri dengan membawa koper di sampingnya.
Nabila tersenyum dan hendak bangkit. Namun Kirana menggeleng dan berjalan menghampiri ibunya lalu memeluknya dengan hangat.
"Ini Kirana, Ma. Anak sulung Mama."
Nabila memejamkan mata dan tersenyum. Ia senang bisa memeluk putrid sulungnya kembali.
"Kirana kangen Mama," ucap Keiza.
"Mama juga kangen kamu, Nak. Kangen banget. Gak ada yang bisa nandingin rindu seorang ibu ke anaknya."
Kaila tersenyum. Ia begitu bahagia melihat pemandangan di depannya.
Melihat Kaila, membuat Kana turut bahagia. Ia merangkul gadis itu dan mengusap pundak gadis itu.
"Aku bahagia keluargaku perlahan lengkap."
Kana mengangguk. "Aku ikut bahagia."
'Drtttt!'
Ponsel Kaila bergetar. Terlihat ada seseorang yang menelponnya. Kaila melebarkan mata dan tersenyum.
"Siapa?" tanya Kana.
__ADS_1
"Bima!"
-o0o-