
Part 46
Kana tersadar dari lamumannya. Ingatan di masa lalu tiba-tiba muncul. Kana benar-benar tak tahu jika gadis kecil yang pernah ia temui 12 tahun yang lalu adalah Kaila.
Benar, Kaila Zeline Qirani. Gadis kecil yang dengan terang\-terangan mengatakan cinta dan ingin menjadi pacarnya.
"Kenapa gue baru sadar?" Kana berdecak dan menggelengkan kepala.
Ia bangkit dari duduknya dan meraih ponsel yang berada di atas nakas. Jarinya menekan tombol dan men-dial sebuah nomor disana.
"Nomor yang ada hubungi, sedang tidak aktif atau sedang diluar jangkauan—" Kana berdecak lalu mematikan sambungan itu. Ia berlari ke instagram dan juga twitter. Namun, akun Kaila sudah tidak ada disana.
Apa Kana di blokir?
Itulah yang Kana pikirkan sekarang. Gadis itu benar-benar tak ada kabar dan semua media sosialnya menghilang.
'Tok! Tok! Tok!'
Kana menoleh ke arah pintu dan membiarkan seseorang masuk.
"Udah siap?" tanya Alina.
Kana mengangguk dan meraih tasnya. "Mama sama Papa ngapain sih pakai anter Kana segala. Kana 'kan bisa pulang sendiri. Lagipula Kana udah sering bolak balik Jogja Jakarta."
Alina tersenyum. "Sayang, Mama sama Papa kangen sama nenek kamu. Makanya kami anter kamu sekalian."
Kana menghela napas. "Okey."
Alina tersenyum dan menggelengkan kepala. "Senyum dong! 'Kan besok kamu udah masuk kuliah lagi."
"Gak bisa senyum kalau bukan ke Kaila," jawabnya lalu mengekori langkah Alina.
-o0o-
"Sebelum ke Bandara, mau mampir kemana dulu ya? Sapa tahu mau cari oleh-oleh buat temen kamu," ucap Kavin yang tengah fokus dengan kemudinya.
Kana menggeleng. "Gak usah, Pa. Langsung ke Bandara aja."
Kavin tersenyum tipis lalu menoleh pada Alina.
"Kita mampir toko oleh\-oleh depan aja, yang," ucap Alina pada Kavin, lalu menoleh pada Kana. "Kita beli oleh\-oleh ya?"
Kana menghela napas. "Terserah Mama."
Alina mengangguk pada Kavin, membuat Kavin memperlambat lajunya dan berhenti tepat di depan pusat oleh\-oleh.
Alina turun dari mobil, begitupun dengan Kavin. Namun— Kana tak kunjung turun.
"Ayo, Kan."
"Mama sama Papa aja, Kana tunggu mobil," jawab Kana yang tetap berada di dalam.
Kavin mengangguk. "Yaudah yang, kita aja."
Sepasang suami istri itu melangkah masuk ke pusat oleh\-oleh tersebut. Mengitari seisi ruangan dan mencari oleh\-oleh apa yang ingin ia bawa ke Yogyakarta nanti.
"Aku kepikiran sama Kana," ucap Kavin membuat Alina menoleh.
"Aku juga. Tapi mau gimana lagi? Kita udah coba hibur dia, tapi—" Alina menghela napas. "Dia cinta banget sama Kaila. Kaila bener\-bener berpengaruh di hidup Kana.
Kana mengangguk. "Aku gak bisa bayangin kalau waktu itu kita kekeuh buat bawa Kana ke Canada. Pasti mereka berdua bakal terpukul seperti yang Kana rasain sekarang."
Alina mengangguk. "Ngeliat Kana gini, aku jadi gak tega buat ngelarang keinginan dia."
Kavin menoleh. "Aku takut, sesampai di Jogja nanti, Kana terus kepikiran Kaila dan gak mau makan. Terus jatuh sakit dan—"
"Apa kita temenin Kana di Jogja sampai Kaila ada kabar?"
