KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 45


__ADS_3

Part 45


"Oek! Oek! Oek!"


Tangisan bayi itu memenuhi kamar Kana dan Kaila.


Itu adalah tangisan Naka. Bayi laki-laki mereka.


"Sayang! Naka sama Kala nangis! Bantuin dong!" teriak Kaila saat suaminya masih berada di kamar mandi.


"Iya, bentar aku cuci tangan dulu!" teriak Kana.


Hari ini, Naka dan Kala sudah di bawa pulang ke rumah. Hal itu membuat Kana dan Kaila semakin senang.


Kaila, wanita itu masih terlihat lemah. Ia belum banyak bergerak. Sehingga, banyak pekerjaan rumah dibantu oleh asisten rumah tangga rumah Alina yang sengaja didatangkan untuk membantu Kaila.


Kaila sangat bersyukur semua orang sayang dan perhatian kepadanya, termasuk kedua mertuanya.


Kaila senang, Alina membawakan asisten rumah tangganya kesini. Setidaknya itu sangat membantu Kaila. Namun, Kaila tak ingin merepotkan itu lama-lama. Mungkin sampai Kaila benar-benar sembuh total dan bisa melakukan aktifitas rumah seperti sebelumnya, lalu ia akan meminta asisten itu untuk kembali ke rumah mertuanya.


Kaila tidak ingin merepotkan mertuanya lama-lama.


Saat ini Kala digendong oleh Kaila, dan Naka di gendong oleh Kana.


Setelah digendong oleh ibunya, Kala pun diam. Kaila kembali meletakkan Kala dalam ranjang dan tersenyum pada suaminya yang tengah mendiamkan Naka.


"Sayang, cup, cup, cup," ucap Kana yang mengangkat Naka.


Namun, setelah Naka diam, Kala malah ikut menangis.


Kana tersenyum. Meletakan Naka ke ranjang bayi, dan bergantian mengangkat Kala.


Dikamar ini, terdapat dua ranjang bayi. Ranjang pertama adalah ranjang warna biru yang sudah dibeli Kana sebelumnya, sebelum bayi mereka lahir. Dan ranjang satu lagi, adalah ranjang warna pink yang saat itu Kaila pilih.


"Oek! Oek! Oek!" tangisan Kala.


Kaila tersenyum melihat suaminya menenangkan kedua bayinya.


Kana memang benar-benar sudah siap untuk menjadi seorang ayah.


"Sayang, anak Papa. Jangan nangis dong," ucap Kana menimang-nimang Kala.


Kana terkekeh pada Kaila. "Apa jangan-jangan Kala ngambek karena tadi aku gendong Kana ya?"


"Mungkin, sayang. Yaudah sini Kala Yang, mungkin dia haus."


Kana mengangguk dan memberikan Kala pada Kaila.


Setelah diberikan pada Kaila, Kala diam. Bahkan bayi itu tersenyum membuat Kana dan Kaila tertawa melihatnya.


"Ngece banget senyum dia sayang," ucap Kana.


Kaila tertawa dan mengangguk. "Lucu banget."


"Kaya aku."


Kaila melebarkan mata. "Kaya akulah. Mamanya."


"Enggak, dong! Kayanya Papanya, lucu."


"Tapi Kala cantik kaya aku," ucap Kaila.


Kana menghela napas dan terkekeh. "Yaudah, Kala cantik kaya kamu. Terus kalau Naka ganteng kaya aku."


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Itu baru adil."


Kana terkekeh dan menggelengkan kepala.


"Cepet gede ya anak Papa, biar bisa bantu Mama sama Papa," ucap Kana mengusap pucuk kepala Kala.


"Oekkk! Oekk!" tangis Naka.


Kaila terkekeh. "Naka cemburu sama adiknya," ucap Kaila.


Kana tertawa dan segera menghampiri Naka, lalu mengangkat bayi itu. "Sayang, cup! Cup! Cup! Gak boleh nangis geh. Kamu 'kan jagoan disini."


Kaila tersenyum melihat hal itu.


-o0o-


Di kediaman rumah Aji dan Keiza. Keiza terlihat tengah duduk di sendiri di dapurnya. Wanita itu baru saja selesai memakan beberapa cemilan yang berada di kulkas.


"Ck! Makan apa lagi ya? Masih laper banget rasanya," ucap wanita itu sembari mengedarkan pandangannya.


