KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 41


__ADS_3

Part 41


"Kamu gak papa, nerima tawaran Papa aku?" ucap Siska pada Bima saat keduanya berjalan keluar.


Bima tersenyum dan mengangguk. "Gak papa kok. Aku malah seneng bisa bantu Papa kamu."


Siska tersenyum dan merangkul lengan Bima dan menyandarkan kepalanya. "Semangat ya! Gak lama kok. Doain semoga Papaku cepet sembuh."


Bima mengangguk dan tersenyum pada gadis itu. "Aku doain supaya Papa kamu cepet sembuh."


Siska mengangguk dengan senyuman. "Oh ya sayang, nanti kalau aku wisuda, kamu pasti dateng 'kan?"


Bima terkekeh. "Tentu dong! Masa iya, aku gak dateng di hari spesial kamu."


Siska tersenyum lega. "Makasih ya? Kamu udah nerima aku dan mencintai aku."


Bima mengangguk dengan senyuman. "Makasih juga karena selama ini kamu udah berusaha kuat untuk ambil hati aku."


Siska tersenyum.


"Aku langsung pulang gak papa 'kan?" ucap Bima.


Siska mengangguk. "Gak papa kok. Lagipula udah sore juga," ucapnya lalu melepaskan tangannya dari lengan Bima.


"Aku pamit dulu, Assalamualaikum?"


"Waaikumsalam," ucap Siska seraya melambaikan tangannya.


Bima berjalan menuju mobilnya yang terparkir disana. Laki-laki itu terlihat senang.


"Bima!" teriak Siska membuat Bima menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


Siska tersenyum dan berlari menghampiri. "Aku gak tahu, hati kamu beneran udah aku ambil sepenuhnya atau belum. Tapi yang jelas, aku tulus sama kamu."


Bima tersenyum dan mengangguk. Mengusap pucuk kepala Siska dan menatapnya dengan senyuman. Laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan.


Satpam rumah Siska telah membukakan gerbang sebelumnya.


'Tin!'


"Hati-hati!" teriak Siska saat mobil kekasihnya berjalan pergi.


Siska tersenyum menatap mobil itu yang mulai menjauh.


Dengan senyuman di wajah, ia kembali masuk ke dalam untuk bertemu kedua orangtuanya.


"Bima udah pulang?" ucap Eric yang sudah berdiri di hadapan Siska.


Siska mengangguk. Ia menatap ayahnya dengan bingung. "Papa kok gak istirahat?"


Eric tertawa. "Buat apa? Memangnya Papa sakit?"


Siska terlihat bingung. "Papa gak beneran sakit?"


Eric menggeleng dengan senyuman.


"Terus tadi?" Siska memperhatikan wajah ayahnya yang tak pucat sama sekali.


Eric tersenyum dan duduk di sofa. "Papa pengen lihat pengorbanan pacar kamu. Dia beneran sayang gak sama kamu dan keluarga kita. Terus Papa juga pengen lihat, kira-kira dia bisa enggak megang perusahaan Papa kalau nanti kamu menikah sama dia."


"Jadi maksud lain, Papa pengen lihat kemampuan dia?"


Eric mengangguk. "Karena bagi Papa, mencari orang kompeten lebih sulit daripada mencari orang yang berpendidikan. Banyak orang berpendidikan di luar sana, tapi gak kompeten."


Siska menghela napas dan mengangguk. "Oke. Gimana baiknya aja." Siska tampak berpikir. "Tadi Papa bilang, setelah ia bantu handle perusahaan Papa, dia bakal ke Jerman?"


Eric mengangguk. "Mau gimana pun dia harus urus perusahaan dia."


"Terus soal Papa mau kerjasama dengan perusahaan dia? Itu beneran? Dan Papa juga mau bantu urus kepindahan perusahaannya? Bukannya itu— makan dana yang besar ya, Pa? lirih Siska.


Eric tertawa. "Kamu ini. Dengerin, kamu anak satu-satunya Papa. Papa bakal lakuin apapun asal bikin kamu bahagia, termasuk membantu Bima."


Siska mengangguk dan memeluk ayahnya. "Makasih ya, Pa. Kalau gitu— Papa suruh dia handle perusahaan Papa yang lama aja, biar dia ke Jermannya nanti-nantian aja."


