KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 35


__ADS_3

Part 35


Beberapa bulan kemudian . .


Sepasang suami istri itu, Kana dan Kaila tengah menghabiskan hari libur mereka dengan bersantai di pinggiran kolam renang. Menikmati kue buatan Oma Raisa, sembari Kana yang bolak balik naik turun ke kolam renang.


Kaila terkekeh. "Kamu ini, naik, turun, naik, turun."


Kana tersenyum dan mengambil kue yang berada disamping Kaila. "Menyelam sambil makan kue," ucap Kana membuat Kaila tertawa.


"Cobain deh Yang, yang ini, rasa keju." Kana mengambil sebuah cup cake dan menyuapkan kepada Kaila.


Kaila membuka mulutnya dan membiarkan cake itu masuk ke dalam mulutnya.


Kana tersenyum lebar saat cake itu berhasil masuk ke dalam mulut Kaila. "Gimana? Enak 'kan? Kejunya berasa 'kan?" ucap Kana.


Kaila mencoba mengunyahnya. Namun—


"Huekkk!"


Kaila memuntahkan kue itu. Ia segera berlari ke dalam membuat Kana bingung.


Laki-laki itu segera naik sepenuhnya ke atas dan mengejar istrinya.


"Lala!"


Kana mengedarkan pandangannya. Sepertinya Kaila berlari ke toilet.


"Sayang. Kamu kenapa?" teriak Kana yang mencoba mengejar Kaila.


'Huekkk!'


'Huekkk!'


Kana mengusap punggung dan leher Kaila. Laki-laki itu tampak cemas. Ia segera mengambil minyak kayu putih dan mengusapkannya ke dalam perut Kaila.


"Gimana? Enakan?"


Kaila mengangguk.


"Yaudah yuk, ke kamar. Aku periksa dulu."


Kaila mengangguk dan mengikuti langkah Kana menuju kamar.


Namun—


'Huekkk!'


Wanita itu kembali memuntahkan semua yang sudah masuk ke dalam perutnya.


Kaila terlihat lemah. Keringat dingin keluar dari wajah wanita itu.


Kana terlihat panik. Ia mengelap semua keringat yang keluar dari wajah istrinya dan menuntunnya membawa ke kamar.


"Masih mual?"


Kaila mengangguk. "Tapi udah gak terlalu banget."


"Yaudah, kita ke kamar dulu ya? Aku ambilin obat pereda mual."


Kaila mengangguk dan mengikuti arahan Kana.


Kana benar laki-laki siaga. Tak sia-sia Kaila menikah dengan Kana yang berprofesi sebagai dokter.


"Kamu rebahan dulu ya? Aku ambilin obat pereda mual dulu.


Kaila mengangguk, memejamkan mata seraya memegang perutnya.


Kana kembali dengan sebuah obat dan segelas air ditangannya. Ia membantu Kaila untuk mengubah posisi dengan sedikit bangun dan segera menyerahkan obat tersebut lalu diikuti dengan air minum.


Kaila menghela napas setelah obat tadi berhasil ia konsumsi.


"Rebahan lagi aja, ya?"


Kaila mengangguk lalu meraih tangan Kana.


"Kenapa, sayang?" Kana menaikkan kedua alisnya.


"Disini aja. Samping aku," ucap Kaila sembari menepuk kasur di sebelahnya.


Kana tersenyum, tertawa kecil dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Kaila.


Keduanya saling memandang.


Kana tersenyum dan mengusap pucuk kepala Kaila, lalu berpindah ke perutnya.


"Sayang," lirih Kana membuat Kaila menaikkan kedua alisnya. "Apa jangan-jangan, kamu mual gini, karena kamu hamil?" ucap Kana.


Kaila melebarkan mata. "Masa iya sayang?"


Kana mengangguk. "Bisa jadi 'kan?"


