KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 44


__ADS_3

Part 44


"Ayo bu, dorong sedikit lagi. Ya, terus bu. Ayo, dorong. Ambil napas perlahan, lalu buang."


Kaila mengangguk dan mengikuti arahan.


"Ya, lagi bu tarik napas, lalu buang, terus dorong lagi, bu."


"Ahhh!" Kaila menghela napas panjang. "Gak kuat," ucapnya dengan lemah.


"Ayo bu, dikit lagi, Bu."


Kana mengecup dahi istrinya. "Ayo sayang, kamu bisa. Ayo."


Jemari Kana mengeratkannya pada jemari Kaila. Laki-laki itu mencoba memberi kekuatan pada istrinya.


"Kamu pasti bisa," lirihnya.


Kaila mengangguk.


"Ayo Bu, lagi. Tarik napas, buang, dorong, Bu."


Kaila mengangguk dan kembali mengikuti arahan.


"Aaaaaaaa!" Wanita itu berteriak sekuat-kuatnya.


"Oek! Oek!"


Dokter itu bernapas lega. "Bayinya laki-laki, Bu."


Kana dan Kaila tersenyum lebar. Lebih lagi Kana, laki-laki itu sangat senang bisa mendapatkan bayi laki-laki.


"Oek! Oek!"


Setelah bayi mereka di bawa oleh perawat untuk dibersihkan, tiba-tiba—


"Masih ada lagi," ucap Dokter itu.


"Ma—maksudnya kembar?" ucap Kana.


Dokter itu mengangguk.


Kaila menatap Kana.


Kana mengangguk berusaha memberi kekuatan jika Kaila bisa.


"Kamu pasti bisa."


Kaila mengangguk dan mengeratkan pegangannya pada Kana.


"Ayo bu, lagi, seperti tadi. Tari napas, buang, dorong. Ya?" ucap Dokter itu.


Kaila mengangguk dan mengikuti arahannya.


Kaila menghela napas panjang. Membuangnya dan—


"Oek! Oek!"


Kana dan Kaila bernapas lega.


Kana begitu senang. Laki-laki itu langsung mencium kedua pipi istrinya.


"Sebentar ya Bu, biar bayinya di bersihkan dulu."


Kaila mengangguk.


Kana begitu senang. Ia terus saja mengusap pipi Kaila dan menatapnya dengan bangga.


"Kamu hebat! Kamu ibu yang hebat!"


Kaila tersenyum dan memeluk suaminya.


-o0o-


"Gimana? Anaknya udah lahir?" ucap Alina yang baru saja datang.


Disana ada Kiara, Keiza, Aji, dan juga Raisa.


"Kayanya udah, Tan. Soalnya udah ada suara bayi," ucap Aji.


"Tapi kok aku dengernya bayinya kaya rame ya? Maksudnya, kalau satu gak seramai itu," ujar Keiza.


Kiara mengangguk. "Bener, Kiara juga dengernya kaya ada dua bayi."


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan Kana disana. Kana tersebut pada semuanya.


"Udah pada disini?" ucap Kana.


Semua mengangguk.


"Gimana sayang, anak kamu udah lahir?"


Kana mengangguk. "Udah, Ma. Lagi dimandiin sekarang mereka."


"Mereka? Maksudnya Kaila juga? Atau gimana? Kok bingung ya," ucap Kavin yang baru sampai karena lama memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Kana terkekeh. "Anak Kana kembar."


"Kembar?" ucap mereka terkejut.


Kana mengangguk. "Cowok sama cewek. Jaraknya lima menit."


"Jadi adil ya? 'Kan Kak Kana pengen anak cowok, terus kak Kaila pengen anak cewek," ucap Kiara membuat mereka semua tertawa.


"Pak Kana!" teriak perawat yang berada di ruangan.


Kana mengangguk dan menoleh pada keluarganya. "Aku mau adzan-in anak-anakku dulu ya," ucap Kana dengan senyuman dan masuk ke dalam.


Mereka semua ikut bahagia.


"Asik, Kiara punya keponakan langsung dua," ucap Kiara senang.


Alina terkekeh. "Tante juga punya cucu langsung dua," ucap Alina tak mau kalah membuat mereka tertawa.


-o0o-


Siska menghentikan taksi untuk pulang.


