KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 1


__ADS_3

Part 1


Kana melepas helm begitu ia sampai di parkiran kampus. Ia segera meletakkan helmnya dan berjalan menuju gerbang untuk menunggu kekasihnya.


“Wah, gila! Ganteng banget!” ucap beberapa gadis yang melihat Kana berjalan sendirian.


“Ini mah idaman banget, woy!”


“Dari jurusan apa ya dia?”


“Awas-awas, gue mau lihat juga!”


“Ih, minggir dong!”


Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang para gadis itu ucapkan.


Kana menghela napas, ia sudah lelah dengan kalimat-kalimat tersebut. Sejak ia lahir, rasanya semua pujian karena ketampanannya sudah membuat Kana muak. 


Dengan menggedikkan bahu, Kana berjalan lurus tak mempedulikan para gadis itu.


Tangan Kana meraih ponsel dan membuka aplikasi WhatsApp miliknya. Jemarinya menekan profil gadis berambut cokelat dengan senyum manis di bibirnya. Ia tersenyum dan hendak men-dial nomor tersebut.


Namun belum sempat ia mendialnya, kini pandangan Kana telah tertuju pada gadis yang tengah berdiri bersama laki-laki yang tidak ia kenal.


“Kaila?” Kana menyipitkan matanya. “Dia sama siapa?”


Tangan Kana mengepal saat laki-laki itu menyentuh Kaila dan membawa gadis itu pergi.


Kana segera berlari dan mengejarnya. “Kaila!” teriaknya. 


Namun gadis yang ia panggil tak menoleh sekalipun.


Kaila sendiri tak mendengar jika Kana memanggilnya. Bahkan gadis itupun tak tahu jika Kana sudah berada disini.


“Semuanya! Cepat!” teriak seorang panitia yang melihat beberapa mahasiswa baru belum memasuki aula.


“Ayo, Kai!” ucap Kevin yang masih memegang tangan Kaila.


Kaila ingin melepasnya. Namun teriak panitia itu membuatnya panik dan ikut mempercepat langkah.


“Untuk yang baru hadir, silahkan baris di sebelah kiri!” teriak seorang ketua yang berada di atas podium.


Kaila dan Kevin segera mengikuti perintah untuk baris di sebelah kiri. Kini keduanya berada di barisan yang berbeda dengan yang lain. Hampir seluruh mata memandang ke arah keduanya.


Kaila menghela napas dan menoleh pada laki-laki di sebelahnya.


“Kita telat,” lirih Kevin dengan wajah sebal.


“Bukan kalian aja kok, kita juga telat,” ucap beberapa mahasiswa baru membuat Kaila dan Kevin menoleh ke belakang.


“Kalian telat juga?” tanya Kaila.


“Iya. ‘Kan di perjanjian, hadirnya jam 6. Sedangkan sekarang udah hampir jam 7.”


Kaila menepuk dahinya lalu menunduk. Ia benar-benar malu kali ini. Bagaimana bisa seorang Kaila yang selalu rajin dalam sepanjang persekolahan, tiba-tiba telat saat hari pertamanya di dunia perkuliahan?


“Sabar Kai,” lirih Kevin.


Kaila berdecak. “Baru kali ini aku telat.”

__ADS_1


“Kamu! Cepat lari!” teriak ketua panitia.


“Gila! Ganteng banget!”


“Wah, ada pangeran cuy di jurusan kita!”


“Pagi-pagi dapet asupan, hyung!”


Kaila mengerutkan dahi mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari teman-teman seangkatannya yang berada di belakang. Karena penasaran, ia pun segera menoleh mengikuti arah pandangan yang lain.


Matanya melebar saat mengetahui Kana-lah yang kini menjadi pusat perhatian.


“Kamu! Maju ke depan!” teriak ketua panitia tersebut pada Kana.


Kana mengangguk dan maju ke depan. Laki-laki itu naik ke atas podium tanpa menoleh pada Kaila.


“Kenapa, Kak?” tanya Kana tanpa dosa.


“Kenapa? Kamu tanya kenapa?” Ketua panitia itu bertepuk tangan di telinga Kana. “Kamu sadar gak kalau kamu yang paling terakhir datang disini!”


Kana mengerutkan dahinya. “Gak juga. Itu!” ucap Kana menunjuk seorang gadis yang baru saja sampai di aula.


“Gisel?” lirih Kevin membuat Kaila menoleh pada Kevin.


“Kamu kenal cewek itu?” tanyanya.


Kevin menganggguk. “Dia Gisel, temen aku.”


Kaila membulatkan bibirnya. Kini pandangannya kembali tertuju pada Kana yang masih berada di atas podium.


Kana terlihat dingin kali ini. Melihat wajah Kana, mengingatkannya pada hari pertama ia bertemu dengan Kana. Dingin dan terlihat sulit untuk di gapai.


