KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 46


__ADS_3

Part 46


"Masa sih, coba liat?" ucap Kiara melihat binder-binder yang berisikan bermacam photocard milik temannya. "Ini dijual laku?" ucapnya pada temannya.


Temannya mengangguk


Kiara mengerutkan dahinya. "Masa iya?"


"Ih gak percaya!"


"Kertas gini doang?" ucap Kiara


Temannya mengangguk. "Gue aja beli ini udah hampir Lima belas juta."


Kiara melebarkan matanya. "Gila! Lo kaya banget. Dapet duit dari mana lo? Ngepet?" ucapnya membuat temannya yang satu lagi tertawa.


"Kiara ini badannya kecil, tapi omongannya pedes," ucap temannya.


Kiara terkekeh dan meraih ponselnya.


"Astaga! Hp gue, gue silent. Ternyata banyak banget yang nelponin gue," ucap Kiara.


"Berasa artis aja lo, Ra."


Kiara tertawa dan menelpon nomor teratas yang sudah menghubunginya.


Itu adalah nomor Siska.


Kiara berdecak. "Gak di angkat lagi. Kenapa sih? Kok Kak Siska nelponin gue sampai dua puluh kalian."


Temannya melebarkan mata. "Lo punya hutang kali sama."


Kiara tertawa. "Mana ada, yang ada dia berhutang budi sama gue karena udah gue bantu deketin sama abang gue."


"Kak Bima?"


Kiara mengangguk. "Ya bukan gue sepenuhnya sih. Cuma, gue bantu dikit-dikitlah waktu mereka belum jadian dulu."


"Dapet pahala dong, lo Ra?"


Kiara tertawa. "Semoga aja pahala, jangan dosa," ucapnya.


Mata gadis itu melebar saat panggilannya terhubung dengan Siska.


"Halo Kiara?"


Kiara mengerutkan dahinya. "Halo, Kak? Kakak kenapa nangis?" ucap Kiara bingung.


"Kiara belum denger kabar?" ucap Siska dengan suara serak.


Kiara menggeleng. "Belum. Kabar apa?"


'Tut! Tut! Tut!'


Sambungan telepon itu terputus.


Kiara mengerutkan dahinya bingung. "Ada apasih sebenarnya? Kok gue takut."


"Kenapa, Ra?" tanya temannya.


Kiara menggeleng. "Gak tahu. Perasaan gue gak enak." Kiara menyentuh dadanya yang berdetak. "Gue kenapa sih?" ucap Kiara yang terlihat tak tenang.


"Mala, ambilin minum gih buat Kiara," ucap temannya.


Temannya yang bernama Mala itu mengangguk dan memberikan air putih kepada Kiara.


Kiara meneguknya dan meletakkan kembali gelas itu.


"Gimana? Perasaan lo udah tenang?"


Kiara mengigit bibir bawahnya. Pandangan gadis itu masih kosong. Ia berdecak dan meraih tasnya. "Gue mau pulang aja."


"Serius, Ra? Kok lagi gak baik-baik aja. Gue anter aja ya?" ucap temannya yang bernama Mala tersebut.


Kiara menggeleng dengan senyuman. "Gak usah, gue bisa sendiri kok."


"Lo yakin?" ucap Mala.


Kiara mengangguk. "Gue naik taksi online aja," ucapnya dan bangkit lalu berjalan pergi.


Mala menoleh pada kursi yang Kiara duduki tadi. Gadis itu meraih sebuah tas dan mengejar Kiara yang belum jauh.


"Ra! Tas lo!" teriak Mala.


Kiara menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia memukul dahinya pelan dan menghampiri Mala. "Gue lupa," ucapnya dengan senyuman.


Mala mengangguk. Namun gadis itu terlihat khawatir dengan Kiara. "Lo gak papa pulang sendiri?"


Kiara mengangguk dengan senyuman. "Gak papa."


Mala mengangguk dan membiarkan Kiara berjalan pergi.


Tak lama, sebuah taksi online yang Kiara pesan telah datang. Gadis itu segera naik.


"Sesuai maps ya, Pak," ucap Kiara.


Supir taksi itu mengangguk dengan senyuman. "Siap, Mbak."


Kiara menghela napasnya dan menyenderkan badannya ke kursi. Menoleh ke arah samping depan pandangan kosong.


"Ada apasih?" Kiara berdecak dan mengusap wajahnya gusar.


