KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 14


__ADS_3

Part 14


Mencintai dan dicintai adalah satu paket kebahagiaan yang harus dimiliki setiap orang. Saat kita bisa mencintai dan bahkan dicintai, semua akan berjalan dengan indah.


Begitupun halnya dengan Kaila dan Kana. Meskipun keduanya sadar banyak yang tak menyukai ataupun mendukung hubungan mereka, mereka percaya jika tetap bersama adalah jurus jitu untuk mengatasinya.


"Aku tahu dan aku sadar, jika memiliki kamu, adalah suatu tantangan besar." Kaila tersenyum dan menoleh pada seseorang di sebelahnya. "Tapi aku gak peduli, asalkan kamu bisa bahagia, maka aku akan lebih bahagia."


Kana tersenyum tulus. Ia merangkul tubuh gadis itu dan memandang langit malam yang begitu indah.


Benar, saat ini keduanya tengah bersama. Setelah Kana membantu Kevin memperbaiki mobil, Kana sengaja mengajak Kaila untuk keluar sebentar. Lagipula ini belum terlalu malam, jadi masih ada alasan untuk Kana bersama dengan gadis itu.


"Lihat geh bintang-bintang itu," ucap Kana menunjuk beberapa bintang yang berada dilangit.


Kaila mengikuti perintah Kana dan ikut memandang beberapa bintang di langit.


"Mereka sadar kalau cahaya mereka gak seterang bulan, tapi mereka gak menyerah. Kamu tahu kenapa?" tanyanya.


Kaila menggeleng dan menatap mata Kana dengan lekat.


"Karena yang mereka pikirkan, bagaimana cara menerangi bumi meskipun cahayanya tersaingi."


Kaila tertawa kecil. Benar yang dikatakan Kana.


"Begitupun dengan aku, Kai. Aku akan terus berusaha menerangi kamu, meskipun banyak laki-laki diluaran sana yang mencoba menjadi bulan buat kamu."


Kaila tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Kana. "Semakin kesini, aku semakin beruntung bisa dimiliki dan memiliki kamu, Kan. Aku gak pernah nyangka kita bakal jalan sampai sejauh ini."


Kana ikut tersenyum. Laki-laki itu mengelus rambut Kaila dan ikut memejamkan mata. Rasanya begitu nyaman. Ia bahkan tak ingin membiarkan Kaila lepas darinya.


"Aku sayang banget sama kamu," lirih Kana.


"Apalagi aku." Kaila tersenyum dan mengangkat wajahnya, lalu memandang Kana. "Jangan berubah ya?"


Kana mengangguk.


"Dan jangan pergi."


Kana menggeleng. "Gak akan."


Kaila tersenyum lega dan kembali menyandarkan tubuhnya pada laki-laki itu.


-o0o-


"Kamu beneran gak mau ketemu Mamaku?" tanya Kana saat Kaila memutuskan untuk pulang.


Kaila menggeleng. "Aku belum siap ketemu Mama kamu. Aku takut, dia semakin gak suka sama aku. Aku juga belum siap buat ketemu Papa kamu. Kalau seandainya—"


Kana menggeleng. "Gak ada seandai-seandainya. Sekarang kita ketemu Mama ya? Kita minta restu sama mereka."


"Tapi 'kan—"


Kana tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kaila. "Kamu sayang 'kan sama aku?"


Kaila mengangguk.


"Kamu bilang, kamu pengen 'kan orangtuaku merestui hubungan kita?"


"Ya, pengenlah. Malah itu yang aku pengenin dari dulu," jawab Kaila.

__ADS_1


"Nah, yaudah. Lagipula Mamamu fine-fine aja kita berdua pacaran. Jadi Mamaku juga harus gitu juga dong! Mereka gak boleh egois. Jangan hanya masa lalu mereka, kisah kita jadi korbannya."


Kaila terkekeh mendengar ucapan Kana.


"Kok malah ketawa," ujar Kana dengan senyuman di wajahnya.


"Kamu lucu," jawab Kaila membuat Kana semakin gemas dan mencubit pipi Kaila. "Sa—sakit!"


Kana tertawa, lalu mengelus pipi gadis itu. "Ayo geh, kita temui Mama. Ya ya ya?"


Kaila tampak berpikir.


"Ayo dong, ayolah!" bujuk Kana.


Kaila menggigit bibir bawahnya, lalu akhirnya mengangguk.


"MAU?" seru Kana kegirangan.


Kaila mengangguk. "Aku mau ketemu Mamamu."


Kana menyengir kuda, lalu menarik tubuh Kaila dan mengecup pucuk kepala gadis itu. "Ayo kita temui Mama mertuamu!" ucap Kana membuat Kaila tertawa.


-o0o-


"Kana, kenapa belum pulang juga ya?" ucap Alina yang mondar-mandir dengan sesekali memandang jam yang melingkar di tangannya.


Kavin tak menjawab. Suaminya tersebut terlihat fokus membaca buku. "Pusing juga ya belajar ilmu kedokteran. Untung Kana otaknya memadai," ucapnya yang rupanya membaca buku kuliah Kana.


Alina berdecak. "Bukannya telpon anaknya."


