KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 22


__ADS_3

Part 22


Jarum jam berputar sesuai irama. Sudah Dua jam mahasiswa itu melaksanakan praktik yang di bimbing oleh dosen mata kuliah langsung.


Seluruh mahasiswa itu di bagi menjadi beberapa kelompok kecil, dan fokus dengan bahan praktiknya masing-masing.


Kana, lelaki itu terlihat fokus dengan praktiknya.


Ia tahu, jurusan kedokteran adalah impiannya sejak dulu. Tepatnya sejak ia bertemu dengan Aji dan Adinda. Meskipun kedua sahabatnya tersebut tidak bisa berada dalam almameter yang sama. Namun ia percaya, mimpi mereka akan kembali mempertemukan mereka. Tiga sahabat yang tak akan saling melupa, meskipun telah melewati beberapa masalah yang ada.


“Kana.”


Kana menoleh dan tersenyum pada gadis yang memanggilnya.


“Kenapa?” tanya Kana dengan suara hangat ciri khasnya.


“Gantian, hehe.”


Kana terkekeh, dan menyerahkan alat di hadapannya pada kekasihnya tersebut.


“Tadi udah paham ‘kan yang di jelasin sama Bu Rossa?” tanya Kana memastikan.


Kaila mengangguk. “Tapi lupa SOPnya,” jawab Kaila seraya memamerkan deretan giginya.


SOP adalah singkatan dari Standar Operasional Prosedur. SOP sendiri harus dipahami sebelum melakukan tindakan. Karena, jika tidak paham SOP, maka tindakan tidak akan benar. Itulah mengapa, amat pentingnya SOP dalam bidang kesehatan. Khususnya bagi mereka yang berkecimbung dalam dunia tersebut.


Kana tersenyum dan menjelaskan kembali pada Kaila.


Gadis itu mendengarkan kekasihnya dengan seksama dan penuh rasa percaya.


Kaila sangat kagum dengan Kana. Sebab, lelaki itu meskipun terlihat cuek, ia sangat menomor satukan pendidikan. Bagi Kana, pendidikan adalah yang terpenting. 


Dan itu, adalah ajaran Alina yang ia tanamkan pada putranya tersebut.


“Gimana? Paham?” tanya Kana pada Kaila.


Kaila mengangguk dengan senyuman. “Udah paham, kok.”


“Yaudah, coba praktekin sesuai SOPnya. Gimana langkah awalnya,” ucap Kana dengan lembut.


Kaila mengangguk dan mulai mempraktikan apa yang tengah di ajarkan hari ini.


-o0o-


“Baik, berhubung sudah jamnya pulang, mari kita sudahi praktik hari ini. Untuk pertemuan selanjutnya, silahkan kelompok kecil tadi, menghubungi dosen yang sudah di bagi ya dan silahkan untuk melakukan praktik mandiri di jam praktik. Ingat, di jam praktik, bukan jam teori. Mengerti?” tanya Bu Rossa dosen yang mengajar hari ini.


“Mengerti, Bu!”


Bu Rossa mengangguk, sebelum akhirnya mengucapkan salam dan berlalu pergi.


Kaila tersenyum lebar dan meraih tasnya. Akhirnya, setelah seharian menghabiskan banyak energi di kampus, kini saatnya gadis itu pulang dan kembali mengisi energi dengan istirahat.


“Kai, pulang bareng Kana ya?” tanya Wilka yang menghampiri gadis itu.

__ADS_1


Kaila belum menjawab. Gadis itu menoleh pada laki-laki di sebelahnya.


Kana tersenyum. “Yaudah, kamu pulang bareng Wilka aja.”


“Gak papa?” tanya Kaila.


Kana mengangguk.


Kaila tersenyum dan menoleh pada Wilka.


“Yeay! Makasih, Kana! Aku pinjem pacarmu dulu ya,” ucapnya dan menarik Kaila untuk pergi meninggalkan kelas.


“Huft! Tahu gak sih Kai, masa tadi ada cewek yang nge-DM aku,” ucap Wilka di sela-sela perjalan menyusuri koridor.


Kaila mengerutkan dahinya. “Nge-DM gimana?”


“Masa dia ngaku-ngaku pacarnya Kak Flero, ‘kan jelas-jelas aku yang pacarnya.”


“Masa sih, Wil?” tanya Kaila penasaran.


“Iya. Nih, liatin geh chatannya. Tiba-tiba nge-P, terus bilang ; lo deket ya sama Flero. Gitu. ‘Kan aneh, jelas-jelas aku udah pacaran sama Kak Flero lama,” ucap Wilka dengan menggurutu kesal.


“Terus kamu udah bilang sama Kak Flero?” tanya Kaila.


Wilka mengangguk. “Dia belum bales tapi.” Wilka menghela napas. “Ah, gak tahu ah. Pusing. Makin kesini aku ngerasa juga, Kak Flero kaya gak peduli sama aku. Ah, intinya, punya pacar gak punya pacar sama aja.”


Kaila tersenyum dan mengusap pundak Wilka, mencoba menenangkan gadis itu.


“Eh, Kai. Abis ini mau kemana? Mau langsung pulang apa mampir dulu kemana gitu.”


