
Part 32
Siska mengaduk minumanya dan tertawa. "Jadi lo ditinggal nikah sama pacar lo yang di Jerman itu?" ucap Siska dengan gelak tawa. Ia menggelengkan kepala dan membuang tatapannya ke arah lain.
Bima mengerutkan alisnya dan menatap Siska kesal. "Tau darimana lo?"
Siska tersenyum miring. 'Gak tahu aja lo, tiap hari gue stalking instagram tuh cewek,' batinnya.
Siska menghela napas dan mengibas rambutnya. "Ada deh."
'Ck!'
Bima berdecak dan melipat kedua lengannya di depan dada. Laki-laki masih tetap terlihat tenang. Tak ada emosi yang ia tunjukkan. Ia menenguk minumannya dan kembali menaruhnya ke atas meja. "Syukurlah, kalau lo bisa ngomong santai ke gue."
Siska menghela napas, menyingkirkan minumannya dan kembali menatap Bima. "Inget ya, gue ngomong santai gini sama lo bukan karena gue suka sama lo atau gue ngemis-ngemis cinta lo, Bima! Gue benci tahu gak sama lo!" Siska berdecak dan menatap Bima tajam. "Mungkin kalau tadi lo jadi nabrak anjing gue, gue bakal penjarain lo seumur hidup atas tindakan pembunuhan dan pemberi harapan!"
Bima melebarkan mata. "Dih, enak banget kalau ngomong! Kaya tuh penjara punya kakek lo aja."
"Ya memang enak!" ucap Siska seraya menaikkan kedua bahunya.
"Ya disaring dulu dong, kalau ngomong, cantik."
"Heh! Apa kabar sama lo, Bima? Yang nebar ucapan manis kesana sini tanpa di saring. Kasih harapan tanpa kepastian. Masih untung waktu itu gue gak baper sama lo. Lah kalau cewek lain? Mikir dong, ganteng."
Bima melebarkan mata. "He—"
"Aduh, kakak-kakak, kita mampir ke kafe buat ngademin pikiran, bukan buat berantem!" ucap Kiara kesal melihat perdebatan dua orang di depannya.
Siska tak meladeni. Ia memutar bola matanya dan menunjuk Bima. "Pokoknya, kalau sekali lagi lo tabrak anjing gue, habis lo sama gue!"
Bima melebarkan mata dan mendekatkan wajahnya. "Mau apa lo? Lagipula, siapa suruh pelihara anjing sembarang! Makanya kalau punya anjing tuh di jaga. Jangan sibuk sendiri. Bilang aja kalau gak becus jaga anjing."
"Suka-suka gue, anjing-anjing siapa?" Siska menaikkan kedua alisnya dengan raut menantang.
"Gue yang beli! Mau apa?" Bima ikut menaikkan kedua alisnya.
"Tapi gue yang punya!"
"Tapi gue yang milih!"
"Tapi gue yang punya hak!"
"Tapi gue—"
"DIAM!" teriak Kiara membuat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah mereka. "Sorry." Kiara menghela napas lalu menoleh pada Siska. "Kak Siska, tolong maafin Kak Bima ya? Kak Bima memang gitu, gak mau kalah."
"Memang! Memang orangnya gak mau ngalah!" ucap Siska dengan penekanan dengan menatap tajam wajah Bima. "Gimana mau awet sama pasangan, kalau sama cewek aja gak mau kalah."
"Kok lo ngatain gue?"
Siska melebarkan mata. "Kok lo nyolot? Lo mau gue laporin ke polisi soal penabrakan waktu itu?"
"Loh, kok diungkit-ungkit lagi? 'Kan gue udah beliin lo anjing baru," ucap Bima.
"Ohh, jadi lo gak ikhlas beliin gue anjing baru?" Siska memutar bola matanya dan mengangkat sesuatu di bawah sana. "Nih, ambil lagi! Lo urus sendiri!" ucap Siska menyerahkan anjing yang Bima maksud dan berjalan pergi.
Bima melebarkan mata. Laki-laki itu menerima anjing yang Siska berikan tanpa berkata sepatah kata pun.
"Apa-apaan?" ucap Bima menatap anjing di depannya lalu menatap punggung Siska yang tak lagi terlihat.
Kiara tertawa. "Rasain deh Kak Bima. Urus tuh si anjing," ucap Kiara tertawa dan bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Bima.
Bima masih tak habis pikir. Laki-laki itu menggelengkan kepala dan menoleh pada anjing itu yang kini tengah menatap ke arahnya. "Apa liat-liat?"
-o0o-
"Kak Siska!" teriak Kiara yang berlari menghampiri perempuan itu.
