
Part 6
Kaila melepas helm-nya setelah Kana mengantarkannya sampai depan rumah.
“Mau mampir dulu gak?”
Kana menggeleng. “Udah mau magrib. Gak enak sama Tante Bila.”
Kaila tersenyum. “Yaudah, kamu hati-hati ya di jalan.”
“Iya. Kamu juga, jangan lupa makan.”
“Siap, Nanaku!”
Kana terkekeh dan memutar kunci motornya. “Aku pulang dulu ya?”
Kaila mengangguk dan melambaikan tangannya pada kekasihnya tersebut.
Setelah Kana tak terlihat lagi, Kaila segera membuka gerbang dan masuk ke dalam.
"Assalamualaikum?”
Kaila mengucapkan salam setelah memasuki ruangan bernuansa abu-abu tersebut.
“Ma, Mama.” Kaila mengedarkan pandangannya mencari Nabila.
“Kak Kaila!” seru Kiara yang baru saja keluar dari kamarnya.
Kaila menoleh dan menghampiri adiknya. “Mama kemana, Dek?”
Kiara menunjuk ruangan di ujung. “Tadi Mama dapet telpon dari Tante Naila, abis itu ke situ.”
“Tante Naila nelpon?” tanya Kaila.
Kiara mengangguk. “Tapi cuma sebentar. Abis itu Mama masuk kamar tamu.”
Kaila membulatkan bibirnya. “Yaudah, kakak temui Mama dulu ya?”
“Iya, Kak. Kiara mau lanjutin ngerjain PR lagi.”
Kaila tersenyum dan berjalan menuju kamar kosong yang mereka jadikan sebagai kamar tamu.
‘Tok! Tok! Tok!’
“Ma.”
Nabila segera meletakkan bingkai foto yang sejak tadi ia pegang ke atas nakas saat mendengar suara Kaila memanggilnya.
‘Ceklek!’
__ADS_1
“Mama lagi ngapain?” Kaila berjalan menghampiri Mamanya. “Mama abis nangis?”
Nabila menggeleng. “Enggak, sayang.”
“Itu mata Mama merah.” Kaila menoleh ke atas nakas dan melihat sebuah bingkai tergeletak di sana. Ia segera meraih dan memandangnya.
Kaila terdiam beberapa saat. Ada rasa rindu disana.
“Mama kangen sama adik dan kakakmu,” ucap Nabila akhirnya.
Kaila menoleh dan segera memeluk Nabila. “Mama yang kuat ya? Kaila juga kangen sama mereka.”
Nabila mengangguk dan mengusap kepala putrinya tersebut. “Sekarang tersisa kamu dan Kiara. Kalian berdua janji ya, jangan tinggalin Mama.”
“Iya, Ma. Kaila janji, Kaila dan Kiara akan selalu ada disisi Mama.”
Nabila tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
“Ma.”
“Iya?” Nabila menatap wajah putrinya.
“Mama gak pengen cari kakak Kaila?"
Nabila terdiam. "Mama terlalu malu Nak untuk ketemu dia. Mama takut, dia gak bisa nerima Mama.
"Ma, kalau Kaila aja bisa, kenapa Kakak gak bisa, Ma? Kaila yakin, Kakak juga pasti kangen sama kita. Kenapa gak kita coba cari dia, Ma?" ucap Kaila.
Nabila terdiam. "Kamu bener. Tapi kita gak tahu dia sekarang tinggal di mana. Jangan tempat tinggal, wajahnya sekarang aja Mama gak tahu, nak."
Nabila tersenyum dan kembali memeluk putrinya. "Makasih ya, sayang."
Kaila tersenyum dan memejamkan matanya di pelukan Ibunda.
...-o0o-...
"Kamu lagi apa, sayang?" ucap Alina via telepon.
"Baru selesai mandi, Ma. Sekarang Kana mau rebahan dulu."
"Gimana kuliahnya? Lancar?"
"Lancar dong," jawab Kana. "Bahkan Kana jadi ketua tingkat."
"Wah, hebat banget!" ucap Kavin yang mendengar obrolan anak dan istrinya. "Coba Ma, pinjem hpnya. Papa mau ngomong sama anak Papa."
Kana terkekeh. "Papa kalau kangen sama Kana bilang aja."
"Hoo ya jelas! Masa iya Papa gak kangen sama anak Papa yang ganteng ini!" seru Kavin.
Kana tertawa. "Sa ae lu, Pa."
"Kan, ngomong bahasa Jawa halus geh! Katanya dah jadi anak Jogja sekarang."
Kana tertawa. "Kana gak bisa ngomong bahasa Jawa, Pa."
"Aih, gimana kamu ini? Katanya keturunan orang Jogja, tapi ngomong pakai bahasa Jawa aja gak bisa," keluh Kavin.