Kaila terlihat terdiam. Lalu melebarkan mata. "Astaga sayang, aku lupa. Aku udah hampir satu bulan lebih gak haid."


Kana melebarkan mata dengan senyuman lebar. "Serius?"


Kaila mengangguk.


Kana tersenyum. Laki-laki bangkit dari kasur membuat Kaila bingung.


"Mau kemana?"


"Sebentar ya?" ucap Kana di angguki oleh Kaila.


Lelaki itu berjalan menuju lemari obat-obatannya, lalu mengambil sesuatu disana.


"Sayang, ayo ke kamar mandi," ucap Kana membantu Kana untuk bangkit.


Lelaki itu menuntun istrinya sampai depan kamar mandi. Mengambil sebuah gelas bening dan ia serahkan pada istrinya beserta sebuah alat pengetes kehamilan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.


"Kamu cek ya?"


Kaila mengangguk dan mengikuti perintah Kana.


Setelah lama dikamar mandi dengan Kana yang menunggunya di luar. Akhirnya Kaila keluar.


Wanita itu keluar dengan sebuah tes pack yang ia sembunyikan di tangan kanannya.


"Gimana?" tanya Kana dengan raut wajah penuh harap.


Kaila menggigit bibir bawahnya, menunduk, lalu menatap mata Kana. "Aku—"


Kana mengangguk. Menunggu Kaila melanjutkan ucapannya.


"Aku hamil."


Kana melebarkan mata.


Kaila tersenyum dan menyerahkan hasil tes pack yang telah menunjukkan garis dua disana.


Kana tersenyum bahagia. Laki-laki meletakkan tes pack itu, meraih stetoskop yang tergantung di dinding, lalu mendekatkan Diaphragm stetoskop pada bagian perut Kaila.


Kaila terkekeh dan mengusap rambut Kana.


"Kita bakal punya baby," lirih Kana menatap mata istrinya.

__ADS_1


Kaila mengangguk dengan tangan yang memegang perutnya. "Akhirnya doa kita di kabulin, sayang."


Kana tersenyum dan memeluk Kaila dengan penuh kehangatan.


-o0o-


"Kaila hamil?" seru Keiza saat mendapat kabar adiknya tersebut.


Aji menoleh pada istrinya. "Apa sayang?"


"Waalaikumsalam." Keiza meletakkan kembali ponselnya dan menoleh pada suaminya yang tengah menikmati buah.


"Kenapa tadi?" tanya Aji kembali.


"Kaila hamil, sayang."


Aji melebarkan mata. "Alhamdulillah. Akhirnya sebentar lagi mereka bakal punya momongan."


Keiza mengangguk dengan senyuman. Mendekat pada Aji dan merangkul leher suaminya tersebut.


"Kenapa?" tanya Aji dengan kekehan.


Keiza mengerucutkan bibirnya, lalu menatap mata Aji. "Maaf ya? Aku belum bisa kasih kamu—"


Aji menutup mulut Keiza. "Kamu perlu minta maaf. Mungkin memang Allah belum kasih anak buat kita. Mungkin aja, Allah pengen kita pacaran dulu," ucap Aji seraya mengusap punggung tangan Keiza.


Keiza tersenyum. Duduk di samping Aji, lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Aji tersenyum tulus. Ia menarik sedikit tubuh Keiza dan mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Apa kita ambil tawaran kakek?" ucap Aji membuat Keiza menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


"Soal?" tanya Keiza.


"Soal ambil cuti buat bulan madu."


Keiza tersenyum dan menatap suaminya. "Aku gak enak sayang sama dokter yang lain. Masa iya cuma kita yang dapet cuti bulan madu."


Aji terkekeh. "Ya gak papalah. 'Kan kita cucunya kakek. Lagipula pasti mereka ngertiinlah. Toh gak merugikan mereka juga 'kan?"


Keiza tampak berpikir. "Apa gak papa?"


Aji mengangguk, meraih tangan Keiza mencoba meyakinkan istrinya tersebut.


