KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 9


__ADS_3

Part 9


"Baik, pertemuan hari ini selesai. Ibu rasa cukup dan tidak ada lagi yang bingung dengan materi yang ibu jelaskan. Ibu akhiri, selamar sore."


"Sore, Bu!"


Seluruh mahasiswa kelas regular meraih laptop beserta buku masing-masing dan berjalan untuk meninggalkan kelas.


"Mau langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Kana pada kekasihnya.


"Temenin aku ke perpustakaan mau gak? Aku pengen beli buku anatomi fisiologi," ujar Kaila.


"Oke, aku siap nemenin kamu kemana pun kamu pergi," ucap Kana membuat Kaila terkekeh.


"Yakin kemana pun aku pergi?" Kaila menatap wajah Kana tak yakin.


Kana mengangguk mantap. "Keeemana pun!"


Kaila terkekeh dan mengusap rambut kekasihnya.


Melihat perlakuan Kaila, membuat Kana tersipu malu.


Kaila kembali terkekeh dan menggelengkan kepalanya gemas, "Ayo!" 


Kana mengeratkan tasnya dan mengangguk. "Ayo!" serunya mengikuti langkah Kaila yang sudah lebih dulu.


"Nananananana." Kaila mengalunkan sebuah lagu karena merasa senang.


Entah mengapa, hari ini benar-benar membuatnya senang. Setelah semalam di nyanyikan oleh Kana, pagi-pagi di jemput dan dibawakan makanan oleh Kana, dan untuk kali ini, ia akan pergi ke toko buku di antarkan oleh Kana. Kana benar-benar selalu ada untuknya.


"Abis ke toko buku, mampir ke toko ayam yuk?" ajak Kana.


"Boleh! Kebetulan aku juga lagi BM makan ayam goreng," jawab Kaila membuat Kana tersenyum.


"Kana!" teriak seseorang membuat sepasang kekasih itu menghentikan langkah dan menoleh.


Di sana terlihat Gisel berjalan menghampiri keduanya.


"Kenapa sih?" lirih Kana kesal.


Kaila tak menjawab. Gadis itu mengusap lengan Kana agar tetap tenang.


"Kan, kita di ajakin rapat sama dosen kemahasiswaan," ucap Gisel lalu melirik ke arah Kaila.


Kana berdecak. "Sekarang?"


Gisel mengangguk. "Ayo! Kelas lain udah pada kumpul, tinggal kelas kita aja."


Kana menghela napas lalu menoleh pada Kaila.


Gisel melipat kedua lengannya di depan dada. "Kai, pacar kamu mau rapat, jadi kamu bisa pulang duluan."


Kana menatap Gisel tajam. "Apa-apaam sih lo? Gak! Gue gak biarin dia pulang duluan. Gue harus anterin dia dulu."


"Tapi Kan, semuanya udah kumpul. Tinggal ketua dan wakil dari kelas kita aja," ucap Gisel adanya.


"Yaudah, kamu kesana aja. Aku tungguin kamu kok disini," ucap Kaila.


Kana tampak berpikir. "Kamu gak papa nungguin disini?"


Kaila mengangguk.


"Yaudah, aku gak lama kok. Pokoknya setelah dosen bilang rapat selesai, aku langsung lari kesini."


Kaila tersenyum. "Iya."


Kana ikut tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Kaila. 


Namun hal tersebut semakin membuat Gisel kesal dan malas untuk menyaksikannya.


"Aku kesana dulu ya?" ucap Kana.


Kaila mengangguk dan membiarkan kekasihnya pergi bersama dengan teman sekelasnya tersebut.


-o0o-


Satu jam menunggu, Kana belum juga keluar dari ruang rapat. Ruangan itu masih tertutup rapih dan belum ada seorang pun yang meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Kaila menghela napas. Sudah Satu jam ia men-scroll social medianya untuk menghilangkan rasa bosan.


Dua jam menunggu, Kana masih belum juga keluar. Kaila mengambil permen dari dalam tas dan menghijabnya.


Tiga jam menunggu, Kana masih juga belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal waktu sudah menunjukkan jam 6 sore.


Kaila berdecak. "Kenapa lama banget sih? Apa aja yang dibicarain di sana?" ucap Kaila yang sepertinya penasaran.


Kaila menghela napas dan menggeleng. "Gak! Gak! Lo gak boleh penasaran. Inget, rasa penasaran lo bisa bikin lo kesiksa sendiri." Kaila mengangguk dan kembali duduk di kursi tunggu.


'Drrrttttt!'


Satu panggilan masuk dari Kana. Kaila segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Halo," ucapnya mengawali pembicaraan.


"La, kamu dimana?" tanya Kana dengan suara lirih.


"Aku masih di tempat tadi. Kenapa? Kamu masih lama ya?" 


"Iya, aku masih lama."


Kaila menghembuskan napas dengan kasar.


"Kamu gak papa 'kan kalau pulang duluan?" tanya Kana di seberang sana.


Kaila mengangguk refleks. "Iya, gak papa. Aku bisa pulang sendiri kok."


"Mau aku pesenin taksi gak?" tawar Kana.


"Gak usah. Aku bisa naik angkot aja."


"Beneran?"


"Iya," jawab Kaila. "Yaudaj, Assalamualaikum?" 


"Waalaikumsalam."


Kaila menekan tombol merah pada layarnya dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Gadis itu membenarkan tasnya dan berjalan meninggalkan kampus tercinta.


Kali ini Kaila benar-benar terlihat lemas. Bagimana tidak, pergi ke toko buku yang sudah di rencakan bersama Kana tiba-tiba batal hanya karena kabar rapat yang mendadak.


"Angkot!" Kaila menghentikan sebuah angkot yang tepat berjalan di depannya.