Eric tertawa. "Itu mah mau kamu."


Siska tersenyum dan menyengir kuda. "Katanya apapun yang buat Siska bahagia.


Eric mengangguk. "Iya, iya. Memangnya kamu beneran cinta sama dia?"


Siska mengangguk. "Cinta banget."


Eric tertawa. "Kenapa kamu bisa cinta sama dia? Soal ganteng, ya standarlah," ucap pada putrinya tersebut.


Siska menggigit bibir bawahnya. "Gak tahu, Pa. Menurut Siska, Bima orang yang unik. Jarang bisa nemuin orang kaya dia di dunia ini. Mungkin Satu banding seribu."


Eric tertawa dan menggelengkan kepala. "Enggak, enggak. Papa becanda. Soal tampang, Bima memang ganteng banget kok."


"Iyalah. Pacar Siska!" serunya dengan bangga.


-o0o-


"Na," lirik Kaila saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Kana untuk pulang ke rumah.


Kana menoleh dan tersenyum. "Kenapa?"


"Aku tiba-tiba pengen makan sate buatan kamu."


Kana melebarkan mata. "Sate? Buatanku?"


Kaila mengangguk. "Kamu yang bakar." Kaila menggigit bibir bawahnya. "Tapi pakai arang langsung."


Kana tersenyum tak habis pikir. "Arang darimana, La?"


Kaila mengedikkan bahu. "Gak tahu," ucap Kaila lalu menyandark kepalanya di mobil.


Kana menghela napas. Sebenarnya laki-laki itu lelah sekali. Hari ini banyak sekali pasien yang datang, lalu ia harus menjemput istrinya dan sekarang istrinya ingin sate yang ia bakar langsung menggunakan arang.


"La, kamu serius?"


Kaila mengangguk. "Ngapain aku ngada-ngada. Anak kamu sendiri yang pengen."


Kana menghela napas dan mengedarkan pandangannya. Mencari pedagang sate yang berada dipinggir jalan.


"Kalau makan sate di tempatnya langsung gimana? Gak buat sendiri," ucap Kana.


Kaila menatap Kana datar. "Yaudah, tapi kamu yang bakar."


Kana melebarkan mata. "Aku?"


Kaila mengangguk. Lalu mengusap perutnya. "Anak kamu yang pengen."


"Tapi 'kan rasanya sama aja Yang, mau aku atau yang jual."


"Beda."


Kana diam. "Yaudah. Oke-oke, aku yang bakar."


Kana menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu turun dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Bisa sendiri," ucap Kaila saat di bantu suaminya untuk turun.


Kana tersenyum sabar. "Sabar Kana, bumil emang mudah sensi," batinnya.


"Permisi, Pak," ucap Kana pada penjual sate tersebut.


"Iya?"


Kana tersenyum. Lalu menoleh ke sekeliling. Rupanya pembeli disini lumayan ramai.


"Kira-kira pesenannya masih banyak gak ya, Pak?" ucap Kana.


Penjual itu tersenyum. "Masih satu pesanan lagi."


Kana tersenyum lega. "Alhamdulillah."


"Mau pesan berapa Masnya?" ucap penjual itu.


Kana tersenyum dan mendekat. "Begini, Pak. Istri saya 'kan lagi hamil dan dia pengen makan sate. Tapi, maunya saya yang bakar langsung."


Penjualnya tertawa. "Boleh, boleh. Ya sudah, Masnya duduk dulu ya, nanti saya panggil kalau pesanan ini selesai."

__ADS_1


Kana tersenyum dan mengangguk. "Makasih banyak, Pak."


"Sama-sama."


Kana tersenyum lega dan berjalan menghampiri Kaila yang sedang duduk sendiri. Laki-laki itu menarik kursi dan duduk di depan istrinya. "Sebentar ya?"


Kaila mengangguk. Raut wajah wanita itu terlihat kesal sekali.


"Kenapa sih? Kok bête banget?" ucap Kana.


Kaila menghela napas dan menggeleng. "Gak papa."


"Ada masalah?"


Kaila menggeleng.


"Ada yang bikin kesel?"


"Enggak, Kana!" ucap Kaila kesal. "Kamu malah yang bikin kesel," ucap Kaila lalu menyandarkan kepalanya di meja menatap beberapa orang yang tengah menyantap sate.


