KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 50 [END]


__ADS_3

Part 50 (END)


Satu tahun berlalu.


'Ceklek!'


Pintu kamar terbuka dan menampilkan Kana yang masih tertidur pulas dalam komanya.


Kaila tersenyum dan menghampiri. "Assalamualaikum, sayang?"


Kaila mendudukan dirinya di depan Kana dan mengusap rambut lelaki itu dengan penuh kasih sayang. "Besok Kala sama Naka ulang tahun, sayang. Kamu gak mau bangun dan ngerayain ulang tahun mereka? Hmm?"


Kaila menaikkan kedua alisnya menatap lelaki itu. "Udah setahun lo ini, sayang."


Hari ini, tepat satu tahun Kana tak sadarkan diri. Sudah Satu tahun berlalu, namun hingga detik ini juga, Kana belum juga sadar.


Kaila bingung. Semua usaha telah ia lakukan, namun— suaminya tak kunjung sadar.


Kaila mengusap rambut itu dan tersenyum. "Kamu sayang 'kan sama anak kamu? Kalau kamu sayang, kamu bangun ya? Kita rayain ulang tahun mereka," ucap Kaila lalu menggenggam tangan Kana.


Kaila memejamkan mata dan merebahkan kepalanya di samping suaminya itu.


Tanpa sadar, rasa nyaman menghinggapinya. Ia merasa kantuk dan perlahan tertidur.


-o0o-


Siska tersenyum tipis memandang lelaki di depannya.


"Aku tahu apa yang terjadi sama Kak Kana memang terasa berat buat kamu. Tapi kamu jangan nyalahin diri kamu terus, Bim."


Bima mengangguk. "Aku gak tega sama Kaila. Ini terlalu berat buat dia."


Siska mengangguk mengerti. "Aku juga bisa ngerasain gimana perasaan Kak Kaila sekarang. Hal itu juga yang aku rasain saat kamu gak ada kabar dulu, Bim. Tapi aku bersyukur, akhirnya kamu kembali—"


"Dan Kana yang menjadi korbannya."


Siska menggeleng dan meraih tangan Bima. "Aku pernah berada di posisi kamu. Menyalahkan diri sendiri dan merasa apa yang udah terjadi salah kita. Aku tahu gimana rasanya." Siska mengangguk. "Sakit, gak enak, merasa semua orang memojokkan kita. Tapi itu Cuma perasaan kita aja."


Bima terdiam.


Siska tersenyum. Mengangkat wajah Bima dan memandangnya.


"Kak Kaila butuh support kamu, bukan rasa penyesalan kamu."


Bima terdiam. Menatap Siska dan mengangguk. "Kamu bener."


Siska tersenyum dan memeluk kekasihnya.


-o0o-


"Ma," lirih Kavin yang melihat istrinya tengah terdiam di kamar.


Lelaki itu menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


Alina tak merespon. Wanita itu masih diam dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Ma," lirih Kavin kembali.


"Besok tepat satu tahun usia cucu kita, Pa. Juga satu tahun Kana gak sadar dari komanya."


Kavin terdiam dan mengangguk. "Iya, Ma."


Alina membalikkan badan. Menatap suaminya dan memeluknya. "Mama gak mau kehilangan anak kita, Pa. Mama gak mau kehilangan anak itu."


Kavin membalas pelukan itu dan mengeratkannya. "Papa juga gak mau, Ma. Mama gak mau kehilangan anak kita."


"Kita ke rumahnya yuk, Pa?"


Kavin mengangguk. "Ayo."


Alina tersenyum dan bangkit dari duduknya.


-o0o-


Kaila masih tertidur di samping suaminya. Memeluk suaminya dengan pelukan hangat.


Hingga tanpa sadar, sebuah usapan lembut datang di pipi Kaila.


Kaila mencoba membuka mata dan bangun.


Ia melebarkan mata terkejut saat melihat tangan Kana baru saja mengusap pipinya.


Jantung Kaila bergedub kencang. Ia meraih tangan suaminya dan memperhatikan jemari yang bergerak itu.


Kana sadarkan diri?


Kaila terlihat panik. Wanita itu bangkit untuk memanggil Ayu.


Namun, tangan Kana menahannya.


Kana membalikkan badan dan menatapnya. Matanya bertemu dengan mata Kana yang tengah menatapnya juga.


"La—la," lirih Kana.


Kaila menangis. Wanita itu begitu senang melihat suaminya sadar. Ia segera berteriak. "Ayu! Ayu!"


