
Part 31
"Nabila?"
Nabila terdiam membeku. "Kavin?" ucap wanita itu tak percaya.
Ia tak percaya jika Kavin berada di hadapannya. Kavin— pria pertama yang mengisi hatinya. Bahkan bisa dibilang hingga sekarang.
Hendry dan Jeni menoleh pada Dua orang yang terlihat saling mengenal. Bukan— mereka tidak terlihat saling mengenal, tapi saling merindukan.
"Kalian berdua saling kenal?" tanya Hendry penasaran.
Nabila menunduk. Ia tak mungkin mengatakan pada suaminya jika Kavin adalah mantan pacar sekaligus cinta pertamanya. Ia tak ingin melihat suaminya semakin marah dan terus menyakitinya.
Kavin tersenyum. "Kami teman Satu sekolah, dulu."
Nabila menatap Kavin. Ia tersenyum tipis lalu beralih pada suaminya. "Iya, dia teman Sekolahku dulu."
Hendry membulatkan bibirnya. "Kebetulan sekali ya, kalian bisa bertemu disini," ucapnya tertawa.
Nabila tersenyum, benar! Ini adalah kebetulan.
"Mari duduk Pak, Bu," ucap Jeni.
Hendry tersenyum dan duduk. Begitupun dengan Nabila.
"Mari kita mulai saja meetingnya," ucap Hendry mengawali.
Kavin diam. Suasana benar-benar terasa canggung, khususnya baginya dan Nabila. Sebab, jika di hitung dengan waktu, sudah puluhan tahun keduanya tidak bertemu.
Nabila diam dan menunduk. Perasaannya benar-benar berubah kacau. Jika cinta mudah untuk dilupakan, mungkin Nabila tidak akan serindu ini. Ia benar-benar merindukan laki-laki di hadapannya. Tatapan Kavin, senyum Kavin, suara Kavin, semuanya masih terdengar sama. Sama seperti sebelum ia pergi dan mengikhlaskan laki-laki itu pada wanita yang dicintai.
"Bagaimana, Pak?" ucap Jeni pada atasannya.
Kavin memijat keningnya. Kehadiran Nabila benar-benar membuatnya gelisah. Meskipun ia tak lagi memiliki rasa cinta pada wanita itu, rasa bersalahnya tak dapat ia lupakan. Semakin terpampang nyata saat wanita itu berada di hadapannya.
Selama ini Kavin selalu berharap agar Nabila tak lagi muncul di hadapannya. Namun apa daya? Ini semua sudah garis Tuhan. Ia tidak bisa menghindarinya.
"Pak? Bagaimana Pak?"
Kavin tersentak kaget. Ia menoleh pada Jeni yang tengah menunggu jawabannya. "Iya? Kenapa?" tanyanya bingung.
"Bagaimana kalau kita mulai meetingnya?"
Kavin mengangguk. "Mari, mari," ucapnya dan berusaha terlihat tak ada masalah.
Nabila menghela napas dan menunduk. Ia tahu apa yang tengah Kavin pikirkan, hingga tak fokus dengan meeting ini.
-o0o-
"Bima! Ambilin mangga yang itu!" teriak Elsa pada laki-laki yang kini tengah berada di atas pohon mangga.
"Yang mana?!" teriak Bima kebingungan.
"Itu! Yang deket pala lo!" teriak Elsa kembali seraya menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Yang mana, Elsa?!"
Elsa berdecak. "Itu, atas pala lo!"
Bima mendongak ke atas. Benar, Tiga buah mangga yang terlihat matang berada tepat di atasnya. Ia kembali menaiki batang pohon agar sampai untuk meraih mangga yang Elsa maksud.
"Iya, itu Bim, bener!" ucap Elsa.
"SABAR! GUE SUSAH NAIKNYA!"
Kaila terkekeh. Ia menoleh pada laki-laki di sampingnya yang tengah menatap ke arah atas. "Kenapa gak ikutan naik?" tanya Kaila penasaran.
Kana menggeleng. "Biar dia aja."
Kaila tertawa dan mengikuti arah pandangan Kana. "Baru kali ini pohon mangga ini di naikin temen-temen gue."
__ADS_1
"Kenapa bisa gitu?"
"Ya karena ini pertama kalinya temen-temen gue dateng buat main ke sini."
Kana tersenyum. "Semoga akan seterusnya."
Kaila mengangguk dan tersenyum.
"Sebentar lagi pengumuman SNMPTN. Lo ambil dimana?" tanya Kana.
Kaila menggigit bibir bawahnya. "Jogja."
Kana melebarkan mata. "Seriusan? Sama dong?"
Kaila mengangguk. Tentu saja sama. 'Kan Kaila ingin menyusili Kana. Karena itu Kaila mengambil jurusan dan kampus yang sama.
"Jurusan apa?" tanya Kana penasaran.
"Emm—" Kaila menganggantungkan ucapannya. "Ked—"
"WOY! KANA! BANTUIN GUE, LO!" teriak Bima pada Kana membuat Kaila menghentikan ucapannya.
Kana menggeleng. "LO AJA! GUE NUNGGU BUAHNYA TURUN!"
"DASAR! GAK ADA PERJUANGANNYA LO!"
Elsa tertawa. "Apa hubungan mangga sama perjuangan, woy?"
"DIEM, EL! LO CEWEK!" teriak Bima.
"Terus apa hubungannya kalau gue cewek, Bambang?"
"CEWEK ITU GAK PERNAH TAHU BETAPA BESARNYA PERJUANGAN COWOK! CEWEK ITU SELALU MEREMEHKAN PERJUANGAN COWOK! KADANG CEWEK JUGA SUKA LUPA, SIAPA YANG BIKIN DIA SENYUM, SIAPA YANG BIKI DIA KETAWA."
