
Part 10
"Jadi, dia kakak kamu?" tanya Aji saat keduanya keluar dari rumah makan bersama dengan Kaila.
Kaila mengangguk dengan senyuman. "Kamu kalau gak salah pernah ketemu sama dia waktu dirumah sakit dulu. Waktu Mamaku masuk rumah sakit. Delapan tahun yang lalu lebih tepatnya."
Aji membulatkan bibirnya. "Iya, aku sedikit inget. Tapi memang waktu itu aku gak lihat wajah dia secara jelas sih."
Kaila tersenyum. "Dia juga dokter loh, sama kaya kamu."
Aji melebarkan matanya. "Beneran?"
Kaila mengangguk. "Dia dokter, dan ternyata dulu dia ambil jurusan dokter karena pengen sama kaya mantan pacarnya. Ya, dulu mereka memang janjian buat ambil jurusan yang sama." Mantan pacar yang Kaila maksud adalah Erkan. Kaila tersenyum. "Hampir mirip kaya kamu sama Adinda."
Aji tersenyum tipis. "Sebenarnya Kai, waktu aku lihat Keiza tadi, entah kenapa aku ngerasa aku ngeliat Adinda didiri dia."
Kaila tertawa kecil. "Perasaan kamu aja, Ji."
Aji mengangguk. "Iya, kayanya memang perasaanku aja. Lagipula mungkin Adinda gak sebaik Keiza."
Raut wajah Kaila berubah tak enak. Ia merasa tak enak dengan Aji. "Enggak, Ji. Adinda sama Kak Kei sama-sama baik. Mereka punya sisi malaikatnya masing-masing."
Aji tersenyum. "Makasih ya Kai, kamu udah baik sama Adinda."
Kaila mengangguk dengan senyuman.
"Kai!" teriak Keiza yang baru keluar dari rumah makan membuat kedua orang itu menoleh.
Aji tersenyum saat sosok Keiza sampai di hadapannya.
"Papa mana, Kak?" tanya Kaila.
Keiza menunjuk ke dalam. "Lagi ngobrol sama temen lamanya. Nanti nyusul kok."
Kaila mengangguk.
Keiza tersenyum lalu menoleh pada Aji dan menyunggingkan senyumnya. Begitupun dengan Aji. Laki-laki menebarkan senyumnya pada Keiza.
"Kamu gak ada jadwal hari ini, Ji?" tanya Kaila.
Aji melebarkan mata. "Astaga!"
"Kenapa?" tanya Kaila penasaran.
"Pagi ini 'kan ada pertemuan keluarga gue sama keluarga Tante Deca," umpat Aji dalam hati.
"Ji? Kenapa?" tanya Kaila penasaran.
Aji menggeleng. "Aku gak ada jadwal. Dan kayanya, aku masih pengen lama disini."
"Kamu bukannya dari semalem disini?" tanya Kaila.
Aji menggigit bibir bawahnya. Benar. Sejak semalam ia sudah berada disini. Lalu? Untuk apa lagi laki-laki berada disini?
"Aku nyaman disini," jawab Aji yang langsung mendapatkan tatapan aneh oleh Kaila dan Keiza.
Aji menyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Maksudku, gue kangen masa kecil. Iya, kangen masa kecil."
Kaila tersenyum. Meskipun ia merasa aneh dengan jawaban Aji.
__ADS_1
-o0o-
"Aji dari semalem gak pulang, Tan?" tanya Kana pada Nana dan juga Anan.
Nana mengangguk. "Bahkan sampai sekarang pun Aji gak bisa dihubungin. Tante takut dia ke tempat-tempat gak bener dan berbuat hal yang negatif."
"Maksud tante ke club gitu?" tanya Kana.
Nana mengangguk. "Kamu 'kan biasanya anak cowok kalau dia punya masalah, pasti larinya ke tempat seperti itu."
Kana menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. "Iya, sih, Tan. Biasanya gitu."
"Tuh 'kan!" teriak Nana yang malah menjadi menangis.
Kana memukul dahinya. Seharusnya ia menenangkan tantenya, bukan malah membuatnya semakin khawatir.
"Udah, Ma. Mama jangan khawatir. Kita berdoa aja semoga Aji gak ngelakuin hal-hal yang bikin kita kecewa," ucap Anan seraya memeluk istrinya.
Kana mengangguk. "Iya, Tan. Kita berdoa aja semoga apa yang kita takutin gak terjadi."
"Terus kita harus cari Aji kemana? Satu jam lagi keluarga Deca bakal kesini. Aku gak enak sama anaknya, jauh-jauh dari luar negeri kesini Cuma mau ketemu Aji, tapi Ajinya malah kabur!" teriak Nana kembali menangis.
