KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 15


__ADS_3

Part 15


Alina membuka pintu dan membiarkan Kaila keluar.


Kana tersenyum begitu kekasihnya keluar dengan keadaan baik-baik saja.    


Namun, senyum Kaila tak nampak.


“Apa Mama udah bikin Kaila sedih?” pikir Kana memandang wajah kekasihnya.


Alina menghela napas seraya melipat kedua lengannya di depan dada. “Kamu mending anterin dia pulang, udah malem. Nanti Mamanya khawatir.”


Kana mengangguk dan mengajak gadis itu untuk ia antarkan pulang. “Ayo?”


Kaila mengangguk dan mengikuti langkah Kana. Namun sebelum pulang, Kaila berpamitan dulu dengan Kavin.


“Aku minta maaf ya, kalau sikap Mamaku ke kamu belum berubah,” ucap Kana setelah keduanya berada di dalam mobil untuk menuju rumah Kaila.


Kaila mengangguk dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil. “Aku gak papa kok,” lirih Kaila seraya melipat kedua lengannya 


Kana memandang wajah kekasinya. “Kamu lemes banget. Tadi, ada kalimat-kalimat Mama yang bikin kamu sakit hati ya?” ucap Kana hati-hati.


Kaila hanya diam dan memejamkan matanya.


“Aku minta maaf ya belum bisa bikin Mama suka sama kamu.”


Kaila mengangguk.


“Jangan diem aja dong. Aku jadi panik nih kalau kamu tiba-tiba gini.” Kana menghela napas. “Jangan di masukin ke hati ya kalau ucapan Mama udah bikin kamu sakit hati.”


Kaila menganguk. “Iya.”


“Jangan sedih ya? Kalau kamu sedih, aku malah lebih sedih.” Kana meraih tangan Kaila. “Kamu tenang aja. Kalau sekarang Mama belum ngerestuin hubungan kita, aku jamin suatu saat Mama pasti restuin.”


“Tapi kapan?” ucap Kaila yang terlihat kesal.


“Secepatnya. Iya, secepatnya.” Kana mengangguk mantap.


“Memang kamu bisa jamin?” Kaila menaikkan kedua alisnya membuat Kana diam. “Tuh ‘kan, kamu aja keliatan gak yakin.” Kaila berdecak dan membuang tatapannya ke arah lain.


“Tapi aku janji, aku bakal perjuangin hubungan kita,” ucap Kana begitu serius seraya menatap mata kekasihnya, memberikan rasa yakin. “Kamu percaya ya sama aku?” 


Kaila mengangguk dan tersenyum.


Melihat gadis itu tersenyum, membuat Kana bernapas lega. Akhirnya ia bisa melihat Kaila tersenyum lagi.


“Besok kalau kita berangkat kuliah lebih pagi mau gak?” ucap Kana.


Kaila menoleh. “Kenapa memang?”


“Pengen sarapan di jalan bareng kamu.”


Kaila tersenyum dan mengangguk.


“Mau?” Kana menaikkan kedua alisnya.


“Mau dong!”


Kana terkekeh dan mengusap pucuk kepala kekasihnya.


-o0o-


“Baru pulang, La?” ucap Nabila yang keluar dari dapur dan menghampiri anak gadisnya.


Kaila mengangguk. “Iya, Ma.”

__ADS_1


“Kamu pulang bareng Kana apa?”


Kaila mengangguk. “Tadi Kana mau mampir buat ketemu Mama. Cuma kataku gak usah. Udah malem juga soalnya. Terus orangtua dia juga ada disini.”


“Kavin Alina?”


Kaila mengangguk membenarkan. Namun matanya menatap lekat wajah Nabila.


Nabila tertawa. “Kamu ngapain ngeliatin Mama gitu banget?”


Kaila menggeleng dan tersenyum. “Aku seneng Mama baik-baik aja,” ucapnya dan memeluk wanita itu.


Nabila tersenyum. “Mama udah lupain Om Kavin, kok. Lagipula Mama sekarang harus fokus ke kamu ke Kiara.”


Kaila mengangguk dan melepaskan pelukannya. “Ma.”


“Iya?”


“Mama gak punya niatan buat cari Papa baru buat Kaila dan Kiara?” tanya Kaila hati-hati.


Nabila tertawa. “Enggak sayang.”


Kaila mengerucutkan bibirnya. “Padahal Kaila pengen liat Mama bahagia.”


Nabila tersenyum dan mengusap rambut Kaila. “Dengerin Mama, kebahagiaan Mama sekarang adalah kamu sama Kiara. Jadi, Mama gak butuh yang lain.”


“Kalau kakak?”


Nabila tersenyum. “Mama juga butuh kakakmu, Kirana. Tapi Mama belum tahu dimana keberadaan dia sekarang.” Nabila menghela napas. “Tapi Mama dapet kabar dari Tante, dia bilang kemungkinan besar Kirana ada di Jakarta. Karena Tante Naila bilang, beberapa waktu lalu Tante Naila gak sengaja ketemu Papamu.”