Elsa memutar bola matanya. "Terus faedah lo curhat di atas pohon apa, woy?"
Kaila terkekeh. "Namanya juga Bima, El. Bukan Bima kalau gak ngelucu."
Kana menoleh dan melebarkan mata. "Kaya gitu lucu? Lucu dari mananya? Astaga!" ucap Kana tak habis pikir.
"Bima! Cepetan!" pekik Elsa.
Bima menghela napas dan menatap bawah. "Sabar, Lastri!"
"Asik! Tadi Bima dipanggil Bambang, terus Elsa di panggil Lastri," goda Kana membuat Kaila ikut tertawa.
"DIEM LO!" teriak Bima.
Elsa mengangguk. "Iya, apa sih Kana ini."
Kaila terkekeh. "Kalau gue perhatiin, kayanya Elsa sama Bima cocok."
Elsa melebarkan mata. "Dih, ogah banget cocok sama tuh orang!"
"Lo pikir gue mau di kata cocok sama lo? Ogah juga, kali! Gue 'kan cocoknya sama Kaila. Kaila, Bima." Bima tersenyum. "Cocok 'kan, Kai?"
"GAK! GAK ADA COCOK-COCOKNYA!" pekik Kana.
Kaila tersenyum dan menyenderkan tubuhnya pada kaki kursi yang berada di belakangnya. Ia benar-benar bahagia kali ini.
'Gedebug!'
"BIMA!" pekik Elsa seraya memegang kepalanya yang terasa panas.
Bima melebarkan mata. "Elsa, maaf! Gue gak tahu kalau mangganya jatuhin pala lo!"Kaila dan Kana tertawa.
"Mereka kaya kucing dan anjing," ucap Kana.
Kaila mengangguk membenarkan dan kembali terawa.
-o0o-
__ADS_1
Kavin bangkit dari duduknya dan menjabat tangan Hendry. "Terima kasih Pak Hendry, atas kepercayaannya untuk bekerja sama dengan perusahaan kami."
Hendry tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, Pak Kavin. Kami juga sangat senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Bapak. Saya sangat tahu jika perusahaan Pak Kavin terkenal kompeten dan hebat. Saya tidak sia-sia menerima kerja sama ini."
Kavin tersenyum. "Semoga kerja sama ini berjalan sesuai dengan harapan kita."
Hendry mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Hendry dan mengajak istrinya untuk pergi. "Ayo, sayang."
Nabila mengangguk, lalu menoleh pada Kavin. Keduanya saling memandang. "Saya permisi," ucapnya.
Kavin mengangguk dan membiarkan sepasang suami istri itu pergi.
"Meskipun udah sangat lama, kenapa rasa bersalahnya masih sama?" lirih Kavin dalam hati.
"Pak Kavin, ayo pergi!"
Kavin tersentak dan menoleh. "Iya?"
"Mari kita pergi."
Kavin mengangguk dan meraih barang-barang miliknya.
-o0o-
"Jadi laki-laki itu teman sekolah kamu?" tanya Hendry pada istrinya setelah meninggalkan restoran tadi.
Kini keduanya telah berada di dalam mobil.
Nabila mengangguk. Ia tak berani memandang wajah suaminya. Baginya, suaminya tetap sama. Kasar dan mengerihkan. Meskipun di mata orang lain suaminya adalah lelaki yang baik, hal itu tak berlaku bagi Nabila.
Nabila menoleh pada tangan Hendry yang sudah mengepal membentuk buku-buku pada jarinya.
"Kamu yakin kalian cuma teman sekolah?!" tanya Hendry membuat Nabila takut.
Nada bicara Hendry benar-benar terdengar menakutkan. Laki-laki itu terlihat tengah mengintimidasi istrinya.
"JAWAB!" bentak Hendry membuat Nabila tersentak.
Suaminya benar-benar lelaki jahat yang hebat memakai topeng saat bertemu dengan orang luar. Dan melepasnya setelah orang lain tak berada di sekitarnya.
Nabila menunduk. Ia tak berani menoleh.
"Kamu yakin kalian cuma teman sekolah?"
Nabila mengangguk.
"Tapi kenapa kalian terlihat tidak seperti teman sekolah biasa?" Hendry menghela napas. "Tatapan mata kalian—"
"Cukup, Mas! Cukup berusaha cari-cari kesalahan aku!"
Hendry melebarkan mata. "Aku gak cari-cari kesalahan kamu! Aku cuma nanya!"
Nabila menunduk. "Maaf Mas."
Hendry menatap istrinya tajam. "Jadi kamu ada sesuatu sama dia?"
Nabila menggeleng.
"Tapi kenapa tatapan mata kalian—"
Nabila menghentakkan kakinya dan memberanikan diri menatap mata suaminya. "Aku bilang, cukup! Cukup cari celah buat nyakitin aku. Aku capek sama semua ini, Mas! Aku capek ngerasaain ini sendirian! Aku capek dengan kepribadian kamu!" bentak Nabila dengan air mata yang mulai luruh.
Seperti tidak dapat di bendung lagi, air mata Nabila mengalir dengan derasnya.
Melihat Nabila menangis. Hendry seperti panik. Pria itu memeluk istrinya dan mencium pucuk kepalanya.
Nabila mencoba melepas pelukan itu. Namun semakin ia mencoba, pelukan Hendry semakin kuat dan terasa menyakitkan. Ini bukanlah pelukan cinta yang suami berikan pada istrinya.
"Kamu milik aku. Kamu milik aku," ucap Hendry tak berhenti.
Nabila menangis. Sampai kapan ia terjebak dalam rumah tangga ini?
__ADS_1
Menikah dengan lelaki kaya yang memiliki gangguan mental.
-o0o-