Saat ini Keiza tengah sendiri di rumah. Aji sedang berada di rumah sakit sejak pagi tadi. Mungkin, sebentar lagi suaminya itu akan pulang.


Keiza sendiri tak datang ke rumah sakit karena tak enak badan. Sejak kemarin, wanita itu terus mengeluh pusing dan lemas.


Bahkan saat ini pun demikian.


"Ck! Kenapa sih aku ini? Aku gak enak badan bukan karena omongan dokter julid itu 'kan?" ucapnya pada diri sendiri.


Keiza memijat kepalanya yang terasa sangat pusing.


Wanita itu menghela napas dan melebarkan mata. "Astaga, aku baru sadar."


Ia segera bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar. Ia ingin memastikan semuanya.


Apakah dugaannya saat ini benar?


-o0o-


Setelah memberikan ASI kepada Kala, kini gantian Kaila memberikan ASI kepada Naka.


Kana meletakkan putrinya, lalu beralih mengambil Kala dan menyerahnya kepada sang istri.


"Mama, Kana juga mau ASI," ucap Kana.


"Kok Kana?" ucap Kaila bingung.


Kana melebarkan mata. Ia tak sadar dengan ucapannya tadi. "Eh, Naka Mama! Astaga!" ucap Kana membuat Kaila tertawa dan menggelengkan kepala.


"Gawat Papanya ini," ucap Kaila dan meraih Kana dari tangan suaminya.


Kana terkekeh dan duduk di samping istrinya. "Gak gitu lho sayang. Aku beneran salah ngomong."


"Salah ngomongnya bikin salah paham geh," ucap Kaila dengan tertawa.


Kana menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal dan menyengir kuda. Laki-laki itu memperhatikan istrinya dengan penuh kasih sayang, dan sesekali menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya sembari mengusap lembut rambut istrinya.

__ADS_1


"Makasih ya, La," ucap Kana dengan nada lain dari sebelumnya.


Hal itu membuat Kaila menoleh dan mengerutkan dahinya. "Kenapa sih?"


"Makasih banyak kamu udah jadi ibu terbaik. Aku sayang banget sama kamu."


Kaila terkekeh dan mengangguk. "Kamu juga udah jadi suami dan ayah terbaik buat aku dan anak-anak."


Kana tersenyum dan memeluk Kaila dari samping.


"Sayang banget sama kamu."


"Iyalah, harus. Kalau gak sayang, awas aja!" ucap Kaila yang malah membuat Kana tertawa.


Bahkan, Naka itu tertawa.


Kaila dan Kana saling memandang. "Lah, ikut ketawa dia," ucap Kaila.


"Ahhh, bahagia banget aku. Punya istri satu, punya anak dua, cowok, cewek, lengkap sudah kebahagiaan aku." Kana tersenyum pada Kaila. "Nanti kalau anak ketiga kita—"


"Yang ini aja baru lahir, udah mau bahas anak ketiga?" ucap Kaila membuat Kana tak jadi melanjutkan ucapannya.


Kana tertawa malu. "Iya, sorry, sorry."


Kaila menatap suaminya tajam dan mengeratkan pelukannya pada Naka. "Lihat sayang, Papa kamu jahat banget sama Mama."


"Ih, enggak sayang. Gak gitu," ucap Kana memeluk Kaila.


"Oek! Oek! Oek!" teriak Kala membuat suami istri itu menoleh.


"Tuh, angkat sayang, Kala. Nangis dia karena Mamanya di jahatin sama Papanya."


Kana terkekeh dan mengangkat Kala lalu menenangkannya.


Sangat ramai sekali rumah Kana saat ini.


"Ini dirumah isinya berempat, tapi berasa sekampung ya?" ucap Kana membuat Kaila tertawa.


-o0o-


"Assalamualaikum!" seru Aji saat sampai dirumahnya.


'Ceklek!'


Laki-laki itu membuka pintu dan masuk ke dalam. "Sayang! Keiza! My Wife!"


Ia mengedarkan pandangannya. "Keiza! My honey!"


Aji berdecak. "Kemana, Keiza?" lirihnya.


Tak biasanya Keiza tak menghampirinya saat ia pulang.


"Apa dia lagi tidur?" batin Aji. "Apa jangan-jangan dia pingsan di kamar?" Aji semakin tak karuan.


Laki-laki itu meletakkan tasnya ke sofa dan masuk ke kamar.