Kaila melebarkan mata. “Jadi yang Mama nangis malem-malem waktu itu abis dapet kabar dari Tante Naila?”


Nabila mengangguk. “Mama pengen tahu dimana keberadaan Kirana sekarang. Pasti sekarang dia lagi nyelesain kuliahnya.”


Kaila tersenyum, dan kembali memeluk Nabila.


-o0o-


‘Tok! Tok! Tok!’


“Assalamualaikum!” serunya seraya mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam Kak Kana!” seru Kiara yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya.


“Wahh, Kiara udah siap aja. Mau berangkat ke sekolah ya?”


“Bukan, Kak. Mau ke pasar,” jawab Kiara. “Yaiya mau ke sekolahlah, Kak. ‘Kan jelas-jelas pakai seragam merah putih,” ucapnya membuat Kana terkekeh.


“Kiara, gak boleh gitu ngomongnya. Kiara harus sopan sama Kak Kana,” ucap Nabila yang keluar menghampiri dua orang itu. “Coba minta maaf sama Kak Kana.”


Kiara menyengir kuda dan menatap Kana. “Maap ya, Kak. Kiara udah gak sopan.”


“Iya, Kiara. Gak papa kok,” jawab Kana dengan senyuman di wajahnya.


“Yaudah, Tante anter Kiara ke sekolah dulu ya, Kana?” ucap Nabila.


“Oh iya, Tante. Hati-hati ya?” ucap Kana lalu mencium tangan Nabila dengan rasa hormat.


“Iya, Kana. Tante pergi dulu ya? Kaila sebentar lagi keluar kok,” ucap Nabila dan berlalu pergi bersama Kiara.


Tak berselang lama, Kaila pun keluar dari kamarnya dan menghampiri Kana di bawah.


“Yuk!” ucap Kaila yang sudah tampil cantik dengan outfit kesukaannya.


Kana menatap kekasihnya tak biasa.

__ADS_1


“Nah ‘kan, mulai kumat anehnya.”


Kana terkekeh. “Cantik banget sih.”


Kaila tertawa dan memukul Kana pelan.


“Jadi sarapan di jalan ‘kan?” Kana menaikkan kedua alisnya.


“Jadi dong!”


-o0o-


“Mbak, nasi uduknya Satu ya!” seru Kana pada penjual nasi uduk tersebut, lalu menghampiri Kaila yang sudah duduk di kursi.


“Tadi Mama cerita, katanya waktu dia kuliah dulu, dia sering beli nasi uduk sebelum berangkat ke kampus sama pacarnya,” ucap Kana membuat Kaila menoleh.


“Sama Om Kavin?” tanya Kaila.


Kana menggeleng. “Bukan katanya. Aku gak tanya sih siapa. Lagipula udah masa lalu juga.”


Kaila mengangguk membenarkan.


Kana tersenyum dan menatap Kaila. “Kamu kayanya ada yang lagi dipikirin. Mikirin apa?”


Kaila tersenyum. “Gak papa kok. Gak ada yang lagi aku pikirin.”


“Jangan bohong, Kaila. Aku tahu kamu lagi mikirin sesuatu.”


Kaila menghela napas, lalu menatap lekat kekasihnya. “Kamu mau gak bantuin aku?”


Kana mengerutkan dahinya. “Bantuin apa?”


“Cari keluargaku. Papa sama Kakakku,” jawab Kaila.


Kana menggigit bibir bawahnya. “Tapi kamu tahu dia ada dimana? Eng—gak maksudnya, kamu tahu dia di kota mana gitu?”


Kaila mengangguk. “Jakarta.”


Kana membulatkan bibirnya. “Jadi kamu pengen ke Jakarta lagi buat cari mereka?”


Kaila mengangguk. “Jumat besok ‘kan tanggal merah, jadi kita punya waktu Jumat, Sabtu, Minggu buat cari mereka.”


Kana mengangguk.


“Kamu mau ‘kan bantuin aku cari mereka? Sekalian kita ketemu Aji sama Nabila. Aku tahu kamu juga pasti kangen sama dia,” ucap Kaila membuat Kana tersenyum.


“Jadi Jumat ya kita berangkat ke Jakarta?”


Kaila mengangguk.


“Kita ikut boleh enggak?” ucap seseorang membuat sepasang kekasih itu menoleh.


“Wilka? Kevin?” ucap Kaila yang melihat Wilka dan Kevin sudah berada disini. 


Wilka tersenyum, begitu pun dengan Kevin.


“Aku boleh gak ikut bantu cari?” ucap Wilka menawarkan diri.


“Iya, aku juga boleh gak?” tanya Kevin demikian.


Kaila tersenyum dan mengangguk. Membuat kedua temannya itu tersenyum lebar dan bersorak ria.


“Yeayy!!”


Kaila bahagia. Disini banyak orang yang peduli padanya. Termasuk Kevin dan Wilka.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2