Gadis itu akan langsung pulang ke rumah sekarang.


Suasana hatinya sedang tidak baik. Ia harus segera sampai rumah dan tidur.


"Sepi banget gak ada Bima. Padahal baru sebentar aku ditinggal dia." Siska berdecak. "Cepet sampai Jerman sih, Bim. Biar aku bisa cepet telpon kamu."


Sebuah taksi berhenti.


Gadis itu langsung naik ke dalamnya dan memberitahukan alamat tujuan.


-o0o-


"Ih, lucu banget!" seru Kiara yang menyentuh pipi keponakannya.


Kana terkekeh lalu mendekat pada istrinya.


Saat ini Kaila sudah di pindahkan ke ruang perawatan, juga beserta bayinya.


Setelah bayinya berada di ruangan bayi, kini bayi itu di bawa ke ruangan yang sama dengan Kaila atas permintaan Kana.


"Sayang," lirih Kana yang menghampiri istrinya.


"Iya?" Kaila menaikkan alisnya dan tersenyum.


"Anak 'kan dua. Cowok cewek tuh. Nah, soal nama, gimana?"


Kaila membulatkan bibirnya. "Oh iya, iya. Waktu itu 'kan kita gak tahu kalau anak kita bakal kembar. Kita Cuma nyiapin satu nama. Kala."


Alina mendekat. "Gimana sayang? Siapa namanya?"


Alina tersenyum. "Bagus! Mama setuju. Itu buat yang cewek aja. Kasih nama Kala."


Kana dan Kaila mengangguk setuju. "Iya, Ma. Bener."


"Terus yang cowok, kasih nama apa ya, Ma?" Kaila tampak berpikir.


Alina tersenyum dan mendekatkan wajahnya. "Mama boleh usul gak?"


Kaila mengangguk. "Boleh, Ma."


"Iya, Ma," ucap Kana.


Alina tersenyum dan menoleh pada bayi laki-laki itu. "Naka."


"Naka?" ucap Kaila dan Kana.


Alina mengangguk. "Naka. Kana Kaila. Sama-sama singkatan nama kalian berdua juga 'kan?" ucap Kaila dengan senyuman.


"Iya, Ma." Kaila menoleh pada Kana. "Gimana sayang? Bagus kok nama Naka. Jadi anak kita Naka dan Kala. Bagus banget."


Kiara mengangguk. "Iya, bagus kak! Naka dan Kala. Jadi janganlah nakal kalian!" ucap Kiara seolah membaca mantar sembari menatap dua bayi mungil di depannya.


Kavin tertawa. "Jago ngelawak juga kamu ini."


Kiara terkekeh malu. "Dikit, Om."


"Di ajarin siapa?" ucap Kavin.


"Limbad, Om," ucap Kiara membuat semua tertawa.


"Ngadi-ngadi nih bocah," ucap Aji dengan gelak tawa.


"Jadi gimana? Gimana? Suka gak kalian berdua nama Naka dan Kala?" ucap Alina pada Kaila dan Kana.


Kaila mengangguk. "Suka, Ma." Kaila menoleh pada suaminya. "Jadi nama panjangnya gimana sayang?"


Kana tampak berpikir. Namun, laki-laki itu sudah menyiapkan nama panjang untuk kedua anaknya.


"Jadi untuk anak-anak kita. Aku pengen, nama tengah mereka di ambil dari nama tengah kita berdua sayang. Terus nama akhirnya mereka, pakai nama Artana. Untuk Naka, nama tengahnya nama tengahku. Jadi Naka Bintang Artana. Terus untuk Kala, Kala Zeline Artana."


Semua tersenyum begitu pun Kaila.


"Ide bagus!" ucap Kaila.


Kana mengangguk. "Jadi suka 'kan?"

__ADS_1


"Suka banget!"


Kana tersenyum lebar dan menatap kedua anaknya, Naka dan Kala.


"Semoga Naka dan Kala jadi anak yang Sholeh dan Sholeha ya?" ucap Kavin.


"Aamiin."


-o0o-


Keiza keluar dari ruangan itu.


Ia bukannya tak senang keponakannya telah lahir, namun kepala Keiza terasa pusing.


Ia ingin pulang sekarang juga.


