
Part 37
"Kira-kira kapan ibu saya bisa menerima prosedur itu, Dok?"
"Secepatnya. Tapi apa dari pihak keluarga siap?" tanya Dokter itu.
Kaila mengangguk. "Siap, Dok."
"Kai, apa gak sebaiknya nunggu keluarga yang lain?" tanya Kana.
Kaila menatap laki-laki itu dan tersenyum miris. "Siapa, Kan? Aku gak punya siapa-siapa disini selain Mama."
"Ada aku."
Kaila dan Kana melebarkan mata dan menoleh ke belakang.
Orang itu tersenyum dan berjalan mendekat.
"Kak Kei?" Kaila mengerutkan dahinya saat melihat Keiza berada disini.
Keiza tersenyum tipis lalu menatap dokter itu. "Kami siap, Dok."
"Maaf, anda siapanya Ibu Nabila?" tanya Dokter itu.
"Saya anak sulungnya."
Kaila dan Kana melebarkan mata mendengar pernyataan Keiza baru saja.
"Kak? Kak Keiza serius?" tanya Kaila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Keiza mengangguk, lalu mengajak Kaila keluar.
Gadis itu berjalan lebih dulu membuat Kaila sedikit berlari mengejarnya.
Kaiza menghetikan langkahnya dan tunggu di kursi panjang yang berada di koridor.
"Kak, beneran apa yang kakak ucapin tadi?" tanya Kaila berdiri menatap Keiza.
Keiza menunduk. "Sekarang kamu udah tahu, 'kan?" ucapnya dengan nada seperti biasa. Dingin, namun terkesan penuh makna.
Kaila tersenyum haru dan mengangguk. "Kenapa kakak baru bilang sekarang?"
"Sorry kalau aku dateng terlambat."
Kaila menggeleng. "Enggak, Kak. Kakak gak terlambat. Kakak tahu gak sih? Aku seneng banget saat tahu kakak beneran kakak kandung aku."
Keiza tersenyum dan mengulurkan tangannya meminta Kaila memeluknya.
Kaila tersenyum haru dan berlari ke pelukan Keiza.
"Maafin Kakak ya?"
Kaila menggeleng. "Kakak gak perlu minta maaf. Kakak gak salah. Tapi Kak—"
__ADS_1
"Iya?" Keiza mengerutkan dahinya dan melepas Kaila dari pelukannya.
"Kenapa Kakak di panggil Keiza? Bukan Kirana? Dan— nama lengkap yang Mama kasih 'kan bukan Keiza."
Keiza mengangguk. "Kakak tahu kamu pasti bakal bingung, tapi kamu harus tahu kalau kakak disini punya keluarga baru."
Kaila mengangguk. "Kaila udah tahu kok."
Keiza mengerutkan dahinya. "Kamu tahu?"
Kaila mengangguk. "Papa udah ceritain semuanya."
"Jadi kamu udah ketemu Papa?"
Kaila kembali mengangguk. "Aku ketemu Papa buat jemput kakak pulang. Tapi yang ada dapet, malah kabar kalau kakak punya keluarga baru yang sayang sama kakak."
Keiza tersenyum miris mendengar kalimat itu. Namun ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya, ia tak ingin adiknya kepikiran terhadapnya.
Keiza mengangguk. "Apa yang Papa bilang memang bener. Dan, keluarga baru Kakak juga yang ganti nama depan Kakak. Dari yang awalnya Kelia Zeline Kirana, jadi Keiza Zeline Kirana. Dan mereka gak mau nama panggilan Kakak Kirana. Mereka yang ganti nama panggilan kakak jadi Keiza."
"Gak masalah nama kakak berubah, yang penting sekarang aku ketemu sama kakak kandung aku."
Keiza tersenyum dan memeluk Kaila kembali. "Sebenarnya Kai, semua ini berkat Wilko."
"Wilko?" tanya Kaila.
Keiza mengangguk. "Wilko yang bantu dan kasih tahu kakak. Wilko juga yang bilang kabarin kakak kalau Mama dirawat lagi."
"Jadi semua ini berkat Wilko?"
Keiza mengangguk.
"Kakak yang minta. Kakak sengaja dia bungkam, supaya kakak bisa muncul sendiri di hadapan kamu."
Kaila mengangguk mengerti. "Iya, Kak. Tapi kak— ada yang pengen aku tahu banyak."
"Soal?"
"Soal Erkan. Dia masih nyakitin kakak?"
Keiza tersenyum. "Kamu salah, Kai. Erkan gak pernah nyakitin atau ngelukai kakak."
"Tapi yang aku liat itu?"
Keiza menggeleng. "Itu cuma masalah kecil, dan Erkan gak salah sepenuhnya."
"Tapi kakak sampai ketakutan gitu," ucap Kaila dengan mata berbinar.
Keiza tersenyum dan meraih tangan Kaila. "Iya, tapi itu bukan karena Erkan."
"Terus karena apa, Kak? Kaila tahu kakak tertekan banget saat itu. Apa yang bikin kakak kaya gitu, Kak?" tanya Kaila penasaran.
