KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 49


__ADS_3

Part 49


Kaila menghela napas panjang lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"PERHATIAN! PERHATIAN! PARA PENUMPANG PESAWAT INDONESIA DENGAN NOMOR PENERBANGAN PI148 DENGAN TUJUAN JERMAN DI PERSILAHKAN NAIK KE PESAWAT UDARA MELALUI PINTU NOMOR SATU."


Kaila meraih kopernya dan melangkah pergi.


"Apapun alasan lo, maafin gue Kan, gue harus pergi."


Kana tersenyum tipis dan menarik kopernya dengan langkahnya.


"Kaila!"


Kaila menghentikan langkahnya.


Seseorang memanggilnya?


"Kaila!"


Kaila terdiam, lalu berbalik badan.


"Please lo jangan tinggalin Kana!" teriak orang itu dengan napas terengah-engah.


Kaila mengerutkan dahinya. Untuk apa Gisele kemari dan mengatakan hal itu?


Gisele mengambil napas dalam dan kembali melanjutkan ucapannya. "Lo bego kalau lo pergi gitu aja!"


Kaila terdiam tak mengerti.


Gisele melangkah mendekat dan menghampiri Kaila. "Kana cinta banget sama lo. Dia gak mau lo pergi. Please, jangan tinggalin dia, Kai. Semarah-marahnya lo sama dia, please jangan tinggalin dia. Gue tahu, apa yang udah gue lakuin terlalu fatal. Tapi please Kai, Kana gak salah apa-apa, gue yang minta kesempatan dia untuk gue peluk."


Kaila mengangguk.


"Please, jangan pergi. Jangan tinggalin Kana. Tolong percaya sama Kana," ucap Gisele seraya meraih tangan Kaila. "Gue tahu gimana perasaan lo. Tapi gue mohon, Kai. Gue gak mau dibilang dalang dari rusaknya hubungan lo sama Kana. Gue gak mau."


Kaila mengerutkan dahinya. "Bukannya itu yang lo mau?"


Gisele mengangguk. "Awalnya memang gitu. Awalnya gue ingin hubungan kalian berdua hancur sehancur-hancurnya. Tapi momentnya gak tepat, Kai."


"Maksud lo?" tanya Kaila tak mengerti.


Gisele menunduk. "Nama gue udah jelek disini. Mungkin kalau sekarang lo buka sosmed, muka gue bakal muncul dimana-mana." Gisele tersenyum miring. "Hutang gue dimana-mana. Gue malu, Kai. Bahkan tadi gue dilaporin ke polisi sama mereka-mereka yang punya urusan sama gue. Gue gak ngerti, padahal gue udah minta waktu buat gue kelarin semua ini, tapi—" Giesele menghela napas. "Yaudahlah, semua udah terjadi juga. Mau gak mau gue harus segera tebus semuanya dan pergi dari sini."


Kaila menelan salivanya dengan susah payah.


"Sekarang lo liat, 'kan? Nama gue udah jelek. Gue malu buat munculin batang hidung gue ke Kana. Dan sekarang, untuk apa gue ngejar-ngejar Kana lagi?"


Kaila tak tahu harus menjawab apa.


"Jadi please gue mohon, tolong lo kembali ke Kana. Gue gak mau disebut sebagai alasan lo pergi dari Kana."


Kaila menggeleng. "Gue gak bisa."


"Kenapa, Kai? Kenapa gak bisa? Lo bakal tenang setelah ini. Gak ada lagi gue yang selalu ganggu hubungan kalian!"


"Tapi gue gak bisa, Sel!"


"Tapi lo jangan egois gini dong, Kai. Dengan lo pergi gini, semua bakal ngira gue penyebabnya!"


Kaila menghela napas. "Gue udah janji sama nyokap gue, gue udah janji buat nyokap untuk kembali ke Jerman! Please, biarin gue egois, gue cuma pengen lihat kebahagiaan nyokap gue."


"Tapi nyokap lo pasti bakal ngerti, Kai. Lo jangan kaya gini. Gue tahu lo sebenarnya gak pengen 'kan pergi? Lo masih pengen sama Kana 'kan?"


