KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 34


__ADS_3

Part 34


Tak terasa, waktu terus berlalu.


Semua nampak indah dan semua berjalan seperti apa yang di harapkan.


Kana menghela napas dan tersenyum lebar. Ia begitu senang, karena libur semester telah tiba. Dan ia, akan menikmati libur semester ini dengan kembali ke Jakarta untuk beberapa pekan.


'Drttt!'


Ponselnya bergetar. Kana meraih ponselnya dan menyunggingkan senyum lebar.


Lala : Take care ya, Nanaku! Kabarin kalau udah sampai Jakarta.


Kana tersenyum dan mengangguk refleks. Lalu mengetikkan sesuatu di sana.


Nana : Kamu hati-hati juga disini. Kalau kangen langsung telpon aja. Eh, enggak deng. Aku bakal nelpon kamu dulu sebelum kamu kangen.


"Ki—rim," ucap Kana seraya menekan tombol kirim disisi kanan.


'Drrrttt!'


Lala : Siap, Pak Dokter!


'Drrrtttt!'


Ponselnya kembali bergetar, dan ini sangat lama. Kana menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Halo," ucap Kana mengawali sambungan itu.


"Udah siap-siap?" tanya Kaila di seberang sana.


"Udah nih." Kana menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Tinggal nunggu taksi yang aku pesen sampai."


"Kamu ke Jakarta mau naik pesawat atau kereta?"


"Pesawat. Aku cari cepetnya," ucap Kana tertawa.


Kaila terkekeh di seberang sana.


"Yaudah, kalau gitu, aku matiin telponnya ya," ucap Kaila.


"Yahhh, padahal aku masih pengen denger suara kamu," ucap Kana seraya mengerucutkan bibirnya.


Kaila tertawa kecil, lalu mematikan sambungannya.


Kana tersenyum memandang layar persegi itu. Padahal ia masing ingin berlama-lama mendengar suara kekasihnya.


'Tin!'


Suara klakson terdengar di depan gerbang. Kana segera meraih jaket dan juga kopernya.


-o0o-


Di rumah, Kaila terlihat tengah duduk di kursi kamarnya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan memutuskan ke depan untuk menemui Ibu dan juga adiknya.


"Mama mana, Dek?" tanya Kaila pada Kiara yang tengah menonton TV di ruang tengah.


"Di kamar kayanya, Kak. Soalnya dari abis sarapan tadi, Kiara gak lihat Mama."


Kaila membulatkan bibirnya, lalu melangkah memasuki kamar Mamanya.


Kiara kembali fokus dengan tontonan di depannya. Menikmati masa libur sekolah dengan film-film kegemarannya.


'Tok! Tok! Tok!'


"Ma," panggil Kaila.


'Tok! Tok! Tok! Tok!'

__ADS_1


"Ma, Mama di dalem 'kan?"


Tidak ada jawaban dari dalam sana.


Kaila menghela napas. Ia merasa ada yang tidak beres. Tidak biasanya Mamanya di kamar lama-lama seperti ini.


"Ma, Mama ada di dalem 'kan?" ucap Kaila sekali lagi.


"Kak," ucap Kiara yang sudah berada di sampingnya.


"Jangan-jangan Mama pingsan lagi?"


Kaila melebarkan mata. Ia menggelengkan kepala, lalu mendorong pintu itu dengan sangat keras.


Pintu itu terbuka dan menampilkan pemandangan kamar Nabila.


Kaila dan Kiara segera masuk ke dalam untuk melihat Ibunya.


Alangkah terkejut keduanya saat melihat Nabila tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"Ma! Ma, bangun, Ma!" teriak Kaila menyenggol tubuh Ibunya.


"Ma, bangun," ucap Kiara kali ini.


Kaila menghela napas dan menatap adiknya. "Kamu ambilin dompet kakak, hp, sama kunci mobil ya? Kita ke rumah sakit sekarang!"


Kiara mengangguk dan mengikuti perintah Kaila.


Sementara Kiara mengambil apa yang diperlukan, Kaila pun mengangkat tubuh ibunya dengan hati-hati.


Ia menghela napas panjang karena tak sanggup untuk mengangkatnya.


"Gimana ini?" Kaila menggigit bibir bawahnya bingung.


Ia tiba-tiba teringat seseorang. "Wilko." Kaila mengangguk. "Aku harus minta bantuin Wilko."


-o0o-


Beberap jam telah berlalu.


Kana memandang langit di depannya dengan senyuman. Tak terasa, kini ia sudah sampai di Jakarta. Sebentar lagi pesawatnya akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta.