Kaila menghela napasnya dan mengaturnya. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Antara bahagia dan rasa gugub.


"Ayuuuu!" teriaknya kembali.


"Iya, Bu!" jawab Ayu sembari berjalan kemari.


Kaila tersenyum melihat Ayu sudah berada disini.


"Yu, Kana udah sadar," ucap Kaila dengan raut bahagia.


Ayu melebarkan mata dan menutup mulutnya senang. "Bu, Dokter Kana sadar, bu!"


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Iya, Yu. Cepet kamu periksa ya, aku mau telpon Aji, supaya dia cepet kesini."


Kaila begitu senang. Ia meraih ponselnya dan segera menghubungi Aji.


"Halo, Kak Aji?" ucap Kaila.


"Iya, Kai? Kenapa?" ucap Aji di seberang sana.


"Kana sadar."


"Kana sadar?" teriak di seberang sana.


"Apa sayang?" Terdengar suara keiza di seberang sana.


Kaila tersenyum.


"Kana sadar, sayang," ucap Aji pada istrinya.


"Alhamdulillah," ucap Keiza. "Ayo kita kesana sekarang."


"Iya. Kaila?" ucap Aji.


Kaila menaikkan kedua alisnya. "Iya?"


"Aku sama Keiza kesana sekarang."


Kaila mengangguk. "Iya, Kak."


Kaila tersenyum dan mematikkan sambungannya.


'Tok! Tok! Tok!


"Assa— Kana?!" teriak Alina yang baru saja datang dan melihat putranya sudah sadarkan diri.


Kana tersenyum tipis pada ibunya.


"Alhamdulillah Ya Allah, engkau telah mengabulkan semua doa-doa kami," ucap Kavin.


Kaila tersenyum bahagia. Ia terlalu senang. Sangat senang. Ini adalah kebahagiaan yang ternilai harganya. Kebahagiaan yang sangat Kaila tunggu-tunggu.


"Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dan pernafasn Dokter Kana sudah kembali normal," ucap Ayu setelah memeriksa tanda-tanda vital Kana.


Semua tersenyum. "Alhamdulillah," ucap mereka.


Kaila tersenyum dan menatap suaminya. "Makasih ya, sayang. Kamu udah mau berjuang?"


Kana mengangguk dengan senyuman, lalu menitihkan air mata. "Aku— minta maaf."


Kaila menggeleng. "Kamu gak salah. Kamu gak perlu minta maaf."


Kana mengangguk dan mengusap pipi Kaila.


Melihat hal itu, membuat Alina dan Kavin tersenyum bahagia.


"Lihat anak kita, Pa," lirih Alina.


Kavin mengangguk dan memeluk istrinya.

__ADS_1


"Aku— mau ketemu Naka sama— Kala," lirih Kana.


Kaila mengangguk dan mengusap air matanya. "Aku bawa Naka sama Kala kesini ya?"


Kana mengangguk dan tersenyum


-o0o-


"Apa? Kana udah sadar?" ucap Bima setelah menerima telepon dari Keiza.


Siska menoleh mendengar hal itu. "Apa sayang?"


"Kana sadar," ucap Bima dengan senyuman.


Siska melebarkan mata. "Kana sadar?"


Bima mengangguk dengan senyuman.


"Alhamdulillah. Ayo kita kesana," ucap Siska.


Bima mengangguk. "Ayo!"


Tanpa sadar, Bima dan Siska meneteskan air matanya. Mereka berdua begitu bahagia mendengar kabar tersebut.


-o0o-


Dua minggu kemudian.


Kana tersenyum menatap istri dan juga dua anaknya yang tengah asik bermain di ruang bermain mereka.


Kana yang duduk di samping istrinya, mengusap rambut istrinya dengan punuh sayang. "Aku bahagia."


Kaila terkekeh. "Aku lebih bahagia."


Kana terkekeh dan memeluk istrinya. "Sayang," lirihnya.


Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnya. "Iya?"


"Ulang tahun Naka sama Kala belum dirayain 'kan ulang tahunnya?" ucap Kana.


Kaila menggeleng. "Belum. Aku nunggu kamu bener-bener sehat."


"Besok kita rayain ya? Kita undang semua orang kesini. Seperti yang kamu bilang."


Kaila mengerutkan dahinya. "Kamu— denger ucapanku saat itu?"


Kana tersenyum dan mengangguk. "Aku denger."


