KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 45


__ADS_3

Part 45


Gadis berambut hitam itu membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ia mendongak ke atas, lalu menatap sekeliling dengan pandangan bingung.


"Kenapa gue di kamar?" ucapnya seraya memegang ujung kepalanya.


"Kaila, udah bangun?"


Kaila menoleh dan memandang seorang wanita yang kini tersenyum ke arahnya.


Wanita itu adalah Naila. Ia berjalan menghampiri keponakannya dengan tampilan yang sudah sangat rapih.


"Kaila, Tante mau ke kantor sekarang."


"Tante, kenapa Kaila di kamar?"


"Lah, memang mau dimana?" tanya Naila dengan gelak tawa.


Kaila menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Bu—bukannya Kaila lagi di acara promnight?"


"Promnight? Promnight di siang bolong?"


Kaila melebarkan mata. Ia meraih jam weker di atas nakas dan memandangnya dengan tatapan mematung. "Sekarang hari apa Tan?"


"Rabu," jawab Naila.


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Kalau sekarang hari Rabu, berarti acara promnightnya nanti malam? Jadi, semua tadi Cuma mimpi?"


Naila mengerutkan dahinya. "Maksudnya Kai?"


Kaila menggeleng. "Gak papa, Tante." Kaila meraih ponselnya dan men-dial seseorang di seberang sana.


'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi'


"Kamu nelpon siapa?" tanya Naila.


Kaila diam. Ia membaca nama Kana dengan mata memerah. Perasaannya tetap tidak tenang. Meskipun semua hanya mimpi, ia merasa Kana memang benar-benar pergi.


Kaila menggeleng. Ia bangkit dari kasurnya dan hendak berjalan pergi.


"Kaila, kamu mau kemana? Mama kamu sebentar lagi kesini."


Kaila menghentikan langkahnya dan memandang Naila. "Tante, Kaila pergi sebentar ya?"


"Tapi Kaila—"


Kaila tak mendengarkan, ia berjalan pergi meninggalkan Naila yang berteriak memanggilnya.


"Taksi!"


Sebuah taksi berhenti dan membawa gadis itu.


"Jalan Kencana nomor 2 ya, Pak?"


"Iya, Neng."


Kaila menggigit bibir bawahnya. Perasaannya tidak tenang. "Kenapa gue ngerasa promningt tadi, nyata?" Kaila menggeleng. "Gak! Gak! Gak mungkin. Astaga Kaila, semua Cuma mimpi. Inget, Cuma mimpi. Okey!"


"Jalan Kencana nomor 2 'kan ya, Neng?"


"Iya, Pak."


Lama perjalanan, akhirnya taksi tersebut berhenti di sebuah rumah besar dan menurunkan gadis yang sejak tadi tidak tenang.


Kaila turun setelah membayar beberapa lembar pada supir taksi tadi. Lalu memandang pakaian yang ia kenakan.


'Puk!'


Kaila memukul keningnya. Bisa-bisanya ia kemari dengan pakaian tidur.


"Kaila, bodoh banget sih, lo." Kaila berdecak. "Bodoamat, gue gak peduli sekarang."


Kaila mengangguk dan berjalan menuju gerbang rumah tersebut.


"Pak!" panggil Kaila pada satpam yang tengah berjaga.


Satpam itu tersenyum dan membukakan gerbang untuk Kaila.


"Non Kaila, udah lama gak kesini? Apa kabar, Non?"


Kaila tersenyum. "Kaila sehat, Pak. Oh ya Pak, Kana ada?"


Satpam itu mengerutkan dahinya dan memandang Kaila dengan tatapan bingung. "Non Kaila gak tahu kalau Den Kana udah berangkat ke Kanada Dua hari ya lalu?"


'Deg!'


Kaila seolah tertampar dengan ucapan laki-laki di hadapannya tersebut.


"Jadi, Kana beneran pergi, Pak?"


Satpam itu mengangguk.


Kaila menggeleng. Matanya memerah. Kakinya benar-benar terasa lemas, hingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya.


"Non, Non Kaila!" teriak Satpam itu saat melihat Kaila terjatuh ke bawah.


Kaila diam. Dadanya terasa sesak. Apa yang ia rasakan dalam mimpinya ternyata benar-benar terjadi. Ia tak pernah menyangka semuanya akan seperti ini. Kana pergi, dan meninggalkannya tanpa sekatah apapun.

__ADS_1


"Pak, kira-kira Kana titip pesan gak buat Kaila?" tanyanya dengan suara parau.


Satpam itu menggeleng. "Den Kana gak bilang apa-apa, Non. Dia berangkat ke Kanada setelah pulang dari rumah Non Kaila."


Kaila melebarkan mata. "Jadi ini yang waktu itu mau Kana ucapin?" Kaila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Seharusnya kemarin gue jangan sedih di depan Kana karena Bima pergi."


"Non, Non Kaila, Non Kaila gak papa?"


