KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 42


__ADS_3

Part 42


Sebuah motor menghentikan lajunya. Menurunkan seorang laki-laki yang tengah melepaskan helm yang di kenakan.


Kaila yang baru saja pulang di antarkan oleh Elsa pun mengerutkan dahinya. Ia turun dari mobil dan memperhatikan pemilik motor yang kini berdiri di depan rumahnya.


"Kai, gue langsung pulang ya?" ucap Elsa.


Kaila mengangguk. "Hati-hati ya!" ucapnya lalu menghampiri laki-laki yang kini tengah memandang ke arah rumahnya.


"Kana?"


Sang pemilik nama menoleh dan tersenyum ke arahnya. "Baru pulang?"


Kaila mengangguk. "Lo kenapa gak ke sekolah?"


Kana menggeleng dengan senyuman. "Gak papa," jawabnya. "Kai, gue pengen bicara sama lo."


"Kalau gitu, ayo masuk ke dalam!"


Kana mengangguk dan mengikuti langkah Kaila.


"Disini aja Kai," ucap Kana menunjuk gazebo.


Kaila mengangguk. "Kalau gitu gue ambil minum dulu ya?"


Kana mengangguk dan berjalan menuju gazebo. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana.


Tak lama, Kaila keluar dengan membawa minuman. "Minumnya Kan."


Kana mengangguk dan langsung meneguknya.


Kaila tersenyum memandang laki-laki di hadapannya. "Tahu gak? Lusa, SMA kita ngadain promnight loh!" ucap Kaila yang begitu senang dengan di adakannya promnight mendatang.


"Oh ya?" tanya Kana.


Kaila mengangguk. "Harinya barengan sama pengumuman kelulusan dan SNMPTN." Kaila tertawa kecil. "Gak sabar sih buat lihat pengumuman SNMPTN. Semoga kita lolos ya, Kan?"


Kana tersenyum. "Gue do'ain semoga lo lolos SNMPTN dan di terima kedokteran."


"Aamiin," ucap Kaila lalu tersenyum. "Gue juga doain semoga lo lolos juga."


Kana tersenyum tipis dan mengangguk.


"Oh ya, lo tahu gak? Besok seluruh kelas Dua Belas di suruh dateng buat ambil secret letter loh."


Kana mengerutkan dahinya. "Secret letter?"


Kaila mengangguk. "Surat rahasia yang isinya dengan siapa kita di pasangin di acara promnight. Tapi, kita gak bisa tahu dia siapa. Karena kita bakal pakai nama rahasia dan juga topeng." Nada bicara Kaila tiba-tiba berubah sedih.


"Kok lo sedih gitu?"


Kaila mengangguk dan memandang wajah Kana. "Gue sedih karena gak bisa milih dengan siapa gue di pasangin."


Kana tertawa kecil. "Memangnya lo pengennya di pasangin sama siapa?"


Kaila tersenyum malu dan menggeleng. Ia pun meraih ponselnya dan berusaha menyibukkan diri agar tak terlihat malu di hadapan Kana.


"Kai."


Kaila mengangkat wajahnya dan memandang laki-laki di hadapannya dengan penuh tanya. "Ada apa?"

__ADS_1


Kana mengetukkan jarinya di meja. "Gue—"


"Kaila."


Kana menghentikan ucapannya. Keduanya menoleh saat mendengar seseorang menyebut nama Kaila.


"Bima, ada apa?" tanya Kaila yang menyadari jika itu adalah Bima.


Senyum Kaila mengembang melihat Bima datang kemari. Memang benar, semenjak kejadian di taman itu, Bima tak pernah lagi datang kemari ataupun menghubunginya.


Bima berjalan menghampiri Kaila dan menyerahkan sesuatu. "Masakan dari Mama, buat lo."


Kaila meraihnya dan memandangnya dengan mata berbinar. Ia terlihat begitu senang mendapat kiriman masakan dari Mamanya. "Mama tahu banget apa yang gue pengenin sekarang."


Bima tersenyum.


"Makasih banyak ya?" ucap Kaila.


Bima mengangguk. "Sama-sama."


Kaila tersenyum dan kembali memandang makanan tersebut. Rupanya di dalamnya sudah terdapat sendok. Kaila segera meraih sendok itu dan mencicipi makanannya.


"Enak!" ucap Kaila membuat kedua laki-laki yang berada di situ tersenyum senang. "Mau coba gak?" tanyanya pada Bima dan Kana.


Bima dan Kana menggeleng menjawabnya.


"Oh ya, Mama apa kabar?" tanya Kaila berusaha kembali mengakrabkan diri pada Bima.