"Kana," ucap Anan membuat Kana menoleh.
"Iya, Om?" Kana menaikkan kedua alisnya.
"Kamu tahu tempat-tempat yang biasa Aji datengin?" tanyanya.
Kana tampak mengingat. "Biasanya sih Aji ke klinik Kana, Om. Kalau gak ke klinik, ya ke rumah sakit."
"Gak ada tempat lain?" tanya Anan.
Kana kembali mengingat. "Makan Adinda, Om."
"Maaf, Nyonya, Tuan, saya dan Sapri sudah mencari Den Aji ke makam Almarhum Non Adinda, tetapi tidak ada Den Aji disana," ucap asisten rumah tangga mereka yang baru saja pulang dari makam Adinda.
Anan menghela napas panjang dan mengusap wajahnya gusar.
'Ting! Tong! Ting Tong!'
Nana melebarkan mata. "Itu pasti Deca sama anak dan suaminya," ucap Nana panik.
Anan menggigit bibir bawahnya. "Kita harus bilang apa sama mereka, Ma?"
Nana memejamkan mata. "Mama gak tahu, Pa! Mama gak bisa mikir sekarang."
"Kana bukain aja ya Om, pintunya?" ucap Kana.
Nana memejamkan mata dan mengangguk.
Kana pun berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu.
'Ceklek!'
Pintu terbuka lebar menampilkan sepasang suami istri dan seorang gadis disana.
"Aaaaa Nana!" teriak Deca berlari dan memeluk Nana yang masih berdiri di samping Anan.
"Nana! Kangen banget gue!" teriak Deca yang memeluk Nana dengan hangatnya.
__ADS_1
Nana tersenyum dan membalas pelukan Deca. "Kangen juga gue, Ca."
Deca tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Gak nyangka janji kita dulu hampir terwujud ya?"
Nana tersenyum. Meskipun senyum yang terasa berat baginya.
"Kenapa sih? Kok kaya sedih gitu?" tanya Deca penasaran.
Nana menggeleng. "Enggak, kok. Ayo silahkan duduk!"
Deca, suami dan anaknya mengangguk dan duduk di kursi.
Sedangkan Kana, laki-laki itu terlihat bingung. Ia pun memutuskan untuk menyingkir.
"Kana, mau kemana?" tanya Anan yang melihat Kana hendak pergi.
Deca menoleh. "Ini Kana? Anaknya Alina?"
Nana mengangguk.
"Udah besar ya?!" seru Deca.
Nana tersenyum miring. "'Kan anak kita bertiga seumuran, Ca."
Deca terkekeh. "Oh iya!" Deca menggelengkan kepala dan kembali menatap Kana. "Ikut gabung aja, Kan. Mama sama Papa kamu juga 'kan bentar lagi kesini," ucapnya.
Kana mengangguk ragu dan akhirnya duduk bersama mereka.
"Ini anak kamu?" tanya Nana menatap gadis cantik berkulit putih dan berambut cokelat.
Deca mengangguk. "Kaya bule 'kan? Padahal mah gak ada darah bule-bulenya sama sekali. Apalagi darah bude sama pakde," ucap Deca mencoba menghibur.
"Receh banget lo, Ca!" ucap Nana membuat semuanya tertawa.
"Ngomong-ngomong Aji kemana? Kok gak muncul?" tanya Deca.
Nana menatap Anan.
Anan terbatuk. "Aji—"
"Iya?" Deca menaikkan kedua alisnya.
"Aji—"
"Aji kemana?" tanya Anan kembali.
Nana menghela napas. "Aji kabur!" jawab Nana akhirnya. "Maaf Ca, aku bukannya mau ngecewain keluarga kamu, tapi Aji beneran kabur. Sebenarnya aku gak mau bilang ini. Tapi— aku gak bisa bohong sama kamu, Ca."
Deca terlihat bingung, begitupun dengan anak dan suaminya.
"Maafin aku, Ca. Aku beneran minta maaf. Aku gak tahu kalau akhirnya bakal seperti ini." Nana menoleh pada putri Deca. "Maafin Tante, Nak. Tante gak bisa tahan Aji."
Deca tertawa bingung. "Gak papa kok, Na. Lagipula kalau memang Aji gak mau, masih ada—" Deca menoleh pada Kana.
Merasa di perhatikan, Kana pun menunjuk dirinya.
"Kana?" tanya Nana dan juga Anan.
Deca menyengir kuda dan mengangguk. "Kayanya ide bagus."
__ADS_1
"GAK!" teriak seseorang dari luar membuat semuanya menoleh.
-o0o-