KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 34


__ADS_3

Part 34


Setelah menyelesaikan ujian hari ini, Kaila dan teman sekelas lainnya pun keluar dari ruangan tersebut.


Senyum puas terpampang nyata setelah mereka berhasil berperang dengan matematika yang selama ini menjadi momok.


Meskipun mereka tak tahu berapa banyak jawaban yang benar maupun salah, yang jelas rasa lega dan puas sudah dapat mereka rasakan. Setelah ini, tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membolos di mata pelajaran tersebut. Karena setelah ini, mereka akan merasakan moment dimana mereka harus memilih untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.


"Lega banget gue bisa nyelesain ujian Matematika," ucap Ajeng pada pada Kaila dan Elsa.


Kaila tertawa. "Tingal berperang melawan biologi."


Ajeng mengangguk. "Tapi gue gak sabar sih buat ujian biologi."


"Halah sok gak sabar. Kaya bisa ngerjain aja lo," ucap Elsa menggoda.


Ajeng tertawa kecil. "Jadi ceritanya lo ngeremehin gitu? Oke, kita lihat, siapa yang nilai ujian biologinya paling gede. Gue atau lo."


"Oke, siapa takut!" seru Elsa membuat beberapa teman yang lain tertawa.


"Yaudah, kita tunggu ya."


"Siap, Ajeng!"


"Oke deh, kalau gitu gue balik duluan. Gue mau belajar supaya bisa ngalahin nilai biologinya Elsa. Bye!" seru Ajeng dan berlalu pergi.


Kaila tertawa. "Gak tugas, gak ujian, taruhan terus!" ucap Kaila membuat Elsa tertawa.


"Biar semangat, Kai. Hehe."


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Oh ya Kai, jadi ke tempat Kana?" tanya Elsa yang berjalan mengimbangi langkah Kaila.


Kaila mengedikkan bahu. "Gue pengen ke sana sih. Cuma gue takut mau sendiri ke sana."


Elsa tertawa. "Takut di usir? Memang lo salah apa?"


Kaila tersenyum tipis. Entahlah, Kaila sendiri antara takut dan malu untuk menjenguk Kana. Sebenarnya ia sangat khawatir akan keadaan Kana. Tapi—


Kaila menghela napas dan meraih ponselnya dari dalam tas.


Di saat yang bersamaan, ponselnya berbunyi. Kaila segera menggeser tombol hijau pada layarnya dan menempelkan ponsel di telinga.


"Siapa?" tanya Elsa penasaran.


Kaila menggeleng tak tahu.


"Halo," ucap suara di seberang sana.


Kaila mengerutkan dahinya. "Halo, siapa ya?" tanya Kaila penasaran.


"Ini Kaila 'kan?"


Kaila diam beberapa saat. "I—iya. Ini Kaila. Ini siapa?"


"Ini Om Kavin, Kai. Papanya Kana."


Kaila melebarkan mata dan menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Siapa?" bisik Elsa lagi.


"Papanya Kavin," jawab Kaila seraya menjauhkan ponselnya.


Elsa melebarkan mata dan tersenyum lebar.


"I—iya, ada apa ya Om nelpon Kaila?" tanya Kaila kembali dengan hati-hati.


"Kamu bisa ke sini gak? Kana nyariin kamu. Dia gak mau makan kalau kamu gak kesini."


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Astaga Kana, ada-ada sih lo," ucap Kaila dalam hati.


"Gimana Kaila?"


Kaila mengangguk. "Iya, Om. Kaila bakal ke sana sekarang."


"Alhamdulillah. Tapi kamu udah selesai 'kan ujiannya?"


"Udah kok, Om. Kalau gitu Kaila kesana sekarang, Om."

__ADS_1


"Oke, Kaila. Makasih banyak ya?" ucap Kavin lalu mematikan sambungannya.


Kaila tersenyum dan menoleh pada sahabatnya.


"Di suruh kesana?" tanya Elsa.


Kaila mengangguk. "Kana gak mau makan kalau gak ada gue."


Elsa tertawa. "Bucin amat tuh anak," ucap Elsa dengan gelak tawa.


Kaila tersenyum malu. "Duh, gue deg-degan."


"Lo berani gak kesana sendiri?"