Kaila menggeleng.


"Jangan bohong, Kai," ucap Gisele.


Kaila menggeleng.


Gisele berdecak. "Gue tahu lo bohong. Please Kai! Jangan kaya gini. Gue gak mau disebut pelakor!"


"Tapi lo memang pelakor!" teriak Kaila.

__ADS_1


'Plak!'


Satu tamparan lolos ke wajah Kaila.


Kaila melebarkan mata dan menatap tajam tangan Gisele yang berhasil menamparnya. Pipi Kaila memerah akibat tamparan itu.


"Pergi aja sana kalau lo mau!"


Kaila menggeleng lalu menatap Gisele dengan tatapan sulit di artikan. "Asal lo tahu, Sel, sisa umur nyokap gue gak banyak. Gue gak bisa tinggalin dia disana!" teriak Kaila tak kalah kuat.


Gisele mengerutkan dahinya. "Tapi kenapa lo kesini?"


"Karena gue mau mastiin dia baik-baik aja."


Gisele memejamkan mata. Lalu kembali menatap Kaila. "Kembali ke Kana, please."


Kaila menggeleng. "Biarin gue pergi, dan terima kasih atas tamparannya," ucap Kaila lalu melangkah pergi.


"LO BODOH, KAI! LO BODOH! KENAPA LO TINGGALIN KANA?!" teriak Gisele yang melihat Kaila menjauh dari pandangannya.


Di lain sisi, Kaila terlihat menangis. Ia sebenarnya tak ingin meninggalkan Indonesia. Namun, ini semua sudah menjadi keputusannya. Ia sudah berjanji pada Nabila untuk kembali.


"Maafin gue, Kan."


-o0o-


Kana mengusap wajahnya gusar. Ia menyandarkan kepalanya di kursi dan memejamkan mata.


"Lo sadar gak sih, Gisele gak ada tiba-tiba," ucap Wilka pada Kevin di sebelahnya.


Kevin menggeleng. "Emang iya?"


Wilka mengangguk. "Tadi pagi gue lihat dia godain Kana."


"Kalian gak tahu? Gisele 'kan kena kasus," ucap salah seorang teman sekelas mereka.


Wilka menoleh. "Kasus apaan?"


Wilka meraih ponselnya dan membuka aplikasi instagram miliknya. Matanya melebar saat wajah Gisele terpampang dimana-mana.


Wilka menoleh pada Kevin.


"Dia pasti malu sekarang," ucap Kevin.


Wilka mengangguk setuju. Lalu menoleh pada Kana yang masih terlihat kehilangan Kaila.


"Kan."


Kana tak menoleh.


"Kana," lirih Wilka.


"Biarin gue nenangin pikiran gue dulu, Wil."


Kana mengangguk dan duduk di kursinya. Ia memandang laki-laki di sampingnya itu dengan tatapan iba.


"Biarin Kana nenangin dirinya dulu," ucap Kevin dan di angguki oleh Wilka.


-o0o-


Sepulang dari kampus, Kana terlihat begitu lesu. Laki-laki itu bahkan tak menunjukkan semangat hidupnya. Ia berjalan menuju parkiran dengan raut wajah di tekuk.


Wilka menghela napas menatap laki-laki itu. "Aku gak tega Vin sama Kana. Aku kita coba bujuk Kaila aja buat kembali?"


"Gimana caranya? Nomor Kaila aja kita gak punya," ucap Kevin.


Wilka menghela napas dan menekuk wajahnya.


'Drrrtttt!'


Kevin meraih ponselnya yang berada di dalam saku.


"Siapa?"

__ADS_1


Kevin menghela napas panjang dan menutup mulutnya. "Kaila!"


"Hah?" ucap Kana yang mendengar suara Kevin.


Laki-laki berlari menghampiri Kevin dan Wilka.


"Angkat cepet," ucap Wilka.


"Sini biar gue aja," ucap Kana.