“Kalau gitu, gue boleh turun ‘kan?” tanya Kana.


“Gak! Kamu tetep disini sama dia,” ucap ketua panitia tersebut.


Gadis bernama Gisel tersebut sudah berada di atas podium.


“Kalian berdua, tetap disini! Saya mau mengecek teman-temen kalian!” ucap ketua panitia tersebut dan turun melihat mahasiswa-mahasiswa baru yang lain.


“Semuanya! Keluarkan semua barang-barang yang kalian bawa! Untuk Kakak panitia yang lain, silahkan cek. Pastikan mereka membawa sesuai apa yang di perintahkan!” teriak ketua panitia membuat seluruh panitia yang berada di belakang pun muncul dan menghampiri mahasiswa baru.


“Kak Keiza! Sebutin apa aja yang harusnya mereka bawa, Kak!” teriak seorang panitia pada gadis berambut panjang yang kini mengenakan masker dan almameter.


Gadis berambut panjang itu membuka kertas yang terlipat di hadapannya. Salah satu tangannya meraih mic dan mendekatkan bibir. “Semuanya, dengar! Untuk pertama yang kalian bawa ; ketombe! Ada yang tahu apa itu?”


“Nasi!” teriak seluruh mahasiswa baru.


“Ya! Yang gak bawa nasi, silahkan keluar dari barisan dan berjalan ke arah selatan. Untuk yang berada di atas podium, kalian tetap di sana. Kalian berdua akan mendapat hukuman karena sudah telat!” ucap Kezia.


Kana menghela napas dan melipat kedua lengannya di depan dada.


“Lanjut!” teriak Kezia. “Yang harus kalian bawa kedua adalah kangen kakek! Ada yang tahu apa itu?”


“Tumis kangkung!” teriak seluruh mahasiswa.


Kezia mengangguk. “Silahkan, yang gak bawa Tumis kangkung berjalan ke arah selatan!”


“Huft, untung aku bawa Kai,” bisik Kevin membuat Kaila tersenyum. 

__ADS_1


Meskipun di ajak bicara oleh Kevin, pandangan Kaila masih tertuju ke arah podium.


“Selanjutnya! Saya menyuruh kalian untuk membawa Ikan masuk angin. Ada yang tahu apa itu?” tanya Kezia.


“Ikan kembung!” 


Kaila melebarkan mata. “Ikan kembung?” Ia menutup mulutnya saat mengetahui ia sudah salah mengartikan. “Gue pikir ikan asin, ‘kan dia lama di jemur, jadi masuk angin.”


“HAHAHAHA!” teriak Kevin yang mendengar ucapan Kaila.


Kaila berdecak. “Jangan ketawa Kevin, nanti mereka denger.”


Kevin mengulum bibirnya, berusaha menahan tawa.


“Kalian berdua, bawa Ikan yang dimaksud?” tanya seorang panitia yang sudah berada di hadapan Kaila karena mendengar suara tawa Kevin.


Kaila menggeleng. “Saya salah bawa, Kak.”


“Keluar dari barisan! Jalan ke arah selatan!”


Kaila mengangguk dan memungut tasnya.


Saat Kaila keluar dari barisan, mata Kana ikut menoleh. Ia melihat kekasihnya berjalan ke arah selatan menuju teman-teman lainnya yang sudah salah membawa makanan.


“Siapa?” tanya gadis di sebelah Kana.


Kana menoleh dan mengerutkan kedua alisnya. “Ngomong sama gue?”


Gisel mengangguk.


Kana melipat kedua lengannya tak menjawab. Matanya masih tertuju pada Kaila yang sudah ikut dalam barisan.


Tak lama dari itu, Kana melihat laki-laki yang tadi bersama dengan Kaila, ikut menyusul ke barisan selatan.


“Dia siapa sih?” ucap Kana kesal.


“Dia Kevin.”


Kana menoleh pada Gisel. “Lo kenal?”


Gisel mengangguk. “Dia temen gue.”


Kana membulatkan bibirnya dan kembali menatap lurus ke depan.


“Bye the way, nama lo siapa?” tanya Gisel.


Mendengar pertanyaan Gisel, tak membuat laki-laki itu menoleh.


Sadar sudah dicuekkan, membuat Gisel menghela napas. “Susah kalau ngomong sama patung.”


Kana mengerutkan dahinya. “Maksud lo apa? Lo bilangin gue patung?”


Gisel memutar bola matanya. “Ngerasa?”


Kana tak merespon. Ia kembali melipat kedua lengannya, menganggap tak ada siapapun di sampingnya.


Gisel tersenyum miring. Ia menatap laki-laki di sebelahnya dengan penuh makna. “Menarik.”


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2