KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 23


__ADS_3

Part 23


Pagi-pagi sekali, Kaila terlihat rapih dengan rok selutut dan kaus berwarna putih. Di tambah dengan totebag yang menghiasi dirinya. 


Pagi ini ia akan berangkat ke kampus. Namun tidak bersama Kana. 


Gadis itu telah berjanji untuk berangkat bersama dengan Wilka dan Kevin. Setidaknya, mengenang saat pertama kali ketiganya bertemu.


“Kai, ayo!” seru Wilka yang sudah berada di dalam angkot.


Kaila mengangguk dan memasuki angkot tersebut.


“Loh, ada Wilko juga?” ucap Kaila yang melihat Wilko sudah duduk berada di angkot.


Wilka mengangguk. “Kampus Wilko searah sama kampus kita,” ucap Wilka membuat Kaila membulatkan bibirnya.


“Gimana Kai, kamu masih sering di ganggu Erkan?” tanya Wilko.


Kaila menggeleng. “Udah beberapa hari ini, aku gak liat dia.”


Wilko mengangguk dengan senyuman.


“Tahu gak Kai, kenapa tuh orang gak muncu lagi?” ucap Wilka membuat Kaila mengerutkan dahinya.


“Kenapa?”


“Di tahan polisi, karena habis ngehajar anak orang” bisik Wilka di telinga Kaila.


Kaila melebarkan mata tak percaya. “Serius?”


Wilka mengangguk. “Tanya aja sama Wilko. Dia kok yang tahu,” ucapnya.


Kaila menoleh pada Wilko. “Seriusan Ko?”


Wilko mengangguk. “Tapi ini masih disembunyiin. Cuma beberapa orang aja yang tahu. Kamu jangan cerita siapa-siapa ya?”


Kaila mengangguk. “Tapi kenapa kamu bisa tahu?” tanya Kaila tak mengerti.


Wilka tersenyum. “Kamu tahu ‘kan kalau Wilko sama Erkan ada problem?” ucapnya.


Kaila mengangguk. “Iya, aku tahu.”


“Ya makanya beritanya cepet nyebar ke Wilko.”


“Hoy!” seru seseorang yang baru saja naik ke angkot membuat ketiganya menoleh.


“Ih, Kevin!” ucap Wilka terkejut.


Kevin terkekeh dan mendudukan dirinya di samping Wilko. “Tumben amat Ko naik angkot?” ucap Kevin pada kembaran sahabatnya.


Wilko mengangguk. “Rusak si Mori,” ucapnya.


Mori adalah nama motor milik Wilko yang sangat Wilko sayangi. Wilko bahkan sudah menyayangi Mori layaknya seperti anak sendiri.


Kevin terkekeh melihat Kaila yang menampilkan raut wajah bingungnya. “Kenapa sih, Kai?”


Kaila menggeleng. “Gak papa.”


Wilka tersenyum. “Masih kepikiran Erkan?”


Kaila mengangguk.


“Oh iya, kata Wilka, Erkan di penjara?” tanya Kevin.


Wilko menoleh pada Wilka dan menatapnya tajam.

__ADS_1


Wilka hanya memamerkan deretan giginya. “Sorry, cuma Kaila sama Kevin aja kok yang tahu. Abis itu udah.”


Wilko mengangguk.


“Eh, satu lagi. Kana harus tahu,” lanjut Wilka.


Wilko memutar bola matanya. “Serah lo!”


Wilka terkekeh dan memamerkan deretan giginya. 


“Aku sebenarnya masih penasaran, kenapa Wilko bisa punya masalah sama Erkan?” tanya Kaila.


“Iya, sama. Penasaran juga,” timpa Kevin.


Wilko tersenyum. “Kalian berdua mau tahu?”


Kaila dan Kevin mengangguk.


“Ceritain Wil. Kamu ‘kan yang seneng gibah,” ucap Wilko pada Wilka.


Wilka berdeham. “Oke, aku jelasin ya. Mumpung ini angkot sepi.” Wilka menoleh pada supir angkot. “Pak, numpang gibah ya?”


Supir angkot itu tertawa. “Silahkan, Mbak.”


Wilka terkekeh dan menoleh pada Kevin dan Kaila. “Jadi ya, sebenarnya Wilko sama Erkan itu dulunya temen satu kelas.”


“Oh iya, gue tahu!” ucap Wilko.


“Tunggu—” ucap Kaila. “Kok Wilko sama Erkan bisa Satu kelas? ‘Kan Wilko seumuran kita,” ucap Kaila.


Wilka mengangguk. “Ah, iya. Berhubung Wilko memiliki otak yang begitu jenius seperti Albert Eistein,” ucap Wilka seraya melirik Wilko yang berada di depannya. “Jadi dia ikut kelas akselerasi. SMP dia dua tahun, SMA juga dua tahun. Nah, waktu di SMA itulah, dia kenal sama Erkan.”


Kaila membulatkan bibirnya. “Terus? Terus?”