Dengan aba-aba yang di berikan, Kana segera bersiap untuk turun.


Laki-laki itu sudah tak sabar untuk bertemu dengan keluarga dan sahabatnya.


Setelah banyak rangkaian yang Kana lalui, laki-laki itu menarik kopernya dan mengedarkan pandangan.


"Kana!"


Senyum Kana merekah saat mendengar teriakan yang sudah tak asing lagi baginya.


Itu adalah teriakan kedua sahabatnya.


Benar, mereka adalah Aji dan Adinda.


"Kana! Come here!"


Kana menoleh dan melebarkan senyumnya sehingga menampilkan deretan gigi. Ia berjalan sedikit berlari menghampiri kedua sahabatnya itu.


Senyum ketiganya semakin tercipta saat Kana sampai. Ketiganya saling berpelukan dengan hangat.


Bisa di bayangkan, bagaimana kerinduan ketiganya. Sudah beberapa bulan Aji dan Adinda tidak bertemu Kana. Dan sekarang, rindu itu telah terobati. Mereka telah berkumpul bersama lagi.


"Kangen banget, Kan," ucap Adinda dengan lengan yang merangkul di lengan Aji.


Kana terkekeh. "Bilangnya kangen ke aku, tapi yang di rangkul Aji," ucap Kana dengan nada bercanda dan membuat tawa ketiganya tercipta.


"Tapi beneran Kan, kita berdua kangen banget!" ucap Aji kali ini.

__ADS_1


Kana mengangguk dengan senyum khasnya. "I know! Gimana kerinduan kalian sama seorang Kana."


Adinda tersenyum. "Gimana di Jogja? Enak gak?"


Kana terkekeh. "Enak sih."


"Iyalah, orang ada Kaila di sampingnya," ucap Aji membuat Adinda tertawa.


"Oh iya ya, mau sejauh apapun tempat, kalau ada orang yang bikin happy mah, asik-asik aja," ucap Adinda.


"Iya, kaya aku sama kamu," ucap Aji membuat pipi Adinda merona.


Kana menghela napas panjang. "Jauh-jauh gue balik ke sini, malah di suguhin pemandangan perbucinan."


Adinda tertawa. "Yakin deh, ini pasti karma buat kamu, Kan."


Ucapan Adinda benar. Dan seketika, Aji teringat dengan Kevin. Tentang bagaimana laki-laki itu selalu mengeluh jika Kana dan Kaila selalu bermesraan di depannya.


"Kan."


Kana menoleh pada Adinda dan menaikkan kedua alisnya.


"Pengen ketemu Kaila," ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya.


Kana tertawa. "Kaya mana mau ketemu? Kalian aja beda provinsi."


"Video call-in," ucap Adinda memohon. "'Kan kalau kamu yang video call, dia langsung semangat ngangkatnya."


Kana menghela napas dan menggelengkan kepala. Tak mengerti dengan keinginan sahabatnya tersebut. "Sekarang?"


Adinda mengangguk seraya memamerkan deretan giginya.


Kana mengangguk kalah. Ia meraih ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp miliknya. Mencari kontak Kaila, dan menekan tombol video di atas sana.


Panggilan berdering.


Ketiganya menunggu Kaila mengangkat panggilan itu.


"Eh, di angkat!" seru Adinda saat layar di ponsel Kana berubah.


"Lala," ucap Kana membuat Aji dan Adinda menoleh bingung.


"Lala?"


"Panggilan sayang gue ke dia," ucap Kana membuat kedua sahabatnya itu membulatkan bibir bersamaan, lalu menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Lala? Kamu denger suaraku 'kan?" ucap Kana pada gadis itu.


Tak ada suara di seberang sana. Kaila tak menjawab sepatah kata pun.


"Kai," ucap Adinda kali ini. "Kai, are you okay?"


Tiba-tiba terdengar suara isakan tangis di seberang sana. Kaila tengah menangis.


"Eh, Kaila nangis gak sih?" ucap Aji mendengar suara tangis di sana.


Kana melebarkan mata. "La, kamu gak papa 'kan?"


Kaila membenarkan posisi kamera sehingga menampilkan wajahnya. Gadis itu benar tengah menangis.


"La, kamu kenapa?" tanya Kana penasaran.


Kaila menyeka air matanya. "Mama, Mama ngedrop lagi. Dan sampai sekarang Mama belum sadar," ucap Kaila.


Kana melebarkan mata terkejut. "Aku kesana sekarang ya! Aku mau temenin kamu."


"Kita ikut, Kan!" ucap kedua sahabatnya membuat Kana menoleh.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2