Keiza tampak berpikir, dan akhirnya mengangguk.


"Mau?" Aji menaikkan kedua alisnya.


Keiza tersenyum dan— "Mau."


Aji tersenyum dan mengangkat tubuh Keiza membuat istrinya berteriak kaget.


"Sayang, mau kemana?" tanya Keiza saat tubuhnya di angkat oleh Aji.


"Bikin baby lagi. Persiapan sebelum bulan madu," ucap Aji membuat Keiza terkekeh.


-o0o-


"Ini mau?" tanya Kana sembari menunjukkan beberapa buah yang akan ia blender.


Kaila menggeleng.


"Ini? Mau?" Kana menujukkan buah apel.


Kaila menggeleng. "Apa ya? Enaknya."


Kana meletakkan buah itu dan terkekeh. Mendekat pada istrinya dan memeluknya dari samping. "Maunya apa geh?"


Kaila tersenyum dan menyentuh wajah suaminya. "Aku gak pengen apa-apa, sayang."


Kana terkekeh dan mencubit pipi Kana. "Kamu ini protektif banget jadi suami."


Kana mengerucutkan bibirnya dan menyentuh pipinya yang habis di cubit Kaila. "'Kan aku suami siaga. Aku harus mastiin yang terbaik buat istri dan anak aku," ucap Kana seraya mengusap perut Kaila.


Kaila terkekeh dan ikut mengusap punggung tangan Kana yang berada di perutnya.


"Kamu mau apa, sekarang?" tanya Kana dengan penuh perhatian.


Kaila menggeleng. "Gak pengen apa-apa, sayang. Yang penting kamu ada disamping aku, udah sangat cukup."


Kana tersenyum dan mencium pucuk kepala istrinya.


'Cup!'


"Kamu tahu gak, sayang? Aku sekarang lagi ngerasain bahagia yang luar biasa. Kebahagian yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang. Aku bener-bener bersyukur sama Allah karena udah dikasih kepercayaan untuk jadi seorang ayah."


Kaila tertawa kecil dan menyandar pada dada bidang Kana. "Aku juga mau bersyukur, karena Allah udah percayain aku untuk jadi seorang Ibu."


Kana mengangguk. Memeluk Kaila dan memejamkan mata. "Kamu hamil gini, rasa sayangku semakin besar." Kana mengeratkan pelukannya. "Pokoknya mulai hari ini, kamu jangan kerja terlalu berat ya? Apalagi sampai begadang. Kalau memang gak sanggup di kerjain hari itu, di lanjutin hari besoknya aja. Ya?"


Kaila mengangguk dan memejamkan mata. "Iya, sayangku."


Kana terkekeh dan mengusap punggung Kaila.


'Tok! Tok! Tok!'


"Sayang! Kaila! Anak mama!"


Sepasang suami istri itu melepaskan pelukannya dan menoleh ke depan.


"Kaya suara Mama Alina," lirih Kaila.


Kana mengangguk. "Iya, itu Mama."


"Sayang! Kaila! Anak Mama! Yuhuuu!" teriak Alina kembali.


Kaila terkekeh, dan bangkit dari duduknya.


"Loh, kamu mau kemana?" tanya Kana.


"Mau bukain pintu."


Kana menggeleng. "Biar aku aja." Kana bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu.


Kaila terkekeh dan bangkit dari duduknya. Mengikuti langkah suaminya untuk bertemu dan mertua kesayangannya.


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan Alina disana.


"Kaila anak Mama mana?" tanya Alina masuk sembari mengedarkan pandangannya.


Wanita bahkan tidak melihat anaknya yang tengah berdiri di depan pintu setelah membukakan pintu.


"Sayang!" teriak Alina saat berhasil melihat menantunya tengah berjalan ke arahnya.


Kaila tersenyum dan mendekat. "Mama."


Alina sedikit berlari dan langsung memeluk menantunya. "Kaila Sayang."


