KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 4


__ADS_3

Part 4


"Kamu tidur di hotel ini?" tanya Kana saat akan menurunkan Kaila dari mobilnya.


Laki-laki itu memandang hotel bintang lima yang berdiri megah di hadapannya.


Kaila tersenyum. "Untuk beberapa hari."


"Lalu setelah itu? Kamu balik ke Jerman?" tanya Kana dengan rasa khawatir jika apa yang ia tebak benar adanya.


Kaila tersenyum tipis. "Kamu maunya gimana?"


"Ya aku maunya kamu tetep disini."


Kaila tersenyum, lalu mengangguk. "Iya."


Kana melebarkan mata. "Beneran?"


"Bener!" jawab Kaila dengan anggukan.


"YES!" seru Kana dengan histeris.


Kaila terkekeh, lalu menatap Kana dengan lekat. "Kamu?"


Kana menaikkan kedua alisnya.


"Gak sadar sesuatu?" lanjut wanita itu.


Kana mengerutkan dahinya. "Soal?"


Kaila menghela napas. "Koper kita tertukar, Kana!"


Kana melebarkan mata. "Iya tah?"


Kaila mengangguk.


Kana menepuk dahinya. "Kok aku gak sadar, La?"


Kaila terkekeh, lalu menggelengkan kepala. "Pantes aja tenang-tenang aja."


Kana tertawa kecil seraya menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Aku bener-bener gak nyadar. Kayanya kalau kamu gak bilang, koper itu bakal di kamar aku terus."


'Tin!'


Suara klakson berbunyi membuat keduanya menoleh ke belakang.


"Na, ada mobil mau masuk," ucap Kaila saat menyadari jika mobil Kana tengah menghalangi jalan.


"Oh iya, bentar." Kana menghidupkan mesin mobilnya lalu memajukan ke depan agar mobil lain bisa masuk ke area hotel tersebut. "Udah gak ngehalangin jalan 'kan ya?" tanya Kana.


Kaila menggeleng. "Enggak, kok."


Kana tersenyum lalu mematikan mobilnya dan kembali memandang Kaila.


"Kenapa sih lihatnya gitu banget?" ucap Kaila.


Kana tersenyum dan menggeleng. "Gak papa. Aku cuma mikir aja, apa koper kita tertuker itu salah satu cara Tuhan buat mempertemukan kita lagi?"


Kaila menghela napas dan mengangguk. "Aku juga sempat berpikir gitu. Lagipula dari banyaknya penumpang, kenapa bisa koper kita yang tertukar?"


Kana mengangguk setuju. Lalu tertawa kecil. "Terkadang cara Tuhan lebih indah ya La dari apa yang kita pikirkan?"


"Iya, Na. Dan ternyata Tuhan denger keinginan aku buat ketemu kamu lagi."


Kana tersenyum lalu meraih tangan Kaila.


Kaila menghela napas dan menutupi rasa gugubnya saat tangannya berhasil di genggam oleh Kana.


"La."


Kaila menaikkan kedua alisnya menatap laki-laki itu.


"Apa perasaan kamu ke aku masih sama?" tanya Kana memberanikan diri.


Sebenarnya laki-laki itu ingin bertanya hal tersebut sejak tadi. Namun, ia belum berani bertanya langsung. Nyalinya begitu kecil. Sebab, ia begitu takut jika jawaban Kaila tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Kaila tersenyum tipis. "Gak ada alasan buat aku untuk buang perasaan ini, Na."


Kana melebarkan matanya. Senyumnya mengembang membentuk bulan sabit. "Jadi?"


Kaila mengangguk. "Perasaan ini tetap sama. Mencintai kamu, hal berharga buat aku."


Kana tersenyum lebar dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Kaila menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Pelukan Kana begitu kuat membuat gadis itu susah untuk bernapas.

__ADS_1


Menyadari akan hal itu, Kana segera melepas pelukannya dan menatap Kaila dengan cengiran kuda.


"Aku terlalu senang," ucapnya tanpa rasa berdosa.