Kaila menggeleng. Ia menghela napas dan bangkit berdiri. "Kalau gitu Kaila pamit pulang, Pak," ucapnya dan berjalan pergi meninggalkan rumah Kana.


Hatinya terasa sakit. Setelah kemarin Bima meninggalkannya, kini Kana ikut meninggalkannya juga.


"Kenapa semuanya tega sama gue?"


'Drrrttt!'


Sebuah pesan masuk membuat Kaila menghentikan langkahnya dan meraih benda persegi itu dari dalam sakunya.


"Mama?"


Mama : Sayang, sekarang pengumuman SNMPTN kamu, Lima menit lagi Mama sampai di rumah Tante Naila. Mama yakin kamu pasti di terima jalur ini. Kalau kamu di terima di Jogja, kita langsung urus kepindahan kita ya?


Kaila berdecak. Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas kepindahannya.


Meskipun begitu, ia segera membuka browsernya dan mengetikkan link SNMPTN untuk melihat hasil miliknya.


Satu detik,


Dua detik,


Garis 'loading' berjalan dengan sangat lambat membuat Kaila terlihat kesal. Sebenarnya ia tak peduli lagi dengan hasil pengumuman ini. Sebab, keinginannya mengikuti SNMPTN karena Kana. Kana-lah yang membuatnya semangat untuk mengikuti jalur ini.


Dan saat ini, Kana pergi. Bagaimana bisa ia penasaran dengan hasil yang akan keluar nanti?


Kaila melebarkan mata saat layar di hadapannya menampilkan latar berwarna hijau.


"Gue? Gue di terima Kedokteran?"


Kaki Kaila semakin lemas. Ia menoleh dan memandang rumah Kana yang belum jauh dari pandangannya. "Harusnya kita sama-sama kejar mimpi kita di Jogja, Kan."


-o0o-


"Gimana? Apa hasilnya?" tanya Nabila saat gadisnya pulang dengan wajah sembab.


Kaila tak bersuara. Ia melangkah masuk dan mendudukkan dirinya di atas sofa.


Melihat putrinya tidak semangat, Nabila pun mengikuti langkah Kaila dan duduk di sampingnya. "Kamu gak diterima?"


Kaila diam.


"Mama gak masalah kok kamu gak diterima jalur ini. Lagipula ada banyak cara supaya kamu bisa wujudin mimpi kamu."


"Kedokteran?"


Kaila mengangguk.


"Di Jogja?" tanya Nabila lagi.


"Iya, Ma."


"Terus, kenapa kamu gak semangat gini?"


Kaila menggeleng. "Gak papa, Ma. Kaila Cuma kecapean aja." Kaila menghela napas. "Kalau gitu Kaila masuk dulu ya, Ma. Kaila mau mandi, malam ada acara di sekolah Kaila."


Nabila mengangguk. "Iya, sayang."


Kaila tersenyum dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang tidak semangat.


-o0o-


Seperti yang telah di persiapkan jauh-jauh hari, kini acara promnight di gelar dengan begitu megahnya. Semua orang nampak senang dengan di gelarnya acara ini. Selain murid kelas 12, para guru pun ikut meramaikan.


Satu jam sebelum acara dimulai, para murid kelas 12 sudah berdatangan dan menukarkan secret letter dengan pin nama samarannya.


Kaila yang sudah datang sejak beberapa menit yang lalu, nampak tengah mengantri untuk mendapatkan pin miliknya.


"Kai, semangat dong! Gue tahu ini berat buat lo, tapi please, lo nikmati hari terakhir kita disini."


Kaila menghela napas dan menoleh ke belakang. "Lo gak ngerasain apa yang gue rasain, El. Di tinggal oleh Dua laki-laki yang bener-bener lo sayang."


"Iya, gue tahu itu. Tapi sebentar aja lo lupain soal itu. Kita have fun aja hari ini."


Kaila menghela napas. Baginya, Elsa benar-benar tak mengerti perasaannya.


"Selamat datang, Kak!" seru panitia acara saat Kaila hendak menukar secret letternya.


Panitia itu meraih secret letter dari tangan Kaila dan mencocokan dengan buku catatan yang sudah tercantum nama di sana.


Rasa penasaran Kaila kembali menyeruak, akankah nama samarannya nanti sama dengan nama samaran yang ia dapatkan dalam mimpinya.


Panitia itu terlihat bingung.


"Kenapa?" tanya Kaila penasaran.


"M—maaf Kak, ternyata pasangan Kakak gak bisa hadir di acara ini. Jadi kita gak bisa kasih pin Kakak."


"Hah? Kenapa gitu? Gak adil dong namanya!" seru Elsa yang mendengar pernyataan panitia tadi.

__ADS_1


Kaila menghela napas. "Yaudahlah, kalau gak di kasih. Lagipula gue juga gak minat buat sesi itu," ucap Kaila lalu berjalan memasuki ruangan.


