
Part 39
“Kamu yakin sama keputusan kamu ini? Tapi ‘kan dia udah urus sendiri segala keperluannya,” ucap Kavin yang tengah berbicara dengan Alina di telepon.
“Iya, aku tahu. Tapi selagi kita bisa kasih yang terbaik buat dia, kenapa enggak?” ucap Alina di seberang sana.
Kavin menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba mencerna semua rencana yang Alina jelaskan. “Tapi aku kurang yakin, Yang. Apalagi dia ‘kan sering cerita ke kita tentang keinginan dia setelah—”
‘Tok! Tok! Tok!’
Kavin menoleh ke arah pintu.
“Sebentar ya. Nanti aku telpon lagi.” Kavin menutup sambungannya dan kembali ke kursi.
‘Ceklek!’
Pintu terbuka dan menampilkan Jeni yang berjalan menghampiri dengan membawa beberapa map di tangannya.
“Kenapa, Jen?” tanya Kavin yang melihat sekretarisnya terlihat bimbang.
Jeni menunduk. “Pak, maaf. Ini Pak, anu—”
“Apa? Bicara yang jelas, coba. Tarik napas, duduk dulu, baru bilang.”
Jeni menghela napas dan menarik kursi yang berada di hadapan Kavin. Ia duduk dan menatap Kavin dengan rasa takut.
“Kamu ini kenapa?”
“Begini, Pak. Saya mau bilang soal kerjasama kita sama perusahaan Pak Hendry.”
Kavin mengerutkan dahinya. “Ada apa?”
“Saya ngerasa ada yang salah, Pak.”
“Maksud kamu?”
Jeni mengeluarkan kertas dari dalam map dan memperlihatkan pada Kavin. “Perjanjian yang tertulis sangat berbeda jauh dengan apa yang udah Pak Hendry berikan sekarang, Pak. Bahkan perusahaan mereka pun memberikan keuntungan kepada kita tidak sampai Sepuluh persen.”
Kavin mengerutkan dahinya. “Kamu yakin?”
Jeni mengangguk. “Saya sangat yakin, Pak. Tadi saya udah bicara sama pihak keuangan, dan benar Pak, semuanya gak sesuai dengan perjanjian yang kita buat. Padahal yang kita tahu, produk yang terjual di pasaran sangat tinggi.”
“Coba lihat.”
Jeni mengangguk dan menyerahkan kertas itu pada Kavin.
Kavin meraih kacamatanya dan membaca kontrak perjanjian dan data itu dengan seksama. Benar ucapan Jeni, ada yang tidak beres dengan kerjasama yang mereka jalani saat ini.
Kavin menggelengkan kepala dan menaruh kembali kertas itu ke atas meja. “Kamu udah coba hubungin dia?”
Jeni mengangguk. “Sudah, Pak. Tapi nomornya gak aktif.”
“Kantornya?”
“Saya juga sudah hubungi nomor telpon kantornya, tapi gak di angkat, Pak. Bahkan saya juga sudah kirim email dan semacamnya melalui sekretarisnya, tapi tidak ada satupun balasan, Pak.”
Kavin mengepalkan tangannya. “Jadi, mereka udah nipu kita?”
Jeni mengangguk pelan. “Bisa di bilang begitu, Pak.”
“Kurang ajar!”
“Pak,” panggil Jeni lirih.
Kavin menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
“Apa kita laporin ini ke polisi aja, Pak?” tanya Jeni dengan hati-hati.
Kavin terdiam. Mendengar usulan Jeni, ia menjadi teringat pada ucapan Nabila saat di swalayan.
Kavin menggigit bibir bawahnya. “Apa ini waktu yang tepat buat bantu Nabila?” lirihnya.
“Kenapa, Pak?” tanya Jeni yang mendengar ucapan Kavin.
Kavin menggeleng. “Enggak, gak papa.” Kavin menghela napas dan melepas kacamatanya. “Sepertinya kita perlu cari bukti lagi kalau perusahaan mereka memang udah menipu perusahaan kita. Setidaknya kita punya bukti akurat untuk di bawa ke pengadilan.”
