KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 15


__ADS_3

Part 15


Bima tersenyum-senyum memandang kertas di tangannya.


Tentu saja Kana dan Kaila tahu, jika kertas yang Bima pegang adalah nomor perempuan yang telah Bima tabrak anjingnya.


Kaila dan Kana tak tahu bagaimana cara Bima bisa mendapatkan nomor itu. Yang jelas, Bima hanya bilang jika Bima telah berjanji pada perempuan itu untuk mengganti semua yang telah Bima lakukan. Termasuk, menggantinya dengan anjing baru.


"Jadi dia minta ganti anjing baru?" tanya Kaila yang duduk di depan bersama dengan Kana.


Sedangkan Bima, laki-laki itu duduk di belakang bersama dengan koper dan barangnya yang lain.


Bima menggeleng. "Gak minta ganti anjing baru sih. Aku doang yang berinisiatif."


"Terus mobil Kak Bima sekarang gimana? Beneran di tahan di kantor polisi?"


Bima mengangguk. "Sampai surat keputusan damai keluar."


Kaila berdecak. "Ribet banget, ya."


Bima tersenyum miring. "Aku yang minta dilanjut besok."


Kana menggelengkan kepala tak habis pikir. "Paling geh lo sengaja biar bisa ketemu cewek itu lagi."


Bima tertawa, lalu membuka kaca jendela.


Kaila mengerutkan dahinya dan menoleh pada Bima. "Beneran, Kak?"


Bima menaikkan kedua alisnya.


"Biar bisa ketemu cewek itu lagi?"


Bima mengangguk.


"Ih! Playboy banget sih!" teriak Kaila seraya melempar botol kosong pada laki-laki itu. "Kamu punya pacar juga di Jerman. Malah gatel sama cewek Indo."


"Yah, namanya juga Bima," ucap Kana yang sudah tak heran pada laki-laki itu.


Bima terkekeh lalu kembali menoleh pada sepasang kekasih di depannya. "Kaila gak mau di bawa ke rumah sakit atau ke dokter gitu?"


Kaila menoleh. "Buat apa? Dokternya aja ada disini," ucap Kaila seraya menyandarkan kepalanya sebentar pada Kana lalu mengangkatnya.


Bima melebarkan mata terkejut. "Oh iya! Lo ambil dokter ya, Kan?"


Kana memutar bola matanya. "Ambil dokter, ambil dokter, ambil jurusan kedokteran!" seru Kana mempebaiki.


"Halah, sama aja!" ucap Bima lalu melipat kedua bola matanya. "Oh ya, periksa gue Kan! Kok belakangan ini gue sering ngerasa sering sakit kepala."


"Iya, nanti begitu sampai rumah gue periksa."


"Ngapa gak sekarang?" tanya Bima.


Kana menghela napas dan menatap Bima tajam, lalu tersenyum. "Lagi nyetir, Bima."


Bima terkekeh dan menyengir kuda saat melihat Kana emosi.


"Biasa Kak Bima, nyebelin," ucap Kaila.


"Dari dulu," lanjut Kana.


-o0o-

__ADS_1


Siang ini, Keiza terlihat tengah menikmati makan siangnya di kantin. Setelah acara pertemuan pagi tadi, semua dokter menggosipkan jika dirinya memiliki hubungan spesial dengan cucu direktur yaitu Aji.


Bagaimana tak di gosipkan? Kedunya saja masuk ke dalam aula dengan tangan yang seperti bergandengan.


"Bisa-bisanya gosip kaya gitu nyebarnya cepet," ucapnya seraya mengaduk makanannya.


"Dok, beneran?" tanya seorang perawat yang melihat Keiza tengah makan sendiri.


Keiza menoleh dan mengerutkan dahinya. "Beneran apanya?" tanyanya pada Perawat Clara yang sudah duduk di depannya.


"Ah, Dok Keiza sok sok gak tahu," ucapnya membuat Keiza menghela napas panjang. "Udah berapa lama?"


Keiza berdecak. "Astaga Clara, aku tuh gak ada hubungan apa-apa sama Dokter Aji."


"Ada juga gak papa kok, Dok. Lagipula Dokter Aji 'kan jomblo."


Keiza menggelengkan kepala. "Gak! Gak! Please, jangan ikut nyebarin gosip kaya ini."


Clara tertawa. "Aku gak nyebarin gosip, Dok. Tadi di Nurse Station rame pada bilang kalau Dokter Keiza punya hubungan spesial sama Dokter Aji. Jadi beneran nih?" Clara menaikkan kedua alisnya.


"Enggak, Clara. Gak bener."


Clara berdecak. "Yah, padahal aku berharap beneran." Clara mengerucutkan bibirnya lalu menusukkan sedotan ke dalam minumannya.


Keiza menggelengkan kepala dan memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Permisi."


"Uhuk!" Clara refleks terbatuk saat melihat Aji menghampiri meja itu. Clara melirik Aji, lalu beralih melirik Keiza dengan senyum jailnya. "Dokter Keiza, Clara ke ruangan dulu ya!" ucapnya lalu mencubit tangan Keiza dengan maksud menggodanya. "Jadi beneran?" bisiknya di telinga Keiza dan berlari.


