
Part 1
"Udah gue bilang, lo sama Kana itu jodoh!" ucap Elsa membuat Kaila menoleh dan menatapnya serius.
"Lo yakin?" tanya Kaila.
"Yes! I'm very sure! Lo jauh-jauh dari Jerman ke Jogja, terus dari Jogja ke Jakarta dan bisa ketuker koper sama Kana apa bukan jodoh? Please, pikir lagi Kaila, gak ada kebetulan yang segila itu! Menurut gue sih ini takdir Tuhan, Kai. Ini takdir Tuhan. Lo percaya 'kan sama takdir?" Elsa menaikkan kedua alisnya.
Kaila menggigit bibir bawahnya dan melipat kedua lengannya.
"Come on, Kai! Gue yakin, Kana pasti masih berharap sama lo!" seru Elsa.
"Tapi ini udah delapan tahun, El."
Elsa tersenyum dan menarik tangan Kaila. "I know. But I think, gak ada yang berubah di antara kalian. Kaya kita, kita juga udah delapan tahun 'kan pisah? Kita beda negara, chattingan jarang, nelpon juga jarang, tapi, kita tetep sahabat 'kan?"
Kaila mengangguk. "Lo bener. Tapi gue sama Kana beda. Kami pisah dengan luka, El."
Elsa menghela napas. "Rumit."
Kaila menunduk lalu meraih ponselnya.
"Sekarang, Kana ngehubungin lo gak nanyain kopernya?" tanya Elsa.
Kaila menggeleng.
Elsa mengerutkan dahinya lalu melebarkan mata. "Jangan-jangan, dia gak sadar kopernya tertukar?"
-o0o-
"Den Kana! Makan dulu Den," ucap seorang asisten rumah tangga keluarga Kana.
Kana mengangguk dan tersenyum. "Oh ya Bi, mau nanya. Kemarin koper yang aku bawa dari Jogja udah dimasukin ke kamar 'kan?"
Asisten itu mengangguk. "Sudah Den, apa mau bibi ambilin?"
Kana menggeleng. "Gak usah, Bi. Biarin aja. Isinya juga cuma baju bersih sama jas doang," ucap Kana lalu melangkah menuju ruang keluarga.
Kana melangkahkan kakinya dan menghampiri kedua orangtuanya yang tengah mengobrol bersama di ruang keluarga.
"Ma, Pa," panggil Kana membuat kedua orangtuanya menoleh.
"Eh, Kan, udah pulang kamu?" tanya Alina.
Kana mengangguk. "Ma, kata Aji, Tante Nana sama Om Anan mau ke Jerman ya?"
Kavin menoleh. "Anan ke Jerman?"
Kana mengangguk.
"Lah, baru juga menang giveaway sekali, mau dipake liburan aja tuh orang!" ucap Kavin seraya menggelengka kepala.
"Anan menang giveaway apa?" tanya Alina.
"Motor," ucap Kavin.
Kana menghela napas dan menatap Kavin kesal. "Ya kali Pa, ke Jerman naik motor," ucapnya dan dibalas cengiran kuda oleh Kavin.
"Tapi tumben amat tuh orang ngajak istrinya liburan."
Kana menghela napas. "Ma, Pa, Kana ngasih tahu Om Anan mau ke Jerman itu buat nawarin siapa tahu Mama sama Papa juga mau kesana."
__ADS_1
Alina melebarkan mata. "Serius?"
Kana mengangguk. "Tapi Kana ikut."
"Lah, klinikmu kaya mana? Ditinggal lagi?" tanya Kavin.
Kana mengangguk. "Aji mau jagain lagi."
Alina tersenyum. "Tapi tumben kamu mau ikut liburan ke Jerman, apa karena?"
Kana menggeleng. "Bukan karena Kaila. Kana pengen aja liburan kesana. Pengen menghirup udaranya dan mengistirahatkan otak sementara."
Alina menatap mata putranya. "Tapi kamu yakin ke Jerman bukan untuk temui Kaila?"
Kana menggeleng. "Kaila udah gak ada kabar, Ma. Dan mungkin aja dia udah ada pasangan sekarang. Jadi buat apa juga Kana nunggu lagi?"
Kavin mengangguk lalu meletakkan lengannya di pundak Kana. "Papa setuju sama kamu! Lagipula sekarang umur kamu udah 26 'kan? Mau 27? Udah waktunya buat-"
"STOP! Aku gak mau dengerin hal itu. Dari kemarin yang Kana denger, menikah, menikah, menikah!" ucap Kana kesal.