“Baik, Pak. Saya akan cari bukti lain yang bisa memperjelas.”
Kavin mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi, Pak.”
“Iya.” Kavin memijat keningnya yang terasa pusing. “Ada-ada aja sih.” Kavin menghela napas dan meraih ponselnya kembali. Ia sudah berjanji untuk menelpon Alina.
-o0o-
Naira memandang wajah Nabila dengan penuh tanya. Kakaknya tetap diam dan tak berani menatapnya. “Siapa yang udah nabrak Kiara, Kak?”
Nabila menunduk.
“Kak. Jawab! Siapa yang udah nabrak Kiara?!”
Nabila mengusap air matanya yang jatuh dan memberanikan diri memandang adiknya. “Papanya Bima. Suami Kakak sekarang. Dia yang udah menabrak Kiara sampai meninggal.”
Naira melebarkan mata dan menutup mulutnya tak percaya. “Jadi Kakak menikah sama pembunuh anak Kakak sendiri?”
Nabila kembali menangis. “Bukan gitu, Nai.”
Naira menggelengkan kepala dan menatap Nabila tak percaya. “Bukan gitu gimana sih, Kak? Gimana ceritanya Kakak bisa menikah sama orang yang udah bikin anak Kakak meninggal?” Naira mengusap wajahnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kakaknya tersebut.
Nabila menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. “Saat itu, Kakak bingung, Nai. Kakak gak tahu harus gimana. Kakak benar-benar hancur.” Nabila menghela napas. “Melihat Kakak terpuruk, orang itu menghampiri Kakak dan bilang akan tanggung jawab.”
Nabila mengangguk. “Kakak pikir, dengan Kakak terima tawaran dia, Kakak bisa lupain semuanya dan memulai hidup baru dengan dia.”
Naira menggelengkan kepala tak habis pikir.
“Tapi Kakak salah, Nai. Kakak sama sekali gak bahagia hidup sama dia.”
Naira menggelengkan kepala. “Jujur, aku gak ngerti sama Kakak. Kenapa Kakak mau nikah sama laki-laki jahat seperti dia?!”
“Kakak gak tahu, Nai! Kakak gak tahu kalau ternyata seperti ini. Kakak gak pernah berpikir kalau ternyata Kakak udah ambil jalan yang salah.”
“Saat Kakak ninggalin Kaila, Kakak udah ambil jalan yang salah!”
Nabila menunduk. “Kakak tahu Kakak salah, Nai. Tapi coba kamu berada di posisi Kakak. Lulus kuliah Kakak menikah dengan orang pilihan Mama. Apa kamu pikir saat itu Kakak bahagia? Enggak, Nai!”
“Tapi tetep aja, Kak. Kakak salah!”
“IYA, KAKAK SALAH! KAKAK MEMANG SELALU SALAH! APA YANG UDAH KAKAK AMBIL MEMANG SALAH! SEMUA SALAH KAKAK!” Nabila menutup wajahnya dan menangis.
Naira menghela napas panjang. Ia mendekat dan kembali memeluk kakaknya.
“Ma—maafin Kakak, Nai.”
Naira mengangguk. Ia mengusap punggung Nabila dan membiarkan kakaknya menangis dalam pelukannya.
“Jadi, itu alasan Kakak kasih nama anak kakak sama suami baru Kakak, Kiara?” tanya Naira seraya memandang wajah Nabila.
Nabila mengangguk. “Seenggaknya Kiara anak kakak yang sekarang, bisa ngobatin rasa rindu kakak sama Kiara yang dulu.”
Naira tersenyum dan kembali memeluk kakaknya.
__ADS_1
-o0o-
Senyuman Kaila terpancarkan saat bersama Kiara. Keduanya tengah asik bermain ayunan. Tersenyum dan tertawa bersama. Seperti kakak beradik pada umumnya.