Kaila akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Gak papa. Yang penting kamu tanggung jawab kalau aku pingsan."


Kana mengangguk siap. "Nanti aku kasih nafas buatan!"


Kaila membuka mulutnya terkejut dengan jawaban Kana. Pipi wanita itu memerah. Benar saja ia salah tingkah. Jawaban Kana benar-benar membuatnya menjadi seperti kepiting rebus.


"Eum— a— aku masuk dulu ya? Udah malem!" ucap Kaila dengan rasa gugub.


Kana terkekeh dan mengangguk.


"Aku permisi," ucap Kaila lalu melambaikan tangannya dan membuka pintu mobil.


Kana masih terkekeh. Ia jelas tahu apa yang membuat Kaila menjadi malu seperti ini.


"Hati-hati ya," ucap Kana.


Kaila menoleh dan mengangguk.


"Bilang kalau butuh nafas buatan!" goda Kana membuat Kaila semakin malu lalu berlari meninggalkannya.


Kana tertawa. "Kaila, Kaila, kamu gak berubah. Kamu tetep Kaila polos yang aku kenal," ucapnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan hotel tersebut.


-o0o-


Kaila mempercepat langkahnya menaiki tangga. Hati gadis itu benar-benar membara.


Entahlah, Kaila tak tahu harus bagaimana. Yang jelas, wanita itu terus tersenyum dan memegang pipinya yang terasa hangat.


Kaila memejamkan mata dan menggeleng. "Gak! Gak! Kaila! Lo gak boleh menghayal yang aneh-aneh! Kana itu cuma mancing-mancing doang!" ucapnya seraya memukul pelan pipinya.


Kini, wanita itu sampai di depan itu kamar hotelnya. Ia memasukkan kunci dan memutar knop yang membuat pintu itu terbuka lebar.


Kaila masuk ke dalam dan kembali mengunci pintu. Berjalan menuju kasur, lalu menutup wajahnya menggunakan bantal.


Entahlah, kita pun tak tahu apa yang sedang wanita itu bayangkan.


-o0o-


Setelah memarkirkan mobilnya ke garasi, Kana berjalan masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu berjalan dengan santainya sembari menyanyikan lagu.


Kana mengerutkan dahinya. "Mama sama Papa ngapain rapih amat? Terus kok penampilannya?" ucap kana menatap penampilan Kavin dan Alina dari bawah sampai ke atas.


"'Kan kita mau liburan besok!" seru Alina.


Kavin mengangguk. "Papa udah ambil cuti! Keren 'kan? Gak biasanya Papa ambil cuti!"


Kana menggaruk kepalanya. "Liburan kemana ya?"


Alina menghela napas lalu menyentuh dahi Kana. "Kamu gak lupa ingatan 'kan?"


Kana menggeleng.


Kavin berdecak. "Jerman! -----------"


"-------"


Kana melebarkan matanya. "Astaga! Kana lupa kalau udah janjiin Mama Papa ke Jerman!"


"Yes! Sama kamu juga," ucap Alina.


Kana tersenyum seraya menggigit bibir bawahnya sendiri. "I'm sorry Ma, Pa, tapi Kana gak jadi ikut ke Jerman."


Kevin mengerutkan dahinya. "Kenapa? Katanya kamu mau menghirup udara sana."


"Awalnya!" ucap Kana dengan cengiran kuda. "Tapi sekarang Kaila ada Jakarta."


"KAILA BALIK KE INDONESIA?!" teriak sepasang suami istri itu.


Kana mengangguk dengan senyuman lalu berjalan santai masuk ke kamar.


Kavin dan Alina saling memandang. Keduanya tersenyum lebar. Tentu saja mereka bahagia, sebab Kaila adalah sumber kebahagiaan putranya.


Kana berjalan masuk ke kamar dengan senyuman. Laki-laki itu menoleh pada koper yang tersusun di atas lemari. Ia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala.


"Bisa-bisanya aku gak sadar."


'Tok! Tok! Tok!'


Kana menoleh ke arah pintu.


"Permisi Den."

