
Part 35
Senyum Kaila perlahan memudar saat menyaksikan Kana tengah berbaring di atas kasur dan Adinda yang tengah menyuapinya.
"Ini yang katanya gak mau makan?" lirih Kaila pelan membuat Dua orang yang berada di dalam menoleh ke arahnya.
"Kaila?" Kana menyunggingkan senyumnya saat melihat Kaila berada di ambang pintu.
Bima menggelengkan kepala. "Udah kepergok, gak tahu diri lagi," umpatnya.
Kaila tak bergeming. Melihat Adinda dan Kana begitu dekat, membuatnya cemburu.
Benar! Kaila tahu dan sadar jika Adinda adalah sahabat Kana. Jadi, tak ada alasan baginya untuk marah ataupun cemburu. Lagipula, tak ada status yang jelas antara dirinya dan Kana. Keduanya hanya dekat. Tak ada status spesial di dalamnya.
"Akhirnya lo kesini," ucap Kana.
Wajah Kana begitu sumringah melihat Kaila sudah berada di depan matanya.
Kaila tersenyum tipis dan mengangguk. Ia hendak berjalan masuk, namun tangannya di tahan oleh Bima.
"Lo udah bisa makan 'kan? Kalau gitu, Kaila mau pergi." Bima tersenyum pada Kana dan menarik Kaila untuk keluar dari rumah ini.
Kana melebarkan mata. Baru saja ia senang melihat gadis itu sudah berada di hadapannya.
"Bim—" Kaila mencoba melepas tangan Bima saat keduanya sampai di ruang tamu.
Bima menghela napas. "Kai, lo mau ngapain di dalem? Di dalem udah ada Adinda. Lo mau dengerin kalimat pedes dari Adinda yang cuma bikin lo sakit hati? Lihat, Kana udah baik-baik aja. Dia bisa makan tanpa ada lo disini."
Kaila menggeleng. "Tapi gue harus ke dalem, Bim. Gue gak enak kalau langsung pulang gini."
Bima menghela napas. "Gak enak sama siapa, Kai? Sama bokapnya? Anaknya aja gak tahu diri."
"Kaila."
Kaila dan Bima menoleh saat Kana memanggil.
Kana tersenyum tipis dan berjalan menghampiri Kaila. "Lo marah ya sama gue?"
Kaila menggeleng. "Enggak."
Kana mengangguk. "Sorry ya kalau kedatengan lo tadi di sambut dengan hal yang kurang ngenakin. Tapi lo tahu 'kan gue sama Adinda cuma sahabat?" Kana menaikkan kedua alisnya.
Bima menghela napas dan membuang tatapannya. "Mau sahabat atau bukan, kalau lo udah deket sama perempuan, lo harus jaga perasaannya. Cewek mana pun juga bakal cemburu saat cowok yang disuka deket sama cewek lain, meskipun cuma sahabat."
"Bim," lirih Kaila membuat Bima diam.
"Dia juga dateng kesini gak sendiri kok, Kai. Tadi dia sama Aji juga. Cuma Aji ada urusan bentar di luar," ucap Kana menjelaskan.
Kaila mengangguk mengerti.
"Lo gak marah 'kan sama gue?" Kana menatap mata indah Kaila. Memastikan jika gadis itu memang tak marah dengannya. "Kai?"
"Kaila ada urusan. Jadi harus pergi sekarang." Bima kembali meraih tangan Kaila dan mengajak gadis itu pergi.
Kaila tak menolak. Gadis itu mengkuti Bima yang mengajaknya untuk pergi dari rumah ini.
Kana mengacak rambutnya frustasi seraya memandang gadis yang kini tengah berjalan jauh meninggalkannya. "Kenapa serumit ini sih?"
-o0o-
"Lo gak papa 'kan gue ajak pergi dari rumah ini?" tanya Kana saat keduanya berada di samping motor.
Kaila mengangguk.
Bima menghela napas. Melihat jawaban Kaila, sepertinya gadis itu tidak rela dengan pilihannya yang meninggalkan Kana begitu saja.
"Kai."
Kaila menaikkan kedua alisnya dan memandang Bima.
"Jangan sedih dong!"
__ADS_1
Kaila tersenyum. "Gue gak sedih."
"Memang gitu Kai resiko deket sama cowok yang punya sahabat cewek. Pasti ada aja yang bikin cemburu."
Kaila mengangguk. Ucapan Bima memang benar.
"Nah, makanya itu. Mending lo deket sama gue aja. Sahabat cowok aja gak punya, apalagi sahabat cewek."
Kaila tersenyum tipis mendengar ucapan Bima tersebut.
"Senyumnya yang lebar dong! Jangan di tekuk gitu. Gue jadi ikut sedih nih." Bima ikut menekuk wajahnya membuat Kaila terkekeh.
Bima tersenyum saat tawa gadis itu kembali. "Gini 'kan enak. Gak keliatan kaya cewek galau."
"Gue bukan cewek galauan, ya!"
"Iya, Zeline." Bima tertawa seraya mengacak lembut pucuk kepala gadis itu.
"Bima! Resek!"
Bima terkekeh. "Akhirnya macan betina gue kembali."
Kaila melipat kedua lengan seraya mengerucutkan bibirnya, membuat Bima semakin gemas pada gadis itu.
"Gak sabar nunggu hari kelulusan," ucap Bima membuat Kaila diam.
Seperti ada sesuatu yang dipikirkan oleh Kaila.
