
Part 24
“Hey!” panggil seseorang membuat Kaila yang tengah berjalan di koridor menghentikan langkahnya.
Kaila menoleh dan melihat Kana tengah duduk dan tersenyum ke arahnya.
“Udah sampai dari tadi?” tanya Kaila.
Kana mengangguk. “Aku nungguin kamu. Kok kamu sendiri? Kevin sama Wilka mana?”
“Mereka mampir ke perpus. Yaudah yuk, langsung ke kelas aja.”
Kana mengangguk dan bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengimbangi Kaila.
“Udah sarapan?” tanya Kana.
Kaila menjawab dengan anggukan. “Kamu sendiri?”
Kana menggeleng.
“Kenapa gak sarapan?” tanya Kaila.
“Embak yang biasa jualan sayur gak dateng,” jawab Kana dengan mengerucutkan bibirnya.
Kaila terkekeh. “Mau ke kantin dulu? Aku anter?” tanya Kaila.
Kana menoleh pada jam di tangannya. “Keburu gak?”
“Keburu kok. Yaudah yuk, daripada kamu gak sarapan.”
Kana mengangguk dan berjalan menuju dengan tangan yang mengandeng Kaila.
Sesampainya di kantin, sepasang kekasih itu langsung memilih bangku kosong.
“Kamu mau aku pesenin juga gak?”
Kaila menggeleng. “Aku udah sarapan kok. Kamu aja.”
Kana mengangguk dan langsung memesan nasi untuk sarapannya.
Tak lama, Kana kembali dengan sepiring nasi di tangannya.
“Mau aku suapin?” tanya Kana yang sudah siap dengan sendok yang terisi lauk dan nasi.
Kaila tersenyum dan menggeleng. “Makan gih.”
Kana mengangguk dan langsung melahapnya.
Kaila tersenyum melihat pemandangan di depannya. Melihat Kana sedang makan, membuat Kaila senang. Sederhana bukan?
“Kamu udah denger belum? Minggu besok bakal ada praktek ke desa gitu,” ucap Kana.
“Kita?”
Kana mengangguk membenarkan. “Ya semacem penyuluhan gitu ke setiap rumah. Nanti sistemnya kita bakal dibagi kelompok.”
Kaila membulatkan bibirnya. “Kelompoknya udah dibagi?”
Kana menggeleng. “Gak tahu juga sih. Katanya bakal di tempel di mading.”
Kaila mengangguk mengerti.
“Semoga kita sekelompok ya?” ucap Kana.
Kaila tersenyum dan mengangguk.
Setelah menghabiskan sepiring nasi, Kana pun meneguk air putih di gelasnya.
“Yuk!” ucap Kana yang sudah selesai menyelesaikan sarapannya.
Kaila mengangguk, meraih tasnya.
“Hai, Kan!” sapa Gisele yang tak sengaja berpapasan dengan sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Kana menaikkan satu alisnya, memandah Gisele dengan tatapan datarnya.
“Eh Kan, lo udah baca belum pengumuman di madding? Kita sekelompok loh,” ucapnya lalu melirik Kaila yang berada di samping Kana.
Kana mengerutkan dahinya. “Terus?”
“Ya gak papa sih, cuma mau ngasih tahu aja,” ucapnya tersenyum girang lalu kembali menoleh pada Kaila. “Eh, Kai! Lo kayanya gak sekelompok sama kita dan Dua temen baru lo itu deh, soalnya mereka sekelompok sama gue dan Kana.”
Kaila mengerutkan dahinya. Perasaan gadis itu campur adik. Bagaimana bisa ia tak sekelompok dengan Kana atau dengan Kevin dan Wilka?
Kaila melepas tangan Kana dari tangannya dan berlari untuk menuju madding. Ia ingin melihat dengan siapa ia sekelompok.
Dengan napas terengah-engah, Kaila berdiri di depan madding. Ia membaca satu persatu nama di setiap kelompok.
“Kelompok 1, Kana, Airin, Gisel, Kevin, Amar, Wilka.” Kaila menoleh pada barisan kelompok dua. “Ratih, Prepti, Valen, Yuli, Mina.” Kaila mengerutkan dahinya. “Kenapa nama gue gak ada?”
Kaila menggigit bibir bawahnya.
Tak lama, Kana sampai di sampingnya. “Gimana? Kamu kelompok berapa?”
Kaila menggeleng. “Namaku gak ada disini.”
Kana mengerutkan dahinya. “Gak ada?”
Kaila mengangguk membenarkan.
“Yaudah, nanti kita nanti bilang aja sama Bu Anita pas jam mata kuliahnya. Pagi ini mata kuliahnya ‘kan?” tanya Kana.
Kaila mengangguk. “Yaudah, deh. Nanti kita bahas aja sama Bu Anita.”
Kana mengangguk dan tersenyum. “Yaudah yuk, ke kelas.”
“Iya,” ucap Kaila berbalik badan.
‘Brukkk!’
Kaila melebarkan matanya. Ia tak sengaja menyenggol seseorang membuat buku-buku yang dibawa orang itu berjatuhan.
“Aduh, maaf.” Kaila meraih buku-buku itu dan menyerahkannya. Ia mengerutkan dahinya saat menyadari orang itu adalah Keiza. Benar, itu adalah Keiza.
Gadis itu menatap mata Kaila dan mengangguk.
Kaila tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Kenalin, aku Kaila. Mungkin Kak Keiza udah sering banget liat aku ‘kan?”
Keiza mengangguk.