"Tapi gimana kerjaan kita?" ucap Kavin.
Alina menghela napas. "Bener. Kadang kita juga terlalu sibuk sama pekerjaan kita, sampai\-sampai kita gak pernah pikirin perasaan anak kita." Alina melirik Kavin. "Kaya gini, dulu kamu pengen punya anak lima belas."
Kavin menyengir kuda. "Ya 'kan terlalu bersemangat waktu itu buat punya anak banyak."
Alina terkekeh, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Kana.
-o0o-
Pintu kamar Wilka terbuka lebar. Didalamnya, terlihat tiga orang tengah sibuk mencari sesuatu di layar ponsel. Bahkan, salah satu dari mereka membuka laptop guna mencari apa yang mereka cari.
"Gak ada!" ucap Wilka menyerah.
__ADS_1
"Semua sosial medianya gak ada?" tanya Wilko.
Wilka mengangguk. "Dari akun facebook, twitter, instagram, path, dan noveltoon yang tiap hari dia baca pun gak ada!"
Kevin mengerutkan dahinya. "Itu kamu cek pakai akun asli atau akun fake?"
"Dua\-duanya," ucap Wilka.
Kevin menghela napas lalu menoleh pada Wilko. "Kamu udah cari juga akun Kaila, Ko?"
Wilko menggeleng. "Aku carinya akun Keiza. Dan, sama— akunnya menghilang."
Wilka mengerutkan dahinya. "Sebenarnya ada apa ya?"
Kevin menggeleng. "Se\-gak ada kabarnya orang, biasanya gak sampai segininya. Dan dia bukan blokir kita, tapi memang akun dia yang hilang entah karena di hack atau memang dia tutup akun."
Wilka menggigit bibir bawahnya. "Kenapa aku ngerasa sesuatu hal yang gak enak ya?"
Wilko menghela napas dan bangkit. "Kami juga ngerasa hal yang gak enak kali," ucapnya.
"Kana gimana? Dia belum dapet kabar juga?" tanya Kevin.
Wilka menggeleng. "Kana hari ini sampai Jogja. Dia bilang, semua akun Kaila juga gak ada pas dia cari."
"Erkan!" seru Kevin membuat keduanya menoleh. "Erkan. Kenapa kita gak tanya dia? Dia 'kan pacar Keiza, siapa tahu aja dia tahu kabar Keiza juga Kaila."
Wilka mengangguk. "Bener-bener. Kayanya kita perlu tanya dia."
"Tapi siapa yang mau nanya dia?" ucap Wilko.
Wilka dan Kevin saling memandang, lalu menoleh pada Wilko. "Kamu," ucap keduanya.
Wilko menghela napas. "Aku lagi?" ucapnya lelah.
-o0o-
Tiga jam berlalu. Keluarga kecil Kavin berhasil mendarat di Yogyakarta dengan selamat. Ketiganya keluar dari Bandara dan menghentikan sebuah taksi yang melintas.
Kana memilih kursi belakang dan duduk bersama dengan Alina. Sedangkan Kavin, lelaki itu duduk di depan bersama dengan supir taksi yang mengemudi.
Kana mengangguk.
"Alamatnya yang mana pak?" tanya supir taksi itu.
Kavin menoleh dan menjelaskan alamat tujuan mereka kali ini.
Tak memakan waktu yang lama, kini ketiganya telah sampai di sebuah rumah yang memiliki halaman yang asri.
Alina tersenyum menatap pemandangan di depannya. "Mama selalu merawat tanamannya penuh kasih. Jadi keinget dulu waktu aku pertama kali anter kue ke rumahmu yang di Jakarta dulu," ucap Alina pada suaminya.
Kavin terkekeh. "Itu momentum yang gak bisa dilupain."