Bima tertawa. "Udah, udah, gak usah dipikirin. Gue yakin lo pasti nerima gue jadi pacar lo!"
Kaila berdecak. "Kepedean!" pekiknya seraya memukul lengan Bima membuat laki-laki itu tertawa.
"Ikut gue aja yuk?"
Kaila menaikkan kedua alisnya. "Kemana?"
"Ke rumah."
Bima mengangguk. "Lo belum pernah ke rumah gue 'kan?"
Kaila menggeleng.
"Nah, sekalian lo kenalan sama nyokap gue," ucap Bima.
Kaila menaikkan kedua alisnya.
Bima tersenyum. "Mama Bila, dia Mama tiri gue. Lo belum pernah ketemu sama dia 'kan?"
"Belum pernah."
Bima tertawa kecil. "Jadi, Mama Bila itu yang pernah masakin makanan buat lo. Yang waktu itu bekalnya mau lo kasihin ke Kana. Inget 'kan?"
Kaila mengangguk. "Iya, iya gue inget."
"Nah, ya iya itu. Mama Bila itu baik banget, Kai. Meskipun dia bukan nyokap kandung gue, tapi gue bener-bener nyaman sama dia. Dia bener-bener berasa seperti nyokap kandung sendiri. Dia bahkan gak pernah beda-bedain gue sama Kiara."
Kaila tersenyum. "Pasti lo bahagia banget ya Bim, punya keluarga yang harmonis."
Bima tertawa dan tersenyum miring. "Itu hanya tampak depannya aja, Kai."
"Maksudnya?" tanya Kaila tak mengerti.
Bima menggeleng. "Gak papa, nanti lo juga tahu sendiri gimana gak akurnya gue sama bokap."
"Karena perlakuan bokap lo dulu?"
Bima mengangguk dan tersenyum. "Memang hanya lo Kai yang ngerti gue."
Kaila menyunggingkan senyumnya. "Gue ngerti karena gue tahu tentang lo."
"Bener. Lo ngerti karena lo tahu tentang gue." Bima tersenyum. "Mungkin asik kali ya kalau gue punya sahabat. Dia bakal tahu tentang gue, dan pastinya bakal ngerti gue."
__ADS_1
"Kalau lo mau, gue bakal jadi sahabat lo kok Bim."
Bima menggeleng. "Gue gak mau."
"Kenapa?"
"Karena nama lo udah tercatat di hati gue sebagai calon pacar, bukan calon sahabat."
Kaila tersenyum tipis dan memandang laki-laki di hadapannya. "Kenapa sih Bim, semakin kesini lo bikin gue jadi dilema?" ujar Kaila dalam hati.
Bima terkekeh memandang wajah Kaila. Ia pun meraih helm dan mengenakannya pada kepala gadis itu.
"Gue bisa sendiri, Bim."
Bima menggeleng. "Udah, diem. Gue akan pastiin lo aman sama gue."
Kaila mengangguk dan menyunggingkan senyumnya.
Melihat Kaila tersenyum, hati Bima semakin berbunga-bunga.
"Perlahan namun pasti, lo bakal jadi milik gue Kai," lirih Bima dan naik ke atas motornya.
"Ayo, naik."
Kaila mengangguk dan naik ke atas motor Bima.
"Siap?"
"Siap!" seru Kaila membuat Bima terkekeh dan mulai melajukan motornya.
"PAK SATPAM, KITA PAMIT!" teriak Bima pada satpam keluarga Arkana.
"HATI-HATI MBAK, MAS!" jawab Satpam tersebut membuat Bima dan Kaila tertawa.
"KITA NGEBUT YA?" ujar Bima.
"IYA!"
"SIAP, KAILA?"
"SIAP, BIMA!"
"NGENGGGGGGGGG!" teriak Bima seraya menaikkan gas motornya.
Kaila tertawa. Ia benar-benar senang kali ini. Meskipun hatinya tadi sedikit terluka, Bima dengan hebatnya menyembuhkan luka itu. Bahkan tak menyisahkan sedikit pun luka di hati Kaila.
"BIMA!" teriak Kaila seraya memandang langit siang yang mulai mendung.
"KENAPA, KAILA?" tanya Bima tak kalah kuat.
"MAKASIH BANYAK, BIMA!"
"SAMA-SAMA, KAILA!"
Tak lama, hujan pun mulai turun.
"BIM, UJAN!" teriak Kaila.
"KALAU HUJAN MEMANG KENAPA?"
"LO GAK MAU NEDUH?"
Bima menggeleng. "LO HARUS NYOBAIN SENSASI AIR HUJAN, KAI! LO JUGA HARUS PERCAYA, AIR HUJAN GAK SEJAHAT YANG ORANG-ORANG PIKIR."
"KENAPA GITU?" tanya Kaila tak mengerti.
"KARENA AIR HUJAN MAMPU NGELEPAS SEMUA BEBAN YANG ADA DI PIKIRAN KITA, KAI! SAAT AIR ITU MENGALIR, BEBAN LO JUGA PERLAHAN AKAN MENGALIR JAUH. DAN LO, GAK AKAN NGERASAIN PEDIHNYA LAGI!"
Kaila tersenyum. "Gue gak tahu siapa yang akan gue pilih nanti. Tetapi yang jelas, gue pasti bahagia memiliki Satu di antara kalian."
Kaila memejamkan mata dan menegakkan kepalanya ke atas, membiarkan air hujan turun membasahi wajahnya.
__ADS_1
-o0o-