
Part 12
Terkadang, menyukai tak selalu harus di perlihatkan. Benar— itu memang benar! Namun sampai kapan semua itu harus di sembunyikan? Sampai orang yang kita sukai pergi dan meninggalkan luka yang menyakitkan?
"Uhuk!"
Kana terbatuk dalam lamunannya. Lagi-lagi pria itu memikirkan pengakuannya tadi.
"Kira-kira dia denger gak ya?" Kana menggigit bibir dan mengacak rambutnya frustasi. "Seharusnya lo gak boleh kelepasan kaya tadi, Kana. Kalau dia sampai denger dan tahu, gimana?"
Kana berdecak dan menyenderkan kepalanya di atas meja.
Kedua sahabatnya masih diluar. Sepertinya mereka pergi ke kantin.
Saat ini perasaan Kana begitu tak tenang. Ia sendiri bahkan tak tahu apa yang harus di lakukan.
"Kenapa gue malah uring-uringan kaya gini sih?" Kana berdecak lalu menoleh pada tas yang tergeletak di samping bangkunya.
Tas itu adalah milik Aji.
Ya, keduanya memang duduk bersama. Bahkan saat keduanya pertama kali menginjakkan kaki di bangku sekolah.
"Kenapa harus lo sih, Ji? Kenapa harus lo yang di jodoh-jodohin sama Oma?"
Kana menghela napas dan menoleh ke arah pintu.
Matanya melebar saat melihat Aji masuk ke kelas di ikuti oleh Adinda di belakangnya.
"Ngapain lo ngeliatin tas gue segitunya?" tanya Aji tertawa.
Kana tersenyum dan menghela napas lega. Untung saja Aji tak mendengarkan apa yang ia ucapkan.
"Kana, kok tadi lo langsung pergi aja sih? Lo tadi kemana? Terus lo udah makan?" tanya Adinda yang begitu khawatir dengan Kana.
Kana tersenyum. "Gue udah makan kok."
"Jelaslah Kana udah makan, 'kan dia dapet makanan dari Kaila," ucap Aji membuat Adinda menoleh dan melebarkan mata.
"Jadi itu hukuman yang lo maksud?" tanya Adinda yang langsung mendapat anggukan dari Kana.
Adinda mendengus kesal. Lagi-lagi Kaila. Ia yakin, hukuman ini malah akan membuat Kana dan Kaila semakin dekat. Dan hal itu juga membuatnya susah untuk mengambil hati Kana.
"Jadi besok dia buat makanan lagi buat lo?" tanya Aji.
Kana mengangguk dan tersenyum miring. "Gue bakal kasih pelajaran yang setimpal sama apa yang udah dia buat ke gue."
Aji menggelengkan kepala dan duduk di kursinya. "Kana, Kana, padahal dia cuma buat lo pingsan loh. Sampai segitunya lo hukum dia."
Kana menoleh dan menatap sahabatnya. "Pingsan itu bukan hal yang biasa, Ji. Coba gue tanya, apa lo pernah pingsan?"
__ADS_1
Aji menggeleng.
"Tuh 'kan! Karena itu dong dia harus masakin gue terus menerus."
"Lo nyuruh dia masakin lo, ngomong-ngomong lo beliin dia bahan makanannya gak?" tanya Aji.
Kana melebarkan mata. "Oh iya! Astaga gue hampir aja lupa." Kana berdecak. "Males banget gue nemuin dia."
"Yaudah, kalau gitu gue aja yang ngasih ke dia," ucap Adinda.
Kana menoleh. "Gak! Gak! Biar gue aja. Gue juga mau marahin dia kenapa dia bikinin gue makanan yang asin banget," ucap Kana. Dalam hati ia berkata, "'Kan dengan itu ada alasan buat gue ketemu Kaila," ucapnya dalam hati dan tersenyum.
Adinda menghembuskan napas malas dan duduk di bangkunya. Tiba-tiba senyumnya tercipta. "Oh ya, Kan!" panggilnya membuat Kana menoleh. "Siang nanti lo mau nemenin gue gak?"
Kana menggeleng. "Gue ada urusan."
Adinda berdecak mendengar jawaban Kana.
"Lo mau kemana memang, Din? Gue aja yang temenin," ucap Aji pada Adinda.
Adinda tersenyum ragu. "Iya, lihat nanti ya."
Aji mengangguk dengan senyuman.
"Selamat siang!" ucap guru Biologi mereka membuat semua murid kembali pada mejanya masing-masing.