"Dilaporkan, sebuah pesawat milik Indonesia yaitu pesawat Seriues R0045 yang jatuh di lautan saat akan sampai di Frankurt, Jerman. Pesawat dikabarkan hilang kendali. Hal itu membuat—"


Kiara melebarkan mata mendengar berita dari radio taksi itu.


"Ratusan penumpang meninggalkan dunia. Ada beberapa yang selamat, namun dalam keadaan kritis. Saat ini Indonesia telah mengirimkan puluhan timsar yang akan mencari korban yang hilang. Dari kabar yang ada, pihak terkait maskapai sudah menghubungi keluarga mengenai penemuan mayat yang diduga korban dari kecelakaan naas tersebut."


Jantung Kiara berdegub kencang. "Gak mungkin. Gak mungkin itu pesawat yang Bima naikin."


Kiara menoleh pada supir taksi itu. "Pak, tadi pesawat apa yang kecelakaan?"


"Serieus R0045, Mbak."


Kiara melebarkan mata. "Itu pesawat yang Kak Bima naikin."


Tiba-tiba Kiara teringat hari itu.


"Kak Bima, sorry Kiara gak bisa anter Kak Bima ke bandara," ucap Kiara saat itu.


Bima terkekeh dan mengangguk. "Gak papa kok. Kamu ke sekolah aja."


Kiara mengangguk dengan senyuman. "Tapi Kak Siska anterin kakak 'kan?"


Bima mengangguk. "Dia anterin kakak kok."


"Oke, deh. Kiara tenang kalau gitu. Kakak naik pesawat Garuda?" ucap Kiara.


Bima menggeleng. "Kakak naik pesawat Serieus R0045. Itu pesawat baru yang belum lama dikeluarin dari hasil kerja sama Indonesia sama Jerman."


"Waw! Keren!"


Bima terkekeh dan mengangguk.


"Yaudah kakak berangkat dulu ya? Kamu mau minta oleh-oleh apa?" ucap Bima.

__ADS_1


Kiara tampak berpikir. "Jersey ori," ucapnya dengan cengiran kuda.


Bima melebarkan mata. "Hah? Memang kamu main bola?"


Kiara terkekeh. "Pengen ngikut trend."


Bima tertawa dan mengangguk. "Oke, nanti kakak beliin Jersey buat kamu."


"Yeay! Jangan lupa ya! Pokoknya janji beliin Kiara Jersey yang ori."


Bima mengangguk dan mengacak rambut adiknya dengan gemas. "Kakak berangkat dulu ya? Assalamualaikum?"


Kiara menitihkan air matanya.


"Mbak, Mbak!" ucap supir taksi itu.


Kiara tersadar dari lamunannya.


"Sudah sampai, Mbak."


Kiara mengangguk dan turun.


"Mbak!" panggil supir taksi itu membuat Kiara menghentikan langkah dan membalikkan badannya. "Uangnya belum, Mbak."


Kiara memukul dahinya dan segera mengambil uang dari dalam tas lalu menyerahkannya. "Maaf, Pak," ucapnya dan berlari ke dalam.


Rumah Kiara sudah ramai.


Disana sudah ada Angga, Aji, Keiza dan juga Kana.


Kaki Kiara terasa lemas saat melihat semua anggota keluarganya menangis.


"Jadi? Semuanya benar?" batinnya.


Keiza mengusap air matanya dan menghampiri Kiara. Menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Kiara diam di tempat. Kakinya terasa lemas.


Aji menghampiri dua orang itu dan berusaha menguatkannya.


"Jadi bener Kak Bima kecelakaan?" ucap Kiara pada kakaknya.


Keiza mengangguk. "Timsar baru aja nemuin jaket yang dipake Bima. Di jaket itu ada nama Bima Aksana."


Air mata Kiara menetes. "Tapi 'kan itu Cuma jaket. Bisa aja Kak Bima masih hidup 'kan?"


Keiza menangis dan mengeratkan pelukannya. "Mereka jatuh di lautan lepas, Dek. Kemungkinan kecil buat mereka selamat. Selain itu, tim sar bilang, dijaket itu penuh darah. Mereka semua yakin itu darah Bima."


Kiara menggeleng. "Aku gak percaya Kak Bima meninggal."


Keiza meraih ponselnya dan menunjukkan sesuatu. "Ini foto jaket itu. Lihat, ini jaket yang Bima pakai waktu berangkat 'kan?"