"Mungkin karena tadi kamu mikirin omongan dokter nyinyir itu, sayang."


Keiza mengangguk. "Kayanya, yang."


"Yaudah yuk, kita pulang," ucap Aji mengajak Kana untuk keluar dari rumah sakit itu dan berjalan menuju parkiran.


Untunglah, ini bukan rumah sakit mereka bekerja.


"Kita dicariin gak ya dirumah sakit?" ucap Keiza menyebut rekan-rekan kerja mereka.


Aji tersenyum dan menggeleng. "Biarinlah. Sekali-kali kita bolos."


Keiza tersenyum dan mengangguk.


"Sayang," lirih Aji membuat Keiza menoleh. "Kamu gak sedih 'kan lihat anak Kaila dan Kana lahir?"


Keiza tertawa. "Ya enggaklah, sayang. Tante macam apa kalau aku sedih lihat keponakannya lahir."


Aji terkekeh dan merangkul istrinya. "Yaudah, kita pulang, istirahat, terus buat baby yuk? Siapa tahu yang ini beruntung? Gimana?"


Keiza terkekeh dan— "Boleh dicoba bosque," ucapnya membuat Aji tertawa.


-o0o-


Sudah hampir tiga jam Alina dan Kavin berada dirumah sakit. Dan sekarang, waktunya mereka untuk pulang.


"Mama sama Papa gak papa 'kan pulang dulu?" ucap Alina pada menantunya.


"Iya, Ma. Gak papa kok," ucap Kaila dengan senyuman.


Alina mengangguk. "Mama pulang dulu ya? Kamu jaga kesehatan. Makan makanan yang sehat ya? Sayur-sayuran, gitu."


Kaila mengangguk. "Siap, Ma."


"Mama tenang aja, nanti Kana yang bakal masakin Kaila."


"Loh, memangnya kamu bisa?" ucap Alina meragukan putranya.


Kana tertawa. "Yah, seorang Kana diraguin, guys," ucap Kana membuat mereka tertawa. "Nih, ya Ma. Gini-gini, dulu 'kan Kana pernah tinggal sendiri di Jogja. Tentu Kana bisa dong masak."


"Kok mama gak pernah lihat kamu masak di rumah?" ucap Alina.


"Ya 'kan udah ada bibi, mama."


Alina tertawa dan menggelengkan kepala. "Yaudah, kami pulang dulu ya? Assalamualaikum?"


-o0o-


"Waalaikumsalam. Baru pulang, sayang?" ucap Ibunda Siska yang melihat putrinya pulang dari Bandara.


Siska mengangguk dan langsung memeluk ibunya.


Ibunya terlihat bingung. "Loh, kamu kenapa? Abis anter Bima kok jadi sedih gini?"


Ibunya melepaskan pelukan itu dan menatap putrinya. "Loh, kamu kok nangis?"


Siska menggeleng. "Siska gak tahu, Ma. Tapi Siska berat banget mau ngelepasin Bima ke Jerman doang."


Ibunya tertawa. "Astaga, Siska. Kirain ada apa. Kamu ini, bikin Mama panik aja, ah."


"Siska kenapa?" ucap Ayahnya yang baru saja keluar dari kamar ikutan panik.


Lelaki itu menghampiri putrinya dan menatap wajahnya. "Siapa yang bikin kamu nangis? Kamu dibikin nangis sama Bima? Bima kurang ajar sama kamu?" ucap Eric dengan tatapan tajam.


Siska menggeleng. "Enggak. Bima gak ngapa-ngapa."


"Terus kamu kenapa nangis gini?" ucap Eric bingung.


Siska menunduk. "Siska sedih ditinggal Bima."


Eric melebarkan mata mendengar hal tersebut. Lelaki itu memutar bola matanya dan terduduk di sofa. "Kirain disakitin."


Siska tertawa refleks. Namun kembali menangis. "Siska mau masuk ke kamar aja."


Setelah putrinya masuk ke kamar, ayah dan ibunya hanya menggelengkan kepala.


"Bucin banget dia sama Bima," ucap Eric menggelengkan kepala. "Eh, Ma. Bucin 'kan ya namanya kalau dah cinta banget sampai lebay gitu?"


Istrinya mengangguk. "Iya, Papa."


Eric tertawa dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2