"Kaila! Tunggu!" teriak Elsa yang baru akan menukar secret letternya.


Kaila tak mendengarkan teriakan Elsa. Ia memasuki ruangan tersebut dan mencari kursi kosong untuk ia duduki. Acara malam ini benar-benar tak membuatnya semangat.


"Kaila."


Kaila menoleh saat seseorang menyebut namanya.


"Adinda?"


Kaila merasa apa yang terjadi di mimpinya semalam akan terjadi juga saat ini. Ia ingat sekali, di mimpinya semalam, Adinda meminta maaf padanya dan mengatakan jika ia menderita sebuah penyakit.


Sebelum Adinda mengatakan sepatah kata, Kaila segera meraih tisu dari dalam tasnya, berjaga-jaga jika nanti Adinda akan mimisan seperti apa yang terjadi dalam mimpinya.


"Ada apa ya?" tanya Kaila saat Adinda memandangnya.


Adinda tersenyum miring. "Lo udah tahu soal Kana yang pergi ke Kanada?"


Kaila mengangguk.


"Puas lo?! Puas buat Kana menderita?"


Kaila melebarkan mata. Ia tak mengerti dengan apa yang Adinda ucapkan.


"Ma—maksud lo?"


Adinda menggelengkan kepala tak percaya. "Lo tahu? Karena lo, Kana di pindahin orangtuanya ke Kanada. Lo tahu alasan orangtua Kana mindahin dia ke Kanada?"


Kaila menggeleng.


"Semua itu karena lo, Kaila! Karena lo deket-deket Kana, orangtua Kana misahin kalian dengan cara itu!"


"Tapi kenapa orangtua Kana mau misahin gue sama Kana?" tanya Kaila yang tak mengerti.


"Karena nyokap lo mantan pacar bokap Kana!"


Kaila melebarkan mata. Ia menggeleng tak percaya dengan hal itu. "Gak mungkin."


"Terserah lo, mau lo percaya atau enggak! Tapi yang jelas, lo udah tega misahin gue, Aji, sama Kana! Lo gak tahu? Kalau gue, Aji, Kana, kita bertiga udah berencana buat kuliah bareng di Jogja! Dan lo, dengan enaknya hadir di hidup Kana, dan buat Kana harus hapus semua mimpi dia! Lo jahat Kaila!"


Kaila menggeleng. "Gue gak—" Kaila bangkit dari duduknya dan melangkah mundur. Ia tak ingin di katakan sebagai perusak mimpi mereka. "Gue gak seperti itu, Adinda!"


Adinda menatap Kaila tajam. "Semua ini karena lo, Kaila!"


"ENGGAK!" teriaknya membuat beberapa orang disini menoleh ke arah dua gadis itu.


"Kaila, lo gak papa?" ucap Aji yang muncul dari belakang Kaila.


Kaila menoleh dan memandangnya. "Aji?"


Aji menghela napas dan beralih pada Adinda. "Din, lo kenapa bentak dia sih?"


"Ji, lo lupa? Dia yang udah hancurin mimpi kita bertiga, Ji. Karena cewek ini, kita gak bisa bertiga lagi," ucap Adinda.


Kaila menggeleng. Ia benar-benar merasa di sudutkan dengan ucapan Adinda.


"Karena cewek ini, Kana harus ngelupain semua mimpi dia!"


Kaila menggeleng. Ia menutup kedua telinganya dan berlari.


"Kaila!" teriak beberapa orang yang melihat Kaila berlari pergi.


Gadis itu berjalan menaiki tangga dan sampai di rooftop sekolahnya. Rooftop ini benar-benar sepi. Hanya ada Kaila sendiri.


Dada Kaila terasa sesak dan panas. Mendengar ia disudutkan tadi, membuatnya kembali menangis. Kaila benar-benar sakit dengan apa yang Adinda ucapkan. Ia bukan perusak mimpi Kana, ia juga bukan perusak mimpi Tiga sahabat itu.


"Gue gak tahu apa-apa, gue gak tahu semuanya jadi gini karena gue!" Kaila menutup kedua wajahnya dan menangis.


Disinilah Kaila dapat menangis sepuasnya.


'Tap! Tap! Tap!'


Terdengar suara langkah kaki berjalan ke arah Kaila.


'Tap! Tap! Tap!'


"Gue mau sendiri! Tolong pergi dari sini!" teriak Kaila saat menyadari seseorang berjalan menghampirinya.


Suara helaan napas terdengar jelas di belakang tubuh Kaila.


"Ji, gue tahu ini lo. Please, biarin gue sendiri!"


Diam, tak ada jawaban sedikitpun.


"Please tinggalin gue sendiri, gue mau sendiri."


"Gue gak mungkin biarin lo sendiri, Kai."


Kaila melebarkan mata. Ada yang aneh dengan suara Aji.


Bukan, ini bukan suara Aji.


Kaila menoleh dan menatap orang di belakangnya.


"Kana?"

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2