Kaila terkekeh menerima pelukan dari mertuanya. "Mama kok gak bilang mau kesini?" tanya Kaila setelah Alina melepas pelukannya.


Alina mengangguk dan mengusap rambut Kaila. "Sengaja, kejutan. Tadi waktu Kana nelpon kalau kamu hamil, Mama langsung gak sabar ketemu kamu."


Kaila terkekeh dengan senyuman. "Makasih ya, Ma?"

__ADS_1


Kaila mengangguk. "Iya, sayang."


"Tadi pagi Oma Raisa kesini?" tanya Alina.


"Iya, Ma."


"Tadi pagi-pagi banget Oma kesini. Katanya pengen buatin Kaila kue. Eh, abis makan Kue dari Oma, ketahuan deh kalau Kaila hamil," ucap Kana menjelaskan.


"Kayanya kue Oma bener-bener petunjuk," ujar Alina.


Kaila terkekeh.


"Tapi memang kue Oma bener-bener terbaik. Dulu aja, Mama bisa kenal sama Papa gara-gara kue Oma. Terus kamu juga bisa ketemu Mama kamu karena ruko kue Oma, 'kan?"


Kaila mengangguk membenarkan. "Iya, Ma. Bener."


"Dan bahkan, Kana bisa semakin deket sama Kaila pun karena kue Oma."


Alina terkekeh. "Memang kue Oma terbaik!"


Kaila mengangguk setuju. Lalu menyentuh perutnya. "Kok tiba-tiba Kaila pengen makan kue Oma lagi ya?" ucapnya membuat suami dan mertuanya tertawa.


-o0o-


"Susi!"


"Iya, Oma?" jawab Susi yang tengah berberes ruko.


Wanita itu meletakkan kemocengnya dan berjalan menuju ruangan Raisa.


"Iya, Oma?" ucap Susi setelah sampai di ruangan Raisa dan menatapnya penuh tanya.


Raisa meletakkan ponselnya dan tersenyum pada Susi. "Kaila hamil. Katanya abis makan cup cake, langsung mual. Dan ternyata di cek, dia hamil."


"Alhamdulillah," ucap Susi dengan penuh syukur.


"Berarti mimpi Oma semalem bener-bener petunjuk ya?" ucap Raisa dengan rasa bahagia.


Susi mengangguk, namun tersenyum ragu. "Tapi, Susi gak tahu mimpi Oma apa? 'Kan Oma belum cerita."


"Oh iya ya?" ucap Raisa dengan gelak tawa. Wanita itu menyuruh Susi untuk duduk di depannya. "Jadi, semalem Oma mimpi Almarhum Nabila— Mamanya Kaila kesini. Dia minta kue, katanya mau dikasihin ke cucunya. Dari situ Oma langsung keinget Kaila."


Susi membulatkan bibirnya. "Jadi Mamanya Kaila dateng nemuin Oma?"


Raisa mengangguk. "Tapi dalam mimpi."


Susi merasa kagum. "Hebat banget Oma. Berarti Oma memang orang yang dipercaya sama Mamanya Kaila." Susi tampak berpikir. "Apa jangan-jangan karena dulu Kaila sempet kerja disini lama dan udah Oma anggep anak sendiri ya?"


Raisa terkekeh dan meraih kalkulatornya yang berada di atas meja.


-o0o-


Di sebuah swalayan, terlihat Bima tengah memilih beberapa makanan sehat.


Ia tak sendiri, melainkan bersama Kiara, adiknya.


"Apalagi ya, Dek?" ucapnya.


Kiara tampak berpikir. "Bingung. Semuanya Kak Kaila suka."


Bima tertawa keras. "Dia mah apa aja dimakan."


Kiara mengulum senyumnya menahan tawa. "Kak Bima, ih."


Bima terkekeh dan mendorong trolinya.