Keiza menghela napas dan menatap sekeliling memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan keduanya.
__ADS_1
"Kak, jelasin ke aku."
Keiza mengangguk. "Tapi kamu janji ya? Kamu gak akan ceritain ini ke Mama."
Kaila mengangguk. "Kaila janji. Sekarang kakak cerita, apa yang bikin kakak tertekan selama ini?"
Keiza tersenyum dan menatap lurus ke depan dengan tatapan sedih. "Saat itu, kakak masih kecil. Kakak gak bisa bedain mana kebahagiaan yang sebenarnya. Kakak terlalu seneng dapat keluarga baru yang bisa penuhin semua keinginan kakak. Awalnya, kakak ngerasa bahagia bisa punya orangtua angkat kaya raya. Mereka selalu utamain kebutuhan dan keinginan kakak. Karena saat itu, mereka memang gak punya anak."
Kaila mengangguk mendengarkan penjelasan Keiza.
"Setahun, dua tahun, semua berjalan kaya biasa. Kakak masih dianggap seperti anak kandung sendiri. Tapi saat masuk tahun ketiga, mereka dikasih kebahagiaan karena mereka akan segera punya anak. Disitu kakak seneng banget, karena akhirnya kakak bakal punya adik. Kakak selalu janji sama diri sendiri, kalau anak itu lahir, kakak akan anggap dia sebagai adik kandung kakak. Dan kakak pikir, dengan adanya dia juga, bisa mengurangi kerinduan kakak sama kamu dan Kiara."
Keiza menatap Kaila sekilas, lalu kembali menatap ke depan.
"Kakak bener-bener ngerasain kebahagiaan yang luar biasa saat itu. Gak Cuma mereka aja. Tapi— seiring berjalannya waktu dan kehamilan Ibu angkat kakak yang semakin besar, perhatian mereka ke kakak mulai memudar. Kakak bener-bener gak ngerasain kasih sayang yang mereka kasih. Semua berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan, mereka gak segan mukul Kakak hanya karena kakak jatuhin barang atau bikin mereka marah."
Kaila mengerutkan dahinya. Ia benar-benar tak menyangka.
"Semakin berjalannya waktu, mereka seolah makin benci sama kakak. Dan saat anak mereka lahir, kakak bener-bener gak di anggap di keluarga itu. Mereka bahkan semakin sering marahin dan nyiksa kakak. Bahkan, sampai saat ini pun, mereka masih sering cari kesalahan kakak."
"Kakak kenapa gak kabur aja?" tanya Kaila.
"Ini sebenarnya Erkan minta dari kakak. Dia selalu nyuruh kakak buat kabur dari keluarga itu. Tapi kakak gak bisa, Kai."
"Kenapa, kak?" tanya Kaila tak mengerti.
"Mereka bilang, kalau kakak berani kabur dari keluarga itu, mereka bakal tuntut Papa. Kamu tahu? Papa punya hutang besar ke keluarga itu. Dan mereka bilang, kalau kakak berani kabur, mereka akan temui Papa dan tagih semua hutang yang Papa punya. Kamu tahu 'kan gimana susahnya hidup Papa? Itulah alasan kakak gak bisa kabur, kakak gak tega sama Papa."
"Tapi Kakak gak bahagia, Kak."
Keiza tersenyum. "Kakak bahagia, kok. Karena, kakak punya orang yang sayang sama kakak disana. Dia selalu bela kakak saat kakak dimarahin sama orangtua angkat kakak. Bahkan, dia juga yang selalu bantu kakak buat liat Mama dari jauh."
"Dia siapa, Kak?"
"Dia Gladis. Anak kandung orangtua angkat kakak. Satu-satunya orang yang bikin perhatian orangtua angkat kakak memudar ke kakak. Tapi meskipun gitu— kakak gak pernah nyalahin kehadiran dia. Kakak malah bahagia. Meskipun kakak selalu kepikiran kamu dan Kiara. Tapi Gladis selalu nenangin kakak dan bilang kalau suatu saat kakak akan ketemu sama kalian."
Kaila tersenyum. "Pasti dia bahagia punya kakak yang baik kaya kakak."
Keiza tersenyum dan memeluk Kaila. "Dan sekarang, kakak bahagia bisa ketemu adik kandung kakak."
Kaila memejamkan mata. Ia begitu menikmati setiap pelukan yang Keiza berikan. Pelukan yang sudah lama Kaila dampakan. Pelukan seorang kakak terhadap adiknya. Dan kini, Kaila merasakannya.
"Kai!" teriak seseorang membuat Kaila dan Keiza menoleh.
Itu adalah Aji. Ia berlari dengan napas yang sulit di atur.
"Kenapa, Ji?" tanay Kaila penasaran.
"Nyokap lo—"
"Nyokap gue kenapa?" tanya Kaila.
"Nyokap lo semakin drop. Perawat udah banyak disana. Lo harus kesana!"
__ADS_1
Kaila melebarkan mata. Begitupun dengan Keiza.
-o0o-