Kaila melebarkan mata dan memeluk suaminya.


Kana terkekeh dan mengusap punggung istrinya dengan hangat.


"Oke, besok kita rayain ya?"


Kana mengangguk.


"Papa!"


"Mama!"


Kedua orang itu menoleh pada kedua anaknya.


Kala dan Naka mencoba berdiri untuk menghampiri kedua orangtuanya namun terjatuh lagi.


Kaila dan Kana terkekeh.


-o0o-


"Selamat ulang tahun, Kami ucapkan."


Semua bertepuk tangan.


Kana dan Kaila tersenyum bahagia dengan keramaian di rumahnya ini. Ini adalah hari perayaan ulang tahun Naka dan Kala.


Meskipun sudah lebih dari dua minggu, mereka tak mempermasalahkan. Asalkan semua ikut bahagia dalam perayaan ini.


"Selamat Panjang umur! Kita 'kan doakan.


Selamat Sejahtera, sehat sentosa!!


Selamat panjang umur dan bahagia!"


"Yeee!" seru Kaila menatap kedua anaknya.


Kana terkekeh dan ikut bertepuk tangan bersama yang lainnya.


Semuanya yang berada disini tertawa dan kembali bernyanyi.


"Tiup lilinnya. Tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang, juga, sekarang, juga!"


Kaila membantu Naka dan Kala untuk meniup lilin.


Dan—


"Yeay!"


Lilin berhasil ditiup oleh Naka, Kala, Kana dan juga Kaila.


Semua nampak bersorak.


"Potong kuenya! Potong kuenya! Potong kuenya sekarang juga, sekarang, juga, sekarang, juga."


Kana dan Kaila membawa pisau masing-masing.


Kana membantu Naka untuk memotong kue, dan Kaila membantu putrinya Kala untuk memotong kue.


"Yeayyyy!" teriak semua orang setelah mereka berhasil memotong kue.


Kaila tersenyum dan menoleh pada suaminya.


Kedua orang itu saling memandang dan tersenyum dalam kebahagiaan.


-o0o-


"Gak kerasa ya, La, cerita kita udah sejauh ini," ucap Kana saat ia bersama sang istri tengah merebahkan tubuh di kasur dengan menatap langit-langit kamar.


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Dimulai dari Kana ; Kana Bintang Artana. Salah satu cowok idaman disekolah ini. Orangnya cakep, tinggi, putih, maco, pinter. Sayangnya tampilannya bad boy, dingin, flat kaya triplek—"


"Loh kok?" Kana melebarkan mata.


Kaila terkekeh. "Itu Elsa yang bilang. Dulu dia deskripsiin kamu di depan aku serinci itu." Kaila tertawa dan menggelengkan kepala.


Kana tersenyum. "Terus kamu inget, yang Bima bikinin kamu bekal, tapi masa kamu malah dikasihin ke aku?"


Kaila tampak mengingat moment itu. "Oh! Yang hukuman sembillan satu hari itu?"


Kana mengangguk. "Sembilan puluh satu hari yang gagal."


Kaila tertawa. "Abisnya, rese' banget. Nyuruh orang masak dah kaya pesen catering aja. Di tentuin segala."


Kana terkekeh. "Abisnya, siapa suruh lempat bola baseball sampai aku pingsan."


Kaila melebarkan mata. "Ih, iya ya! Dulu kamu pernah pingsan gara-gara aku lempar pakai bola baseball." Kaila tertawa. "Tapi aku gak sengaja, Na. Beneran. Aku waktu itu terlalu bersemangata aja, dan kebetulan kamu lewat, yaudah deh! Kena."


Kana tertawa dan menggelengkan kepala akan hal itu.


"Terus kamu inget gak, sih? Dulu waktu aku di culik sama Papanya Bima dan ditemuin sama Aji dan Bima di halte, terus mereka berdebat karena mau anterin aku, eh tiba-tiba kamu dateng dengan gaya pahlawan terus bawa aku pergi."


Kana tertawa. "Iya, aku inget. Itu salah satu moment terlucu sih."


Kaila melebarkan mata. "Lucu? Muka aku babak belur dihajar preman, kamu bilang lucu?" ucap Kaila tak habis pikir.


Kana tertawa dan menggelengkan kepala. "Bukan itu, sayang. Maksudnya moment yang Bima sama Aji rebutan kamu."


Kaila terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.


"Terus ada lagi moment yang bikin aku ngakak sampai sekarang."