"Jangan! Biar Kevin aja," ucap Wilka. "Lo jangan bersuara. Kita dengerin Kaila mau ngomong apa."


Kana mengangguk setuju.


Kevin menarik napas kembali dan mengangkat panggilan itu.


"Halo?"


"Halo, Vin," ucap Kaila di seberang sana.


Kevin menggigit bibir bawahnya. "Aku apa kabar? Kamu dimana sekarang?"


"Vin, aku boleh minta tolong sama kamu?" ucap Kaila.


Kevin mengangguk. "Boleh, Kai. Kamu mau minta tolong apa?"


"Tapi disini gak ada Kana 'kan?"


Kevin melebarkan mata lalu menoleh pada Kana dan Wilka.


"Bilang gak ada," lirih Wilka. Kana pun terlihat setuju.


"Gak ada kok, Kai," jawab Kevin akhirnya.


"Baguslah, kalau dia gak ada disitu. Aku pengen kamu sampain ini ke Kana, Vin. Karena, aku gak bisa kalau harus bicara langsung sama dia. Aku gak tega. Kamu tolong rekam suara aku ini ya." Kaila terlihat menghela napas dan melanjutkan ucapannya. "Kana, makasih banyak. Makasih banyak. Makasih banyak atas semua yang udah kamu kasih buat aku. Kasih sayang kamu, perhatian kamu, cinta kamu, bahkan hal kecil yang bisa buat aku bahagia pun selalu kamu kasih buat aku."


Kana menunduk, dan mendengarkan suara Kaila.


"Aku pergi, ya? Aku bukannya egois atau terlalu gegabah. Ini udah pilihan yang udah aku buat dan aku pikir secara matang-matang, Kan. Usia Mamaku udah gak lama lagi. Aku pengen ada disisi dia. Kamu tahu 'kan gimana dulu susahnya aku cari Mamaku. Sampai aku kerja part time di ruko nenekmu hanya karena aku pengen cari Mamaku saat itu. Dan sekarang, aku gak mau sia-siain waktu yang udah Tuhan kasih buat aku. Kamu memang spesial buat aku, tapi Ibuku, mau bagaimana pun dia yang melahirkan aku."


Kaila menghela napas panjang. Napas gadis itu terdengar begitu jelas.


"Please, jangan benci aku, Kan. Kamu boleh lupain aku. Tapi kamu jangan pernah benci aku. Aku harap, suatu saat kita bisa ketemu lagi, Kan." Kaila tertawa kecil, namun suara gadis itu terdengar seperti menangis. "Jaga diri ya, Kan. Kamu disini tinggal sendiri, jadi harus makan-makanan yang sehat. Kurang-kurangin makan junk food, 'kan kita mau jadi dokter."


Kaila terkekeh.


"Sampai ketemu lagi, Kan. Aku pengen, saat ketemu nanti, kita udah sama-sama jadi seorang Dokter."


Kevin ikut sedih, begitupun dengan Wilka.


"Aku pergi ya, Kan. Maafin aku."


'Tut! Tut! Tut!'


"Kaila!" teriak Kana setelah sambungan itu terhenti.


Wilka menghela napas dan mengusap pundak Kana. "Kan, yang kuat ya."


Kana menggeleng. "Gue gak mau, gue gak mau kehilangan dia! Gue cinta dia, Wil! Gue cinta sama dia!"


Wilka mengangguk. "Iya, kita ngerti. Tapi ini semua udah jadi pilihan dia, Kan. Mau lo gak rela gimana pun, udah tetep pergi. Please lo ngertiin dia, gimana perasaan dia saat ini."


Kana menunduk lalu mengacak rambutnya. "Ahhh!" teriaknya lalu berjalan pergi.


Wilka menghela napas lalu menoleh pada Kevin.


"Gue gak tega liat Kana," ucap Kevin.


Wilka mengangguk. "Tapi mau gimana pun, kita harus ngertiin Kaila. Kalau ibunya tetap yang paling utama."


Kevin mengangguk lalu menatap Kana yang terduduk di dekat parkiran.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2