“Makan ketoprak pinggir jalan itu keknya enak,” ucap Wilka seraya menunjuk penjual ketoprak yang berada di sebrang kampusnya.


Kaila tersenyum. “Yuk!”


-o0o-


“Ini dia, ketopraknya!” ucap penjual ketoprak yang menyerahkan dua piring ketoprak pada dua gadis yang kini tengah menunggu.


“Yeay, makasih Mang!” ucap Wilka lalu meraih sendok dan hendak menyantap ketoprak tersebut.


“Kamu seneng banget ya sama ketoprak?” tanya Kaila yang melihat Wilka menyantap ketoprak tersebut dengan lahapnya.


Wilka mengangguk seraya mengucah lahap ketoprak. “Dari dulu, ketoprak tetep makanan favoritku, Kai. Eh lebih tepatnya makanan favorit kedua setelah gudeg.”


Kaila melebarkan mata. “Ahh, jadi pengen gudeg!” seru Kaila.


Wilka tersenyum lebar. “Kamu juga suka gudeg?” tanya Wilka.


Kaila mengangguk. “Suka banget! Ahhh, itu makanan favorite aku juga!”


“Sumpah ya, enak banget, Kai gudeg itu. Apalagi kalau yang buat usianya udah nenek-nenek, gak ada tanding sih itu.”


“Iya, bener banget. Ahh, Wilka, jadi pengen makan gudeg!” ucap Kaila membuat Wilka terkekeh.

__ADS_1


“Besok ya kita beli,” ucap Wilka. “Sekalian cari sambel yang enak disini.”


Kaila mengangguk siap. “Jadi kita mau berburu makanan nih besok?”


Wilka mengangguk. “Kita wisata kuliner gitu. Ajakin juga Kevin sama Kana. Pasti mereka mau.”


Kaila mengangguk. “Iya, bener. Kana juga kayanya suka banget berburu kuliner gitu.”


“Oh ya?”


Kaila mengangguk membenarkan. “Kurus-kurus gitu, Kana banyak makan loh.”


Wilka tertawa mendengar ucapan Kaila. “Lah, sama dong kaya Kevin.” Wilka tertawa. “Tahu gak sih, anak itu ya, kalau makan tuh banyaknya nauzubillah. Aku kadang heran sama dia, makannya banyak, tapi badannya segitu-gitu aja. Mana makannya senengnya yang berminyak-minyak gitu lagi, hadeh.”


Kaila terkekeh. “Kamu kayanya paham banget ya sama Kevin.”


Wilka terdiam, lalu tersenyum tipis. “Bener, Kai. Kayanya aku paham banget sama dia. Kayanya hampir semua tentang dia, aku tahu.”


“Kalian pernah gak sih saling suka gitu?” tanya Kaila dengan hati-hati.


Wilka tersenyum. “Pernah, Kai. Lagipula gak mungkin cowok dan cewek yang sahabatan gak ada rasa suka. Kecuali, kalau di antara mereka udah suka cewek lain.”


“Terus, kamu pernah suka sama dia kapan?” tanya Kaila yang ingin tahu tentang keduanya.


Wilka menggigit bibir bawahnya. “SMP kelas Dua, disitu aku bener-bener suka banget sama dia. Gimana ya, anaknya memang usil, jail, terus gak pernah serius gitu. Cuma, aku kadang suka sama orang-orang yang kaya gitu. Ketimbang cowok yang sok pinter, sok perhatian. Aku suka banget sama Kevin, bahkan pernah ada niatan aku buat nembak dia langsung. Cuma, aku ragu. Masa iya cewek nembak duluan. Gak gengsi.”


Kaila mengangguk. Ia, mendengarkan penjelasan temannya tersebut.


“Tapi pas SMA, tiba-tiba Kevin ngenalin Flero ke aku. Aku langsung sedih, karena aku ‘kan berharapnya sama Kevin. Eh dia malah ngenalin aku ke sepupunya.” Wilka mengucutkan bibirnya. “Awal aku ngeliat Flero, dia kaya Kevin tapi versi cool. Aku bener-bener terpesona gitu sama dia. Kaya ngerasa, berkat Flero, perasaanku ke Kevin memudar gitu aja. Ya, alhasil, aku jadian deh sama Flero.”


Kaila tersenyum dan mengangguk mengerti.


“Tapi tahu gak sih, Kai. Kevin itu sampai sekarang belum pernah pacaran.”


“Hah, serius?”


Wilka mengangguk. “Padahal aku udah suruh dia nembak cewek. Tapi ya, alesannya gak ada yang setipe sama dia. Entah, apa mau Kevin,” ucapnya tertawa.


“WOY! NGOMONGIN SIAPA?!” seru Kevin yang sudah berada di sebelah keduanya.


“Ih, Kevin, ngeselin loh! Dateng-dateng ngerusak mood orang,” ucap Wilka lalu menaruh sendoknya ke piring.


“Sok punya mood bagus, aja,” ucapnya lalu meraih sendok Wilka dan menyantap ketoprak gadis itu.


“Ih, Kevin! Itu punyaku!”


“Pelit amat.”


“Beli sendiri! Jangan di habisin Kevin!” teriak Wilka.


Kaila terkekeh. Ia memandang Dua orang di hadapannya dengan senyuman lebar.


“Kevin, balikin!”

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2