"Apa?" ucap Kana.


"Aku bikin telor gulung asin."


Kana melebarkan mata. "Iya! Ih, sumpah ya, kesel banget aku waktu itu sama kamu."


Kaila tertawa.


"Ya abisnya, maruk banget kamu. Udah aku kasih bekel, malah mau ambil bekel aku."


Kana tertawa. "Tapi lucu juga ya, Na. Kalau di inget. Udah sepuluh tahun kita bareng, dan banyak banget momentum-momentum yang gak bisa dilupain."


Kaila mengangguk. Meraih tangan Kana dan menggenggamnya. "Karena kamu, aku mau bilang makasih banyak. Kamu udah bikin hidup aku lebih berwarna. Dari masa SMA aku, masa kuliah aku yang penuh dengan kepahitan, dan masa dimana aku menemukan kebahagiaan aku."


Kaila meletakkan tangan Kana pada pipinya. "Kamu kebahagiaan aku. Kamu yang udah mewarnai semua cerita dalam hidup aku. Kamu yang udah bikin hidup aku lebih berarti, dan kamu tokoh utama dalam cerita ini."


Kaila tersenyum. "Kana. Kana Bintang Artana. Lelaki dingin yang berhasil membuat Kaila jatuh cinta." Kaila tersenyum dan mengecup pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Kana tersenyum haru mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kaila, serta kecupan manis yang istrinya berikan.


"Nanti saat kita tua, perjalanan kita bisa menjadi cerita bagi anak anak kita."


Kaila mengangguk. "Semua perjalanan hidup kita telah terangkum dalam sebuah cerita."


"Cerita yang tidak akan aku lupakan seumur hidup aku," ucap Kana.


Kaila tersenyum. "Dan kita berdua adalah tokoh utama dalam cerita itu."


"Bersama Kaila, karena bahagia."


Kaila mengangguk. "Dan bersama Kana, Kaila amat bahagia."


"Terima kasih ya, La."


Kaila mengangguk dan memeluk suaminya.


"Mama! Papa! Ini Kala!"


"Mama! Papa! Ini Naka!"


Kaila tersenyum dan menoleh. Ia menetap suaminya dengan penuh cinta. "Naka dan Kala adalah bukti dari kisah cinta kita berdua."


Kana mengangguk dan mendekat pada kedua anaknya dan menggendongnya dengan hangat.


"Naka sama Kala mau main apa?" ucap Kana.


"Bola!" jawab Naka.


"Boneka!" jawab Kala.


Kana terkekeh. "Jadi mau main bola apa main boneka?"


"Bola!" jawab Naka.


"Boneka!" jawab Kala.


Kana terkekeh dan mencium kedua anaknya.


Tanpa sadar, Kaila sudah berada di belakang Kana. Ia memeluk suami dan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Kita main dua-duanya!" seru Kaila.


"Yeayyyyyy!"


...[END]...


...Terima kasih sudah membaca cerita ini....


...Mari kita bernostalgia tentang apa yang sudah terjadi dalam rangkuman kisah Kana (The Series)...


1. Moment dimana Kaila kepergok oleh Bima sedang mengamati Kana.


"Kapan ya gue bisa jadi Adinda?" ucap salah satu gadis yang tengah bersembunyi di balik pohon.


"Hayo!" teriak seorang laki-laki mengagetkannya.


Gadis di balik pohon itu terkejut dan menatapnya tajam.


"Lo suka sama Kana?"


Gadis itu diam dan berlari meninggalkan laki-laki di sebelahnya.


...\~\~\~...


2. Moment dimana untuk pertama kalinya Kana dan Kaila bertemu dan berbicara secara langsung setelah mereka tumbuh menjadi remaja.


"Tunggu!" ucap Kana membuat Kaila berhenti dan menoleh.


"Iya?" tanya Kaila dengan hati-hati, karena ia sadar bahwa Kana adalah cucu bosnya.


"Lo yang namanya Kaila?" tanya Kana.


Kaila mengangguk membenarkan.


Kana membulatkan bibirnya dan berjalan pergi.


Kaila menghela napas lega dan masuk ke dalam. Namun, saat ia sampai di pintu, ia berpapasan dengan gadis yang ia yakini bernama Adinda.


Adinda menatapnya dingin dan menaikkan sudut bibirnya. Ia sudah sangat yakin jika gadis di hadapannya inilah yang di puji-puji Raisa sejak tadi.