"Aku gak tahu gimana jadinya kalau waktu itu aku nolak buat anter kue, mungkin kita gak bisa sedeket itu."
"Dan kita gak bisa punya Kana," lanjut Kevin.
Mendengar nama Kana, Alina melebarkan matanya. "Oh iya, Kana mana?" ucapnya menoleh ke belakang. Namun tak ada siapapun. Bahkan supir taksi yang mengantar tadi telah menghilang.
"Kana disini!" teriak Kana yang sudah merangkul neneknya.
Alina dan Kavin terkekeh lalu berjalan mendekat.
"Ibu, apa kabar?" ucap Alina memeluk ibu mertuanya.
Iva tersenyum dan memeluk hangat menantunya tersebut. "Ibu kangen banget sama kamu."
"Bu, masak apa?" tanya Kavin tanpa berbasa\-basi.
__ADS_1
Alina menggelengkan kepala. "Ketemu Mamanya bukannya meluk, tanya kabar, ini malah tanya masak apa," ucap Alina membuat suaminya terkekeh.
"Ya sudah, ya sudah, ayo masuk kita makan!" seru Iva membuat Kavin tak sabar dan masuk ke dalam.
"Loh Kan, kamu gak ikut masuk?" tanya Alina yang melihat Kana hendak berjalan keluar.
Kana menggeleng. "Aku mau keluar bentar, Ma. Gak lama."
Alina mengangguk. "Yaudah, hati\-hati."
Kana mengangguk dan berjalan pergi.
Kana melangkahkan kakinya menatap jalanan. Rumah neneknya berada di jalan kecil. Jadi tak banyak kendaraan yang melintas. Mungkin hanya beberapa dan itu dapat di hitung.
"Kira\-kira, rumah itu masih ada gak ya?" ucap Kana sembari melanjutkan langkahnya.
Tak butuh waktu lama, Kana berhenti disebuah rumah. Ia menatap rumah itu dengan pandangan kosong.
Itu adalah rumah yang Kaila tinggali dulu. Sepertinya rumah itu sudah kosong semenjak nenek Kaila meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
"Cari siapa, Mas?" ucap seseorang yang melintas di samping Kana.
Kana menoleh dan sedikit menunduk, memberi salam. "Maaf Bu, rumah ini kosong ya?"
Wanita itu mengangguk. "Rumah ini udah kosong Tiga tahun yang lalu, Mas. Tadinya nek Ismah sama cucunya yang tinggal disini. Cuma, setelah nek Ismah meninggal, cucunya pindah ke Jakarta. Tapi denger\-denger, katanya cucunya kuliah disini, cuma dia gak tinggal disini, Mas."
Kana mengangguk. Yang wanita itu maksud tentu saja Kaila.
"Masnya siapa ya?" tanya wanita itu.
"Saya cucunya Bu Iva. Yang rumahnya di gang melati."
Wanita itu membulatkan bibirnya. "Anaknya Kavin ya?"
Kana mengangguk.
"Ya ampun, anaknya ganteng juga ya kayanya bapaknya," ucap Wanita itu tertawa. "Dulu Bapaknya Mas sahabat anaknya Nek Ismah loh, si Nabila. Mamanya yang anaknya tinggal sama Nek Ismah."
Kana mengangguk. "Iya, Bu. Saya tahu. Soalnya saya pacarnya."
"Pacarnya anaknya Nabila?"
Kana mengangguk membenarkan.
"Wah, bisa sekebetulan itu ya? Yaudah Mas, saya permisi dulu ya. Mau ke warung."
Kana mengangguk dan membiarkan wanita itu pergi.
Kana menatap rumah di hadapannya dan terdiam.
"Meow! Meow!"
Kana menoleh ke bawah saat seekor kucing berada di kakinya. Kana tersenyum dan berjongkok. "Kamu laper ya?"
"Memang kucing bisa ngomong ya?"
'Deg!'
Kana melebarkan mata.
-o0o-
__ADS_1