"Ya, Mama sama Papa aja gak pernah ngajarin Kana ngomong bahasa Jawa," ucap Kana.
"Minta ajarin nenek-nenek kamu lah," ucap Alina.
"Mana sempat, Mama. Nenek Iva sibuk sama toko bajunya. Masa iya Kana minta ajarin bahasa Jawa sama Oma Raisa, salah tempat dong! Nanti bukannya di ajarin Bahasa Jawa, malah di ajarin bahasa Sumatera."
Alina tertawa mendengar pernyataan Kana.
"Ma," panggil Kana membuat obrolan menjadi hening.
"Iya, kenapa sayang?" tanya Alina diseberang sana.
"Kana seneng liat Mama bahagia. Mama sendiri, seneng gak kalau liat Kana bahagia?" tanya Kana dengan lirih.
"Ya senenglah! Masa iya Mama gak seneng anaknya sendiri bahagia."
Kana tersenyum. "Kaila sumber kebahagiaan Kana, Ma. Mama izinin 'kan kalau kami berdua ngejalin hubungan?"
__ADS_1
Alina terbatuk.
"Ma, Mama denger 'kan apa yang Kana bilangin tadi?" tanya Kana meyakinkan.
"Kamu bicara sama Papa dulu ya. Mama mau ke dapur," ucap Alina dan menyerahkan ponselnya kepada Kavin.
Kavin menghela napas dan mendekatkan ponsel ke telinga. "Maafin Papa Kan, Papa gak bisa apa-apa. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kana berdecak setelah sambungannya di matikan oleh Kavin.
Kana mengusap wajahnya gusar dan menoleh pada bingkai berisi foto Kaila. "Lo yang sabar ya. Gue akan usaha untuk meyakinkan nyokap gue."
...-o0o-...
"Apa lagi Mbak?" tanya seorang kasir yang tengah melayani seorang gadis.
Gadis itu menggeleng. "Udah itu, aja. Cepatan Mbak!" ucapnya seraya menoleh kesana kemari.
Sangat mencurigakan.
Kaila yang berdiri di belakang gadis itu terlihat memperhatikan.
Benar saja, setelah menerima kembalian, gadis itu meninggalkan minimarket dengan berlari.
Kaila mengedikkan bahu dan meletakkan belanjaannya ke meja kasir.
"Kartu membernya ada, Mbak?"
Kaila mengangguk dan mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya.
"Mbak, cewek tadi siapa ya?" tanya Kaila penasaran.
Kasir itu menggeleng. "Saya gak tahu, Mbak. Tapi dia sering kaya gitu. Kaya ketakutan sendiri gitu."
"Dia sering kesini memang?" tanya Kaila sekali lagi.
Kasir itu mengangguk. "Pagi biasanya kalau gak malam gini. Tapi setahu saya kalau pagi dia gak pernah kaya gitu, Mbak."
Kaila membulatkan bibirnya. "Aneh."
"Apalagi, Mbak? Pulsanya sekalian? Rotinya Mbak, beli Satu gratis Lima."
Kaila menggeleng. "Udah itu aja."
"Oke!"
Setelah mendapatkan belanjaannya, Kaila melangkah keluar dari minimarket tersebut dan berjalan menuju rumahnya.
Rumahnya masih jauh, kurang lebih melewati Dua belas rumah lagi.
Saat ini jam menunjukkan jam Tujuh malam. Belum terlalu malam, tetapi jalanan terlihat begitu sepi.
"Kenapa sepi banget sih?" lirih Kaila yang melihat pintu-pintu rumah di sekelilingnya sudah terkunci.
Karena tak ingin merasa takut, Kaila pun menelpon Kana. Untunglah telponnya tersambung.
"Halo, sayang."
Kaila menghela napas lega.
"Kamu kenapa?" tanya Kana di seberang sana.
"Gak papa, aku cuma mau minta temenin ngobrol aja," ucap Kaila.
"Kamu dimana memangnya? Kok sepi banget?" tanya Kana penasaran.
"Aku di jalan abis dari minimarket."
"Sendiri?"
Kaila mengangguk refleks. "Iya."
"Aku jemput ya?" ujar Kana.
"Gak usah, aku bentar lagi sampai rumah kok."
Kaila menoleh ke arah jalan saat melihat sebuah motor melintas.
"Itu ada suara motor."
"Iya, barusan aja. Aku takut tadi karena jalanan sepi banget. Yaudah, Na, aku matiin ya telponnya. Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam."
'Tit!'
Sambungan telpon terputus bersama dengan motor yang berhenti di samping Kaila.
"Hey."
Kaila melebarkan mata. Ia menoleh pada laki-laki yang kini melepas helm dan tersenyum ke arahnya.
"Ke-ke-ketua?"
__ADS_1
...-o0o-...