Siska tak mendengarkan. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan Kiara yang berteriak memanggil namanya.
"Kak Siska!"
Kiara mengatur napasnya dan kembali mengejar hingga berhasil menahan tangan Siska membuat gadis itu berhenti.
"Kak."
Siska menoleh dan menaikkan kedua alisnya. "Lo disuruh kakak lo buat ngejar gue?"
Kiara menggeleng. Ia menunduk, menghela napas dan kembali menatap Siska. "Aku sendiri yang mau ngejar kakak."
"Buat apa? 'Kan permasalahannya udah selesai. Anjingnya udah gue balikin ke kakak lo."
Kiara mengatur napasnya dan kembali menggeleng. "Enggak, kak. Kita duduk dulu yuk," ucap Kiara seraya menunjuk taman yang berada di depan mereka.
Siska mengangguk dan mengikuti keinginan Kiara.
Keduanya duduk di kursi taman sembari memandang beberapa anak kecil yang tengah asik bermain.
Siska merapihkan rambutnya, serta posisi duduknya.
"Aku atas nama Kak Bima, bener-bener mau minta maaf. Aku tahu Kak Bima banyak salahnya sama kakak. Jadi aku mewakili dia, mau minta maaf sebesar-besarnya," ucap Kiara dengan begitu tulus.
Siska tersenyum miring. "Gak perlu. Lo gak perlu mewakili dia. Kalau memang di ngerasa salah, seharusnya dia sendiri yang minta maaf, bukannya malah nyuruh lo. Memang ya, tuh cowok gak punya nyali buat minta maaf."
Kiara menggeleng. "Kak Bima gak nyuruh aku. Aku sendiri yang pengen minta maaf ke kakak."
Siska tersenyum miring dengan tatapan yang masih lurus ke depan. "Lo beda banget sama dia." Siska menghela napas dan menoleh menatap Kiara. "Siapa nama lo?"
"Kiara, Kak."
Siska membulatkan bibirnya. "Umur?" tanyanya kembali.
"Lima belas tahun."
"Tahun ini lulus SMP?"
Kiara mengangguk membenarkan. "Kakak sendiri? Umur berapa?" tanya Kiara penasaran.
"Dua puluh tiga," jawab Siska dengan senyuman tipis.
"Beda Tiga tahun dong sama Kak Bima?"
Siska memutar bola matanya. "Udah deh, jangan di sangkut pautin lagi sama tuh orang. Capek gue dengernya."
Kiara tersenyum. "Hehe, sorry Kak."
Siska mengangguk dan menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Udah jam sebelas. Aku mau pulang dulu ya?"
"Rumah kakak dimana?"
Siska menoleh dan menatap mata Kiara. "Lo nanyain rumah gue bukan disuruh Bima 'kan?"
Kiara terkekeh. "Enggak, Kak."
__ADS_1
Siska membulatkan bibirnya lalu menunjuk rumah berwarna putih yang berdiri megah di ujung jalan.
Siska cukup takjub dengan rumah itu. Rumah besar milik Siska kurang lebih hampir mirip dengan rumahnya dulu.
Tentu semua ingat, Bima dan Kiara lahir dari ayah yang sangat kaya raya yang bisa disebut sultan saat itu.
Siska terkekeh. "Yaudah, aku balik dulu ya?"
Kiara mengangguk dan melambaikan tangannya membiarkan Siska berjalan pergi.
Setelah Siska tak terlihat lagi, Kiara berjalan kembali ke kafe tadi untuk menghampiri Bima yang menunggu di parkiran mobil.
"Ngomong apa saja sama dia?" tanya Bima saat Kiara sudah duduk di sampingnya.
Kiara menggeleng. "Gak banyak."
Bima melirih Kiara tajam. "Ngomongin kakak ya?"
Kiara melebarkan mata. "Geer banget."
"Kirain."
Kiara memutar bola matanya, lalu menyandarkan kepalanya di kursi.
'Guk! Guk! Guk!'
Kiara terlonjak kaget saat suara anjing memenuhi isi mobil. Gadis itu menoleh ke belakang dan melihat anjing tersebut duduk di kursi belakang.
"Beneran di bawa pulang?"
Bima mengangguk. "Gak ada cara lain. Mau gue buang, sayang."
Kiara tertawa dan kembali menyandarkan tubuhnya.
Tak ada obrolan lagi di antara keduanya. Bima terlihat fokus dengan kemudinya dan Kiara yang tengah melamun. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.
Kiara menatap jalanan dengan mata sayu, lalu menoleh pada Bima. "Kak."
Bima menaikkan kedua alisnya. "Kenapa?"
"Udah lama banget gak ke pondok indah."