Kiara mengangguk. Dadanya terasa sesak dan panas.


"Lihat, jaket itu sobek parah dan penuh darah."


Kiara menunduk. Gadis itu menangis. "Enggak! Kak Bima gak mungkin meninggal! Semuanya bohong!" ucapnya dan berlari ke kamar.


Angga menangis melihat Kiara.


Kana berjalan mendekati ayah mertuanya tersebut. "Pa, Papa yang sabar."


Angga menangis sejadi-jadinya. "Bima!" teriaknya dengan tangisan.


Keiza ikut lemas melihat ayahnya. Kaki wanita itu terasa lemas.


Melihat hal itu, Aji segera membantu istrinya untuk duduk di kursi. "Kamu tenangin diri dulu ya?"


Keiza mengangguk.


Aji juga terlihat sedih. Ia menoleh kepada Kana. "Kan, Kaila udah tahu?"


Aji mengangguk, begitupun Keiza.


Keiza menghela napas dan mengusap air matanya. "Kan, kalau bisa, Kaila jangan dikasih tahu ya? Kaila punya jantung yang lemah. Aku takut, itu bisa bahayain dia."


Kana mengangguk. "Iya, Kak."


Aji mengusap punggung istrinya dan memeluknya. "Kamu juga yang kuat ya?"


Keiza mengangguk. "Aku mau nemenin Kiara dulu," ucapnya bangkit berdiri.


-o0o-


"Aku sayang banget sama kamu. Aku janji, pulang dari Jerman aku bakal lamar kamu. Dan setelah urusan perusahaanku di Indonesia kelar, aku langsung nikahin kamu."


"Beneran?"


"Aku udah niatin ini dari lama. Jadi aku gak bakal buang-buang waktu setelah ini. Aku bakal ngebahagiain kamu."


"Inget aku ya waktu di Jerman. Jangan lirik-lirik cewek lain."


"Iya, sayang. Kamu juga. Jangan lirik-lirik cowok lain. Pokoknya, setiap kamu lihat cowok yang lebih ganteng dari aku, kamu harus sebut namaku tiga kali."


"Memangnya apaan? Terus kalau aku sebut nama kamu tiga kali, kamu bakal dateng?"


"Dateng dalam pikiran kamu."


"Ahhhhhh!" teriak Siska.


Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Bima sebelum ia pergi terus terngiang dalam pikiran Siska.


Sejak mendengar berita tadi dan menelpon Kiara, ia terus mengurung diri dikamar.


Orangtuanya sudah membujuknya untuk keluar. Namun Siska tetap tak mau.


Sedari tadi, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Bima seolah memenuhi pikiran Siska.


"Ahhhhhh!" teriak Siska menutup telinganya.


"Kalau gue tahu lo bakal pergi, buat apa lo kasih janji bakal nikahin gue? Buat apa?!"


-o0o-


"Ma, gimana Siska?" ucap Eric.


Sara menggeleng. "Mama bingung, Pa. Apa kita dobrak aja pintunya?"


Eric mengangguk. "Papa dobrak ya?"


Sara mengangguk dan munduk beberapa langkah. "Hati-hati, Pa," lirih Sara yang melihat suaminya akan mendobrak pintu itu.


"Satu— dua—tig—"


'Ceklek!'


Pintu terbuka.


Eric dan Sara segera menghampiri putrinya.


"Sayang."


Siska tersenyum tipis dan berjalan pergi.


"Sayang, kamu mau kemana?" teriak Sara.

__ADS_1


Siska membalikkan badannya. "Siska mau susul Bima," ucapnya yang sudah penuh dengan air mata.


Siska berjalan menuruni tangga.


"Siska!" teriak Sara mencoba mengejar.


Siska mempercepat langkahnya. Gadis itu sudah membawa tas yang menggelantung di badannya.


Ia berlari keluar dan menghentikan sebuah taksi.


"Bandara, Pak."


"Siska!"


"Maafin, Siska, Ma, Pa. Siska mau cari Bima dan bawa Bima pulang."


-o0o-


Malam ini, Kaila terlihat gelisah.


Wanita itu berdecak dan meraih ponselnya.


Menghubungi Kana yang pergi sejak sore tadi.


"Halo, sayang?" ucap Kana di seberang sana.


"Sayang, kamu dimana? Kok belum pulang? Kamu lagi di klinik?"