-o0o-
Setelah menghabiskan hampir setengah hari di sekolah, sekarang adalah waktu bagi Kaila kembali menjalankan kesibukan lainnya— yaitu kerja part time di ruko nenek Kana.
"Halo, Zeline!" ucap seseorang membuat Kaila menghentikan langkah.
Kaila sudah tahu siapa itu. Lagipula siapa lagi yang memanggilnya Zeline, kalau bukan Bima.
Kaila berdecak dan menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi?" tanyanya.
"Dih, galak amat sih lo."
Kaila menghela napas. "Ada apa, Bima?" tanya Kaila mencoba tersenyum pada laki-laki itu.
Bima terkekeh dan mengimbangi langkah Kaila. "Mau langsung kerja part time?" tanyanya.
Kaila mengangguk. "Kenapa memang? Mau minta temenin jemput adik lo lagi?"
Bima menggeleng. "Adik gue di jemput nyokap kok."
Kaila mengangguk dan tersenyum.
"Mau gue anterin ke jalan mawar kemarin gak?"
__ADS_1
"Gak usah!" ucap seseorang membuat Kaila dan Bima menoleh.
"Kana?" ucap Kaila dengan wajah yang berubah kesal.
Kana berjalan mendekat dan meraih tangan Kaila. "Dia pulang bareng gue. Lagipula ruko itu milik nenek gue, jadi gue yang bertanggung jawab nganter dia sampai di sana," ucap Kana membuat Kaila melebarkan mata.
"Sejak kapan ada peraturan kaya gitu?" tanya Kaila.
Kana tersenyum tipis. "Sejak saat ini. Jadi mulai sekarang, gue yang anter lo setiap hari."
"Heh! Apaan?" Kaila mencoba menyingkirkan tangan Kana yang masih memegang lengannya. "Gue gak terima peraturan aneh dari lo!"
"Itu peraturan yang Oma gue buat," ucap Kana.
Kaila mengerutkan dahinya dan menatap Kana tak yakin. "Seriusan Oma yang buat peraturan itu?"
Kana mengangguk. "Lo tanya aja nanti sama Oma. Ya— kalau lo berani," ucapnya lalu melipat kedua lengannya.
Kaila berdecak. "Yaudah, cepetan!" ucap Kaila akhirnya. Kaila menoleh pada Bima, "Bim, gue duluan ya?"
Bima mengangguk dan melambaikam tangannya.
Kana menyunggingkan senyum dan berjalan pergi di ikuti oleh Kaila di belakangnya.
"Awas aja sampai lo bohong," umpat Kaila yang menatap punggung Kana dengan tatapan kesal.
Kana berjalan lebih dulu tanpa menyadari Kaila yang sudah tertinggal jauh. Bahkan tanpa di sadari, sejak tadi ia berbicara sendiri.
Karena merasa di abaikan, Kana pun menoleh. "Astaga! Jadi dari tadi gue ngomong sendiri?" Kana menoleh ke belakang. "Kaila! Cepetan!" teriaknya yang melihat Kaila masih jauh di belakangnya.
Kaila berdecak dan mempercepat langkahnya. "Bawel!" ucapnya kesal saat sampai di hadapan Kana.
Kana tersenyum miring dan berbelok ke parkiran untuk mengambil motornya.
Kaila mengikuti langkah Kana dan berdiri di samping pria itu. "Mana helm buat gue?" tanya Kaila pada laki-laki itu.
Kana melebarkan mata. "Oh iya! Gue lupa lagi. Emang lo gak ada helm?"
Kaila menghela napas. "Ngapain gue bawain helm? Lo pikir gue naik angkot sambil pakai helm gitu?" ucap Kaila yang membuat Kana tertawa membayangkannya. "Dih! Malah ketawa."
Kana tertawa keras. "Ya gue lagi ngebayangin lo naik angkot sambil pakai helm," ucapnya dan kembali tertawa.
Kaila mendengus kesal dan berkacak pinggang. "Apa coba yang lucu?"
"Eh, liat geh. Baru kali ini gue liat Kana ketawa sama cewek," ucap beberapa gadis yang kebetulan melewati keduanya.
Kaila menoleh pada beberapa gadis itu. Dalam hati, ia membenarkan ucapan mereka. Kaila menatap Kana yang tengah tertawa.
Pria itu benar-benar nampak lain dari biasanya.
__ADS_1
"Jadi ini lo yang sebenarnya, 'Kan? Bukan cowok dingin yang selama ini gue tahu?" ucap Kaila dalam hati memandang laki-laki di hadapannya.
-o0o-