__ADS_1


Kana menghela napas dan bangkit dari kasurnya. Membuka pintu dan menoleh pada asisten rumah tangga keluarganya.


"Ada apa, Bi?" tanya Kana.


"Ini Den, Aden dapat undangan pernikahan dari temen Aden."


Kana mengerutkan dahinya, lalu meraih undangan itu.


"Wilka?" ucap Kana membaca nama itu.


Asistennya mengangguk. "Betul, Den. Tadi ada yang anter kesini. Tapi Bibi lupa nanya namanya siapa. Dan katanya, resepsi pernikahannya di Jakarta."


Kana membulatkan bibirnya, lalu tersenyum. "Yaudah, makasih ya, Bi," ucap Kana lalu kembali menutup pintunya.


Kana memandang kertas di hadapannya lalu tersenyum. "Aku harus kabarin Kaila!" serunya lalu meraih ponsel di atas nakas.


"Halo, Na?" ucap Kaila di seberang sana.


"La, aku punya kabar!" seru Kana dengan semangat.


Terdengar suara tawa kecil di seberang sana. "Apa tuh?"


"Wilka menikah!"


"Apa?" ucap Kaila terkejut. "Wilka menikah?"


Kana mengangguk. "La, aku ubah ke video call aja ya?"


"Eh, sebentar-sebentar, Na. Aku dandan dulu."


"Ih ngapain? Kamu udah cantik, Lala," ucap Kana lalu menekan tombol video call.


Dan dalam hitungan detik, wajah Kaila pun terlihat di layar ponsel Kana.


Kana tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bantal. "Orang udah cantik, ngapain dandan segala?"


Kaila tersenyum malu. "Ya 'kan aku udah cuci muka, udah pakai piyama."


"Tetep cantik kok."


Kaila terkekeh, lalu ikut menyandarkan kepalanya di bantal. "Tadi kamu bilang, Wilka menikah? Sama Kevin?"


Kana mengangguk, lalu meraih undangan yang ia terima. "Ini undangannya. Acaranya minggu depan di Jakarta."


Kaila membuka mulutnya takjub.


"Kamu udah bilang ke dia kalau kamu udah di Indonesia?" tanya Kana.


Kaila menggeleng. "Awalnya aku mau telpon besok, tapi tahu dia mau nikah. Kayanya gak usah deh!"


"Lah, kenapa?" tanya Kana tak mengerti.


"Aku pengen kasih kejutan buat dia. Kamu dateng sama siapa ke pesta itu?" tanya Kaila dengan frontal. Lalu merasa malu sendiri.


"Bodoh! Ngapain gue nanya itu. Seolah-olah gue nawarin diri 'kan?" ucap Kaila yang merasa malu.


"La, La," ucap Kana saat wajah Kaila tak berada di layar.


Kaila tersenyum lalu mengembalikan layar kamera ke arahnya. "Aku disini."


Kana tersenyum. "Kamu mau 'kan dateng sama aku di acara pernikahan Wilka?"


"Pakai nanya segala, ya maulah!" lirih Kaila namun tak terdengar oleh Kana.


Kana tersenyum tipis. "Kok kamu diem aja? Gak mau ya? Yah, padahal aku bingung mau kesana gak ada gandengan. Aku pikir kamu mau jadi gandenganku buat ke acara itu."


Kaila tersenyum dan mengangguk.


"Apa nih maksudnya? Mau?"


"Gak ada alasan buat nolak!" seru Kaila membuat Kana tertawa.


"Oke! Oke! Besok kita pilih dress sama jas yang serasi ya?" ucap Kana.


Kaila melebarkan mata. Ia tak salah dengar?


"Sekalian besok aku pengen ajak kamu ke rumah buat ketemu Mama sama Papa," lanjut Kana membuat Kaila semakin kehabisan nafas.


"Besok aku jemput!" ucap Kana lalu mematikan sambungannya.


Kaila masih diam. Wanita itu benar-benar terkejut. Terkejut dan tentu senang!


"YES!" seru Kaila begitu senangnya.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2