"Eumm— aku lagi di rumah Papa Angga, sekarang."


Kaila mengerutkan dahinya. "Kenapa? Papa Angga sakit?"


"Enggak, gak papa kok. Aku gak sengaja aja mampir kesini. Eum— yaudah, bentar lagi aku pulang kok. Kamu tunggu dirumah ya? Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sambungan itu terputus.


Kaila mengerutkan dahinya dan meletakkan kembali ponselnya. "Gak biasanya Kana ke rumah Papa Angga tanpa ngajak aku?"


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Kak Bima kok belum nelpon aku dan nanyain keponakannya ya?"


-o0o-


"Kejar mobil itu, Pa!" seru Sara pada suaminya.


Eric mengangguk dan fokus mengikuti taksi yang berada di depan.


Itu adalah taksi yang membawa Siska.


Eric mempercepat lajunya hingga membalas taksi itu dan mengadangnya.


"Ayo, Pa, turun!" ucap Sara dan turun untuk menemui Siska yang masih berada di dalam mobil.


'Tok! Tok! Tok!'


"Siska, buka jendelanya, sayang."


Siska tak mendengarkan. Gadis itu masih enggan membuka jendelanya.


"Sayang, please dengerin Mama. Kamu jangan seperti ini. Kalau kamu seperti ini, malah Mama ikut terluka."


Eric mengetuk jendela pintu depan. "Pak, buka."


Supir taksi itu mengangguk dan membukanya.


Eric segera masuk ke dalam dan berbicara dengan Siska.


Mata Siska sudah sembab. Ia bahkan terus menangis hingga saat ini.


"Ayo, kita ke Jerman sama-sama. Kita cari Bima sama-sama."


Siska melebarkan mata. "Beneran, Pa?"


Eric mengangguk.


"Kita berdoa, semoga Bima belum meninggal dan bisa di temukan."


-o0o-


'Ceklek!'


Pintu terbuka membuat Kaila menoleh.


"Sayang!" teriak Kaila dan langsung memeluk suaminya.


Kana tersenyum, mengusap punggung istrinya dengan hangat.


"Maafin aku ya, ninggalin kamu gak bilang-bilang."


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Gak papa, sayang."


Kana mengangguk dan berjalan bersama Kaila menuju kasur.


Kaila meraih ponselnya dan merebahkan tubuhnya di samping Kana.


"Kamu tahu gak? Aku dari nyoba nelponin Kana, kok gak di angkat ya?"


Kana terdiam.


Kaila berdecak. "Padahal aku udah DM instagram dia, chat lewat line, wa, tiktok."


Kana tersenyum tipis dan mengusap rambut Kaila. "Mungkin dia lagi sibuk."


Kaila berdecak. "Sesibuk apa sih dia, sampai gak mau angkat telpon adik kesayangannya ini." Kaila menghela napas dan meletakkan ponselnya, menoleh pada Kana dan memeluknya dengan erat.


"Sabar, ya. Bima pasti pulang kok. Dia gak mungkin ninggalin adik kesayangannya ini."


Kaila tersenyum dan mengangguk.


"Oh ya, Bima inget gak ya, waktu itu aku pernah bilang, kalau pulang ke Jerman tolong bawain notebook aku di rak bukunya."


"Notebook?"


Kaila menganggguk. "Iya notebook dia yang beliin. Cuma belum aku tulis-tulis. Jadi aku taruh di rak buku dia."


Kana tersenyum. "Kalau dia inget, pasti dibawain."


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Awas aja lupa orang itu."


Kana tersenyum dan memeluknya.


"Kenapa sih?" ucap Kaila yang merasa aneh dengan sikap Kana.


"Kenapa? Aku gak ngomong apa-apa," ucap Kana bingung.


Kaila menghela napas. "Iya, kamu memang gak ngomong apa-apa. Tapi bahasa tubuh kamu yang keliatan aneh. Seolah-olah aku lagi sedih banget, jadi kamu kaya nguatin gitu."


Kana tersenyum tipis. "Enggak, ah. Perasaan kamu aja."


Kaila terkekeh. "Iya, kali ya?"


Kana mengangguk. "Yaudah yuk, tidur aja."


Kaila mengangguk dan memeluk suaminya.

__ADS_1


Kana mengusap pucuk kepala Kaila dengan hangat. "Aku tahu, ini semua bakal berat buat kamu, La," lirih Kana.


-o0o-


__ADS_2