Bima menoleh dan mengerutkan dahinya. "Ngapain?"
Kiara tak menjawab.
"Jangan bilang lo mau pulang ke rumah itu?" Bima berdecak. "Dengerin, rumah itu udah gak dipake hampir Sembilan tahunan. Udah berhantu kali tuh rumah. Lo mau tinggal disana bareng kuntilanak, pocong, gen—"
"Stop!"
Bima tertawa dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
-o0o-
"Selamat datang dirumah baru!" seru Kana saat ia berhasil membuka pintu pada rumah barunya.
Kaila membuka mulutnya kagum melihat rumah yang akan ia huni ini.
Kana tersenyum. "Suka?"
Kaila mengangguk. "Suka banget!"
Kana terkekeh dan menarik istrinya ke dalam pelukan.
"Jangan makasih sama aku, lha. Makasih sama Papa Kavin."
Kaila mengangguk dan mendongak menatap Kana dengan senyuman.
Kana terkekeh dan menarik hidung Kaila dengan gemasnya.
"Jadi malam ini kita udah tidur disini?"
Kana mengangguk. "Keliling rumah yuk, lihat isinya."
Kaila mengangguk dan keduanya pun masuk ke dalam untuk melihat isi dari rumah tersebut.
Rumah bernuansa Jerman dengan dipadukan gaya modern yang kental membuat rumah itu semakin terlihat mewah.
Desain interior yang terpasang cukup membuat keduanya kagum.
Ini adalah pertama kali bagi Kaila menginjakkan kakinya ke rumah ini. Begitupun Kana. Meskipun Kavin sudah membelikannya jauh-jauh hari. Kana sengaja ingin datang di saat ia resmi menjadi suami Kaila.
Dan ini, adalah waktu yang Kana tunggu.
Keduanya berjalan ke dapur dan melihat isi yang ada.
Disana, sudah ada meja makan beserta kursi. Kulkas dan lemari untuk menaruh piring dan juga alat makan yang lain. Namun, belum ada gas, kompor dan juga pisau-pisau yang digunakan untuk memotong sayuran.
"Berarti kita beli itu nanti," ucap Kana dan di angguki oleh Kaila.
Keduanya keluar dari dapur dan naik ke atas tangga.
Kamar keduanya berada di atas.
Sebenarnya jika di hitung, ada Tiga kamar disana. Satu kamar untuk Kana dan Kaila, satu kamar untuk anak mereka nanti, dan juga satu kamar untuk tamu ataupun asisten rumah tangga jika nanti mereka membutuhkan.
"Tapi kayanya gak perlu ART deh," ucap Kaila.
Kana menaikkan kedua alisnya. "Kenapa? Memang kamu gak repot?"
Kaila tersenyum. "'Kan aku cuma kerja di galeri. Dan itu juga 'kan galeri sendiri. Jadi bebas mau berangkat jam berapa aja. Sebelum berangkat, aku bisa masakin kamu dulu, beberes dan ngelakuin tugas rumah tangga yang lain."
Kana tersenyum. "Yakin bakal sanggup?"
Kaila mengangguk. "Insya Allah."
Kana tersenyum. Mengusap rambut istrinya dan mengecupnya.
"Berarti yang kurang tinggal kompor, gas, pisau dan semacemnya, terus lemari buat dikamar sama apa lagi?"
Kaila tampak berpikir. "Blender mixer belum ada."
"Oh iya! Bener-bener. Yaudah, kalau gitu kita belanja aja sekarang. Sekalian belanja bahan makan untuk beberapa hari ke depan."
Kaila tersenyum mendengar ide Kana. "Ayo!" Kaila mengangguk dan menggandeng tangan Kana.
Kana terkekeh. Melepas tangan Kaila dari lengannya, dan menggantinya. "Gini dong, aku yang gandeng."
Kaila terkekeh dan mengangguk.
Keduanya kembali mengunci rumah dan berjalan keluar menuju mobil.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah sampai disebuah Mall terbesar di daerah Jakarta pusat.
__ADS_1
Keduanya turun dari mobil dan masuk ke Mall tersebut.
"Ke bagian alat rumah tangga dulu aja kali ya?" ucap Kana.
Kaila mengangguk dan mengimbangi langkah Kana yang menggandeng tangannya.
"Ini bagus Na, mejanya." Kaila menunjuk sebuah meja berukuran sedang yang ingin ia letakkan di kamarnya.
Kana mendekati meja yang Kaila maksud. "Mau ini?"
Kaila mengangguk.
"Oke!" Kana mengitari pandangannya. "Yang mana lagi?"
"Jalan ke bagian kompor yuk," ucap Kaila.
Kana mengangguk dan mengikuti keinginan Kaila.