"Tapi memang bener, Kan. Lagipula dulu aja Papamu nikah muda. Lulus kuliah kita langsung nikah," jelas Alina.
Kana menghela napas dan menatap kedua orangtuanya kesal. "Pokoknya Kana gak mau denger nikah-nikah-nikah sampai Kana ketemu sama orang yang tepat!" serunya lalu melangkah pergi.
Kavin menaikkan kedua alisnya dan menatap Alina. "Lah, dia gak jadi ngajakin ke Jerman?"
Alina mengedikkan bahu lalu berjalan menuju kamarnya.
"Lah, kok malah jadi pergi semua?" ucap Kavin bingung.
-o0o-
"Kai! Gue dapet nomor Kana!" seru Elsa membuat wanita yang ia panggil menoleh.
Kaila melirik Elsa. "Lo yakin nomor yang tertera ini nomor pribadi Kana?"
Elsa memamerkan deretan giginya. "Ya enggak sih." Elsa melebarkan mata. "Tapi apa salahnya kita coba? Siapa tahu aja Kana yang ngangkat."
"Lo tapi ya yang nelpon?" ucap Kaila.
"Lah? Kok gue? Yang kangen elo, masa gue yang nepon!" seru Elsa.
"Please, lo aja. Gue belum sanggup buat bicara sama Kana."
Elsa menghela napas. "Oke, gue telpon ya?"
Kaila mengangguk dan mendekat ke Elsa. Berharap ia bisa mendengar apa yang Kana katakan nanti.
Elsa menekan nomor yang tertera dan tersambung di telepon.
"Aktif nomornya?" tanya Kaila.
Elsa mengangguk "Belum di angka tapi. Eh, di angkat!" serunya. "Halo?"
"Halo, dengan klinik Bintang, ada yang bisa di bantu?"
"Suara cewek," bisik Elsa.
Kaila menaikkan kedua alisnya lalu mendekatkan telinganya ke handphone Elsa.
"Maaf, ini dengan siapa ya?" tanya Elsa. "Maksudnya atas nama siapa?"
__ADS_1
"Saya Ayu, perawat di klinik ini. Ada yang bisa di bantu?"
"Ini saya mau ngomong sama Kana bisa?" tanya Elsa kembali.
"Maaf, Dokter Kana baru saja pulang."
"Oh gitu ya? Kalau minta nomor whatsappnya bisa?"
"Maaf, kami tidak bisa memberikan nomor pribadinya. Kalau ada sesuatu, bisa lewat nomor ini, nanti saya sampaikan."
Elsa menghela napas lalu melirik Kaila. "Gimana?"
"Tanyain, besok atau lusa ada di klinik gak?" lirih Kaila.
Elsa mengangguk lalu kembali ke sambungan telepon. "Maaf, kalau besok atau lusa, dokter Kana-nya ada gak ya?"
"Untuk besok, Dokter Kana ada. Tetapi jika lusa, Dokter Kana akan ambil cuti ke Jerman."
"Jerman?" ucap Elsa dan Kaila bersamaan.
"Iya. Jadi bagaimana ya?" ucap wanita itu.
Elsa melirik Kaila. "Gimana?"
"Yaudah, besok kesana," ucap Kaila.
Elsa mengangguk. "Ya sudah, besok saya kesana. Bisa tapi 'kan bertemu Dokter Kana?"
"Bisa. Nanti saya buatkan jadwal," ucap perawat itu.
Elsa dan Kaila terseyum.
"Siapa?" ucap seorang laki-laki diseberang sana membuat Kaila dan Elsa melebarkan mata.
"Suara Aji," lirih Kaila.
Elsa mengangguk. "Iya, lo bener."
"Ini Dok, ada yang ingin bertemu dengan Dokter Kana," ucap perawat itu pada Aji.
"Bertemu Kana? Siapa? Pasien atau siapa?"
Kaila memejamkan mata. Begitupun dengan Elsa.
"Matiin aja," ucap Kaila dan di angguki oleh Elsa.
Kedua wanita itu menghela napas dan merebahka tubuh di kasur.
"Gak nyangka Aji juga udah jadi Dokter sekarang," ucap Kaila membuat Elsa menoleh.
Elsa mengangguk. "Pada akhirnya, most wanted SMA kita jadi orang semua."
Kaila menoleh. "Dari dulu juga orang kali."
Elsa menyengir kuda. "Jadi, gimana? Besok lo mau temuin Kana?"
Kaila mengangguk. "Besok kesempatan terakhir gue."
Elsa tersenyum dan menggenggam tangan Kaila. "Semangat ya!"
Kaila tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
-o0o-