Di sisi lain, terlihat Bima tengah memandang keduanya dengan tatapan luka. Laki-laki itu benar terluka. Ia begitu mencintai Kaila dan ia rasa, ia sudah hampir untuk mendapatkan hati Kaila. Namun, kenyataan harus menyadarkan jika perasaannya itu hanya sia-sia. Meskipun mereka hanya saudara tiri, mereka memiliki Kiara. Adik yang memiliki darah yang sama dengan keduanya.
Bima menggeleng dan mengusap wajahnya frustasi. Ia benar-benar seperti laki-laki yang tengah patah hati. Bagaimana bisa ia mencintai anak dari seorang wanita yang kini menjadi Ibunya?
“Kak Bima! Sini ikutan!” teriak Kiara.
Bima mengangkat wajahnya dan menoleh.
“Kakak! Sini! Main ayunan sama kita!” teriak Kiara dengan gelak tawa.
Bima tersenyum lalu memandang gadis di sebelah Kiara. Melihat Kaila tersenyum saja, membuat hatinya kembali sakit.
“Kenapa gue gak bisa miliki lo, Kai?” lirihnya lalu membuang pandangannya ke arah lain. Ia menghela napas dan meraih ponselnya.
Dengan penuh luka, Bima memandang latar belakang layar berandanya. Dimana, disitu adalah foto Kaila. “Gue udah salah pasang foto lo disini.”
“Bim.”
Bima terkejut. Ia segera mematikan ponsel dan memasukkan kembali ke dalam saku. Ia menoleh dan memandang Kaila yang sudah berada di sampingnya.
“Boleh gue duduk?” tanya Kaila.
Bima mengangguk dan memberikan tempat untuk Kaila duduk.
Kaila tersenyum dan memandang Bima yang kini duduk di sampingnya. “Lo— kenapa?”
Bodoh! Kaila sangat bodoh bertanya hal itu. Tentu saja Bima terluka.
Bima menyunggingkan senyumnya. “Seperti yang lo lihat.”
Kaila mengangguk. “Lo, belum bisa terima ya kalau gue ternyata adik tiri lo?” tanya Kaila hati-hati.
Bima tersenyum. “Jelas, Kai. Bukan ini yang gue mau.” Bima memandang lurus dengan pandangan kosong.
“Gue minta maaf, Bim.”
“Lo gak salah apa-apa. Gue yang salah udah suka sama lo, Kai.”
Kaila menunduk beberapa detik dan meraih tangan Bima. “Meskipun begitu, gue senang Bim punya kakak seperti lo.”
Bima tersenyum miring. “Gue bukan kakak yang baik buat lo, Kai. Gue ngerasa gak pantes jadi kakak lo setelah apa yang udah bokap gue lakuin.”
Kaila menggeleng. “Lo gak tahu apa-apa, Bim. Jadi berhenti menyalahkan diri lo sendiri.”
Bima menghela napas. “Gue malu sama lo, Kai. Gue malu.”
Kaila menggeleng dan menggenggam tangan Bima. “Enggak, Bim. Lo jangan bicara seperti itu.”
Bima berdecak. “Lihat, sekarang gue gak bisa apa-apa. Gue cuma bisa terima takdir dan mencoba tersenyum meskipun ini sulit banget buat gue.”
“Bim.”
Bima tersenyum, melepas tangan Kaila darinya dan bangkit. “Gue butuh waktu buat terima semua ini.” Ia menghela napas. “Tolong jagain Kiara. Bilang sama Mama, gue pulang duluan,” ucapnya dan berlalu pergi.
“Bim!”
Bima tersenyum. “Maafin gue udah suka sama lo,” lirihnya dan melanjutkan langkahnya.
Kaila memandang punggung Bima yang mulai menjauh. Ia tahu bagaimana perasaan Bima saat ini. Namun, ia tak bisa apa-apa. Takdir yang sudah menentukan.
“Maafin gue Bim, gue juga hampir suka sama lo.”
__ADS_1
...-o0o-...