Melihat Adinda dan Kana berjalan pergi, Kaila pun bernapas lega. Melihat aura Kana dan Adinda, cukup membuatnya jantungnya berpacu lebih cepat.


...\~\~\~...


3. Moment dimana Kaila datang ke rumah Aji diacara ulang tahun dan semua orang mengira Kaila ada pacar Aji, hal itu yang membuat Kana sedikit cemburu.


"Eh, itu siapa?" ucap seseorang di sebelah Kana.


"Pacarnya Aji mungkin. Soalnya tadi siang gue liat dia satu motor sama Aji."


Kana mengerutkan dahinya. "Pacar Aji?" lirihnya.


Karena penasaran, ia pun mengikuti arah pandangan beberapa orang di sekelilingnya.


"Kaila?"


Kaila tersenyum membuat orang-orang yang tengah memandangnya terpana. Semua orang yang berada disini seolah terpaku dengan kecantikan yang ia miliki.


Bibir tipis, senyum manis, cukup membuat Kana ikut terpana.


Melihat Kana terpana dengan kecantikan seorang wanita adalah hal yang langka. Dan malam ini, semua orang dapat melihat bahwa Kana memang laki-laki yang sama pada umumnya, yang dapat terpana dengan kecantikan seorang wanita.


"Cantik 'kan?" bisik Raisa membuat Kana terlonjak kaget.


"Oma?! Bikin kaget Kana aja."


Raisa tertawa. "Itu yang namanya Kaila. Udah gak penasaran lagi 'kan?"


Kana melipat kedua lengan di depan dada. "Emang dari awal Kana gak penasaran."


"Masa?" Raisa menaikkan kedu alisnya.


"Ih, Oma!"


Raisa tertawa. Ia merangkul cucunya bak merangkul sahabatnya sendiri. "Kayanya dia cocok ya sama Aji?"


Kana menaikkan kedua alisnya. "Aji?"


Raisa mengangguk. "Iya, Aji. Tadi aja Oma nyuruh Kaila nemenin Aji bawa kue, supaya Aji bisa kenalan sama dia."


Kana membulatkan bibirnya. "Pantes aja orang-orang bilang dia pacar Aji."


Raisa tertawa dann meninggalkan cucunya tersebut.


"Jadi Oma mau nyomblangin Aji sama cewek itu?"


...\~\~\~...


4. Momen dimana Kana terlihat cemburu saat Kaila benar akan dijodohkan dengan Aji oleh Omanya.


"Oma kenapa sih pengen jodohin Kaila sama Aji?"


Raisa menyunggingkan senyum mendengar Kana menanyakan hal tersebut.


"Ih, Oma. Jawab."


Rahman menggelengkan kepala. "Kirain mah apa? Ternyata soal cewek. Yaudah, Opa mau berangkat kerja dulu," ucap Rahman pada istri dan cucunya.


Setelah Rahman pergi, Kana kembali bicara pada Raisa. "Ma, kenapa?"


Raisa hanya tersenyum dan duduk di kursi. "Memangnya kenapa kalau Oma jodohin Kaila sama Aji? Lagipula mereka sama-sama gak punya pacar 'kan?"


Kana berdecak dan duduk di hadapan Raisa. "Ya, iya sih memang mereka gak punya pacar. Tapi kenapa harus sama Aji?"


"Loh? Kamu cemburu?" tanya Raisa.


Kana menggeleng.


"Terus kenapa kamu kaya gak suka gitu?" tanya Raisa membuat Kana diam. Raisa tersenyum dan memandang wajah cucunya. "Oh, kamu suka ya sama Kaila?"


"Mas Kana suka sama Kaila?"


Kana melebarkan mata dan menoleh. Ia melihat Susi tengah tersenyum ke arahnya.


"Jadi Mas Kana suka sama Kaila?" tanyanya sekali lagi.


Kana bangkit dari duduknya dan berdiri. "Enggak! Kana gak suka sama cewek itu. Lagipula dia bukan tipe Kana,"


...-o0o-...


...Oke, gais. Begitulah cerita Kana dan Kaila. Mohon maaf jika selama ini ada kata kata yang kurang berkenan di hati kalian. Aku sebagai author cerita ini mau mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada kalian semua yang udah mau membaca cerita yang mungkin absurd ini....


...sampai bertemu di cerita yang lain, sampai jumpa!...

__ADS_1


...Btw, butuh extra part gak nih? Hehe...


__ADS_2