"Kak, ini enak kayanya." Kiara menunjuk sebuah snack ringan yang terbuat dari gandum.


Bima meraihnya. "Oke. Terus?"


"Ih, Kak! Ada kimchi!" teriak Kiara yang melihat barisan kimchi.


Bima tersenyum. "Lihat kimchi, kakak jadi inget temen SMA kakak."


Kiara terdiam dan menaikkan kedua alisnya. "Siapa, Kak?"


"Ada. Dia suka banget sama hal berbau koreaan. Sering cerita kalau dia suka bolak balik ke Korea buat ketemu idol Kpop. Tapi ternyata buat nyembuhin penyakitnya."


Kiara diam. Dia sepertinya tahu orang yang Bima maksud. "Mantannya Kak Aji?"


Bima tersenyum tipis dan mengangguk.


-o0o-


Aji dan Keiza turun dari mobil lalu berjalan menuju sebuah makam.


"Bunganya udah dibawa belum sayang?" tanya Keiza.


"Oh iya, ada di kursi belakang."


Aji membuka pintu belakang dan mengambil bunga Lili yang sudah ia beli bersama Keiza tadi.


"Yuk!" ajak Keiza seraya merangkul lengan suaminya.


Aji tersenyum dan keduanya pun berjalan menuju makam.


Sebelum sampai di makam Adinda, Aji menoleh pada istrinya. "Makasih ya—"


"Shutt!" Keiza menutup mulut Aji dengan jemarinya. "Jangan bilang makasih mulu, 'kan memang udah niat aku dari awal bakal nemenin kamu kesini."


Aji mengangguk dan merangkul istrinya.


Keduanya berjalan hingga sampai di depan makam Adinda.


"Assalamualaikum," lirih keduanya saat sampai di depan makan Adinda.


Keduanya berjalan mendekat hingga sampai di depan batu nisan Adinda.


"Din, kita berdua dateng lagi. Lo gak bosen 'kan?" ucap Aji mengawali.


Keiza tersenyum dan mengusap batu nisan Adinda. "Semoga lo happy ya Din, karena kita berdua kesini."


Aji mengangguk, lalu meraih bunga Lili di sebelahnya. "Seperti biasa, bunga Lili kesukaan lo. Tadi Keiza lagi yang pilih. Dan gue lihat, bener-bener cantik bunganya. Kalian berdua memang hebat milih bunga."


Keiza terkekeh dan menoleh pada nisan Adinda. "Iya, dong. Ya gak, Din?"


Aji melebarkan mata. "Astaga Din, gue lupa mau kasih info. Lo tahu gak sih, bestie kita bakal jadi Ayah." Aji mengangguk. "Iya, Kana. Dia bakal jadi Ayah. Tadi Kaila ngabarin kalau dia hamil." Aji menghela napas. "Pasti bahagia banget ya, mereka?"


Keiza tersenyum tipis.


"Din, lo bantu do'a dong supaya gue sama Keiza cepet punya anak," lirih Aji. "Ah, tapi pasti lo lagi ngetawain gue karena kalah sama Kana?" ucapnya membuat Keiza terkekeh.


"Sayang, kok kamu nuduh Adinda gitu sih?"


Aji tersenyum. "Biasanya Adinda selalu ngetawain aku yang, kalau aku kalah sama Kana. Intinya, setiap kalah saing dikit, dia langsung ngetawain aku," ucap Aji seraya mengerucutkan bibirnya.


Keiza terkekeh mendengar hal tersebut. "Tapi 'kan maksud Adinda Cuma bercanda. Ya 'kan, Din?"


Aji tertawa kecil dan menoleh pada Adinda. "Lihat, Din. Lo dibelain tuh sama istri gue."


Keiza terkekeh dan menoleh pada nisan Adinda. Dan mengusap batu nisan itu dengan penuh kasih sayang.


Melihat hal itu, membuat Aji merasa bahagia. "Terbaik."


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2