“Maaf kalau selama ini kemunculanku bikin kakak gak nyaman atau gimana. Cuma, aku berusaha berniat baik supaya pacar kakak gak nyakitin kakak terus,” ucap Kaila.
Keiza menatap Kaila dengan tatapan sayu. “Kamu gak tahu tentang dia. Jadi gak usaha sok ikut campur.”
Kaila melebarkan mata. Ia tak tahu jika Keiza akan mengatakan hal demikian. “Maaf Kak, tapi—”
Keiza tersenyum. “Makasih atas niat baik kamu,” ucapnya dan berlalu pergi.
Kaila masih diam di tempat. Ia benar-benar tak menyangka jika Keiza akan mengatakan hal itu.
“Kenapa dia gak suka?” ucap Kana bingung.
Kaila menggeleng tak tahu. “Apa dia memang tipe orang yang gak suka diikut campurin?”
Kana mengangguk setuju.
“Tapi ‘kan niatku baik. Aku juga bisa lihat gimana kasarnya Erkan sama dia. Dia juga pasti gak suka sama perlakuan Erkan yang kasar,” ucap Kaila.
Kana mengangguk mengerti. “Mungkin dia mikirnya itu urusan dia sama Erkan. Jadi orang lain gak perlu ikut campur.”
Kaila menunduk. “Bener, sih.” Gadis itu menghela napas panjang lalu menatap wajah Kana dengan senyuman.
Kana terkekeh. “Kenapa sih?”
Kaila menggeleng. “Gak papa. Seneng aja kamu selalu ada disamping aku.”
Kana terkekeh lalu mengusap pucuk kepala Kaila. “Aku juga seneng bisa ada di samping kamu.”
__ADS_1
“Bucin terosssss!”
Terdengar suara Kevin membuat sepasang kekasih itu menoleh ke belakang.
“Elah, sirik aja lo,” ucap Kana.
Kevin mengelus dada. “Tabahkanlah hamba, mengingatkan orang malah dikata sirik,” ucap Kevin.
Kaila terkekeh. “Cari pacar gih Vin.”
“Cari pacar?”
Kaila mengangguk.
“Gimana ya, bukannya gak mau cari pacar, cuma— kalau udah nyaman sendiri, ya susah.”
Kana tertawa. “Senyaman-nyamannya sendiri. Lo juga bakal butuh pacar, Vin.”
“Iya, makanya lo gak usah pamer kebucinan mulu,” gerutu Kevin yang malah membuat Kaila dan Kana tertawa.
“Ada apa sih?” tanya Wilka menghampiri ketiganya.
“Gak, bukan apa-apa,” jawab Kevin lalu berjalan pergi.
“Nah, kenapa tuh orang?” ucap Wilka tak mengerti. “Kelas yuk, Bu Anita udah jalan.”
Kana dan Kaila mengangguk, lalu berjalan menuju kelas yang berjarak beberapa meter lagi.
“Selamat pagi!” ucap Bu Anita seraya menaruk laptopnya ke atas meja.
“Pagi, Bu!” jawab seluruh mahasiswa dnegan serentak.
“Bagaimana? Kalian udah liat pengumuman di madding?” tanya Bu Anita.
“Sudah, Bu.”
Bu Anita tersenyum. “Baik, jadi itu adalah nama-nama kelompok untuk penyuluhan di desa minggu depan ya. Ada Lima desa yang akan kita tuju, dan ada Lima kelompok yang kita sebar di setiap desa. Kira-kira ada pertanyaan mengenai kelompok? Atau apa ada yang belum mendapatkan kelompok?”
“Saya, Bu!” seru Kaila membuat beberapa mahasiswa lain menoleh ke arahnya.
“Iya?” Bu Anita menaikkan kedua alisnya.
“Saya belum mendapatkan kelompok,” ucap Kaila.
“Nama kamu siapa? Ibu lupa,” ucap Bu Anita.
“Kaila, Bu. Kaila Zeline Qirani.”
“Ah, iya Kaila. Oh ya, ibu lihat-lihat kamu sedikit mirip sama kakak tingkat kamu,” ucap Bu Anita dengan senyuman.
“Siapa, Bu?” tanya Kevin penasaran.
“Siapa ya ibu lupa. Anak organisasi juga. Itu lho yang pendiem.”
Kevin menghela napas. “Kalau yang pendiem mah banyak, Bu,” ucap Kevin membuat seisi kelas tertawa.
“Ya sudah, ya sudah. Oh ya, Kaila belum ada kelompok ya?” tanya Bu Anita mengulangi.
Kaila menggeleng. “Belum, Bu.”
“Yaudah, Ibu masukkan kamu ke kelompok Lima ya?” ucap Bu Anita.
“Lho, kenapa gak ke kelompok Satu aja Bu?” tanya Kana.
“Kelompok satu?” Bu Anita meraih kertas berisikan nama-nama kelompok. “Kelompok satu sudah pas Lima orang. Kelompok dua juga, sudah pas lima orang. Nah, tinggal kelompok Lima yang Cuma empat orang. Jadi Kaila masuk situ ya? Setuju?”
“SETUJU, BU!” seru Gisele paling kuat membuat Kaila menoleh dan menatapnya heran.
Gisele tersenyum miring dan menjulurkan lidahnya pada Kaila.
“Dih, apasih? Pengen gue tampol tuh muka.”
Wilka terkekeh pelan. “Ternyata sesabar-sabarnya Kaila, ada batasnya ya?”
__ADS_1
“Kesel, Wil.”
-o0o-