Angkot itu berhenti membuat Kaila tersenyum lega dan langsung masuk ke dalam.


"Jalan Soekarno Hatta ya, Pak."


Kaila mendudukkan dirinya di kursi dan meletakkan tasnya di pangkuan.


Angkot sore ini cukup sepi. Mungkin karena sebagian mahasiswa sudah pulang sejak tadi.


Tak lama, seorang gadis masuk ke dalam angkot tersebut membuat Kaila menoleh.


Gadis itu mengenakan masker, jadi Kaila tak paham dia siapa. Namun gadis itu tersenyum pada Kaila. Terlihat dari matanya yang  membentuk bulan sabit.


"Mau kemana neng?" tanya supir angkot pada gadis tadi.


"Jalan soekarno," jawabnya membuat Kaila menoleh.


"Jalan soekarno juga?" tanya Kaila.


Gadis itu mengangguk.


"Dari jurusan apa?" tanya Kaila lalu menoleh pada buku yang di pegang gadis itu.


Kaila menbulatkan bibirnya. Tanpa gadis itu menjawab Kaila sudah tahu jika ia dari jurusan yang sama. Namun sepertinya beda tingkatan.


Kaila tersenyum lalu memandang jaket yang gadis itu kenakan.


Tunggu!


Kaila rasa ia kenal jaket itu.


"Sorry, kakak bukannya-" Kaila menunjuk gadis itu.


Gadis itu terlihat gugub. "Pak, turun Pak!" ucapnya lalu turun dari taksi tersebut.

__ADS_1


Kaila terlihat bingung. "Kenapa dia pergi?" Kaila berusaha memutar otaknya.


'Drrtttt!'


Ponsel Kaila kembali berdering.


Gadis itu tersenyum dan segera mengangkat telpon dari Mamanya tersebut.


"Halo, Ma?"


"Kamu dimana sayang? Tumben udah jam segini belum sampai rumah?" tanya Nabila di seberang sana.


"Ini Kaila baru aja keluar kampus, Ma. Mungkin Lima belas menit lagi Kaila sampai rumah."


"Oh, yaudah. Kalau gitu hati-hati ya? Kamu pulang bareng Kana 'kan?" tanya Nabila membuat Kaila diam.


Kaila menggeleng refleks. "Enggak, Ma. Kaila naik angkot. Kana ada rapat sama seluruh ketua angkatan."


"Oh, yaudah, hati-hati ya."


"Siap, Ma."


Kaila tersenyum dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Langit sudah mulai menggelap. Suara adzan pun terdengar dari setiap masjid. Kaila mengeratkan tasnya dan tersenyum pada beberapa penumpang yang bersamanya.


"Erkan!" teriak seorang gadis membuat Kaila menoleh.


"Itu 'kan cewek yang tadi di angkot," lirih Kaila. "Pak, Pak, turun di sini aja, Pak."


Angkot tersebut berhenti. Kaila segera menyerahkan selembar uang dan turun. Ia berlari menghampiri gadis tadi.


"Erkan! Cukup! Aku gak mau!" teriak gadis itu.


Kaila tak mengerti sebenarnya apa permasalahan kedua orang itu. "Jadi bener yang seangkot sama aku tadi pacar Erkan."


"Ayo! Kamu harus ikut aku!" bentak Erkan seraya menarik tangan gadis itu dengan paksa.


"Aku gak mau ikut kamu!"


Erkan menghela napas panjang dan menatap kekasihnya dengan tatapan tajam. "Kalau kamu gak ikut, aku bakal bilang ke semua orang--"


"Erkan!" teriak Kaila membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya.


Gadis yang bersama Kaila terkejut. Ia segera menarik tangannya dari pegangan Erkan dan mundur beberapa langkah.


"Lo lagi?" Erkan menaikkan kedua alisnya tak percaya. Laki-laki itu tersenyum miring dan menghampiri Kaila membuat Kaila gemetar. "Lo mau cari gara-gara sama gue? Atau lo juga mau kaya dia?" tanya Erkan membuat Kaila tak mengerti.


Kaila mundur beberapa langkah. Namun tatapannya pada Erkan masih tajam. "Lo gak ada hak buat ngelukai perempuan di sekeliling lo!"


"Terus kalau gue nyakitin dia, ada masalah sama lo? Ha?"


Erkan terus maju membuat Kaila mundur. Laki-laki tersenyum miring dan menyentuh wajah Kaila. "Lo persis sama dia," ucap Erkan seraya menuju gadis yang kini terlihat ketakutan. "Atau lo mau punya nasib yang sama juga sama dia?"


'Plak!'


Kaila melebarkan mata. Ia tak percaya apa yang sudah ia lakukan. Gadis itu telah menampar Erkan dengan kerasnya.


Erkan menyentuh pipinya, lalu tersenyum dengan tatapan tajam. "Lo--"


'Bug!'


Seseorang memukul wajah Erkan membuat laki-laki itu terhuyung jatuh.


"Ayo, Kaila!" ucap orang itu seraya menyuruh Kaila mengikutinya.


"Wilko?" Kaila terkejut melihat Wilko berada disini.


Ya, Wilko-lah yang menghajar Erkan barusan.


"Ayo, naik ke motor!" seru Wilko.


"Ta-tapi cewek itu," ucap Kaila seraya mengedarkan pandangannya mencari gadis yang merupakan kekasih Erkan, namun tidak ada.


"Dia udah gue suruh naik taksi."


Kaila mengangguk dan naik ke motor Wilko.

__ADS_1


"Awas lo ya!" teriak Erkan setelah Wilko berhasil membawa pergi Dua gadis yang tengah berurusan dengannya.


-o0o-


__ADS_2