"Taraaa!" teriak Keiza yang sudah menunggunya dari tadi.


Aji terkekeh dan menggelengkan kepala. "Kirain kamu kenapa-napa."


Keiza menggeleng dan menghampiri suaminya, lalu memeluknya erat.


"Kenapa sih? Kok ceria banget?" ucap Aji sembari mengusap pucuk kepala istrinya.


Keiza mengangguk dengan senyuman.


"Ada yang bikin happy?" tanya Aji.


Keiza terkekeh dan menatap suaminya. "Sayang," lirih Keiza.


"Hmm?" Aji menaikkan kedua alisnya.


Ada rasa penasaran pada diri Aji yang melihat tingkat Keiza yang tak biasa ini.


"Aku hamil."


Aji melebarkan mata.


Sebentar, Aji tak salah dengar?


"Apa sayang?" ucap Aji kembali.


"Aku hamil."


Aji melebarkan mata. "Please ngomong sekali lagi. Aku gak salah denger 'kan?"


Keiza menggeleng. "Aku hamil." Keiza menyerahkan sebuah tes pack yang sudah terlihat garis dua disana.


Aji meraih itu dengan tangan gemetar. "Kamu hamil?"


Keiza mengangguk dengan senyuman. "Iya, aku hamil."


"Kamu hamil?"


Keiza tertawa. "Iya, sayang. Aku hamil. Ha-mil."


Aji tersenyum lebar dan langsung memeluk istrinya. "Aku gak tahu harus ngomong apa, tapi— aku seneng banget sayang."


"Aku juga seneng banget. Aku juga gak tahu harus ngomong apa, yang jelas aku bahagia banget," ucap Keiza dengan senyuman bahagianya.


"Kita ke dokter kandungan yuk? Kita periksa anak kita," ucap Aji.


Keiza mengangguk dengan senyuman membuat Aji bangga dan mengecup keningnya.


"Aku bersyukur banget karena Allah udah kasih aku bidadari seperti kamu dan malaikat kecil di perut kamu."


Keiza tersenyum dan mengusap perutnya yang masih rata.


"Aku bakal jaga anak kita."


-o0o-


Siska keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Menengok ke bawah, melihat kedua orangtuanya tengah asik menonton tv.


"Lihat, Ma. Bisa gitu ya?" ucap Eric yang menunjukkan kepada istrinya acara di televisi.


Istrinya yang bernama Sara pun tertawa. "Berarti dia udah handal, Pa."


"Kamu bisa gak kaya gitu?" ucap Eric.

__ADS_1


Sara tertawa dan memukul lengan suaminya. "Enak aja! Ya gak bisalah. Aku harus latihan dulu supaya handal."


Eric tertawa dan menggelengkan kepala.


Melihat kedua orangtuanya harmonis seperti ini membuat Siska bahagia.


"Asik banget kayanya ngobrolnya," ucap Siska membuat kedua orangtuanya menoleh.


"Eh, sayang! Sini!" seru Sara dan Eric.


Siska mengangguk dan menghampiri kedua orangtuanya. Lalu duduk di tengah keduanya.


"Masa kata Papa kamu Mama bisa apa enggak atraksi kaya gitu?" ucap Sara yang mengadu pada putrinya.


Siska tertawa. "Ada-ada aja, Papa. Coba Papa bisa gak?"


"Ya kalau Papa atraksi gitu, yang ada tulang Papa patah semuanya," ucapnya tertawa.


Siska dan Sara mengelengkan kepala melihat ayahnya.


"Unik banget memang Papa kamu ini," ucap Sara melihat tingkah suaminya.


Siska terkekeh. "Unik unik juga, Mama sayang."


"Ya karena unik, makanya Mama sayang," ucap Sara membuat Eric tersenyum malu-malu.


"Pinter banget gombalnya Mama kamu ini," ucap Eric.


Siska terkekeh. "Ngeliat Mama sama Papa gini, aku semakin gak tega buat ninggalin kalian. Maksudnya— kalau Siska nanti menikah dan ikut suami Siska, pasti Siska bakal kangen banget sama Mama dan Papa."


Sara terlihat sedih mendengar ucapan putrinya.


Wanita itu mendekat dan memeluk Siska erat. "Kamu baru bilang gitu aja, Mama udah sedih."


Siska tersenyum dan mencium pipi ibunya.


"Oh ya sayang, Bima belum ngabarin kamu udah sampai apa belum?" ucap Eric.