Meskipun Kaila sadar, tatapan Bima padanya masih terlihat dingin.


"Mama baik-baik aja. Sekarang Mama lagi sibuk urus perceraian, jadi belum bisa jengukin lo."


Kaila melebarkan mata. "Mama urus perceraian?"


Kaila mengangguk setuju.


Bima tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Ini buat lo," ucapnya pada Kaila.


Kaila meraih kotak kecil dari tangan Bima. "Ini apa?" tanya Kaila.


Bima tersenyum. "Itu kalung Mama Bina. Tadinya mau gue kasih ke Mama Bila, cuma kayanya kurang enak kalau gue kasih ke Mama Bila." Bima kembali menyunggingkan senyumnya. "Lo pakai ya?"


Kaila mengangguk ragu, lalu menoleh pada Kana.


"Pakai aja," ucap Kana.


Kaila mengangguk dan langsung mengenakan kalung tersebut.


Melihat Kaila mengenakanannya. Bima tersenyum. "Kai."


Kaila menoleh dan memandangnya penuh tanya. "Kenapa?"


"Besok gue berangkat ke Jerman."


Kaila melebarkan mata mendengarnya. "Lo serius?"


Bima mengangguk dengan senyuman. "Selama gue di Jerman, tolong jagain Mama ya? Meskipun nanti bokap gue cerai sama Mama Bila, mau bagaimana pun Mama Bila tetap Mama gue."


Kaila mengangguk. "Gue akan jagain Mama."


Bima tersenyum dan mengusap pucuk kepala Kaila. "Makasih ya udah jadi adik gue."

__ADS_1


Kaila menitihkan air mata mendengar ucapan Bima.


"Jangan nangis," ucap Bima seraya tertawa kecil.


Kaila menggeleng. "Gue seneng lo gak marah lagi sama gue."


"Gue gak pernah marah sama lo, Kai. Kemarin-kemarin gue cuma butuh waktu aja buat terima semuanya. Meskipun gue gak bisa dapetin lo sebagai pacar gue, gue bersyukur karena bisa punya adik kaya lo."


Kaila mengangguk dan menyeka air matanya yang kembali menetes.


"Jangan nangis," ucap Bima.


Kaila menggeleng. "Gue gak nangis."


Bima tertawa dan berjongkok di hadapan Kaila. Ia meraih tangan Kaila dan menggenggamnya. "Lo harus bahagia ya?"


Kaila mengangguk. "Gue pasti bahagia."


Bima mengangguk dan bengkit. Ia menoleh pada Kana. "Gue pergi ya Kan? Makasih banyak udah jadi musuh gue."


Kana tertawa. "Makasih juga suka cari ribut sama gue."


Bima tertawa dan menggelengkan kepala. Ia kembali menoleh pada Kaila dan menyeka air mata gadis itu. "Gue pergi ya?"


Kaila mengangguk.


Bima tersenyum dan berjalan meninggalkan Kaila bersama Kana.


Meskipun berat, Bima harus bisa melakukannya. Keputusannya ini adalah yang terbaik. Ia keluar dan merasakan kebebasan yang selama ini ia cari.


"Kak Bima!" teriak Kaila membuat Bima menghentikan langkahnya.


Bima berbalik badan dan memandang Kaila.


"Hati-hati!"


Bima mengangguk, melambaikan tangannya dan berjalan pergi.


Dada Kaila terasa sesak. Ia benar-benar sedih melihat Bima yang harus pergi. "Benar kata Elsa, perlahan tapi pasti, semua orang akhirnya akan pergi."


Kana tersenyum tipis dan memeluk Kaila. "Lo gak boleh sedih."


"Bima pergi, Elsa bakal pergi, semuanya aja pergi." Kaila memejamkan mata dalam dada bidang Kana.


Kana tahu bagaimana perasaan Kaila saat ini. Ia mengusap pucuk kepala Kaila mencoba menenangkannya.


"Kan."


Kana melepas pelukannya dan menatap Kaila penuh tanya.


"Katanya lo mau bicara sesuatu?"


"Hmm?" Kana menaikkan kedua alisnya.


Kaila mengangguk. "Mau bicara apa?"


Kana diam beberapa saat, lalu menggeleng. "Gak penting kok," ucapnya lalu tersenyum.


Kaila mengangguk mengerti lalu menyenderkan kepalanya di bahu Kana. "Besok jemput gue ya kalau mau ambil secret letter?"


Kana mengangguk membuat Kaila tersenyum dan memejamkan matanya dalam bahu Kana.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2