"Astaga, Clara," ucap Keiza lalu menggelengkan kepala.


Aji tersenyum dan mengangkat nampan makanannya. "Boleh aku duduk?" tanyanya.


Keiza menunduk, mengulum senyumnya seraya mengaduk makanannya kembali.


"Udah makan dari tadi?" tanya Aji.


Keiza mengangkat wajahnya dan mengangguk. "Lumayan."


"Yah, telat dong!" ucap Aji membuat Keiza tersenyum.


"Astaga, kenapa sih gue? Kenapa gugub gini," umpat Keiza lalu kembali menunduk.


'Drttt!'


Ponsel Keiza bergetar. Perempuan itu segera mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk.


Nurse Clara : Ciee, jangan malu-malu gitu dong!


Keiza melebarkan mata dan menoleh ke sisi kanannya. Terlihat Clara tengah memakan snack seraya menggoda dirinya dari jauh.


Keiza menatapnya tajam, namun malah mendapat cengiran kuda dari ujung sana.


"Awas lo ya!"


"Kenapa?" tanya Aji bingung.


Keiza menggeleng dan tersenyum. "Gak papa."


Keiza memukul dahinya pelan dan menatap ke arah lain untuk menutupi rasa malunya.

__ADS_1


-o0o-


"Nih, setiap gue bangun dari duduk atau tempat tidur, kepala gue tuh sakit terus gelap gitu pandangan gue," ucap Bima saat Kana tengah memeriksanya.


"Lo sering begadang?" tanya Kana.


"Ya itu mah gak usah ditanya lagi, Kan. Cowok mana yang gak begadang?" ucap Bima.


"Coba sini jari lo," ucap Kana meraih tangan Bima.


Bima melebarkan mata. "Mau lo apain?"


"Udah, diem dulu." Kana meraih kapas alcohol berserta jarum.


"Eh, eh, lo mau ngapain?" ucap Bima yang sepertinya takut dengan jarum.


"Enggak, dikit doang! Gue mau cek kadar hemoglobin lo," ucap Kana menarik jari Bima.


"Enggak! Gak mau! Kana, gue takut jarum anjir!" teriak Bima.


"Pelan doang, kaya digigit semut," ucap Kana.


Bima menggeleng. "Gak mau, Kana! Ah lo mah! Gue minta periksa malah mau lo tusuk-tusuk," gerutu Bima yang bangkit dari duduknya.


Kana menghela napas. "Katanya minta di periksa?"


"Ya abisnya lo malah mau nusuk-nusuk jarum."


"Ya 'kan gue mau cek hemoglobin lo, Bima. Katanya pandangan lo suka gelap kalau bangun dari duduk atau berdiri."


Kaila terkekeh. "Tau tuh Kak Bima, aneh. Minta periksa, tapi takut jarum."


"Ya mau gimana, emang gue takut." Bima mengelap keringat di dahinya. "Tuh 'kan, keringat dingin gue," ucapnya lalu berjalan keluar dari kamar Kaila.


Kana terkekeh dan menggelengkan kepala. Laki-laki itu masih duduk di kursi dan meletakkan semua alat medis miliknya ke atas kasur.


Kaila bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Kana. "Pasti banyak banget ya pasien kaya Kak Bima?"


Kana mengangguk. "Hampir semua pasien."


Kaila terkekeh. "Mungkin seru ya kalau dulu aku tetep ambil jurusan kedokteran dan kita tanganin pasien bareng-bareng," ucap Kaila.


Kana tersenyum dan menarik Kaila untuk duduk di pangkuannya. Lelaki itu mengusap rambut Kaila dengan manjanya. "Gak perlu di sesalin yang udah terjadi. Mungkin semuanya memang udah takdir. Seharusnya kita bersyukur karena kita bisa bersatu lagi, Kai."


Kaila mengangguk dan menyentuh pipi Kana. "Makasih ya kamu selalu ingetin aku untuk bersyukur."


Kana mengangguk dan menatap Kaila dengan lekat.


Jarak wajah keduanya benar-benar dekat, membuat jantung Kaila berpacu lebih cepat.


Wajah Kaila memerah, terlebih saat Kana mulai mendekatkan wajahnya pada Kaila lebih dekat dan lebih dekat.


Hingga—


"Mau ngapain adik gue, lo?" ucap Bima yang kembali muncul membuat keduanya terlonjak kaget dan berdiri dengan wajah malu.


'Kak Bima! Awas lo ya! Padahal bentar lagi Kana mau cium gue!' umpat Kaila dalam hati.


"Eumm— gue taruh alat ini ke mobil dulu," ucap Kana meraih barang-barangnya dan berjalan keluar dengan wajah memerah karena malu.


Bima tersenyum miring saat Kana keluar. "Ngapain lo ngeliatin gue gitu kaya gitu?" tanya Bima menggoda Kaila.

__ADS_1


"Tau deh!" ucap Kaila kesal dan ikut berjalan keluar.


-o0o-


__ADS_2