Siska menggeleng. "Belum, Pa. Aku udah coba telpon, tapi gak aktif nomornya. Mungkin dia belum sampai di apartemen. Atau mungkin masih ada urusan yang lain, jadi belum sempet kasih kabar."


Eric mengangguk. "Tapi dia beneran kembali 'kan?"


Siska tersenyum dan mengangguk. "Bima pasti kembali, Pa. Dia juga udah janji sama Siska."


"Janji?" ucap Sara.


Siska mengangguk. "Dia bilang, sepulang dari Jerman dia bakal lamar Siska."


Eric tersenyum. "Papa senang kalau dia serius sama kamu."


Siska mengangguk dengan senyuman. "Tapi selama dia bantu Papa, dia gak pernah nunjukin hal negative 'kan ke Papa?"


Eric menggeleng. "Dia anak yang baik menurut Papa. Walaupun tampang dia kaya ngece gitu," ucap Eric tertawa. "Tapi dia beneran orang yang bertanggung jawab. Jarang ada orang seperti dia."


Siska tersenyum dan menyandarkan kepalanya di kursi. "Hal itu juga Pa yang bikin Siska semakin suka sama watak Bima. Dan itu juga yang membuat Siska selalu merasa aman saat bersama Bima. Bima selalu lindungin Siska dan selalu bikin Siska ketawa sama humor recehnya."


Sara tersenyum. "Mama senang dengarnya, sayang."


Siska menganguk dan memeluk Sara.


"Jadi Mama doang yang di peluk? Papa enggak, nih?" ucap Eric.


Siska terkekeh dan langsung memeluk ayahnya. "I love you so much."


Eric tersenyum dan mengusap rambut putrinya.


Ketiganya pun kembali asik menonton acara televisi.


"Jarang-jarang ya kita nonton bareng-bareng gini," ucap Siska sembari fokus menonton.


Kedua orangtuanya mengangguk dan mereka nampak fokus dengan acara yang ada. Hingga, acara pun harus di jeda dengan adanya iklan.


"Ck! Lagi asik-asik juga, malah iklan," ucap Siska kesal.


Eric terkekeh dan menoleh pada jam yang berdenting di dinding. "Sekarang jam lima pas, mungkin ada berita sebentar."


Siska mengangguk.


"'Nah 'kan bener," ucap Eric saat acara berita itu benar di putar.


Siska berdecak, melipat kedua lengannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi.


Gadis itu tampak tak senang menonton berita.


"Selamat sore permisa, berjumpa lagi bersama saya Altina Rizki dalam liputan berita internasional. Permirsa telah terjadi sebuah kecelakaan pesawat seriues R0045 di kawasa Frankfurt am Main jurusan Indonesia ke Jerman tepat pada pukul 03.00 Waktu Indonesia Barat atau pukul 10.00 waktu di Jerman—"


Siska melebarkan mata. "Itu 'kan— pesawat yang Bima naikin."


-o0o-


'Prang!'


Suara gelas pecah memenuhi kamar Kaila.


Kana yang tengah duduk di ruang tengah pun refleks berlari dan menghampiri istrinya. "Kenapa sayang?"


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Gelasnya jatuh," ucapnya yang mencoba mengambil.


"Udah, aku aja." Kana meraih sapu dan serok sampah untuk memungutinya.


"Kamu beneran gak papa?" tanya Kana yang kelihatannya panik dengan istrinya tersebut.


Kaila mengangguk. "Aku gak papa."


"Tapi kamu pucet banget," ucap Kana menyentuh wajah istrinya.


Kaila diam dan menunduk. Lalu menatap suaminya. "Tiba-tiba aku kepikiran Bima."


Kana tersenyum. "Mungkin karena kamu kangen sama dia. 'Kan kamu udah lama juga gak ketemu dia. Terus waktu kamu lahiran juga, Bima pas berangkat ke Jerman."


Kaila mengangguk. "Kayanya aku memang kangen sama dia." Kaila tersenyum tipis dan menoleh pada kedua bayinya yang sedang tertidur pulas. "Kasihan Bima, dia belum ketemu sama dua keponakannya."


Kana terkekeh dan mengangguk.


"Aku buang ini dulu ya?" ucap Kana membawa pecahan gelas tadi.


Kaila mengangguk dan terduduk. "Kenapa rasanya aneh? Gak biasanya aku kaya gini."


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2