Kaila menggeleng. "Gak tahu. Gue deg-degan banget. Gimana ya?" Kaila menghela napas menutupi rasa gugubnya.


"Eh—em!"


Keduanya menoleh saat melihat Bima sudah berada di samping keduanya.


"Ayo, Kaila!" seru Bima.


Kaila mengerutkan dahinya dan menatap Bima bingung. "Bim, lo?"


Bima mengangguk. "Gue bakal temenin lo ke rumah Kana."


"Ta— tapi Bim."


Bima tersenyum dan mengenakan helm pada kepala Kaila. "Nah, ayo!" ucapnya dan kembali tersenyum.


Elsa menepukkan kepalanya. "Parkiran masih jauh, astaga! Ini baru di depan kelas," umpat Elsa yang tak habis pikir melihat Bima mengenakan helm pada Kaila.


"Ayo!" ucap Bima kembali dan menarik tangan Kaila membuat gadis itu tak mampu menolak.


"Bim."


Bima tak merespon. Kini keduanya sudah berada di parkiran dan berada tepat di samping motor Bima. "Gue tahu lo mau ke rumah Kana. Makanya gue aja yang anter lo."


"Ta—tapi Bim."


Bima menggeleng. "Gak ada tapi-tapian. Gue gak mau biarin lo ke sana sendiri. Kalau terjadi apa-apa di jalan gimana? Terus kalau lo di culik lagi kaya waktu itu gimana?"


Kaila berdecak. Entahlah. Ia sendiri tak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Bima. Ia tak mungkin mengatakan jika Ayah Kana sendiri yang menyuruhnya datang kesana. Jelas itu akan menyakiti perasaan Bima secara langsung.


Kaila menunduk sebentar dan akhirnya naik ke atas motor Bima. Ia tak tahu apa respon Ayah Kana nanti jika tahu ia kesana bersama-sama laki-laki.


"Memang Kana sakit apa sih? Lebay bener anak itu," ucap Bima di sela-sela perjalanannya.


"Dia abis kehujanan kemarin."


Bima membulatkan bibirnya. Lalu menatap Kaila dari balik spion. "Pegangan ya?"


Kaila mengangguk dan mengeratkan pegangannya pada tas Bima.


Bima melaju begitu kencang membuat Kaila refleks memejamkan matanya. Laki-laki itu benar-benar seperti pembalab.


Dan benar, tanpa membutuhkan waktu lama, kini keduanya sudah berada di depan sebuah rumah megah yang menjadi kediaman Kana dan kedua orangtuanya.


"Jadi ini rumahnya?" tanya Bima.


Kaila mengangguk, lalu turun dari motor Bima.


"Lo udah sering kesini?"


"Dulu tapi, waktu gue masih kerja part time di ruko Omanya," jawab Kaila dengan senyuman.


Bima menatap wajah Kaila. "Lo kayanya seneng banget bisa kesini? Kenapa? Karena Kana?"


Kaila menggeleng pelan. "Bukan itu. Gue seneng bisa kesini karena akhirnya gue bisa ketemu nyokapnya. Entah kenapa, gue nyaman banget sama nyokapnya. Selain ramah, Tante Alina juga baik banget sama gue."


Bima tersenyum tipis. "Sayang banget ya lo belum pernah ketemu nyokap gue. Apa mungkin lo bakal bilang hal yang sama kalau lo udah ketemu nyokap gue?"


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Nyokap lo pasti gak kalah baik."


Bima menyunggingkan senyumnya. Mendengar Kaila mengatakan hal tersebut, membuat hatinya jantungnya semakin berdebar.


Tak lama, seorang satpam membukakan gerbang untuk keduanya.


"Temennya Mas Kana ya?" tanya satpam tersebut.

__ADS_1


"Bukan," jawab Bima membuat satpam itu mengerutkan dahinya.


Kaila tersenyum. "Iya, Pak. Kami temennya Kana."


Satpam itu menoleh pada Kaila. "Ah, iya. Ini Mbak Kaila 'kan? Yang waktu itu sering kesini?"


Kaila tersenyum. "Iya, Pak."