“Hmm,” jawab Wilko dengan malasnya.


“Nah, berhubung Wilko juga orangnya GANTENG!” ucap Wilka dengan penuh penekanan. “Dia disukai banyak cewek.”


Wilko berdecak. “Intinya kita suka sama satu cewek yang sama. Dan dia ngerebut cewek itu setelah aku resmi jadi pacarnya.”


Kaila membulatkan bulatnya. “Rumit juga, ya.”


“Eh, bentar,” ucap Kevin. “Kamu bilang, cewek itu di rebut sama Erkan?”


Wilko mengangguk.


“Lah, berarti dia suka dong sama Erkan! Buktinya dia mau aja direbut Erkan,” ucap Kevin.


Wilko menelan salivanya dengan susah payah. “Lo bener,” ucapnya.


Di saat yang bersamaan, angkot tersebut berhenti dan menampilkan seorang gadis yang hendak naik.


Namun, gadis itu terdiam di tempat saat melihat seseorang yang dikenal berada didalam.


“Keiza?” ucap Wilko pada gadis yang berdiri di ambang pintu angkot.


Kaila mengerutkan dahinya. “Pacarnya Erkan?”


Keiza menggeleng. Ia mundur beberapa langkah dan mengurungkan niatnya untuk naik ke angkot.


“Itu, cewek yang kamu rebutin?” tanya Wilka.


Wilko mengangguk. “Dia Keiza.”


Kaila melebarkan mata. “Vin, Keiza itu yang waktu itu jadi panitia OSPEK ‘kan? Yang ngehukum kita karena gak bawa makanan yang diminta?”

__ADS_1


“Ah, iya, Kai!” ucap Kevin.


“Pantes aku gak asing sama dia,” ucap Kaila.


“KEIZA!” teriak Kevin yang mencoba mengejar gadis itu.


“Jadi dia juga cewek yang Wilko maksud?” ucap Kaila tak menyangka.


-o0o-


“KEIZA!” teriak Wilko mengejar gadis itu.


Keiza menghentikan langkahnya saat Wilko berhasil menahan tangannya.


“Udah Tiga tahun, Kei. Udah Tiga tahun kamu ngehindarin aku kaya gini,” ucap Wilko.


Gadis itu tak menoleh. Ia bahkan tidak membalikkan tubuhnya.


“Kei,” lirih Wilko seraya menarik tangan gadis itu.


Keiza menghela napas panjang dan berbalik badan. 


“Udah Tiga tahun Kei. Aku bahkan belum bisa lupain kamu.”


“Maafin aku, Ko. Maafin aku udah bikin kamu terluka,” lirih gadis itu.


Wilko menggeleng. “Kamu gak pernah bikin aku terluka, Kei.”


Keiza menggeleng. “Maafin aku, Ko.” Ia menarik tangannya dari Wilko dan berjalan pergi.


“KEI!” teriak Wilko. “AKU TAHU KAMU GAK BAHAGIA SAMA ERKAN!”


Gadis itu tak mendengarkan. Ia menghentikan angkot lain dan masuk ke dalam angkot tersebut.


Wilko berdecak. Ia mengusap wajahnya gusar dan kembali ke dalam angkotnya bersama dengan Wilka, Kaila dan juga Kevin.


“Ko, kamu gak papa?” tanya Wilka hati-hati.


“Gak papa,” ucap Wilko dengan raut wajahnya yang di tekuk.


“Gue tahu Keiza gak bahagia sama Erkan. Tapi kenapa dia selalu mau di samping Erkan?” ucap Wilko dengan pikiran tak tenangnya.


“Apa jangan-jangan Keiza di ancem sama Erkan?” ucap Kaila.


Wilko menggeleng. “Gue gak tahu.”


“Tapi bisa aja sih!” ucap Kevin. “Kalian nyadar juga gak sih, dari awal kita lihat dia, dia gak pernah buka maskernya. Ya ‘kan?” lanjutnya.


Kaila menggigit bibir bawahnya. “Iya, juga. Aku juga belum pernah lihat muka dia secara langsung. Yang aku lihat, ya cuma muka yang di tutupi masker.”


“Sumpah, misterius banget gak sih?” ucap Wilka tak mengerti.


“Nah, ‘kan! Itulah kenapa aku selalu kepikiran dia dan belum bisa ngelupain dia sepenuhnya. Aku tahu dia kenapa-napa selama Tiga tahun sama Erkan.” 


“Kenapa gak kamu rebut balik aja sih, Ko?” ucap Wilka dengan gampangnya.


“Kamu pikir semudah itu? Ngambil hati dia aja susah, gimana aku mau ngerebut dia balik?” ucap Wilko lalu menyandarkan tubuhnya.


Wilka berdecak. “Rumit.”


Kevin tersenyum tipis. “Kalau ngambil apa yang pernah kita miliki aja susah, gimana ngambil sesuatu yang bahkan belum pernah kita miliki?” 


“Ih, Kevin, malah curhat!”


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2