-o0o-
Bima menghela napas lelah setelah berkeliling Mall dengan menggendong anjing milik Siska.
"Dibilangin gak percaya. 'Kan kataku taro aja di mobil biar gak capek, Kak Bim."
"Kalau dia mati gimana?" ucap Bima dengan wajah datarnya.
Kiara berdecak. "Yaudah deh, gendong aja terus."
"Aku mau beli rumah ah buat dia," ucap Bima sembari menoleh pada anjing tersebut.
Kiara tertawa. "Yaudah, sana beliin," ucap Kiara lalu mengitari pandangannya.
Mata Kiara melebar saat ia melihat dua orang yang begitu ia kenal tengah berjalan berduaan sembari bergandengan.
"Itu Kak Kai sama Kak Kana," ucap Kiara.
Bima memutar badan dan mengikuti pandangan Kiara. Senyum Bima melebar saat matanya bertemu dengan Kaila.
Kaila melambaikan tangan dan menghampiri keduanya dengan Kana yang setia di sampingnya.
"Kalian ngapain?" tanya Kaila pada kakak dan adiknya.
"Nemenin Kak Bima nih," ucap Kiara melirik kakaknya.
Kana menoleh. "Lo suka anjing sekarang, Bim?"
"Iya, nih. Setelah capek ghostingin cewek, gue mau gostingin anjing."
Kaila tertawa. "Lawak banget sih."
Bima tersenyum, namun dengan senyuman datar.
"Kak Bima itu lagi bad mood kak," ucap Kiara pada Kaila dan Kana. "Jadi tadi Kak Bima hampir nabrak anjingnya kak Siska lagi. Bukannya damai, malah berantem. Alhasil, anjingnya di balikin ke Kak Bima lagi."
"Jadi ini anjing yang waktu itu beli?" tanya Kaila.
Bima mengangguk. "Dimana sih jualan kandang anjing?" tanyanya.
"Kenapa gak dijual aja? Atau gak ditaruh ke penitipan anjing," usul Kana.
"Pengennya sih gitu. Tapi kalau Siska datang buat ngambil gimana?"
"Yah, itu mah lo yang berharap," ucap Kana memutar bola matanya.
Kiara dan Kaila tertawa.
"Oh ya, ngomong-ngomong Aji sama Kak Kei kemana?" tanya Bima.
"Biasa, ke dufan."
-o0o-
"AJI! PEGANGIN AKU!" teriak Keiza saat keduanya tengah berada bak di atas langit.
"AJI! AAAAA!"
Aji tertawa dan menikmati wahana yang ada.
Sudah hampir dua jam keduanya berada di sini. Mereka telah menikmati berbagai wahana yang ada. Mulai dari rumah hantu sampai bianglala.
Dan saat ini, keduanya tengah berada di atas menikmati wahana halilintar.
Tidak, tidak menikmati. Hanya Aji saja yang menikmati. Sedangkan Keiza, ia terus berteriak karena wahana tersebut.
"Hueekk!"
Keiza memegang kedua perutnya dan melirik tajam Aji yang berada di sebelahnya.
"'Kan aku udah bilang, aku takut naik halilintar."
Aji terkekeh. "Tapi seru, sayang."
Keiza melebarkan mata. "Seru apanya? Yang ada mau meninggal rasanya."
Aji tertawa dan merangkul istrinya. "Yaudah, yaudah, kamu mau apa? Es krim? Burger? Boba? Atau apa?"
"Air putih aja," ucap Keiza menunjuk penjual yang menjual air minum dalam kemasan.
Aji mengangguk dan segera membelikannya. Ia kembali dengan sebotol minum dan menyerahkannya pada Keiza.
Setelah menghabiskan hampir setengah botol, Keiza membawa botol minumnya dan duduk di kursi.
Ia menghela napas sembari mengusap perutnya.
Aji terkekeh. "Kamu kaya gitu malah kaya orang hamil tahu, gak."
Keiza memutar bola matanya. "Hamil angin."
Aji tertawa. "Ih, malah ngelawak. Beneran sayang. Dari muntah-muntah, terus pegangin perut. Ah, jadi gak sabar pengen punya baby dari kamu," ucap Aji lalu mengecup pipi istrinya.
"Aji, ini tempat umum. Malu diliatin orang-orang."
Aji terkekeh. "Gak papa. Biar mereka tahu kamu punya aku."
Keiza tersenyum malu dan mencubit pinggang Aji.
"Masih mual?"
Keiza menggeleng dengan senyuman lembut.
"Soon mualnya karena calon anak kita."
Keiza tersenyum dan merangkul lengan Aji. "Aamiin."
__ADS_1
-o0o-