"Mari Mbak, masuk Mbak." Satpam itu mempersilahkan Kaila untuk masuk. Sedangkan Bima, laki-laki itu tampak menghela napas kesal karena satpam tersebut tak menoleh ke arahnya sedikit pun.


"Oh ya Pak, Mamanya Kana ada di dalam 'kan?" tanya Kaila penasaran. Sudah lama sekali ia tidak bertemu wanita itu. Sepertinya, Kaila sangat rindu.


"Ada, Mbak. Langsung ke dalam aja. Mbak Kaila udah di tunggu sama Mas Kana," ucap satpam tersebut dan kembali ke posnya.


Kaila tersenyum. Rupanya Kana sudah menunggunya. "Ah, senang sekali!" ucap Kaila seraya memegang kedua pipinya.


"Kai!" seru Bima membuat Kaila menghentikan langkahnya dan menunggu laki-laki itu.


"Tungguin," ucap Bima seraya mengimbangi langkah Kaila.


"Bima, Bima, lo juga ngapain jawab bukan temen Kana."


"'Kan gue memang bukan temennya. Meskipun kita sama dia sering bareng-bareng, gue gak pernah tuh nganggep dia temen gue."


Kaila tertawa kecil dan melanjutkan langkahnya.


Saat sampai di depan pintu, keduanya sudah di sambut hangat dengan Kavin.


"Kaila apa kabar?" ucap Kavin dengan senyuman.


Kaila tersenyum dan bersalaman dengan Kavin. "Kaila baik, Om. Om sendiri apa kabar?"


"Alhamdulillah. Om juga baik. Ini siapa?" tanya Kavin seraya menoleh pada Bima.


Bima tersenyum. "Temennya Kaila, Om."


Kavin membulatkan bibirnya dan tersenyum. "Temen Kana juga?"


Bima menyengir kuda. "Alhamdulillah bukan, Om."


Kavin tertawa mendengar ucapan Bima. Laki-laki bahkan tak menganggap serius ucapan Bima. Melihat tampang Bima saja, Kavin sudah menebak anak itu begitu receh.


"Yaudah ayo masuk ke dalam. Kana udah nungguin tuh."


Kaila tersenyum. "Iya, Om. Oh ya Om, ngomong-ngomong Tante Alina dimana?" tanya Kaila seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan wanita itu.


Kavin tersenyum dan menunjuk wanita yang baru saja keluar dari kamar Kana.


Kaila mengikuti pandangan Kavin. Gadis itu tersenyum dan menghampiri Alina. "Tante, apa kabar?"


Alina tesenyum tipis. "Baik," jawabnya lalu menoleh pada laki-laki di samping Kaila. "Ini pacar kamu?" tanyanya.


"Bu—bukan, Tante." Kaila menggeleng serius.


Alina mengangguk dengan senyuman tipis dan berlalu pergi.


Melihat Alina yang sudah melangkah pergi, Bima menatap punggung wanita itu. Entah mengapa, ia merasa wanita itu seperti tidak suka dengan Kaila. Lalu, bagaimana bisa Kaila mengatakan jika wanita itu sangat baik dan ramah padanya?


"Ramah darimananya?" umpat Bima dalam hati.


"Ayo," lirih Kaila.


Bima mengangguk dan mengikuti langkah Kaila menuju kamar yang berada di ujung.


"Buka gak?" tanya Kaila lirih seraya memegang knop pintu di hadapannya.


Bima belum menjawab. Laki-laki menempelkan telinganya terlebih dahulu pada balik pintu.


Karena penasaran, Kaila pun mengikuti pergerakan Bima. Kini keduanya mendengar suara gelakan tawa dari dalam ruangan tersebut.


"Gue kaya kenal suara ini," lirih Bima.


Kaila mengerutkan dahinya tak mengerti. Karena penasaran, Kaila mengetuk pintu itu beberapa kali dan memutar knop pintu itu.


"Jangan!" ucap Bima.


Namun sayang, pintu itu telah terbuka lebar.


Senyum Kaila perlahan memudar saat menyaksikan Kana tengah berbaring di atas kasur dan Adinda yang tengah menyuapinya.

__ADS_1


"Ini yang katanya gak mau makan?" lirih Kaila pelan membuat Dua orang yang berada di dalam menoleh ke arahnya.


-o0o-


__ADS_2