Kavin menghela napas dan meletakkan buku tersebut ke atas meja. "Yaudah sih, sayang. Bentar lagi juga pasti Kana pulang. Lagipula Kana udah besar, dia bisa jaga diri. Dan gak mungkin juga dia mau aneh-aneh."


Terdengar suara klakson mobil membuat keduanya menoleh.


"Nah, 'kan. Apa aku bilang," ucap Kavin dengan senyuman lebar.


Sepasang suami istri itu memandang ke mobil sembari menunggu putranya keluar.


Tak lama, Kana keluar dan menghampiri kedua orangtuanya. "Maaf Ma, Pa, Kana lama."


Alina mengangguk.


"Ma, Pa, ada yang mau ketemu Mama sama Papa," ucap Kana membuat Kavin dan Alina menaikkan kedua alisnya.


Tak lama, seseorang keluar dari dalam mobil. Kaila menunduk dan berjalan mendekat menghampiri kedua orangtua Kana.


"Assalamualaikum, Tante, Om." Kaila tersenyum tipis pada kedua orangtua Kana dan akhirnya kembali menunduk.


"Waalaikumsalam," jawab kedua orangtua Kana.


Kaila diam. Ia bingung harus berkata apa lagi. Rasanya benar-benar canggung untuk Kaila berbicara kepada mereka setelah mengetahui apa yang pernah terjadi.


"Kamu apa kabar?" ucap Alina membuat Kaila menoleh dan melebarkan matanya.


Tak hanya Kaila, Kana pun demikian.


"Ba— baik, Tante," jawab Kaila yang begitu gugub.


Alina tersenyum. "Tante boleh bicara berdua sama kamu?"

__ADS_1


Kaila mengangguk. "I—iya, Tante."


Alina tersenyum dan mengajak Kaila masuk ke dalam. Alina sengaja mengunci pintu itu agar Kavin dan Kana tidak ikut masuk.


"Yah, Kana kepo Pa, Mama mau bilang apa sama Kaila," ucap Kana.


Kavin mengedikkan bahu. "Papa juga kepo. Apa Mamamu mau ngelabrak Kaila? Atau mau marahin Kaila?"


Kana menggeleng. "Gimana dong, Pa? Selamatin pacar aku!" ucap Kana memohon.


-o0o-


Kaila mengikuti langkah Alina dan duduk di hadapan wanita itu.


Kaila menggigit bibir bawahnya seraya menarik ujung bajunya.


"Kamu masih berhubungan sama anak saya?" ucap Alina membuat suasana semakin mencekam.


Kaila mengangguk. "Iya, Tante."


Alina menghela napas. "Kenapa kamu masih bertahan? Bukannya kamu udah tahu kalau kami punya masa lalu sama Mama kamu."


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Saya tahu, Tante. Tapi—" Kaila menghela napas. "Saya mencintai Kana."


"Seberapa besar cinta kamu sama Kana?" ucap Alina melontarkan kalimat itu di hadapan Kaila.


Kaila menatap wajah Alina dan menjawab, "Sebesar Tante mencintai Om Kavin."


Alina melebarkan matanya mendengar jawaban yang Kaila lontarkan.


Melihat perubahan wajah Alina, membuat Kaila takut. Ia takut sudah berbicara padanya atau sudah lancing.


Seketika suasana menjadi semakin canggung. Kaila menghela napas dan menunduk di hadapan Alina. "Maafin Kaila tante kalau Kaila udah salah ngomong. Tapi Kaila serius, Kaila begitu mencintai Kana. Sangat mencintai, Tante. Kaila gak tahu harus gimana kalau seandainya harus di pisahin sama Kana, Tante."


"Memang siapa yang mau misahin kamu sama Kana?"


Kaila melebarkan mata dan menatap wajah Alina. "Tante— gak ngelarang Kana berhubungan sama Kaila?"


Alina tertawa. "Awalnya sih kaya ngelarang, cuma setelah dipikir, percuma juga. Mau dilarang bagaimana pun kalau saling mencintai, mau gimana lagi?"


Senyum Kaila otomatis merekah mendengar jawaban Alina.


"Jadi Tante ngerestuin hubungan kami?" tanya Kaila kembali.


Alina mengangguk. "Tapi kamu jangan bilang sama Kana ya? Kita lihat, seberapa besar Kana memperjuangin hubungan kalian untuk minta restu sama Tante."


Kaila mengangguk dan tersenyum. "Siap, Tante."


Alina tersenyum dan memeluk Kaila. "Dari pertama lihat kamu, Tante memang udah suka lihat kamu sama Kana. Tapi setelah tahu kamu anaknya Nabila, Tante langsung kaya kesel gitu. Cuma setelah di pikir, semuanya udah berlalu, dan kalian juga gak tahu apa-apa."


Kaila tersenyum. Ia benar-benar merasakan kehangatan dalam pelukan Alina.


"Tante jadi pengen buat judul cerita."


"Apa Tante?" tanya Kaila menaikkan kedua alisnya.


"Calon mantuku adalah putri dari mantan suamiku," ucap Alina membuat Kaila tertawa mendengarnya.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2