Kana tersenyum dan mengusap lengan istrinya. "Sabar ya? Masih satu antrian lagi."


Kaila mengangguk.


Keduanya hanya diam. Kana terus memperhatikan istrinya. Ia merasa, belakangan ini istrinya begitu sensitive.


Kana sebagai seorang dokter pun mengetahui penyebab istrinya mudah sensitif. Ia juga berusaha mengerti dan mencoba memahaminya.


Kana tersenyum dan menatap istrinya dengan hangat.


"Permisi Mas, sudah siap Mas," ucap penjual sate tersebut yang menghampiri Kana.


Kana mengangguk dan bangkit dari duduknya. "Aku tinggal dulu ya?"


Kaila mengangguk dan memainkan kembali ponselnya. Sembari menunggu Kana, wanita itu membuka aplikasi belanja online untuk mencari pakaian bayi."


Kana terbatuk saat asap itu terbang ke arahnya.


Penjual sate hanya tersenyum dan menyerahkan kipas kepada Kana. "Di kipas Mas."


Kana tersenyum malu dan mengambil kipas itu.


Cukup sulit untuk membakar sate seperti ini. Namun, ini adalah tantangan untuk Kana. Laki-laki itu harus bisa memenuhi keinginan istrinya meskipun cukup membuatnya kesulitan.


"Abis ini di apain lagi, Pak?" ucap Kana.


"Dikasih kecapnya, Mas."


Kana mengangguk dan memberikan kecap kepada daging itu.


Di meja, Kaila tersenyum melihat suaminya. Ia senang, keinginannya sudah di turuti.


Setelah cukup lama membakar sate, akhirnya sate itu pun matang.


Lelaki itu menoleh pada istrinya. "Aku juga yang nyiapin?" ucapnya.


Kaila mengangguk dengan senyuman, lalu mengambil piring untuk menyiapkannya.


"Sabar ya, Mas. Istri saya juga dulu gitu waktu hamil. Mana, banyak banget permintaannya," ucap penjual sate itu.


Kana tersenyum. "Iya, Pak. Memang banyak mau kalau lagi hamil."


Kana terkekeh dan membawa sate itu kepada Kaila.


"Ini sayang, di makan," ucap Kana memberikan sate tersebut.


Kaila tersenyum dan menggeleng. "Makan kamu aja."


Kana melebarkan mata. "Kok makan aku? 'Kan kamu yang pengen sate?"


"Enggak. Aku cuma pengen liat kamu bakar sate doang."


Kana melebarkan mata. Ia menghela napas dan mengelus dada. "Sabar, Kana, sabar," batinnya.


-o0o-


"Kamu tumben tadi waktu di rumah sakit pulang duluan?" ucap Aji saat ia dan Keiza sudah sampai dirumah.


"Janjian sama Kaila?"


Keiza mengangguk. "Dia juga lagi stress banget tadi. Makanya pengen nenangin pikiran."


Aji membulatkan bibirnya.


Keiza mengangguk dan menaruh tasnya. "Tadi kok kamu bareng Kana?"


Aji mengangguk. "Oh ya sayang, aku lupa mau kasih tahu. Tadi Kana bilang, di kliniknya butuh dokter spesialis anak. Barangkali kamu mau ambil. Kata dia, kalau kamu mau, kamu bisa ambil seminggu dua kali. Senin sama kamis, atau hari apa gitu."


Keiza membulatkan bibir dan tampak berpikir. "Nanti aku pikirin ya?"


Aji mengangguk. "Kalau kamu capek, jangan dipaksain ya?"


Keiza mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Aji tersenyum. Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di kasur. Lelah sekali rasanya.


"Kapan ya, aku sama Keiza dikasih momongan?" lirihnya.


-o0o-


"Kok tiba-tiba aku pengen—"


"Lagi?" ucap Kana.


Mendengar hal itu, Kaila pun menatap Kana kesal. "Yaudah kalau gak mau nurutin."


Kana melebarkan mata. "Bukan gitu, sayang. Aku bukan gak mau nurutin. Aku cuma capek doang."


"Tuh 'kan kamu capek?" ucap Kaila kesal. "Yaudahlah, aku ini memang nyusahin suami doang," ucapnya lalu menatap ke arah lain.


Saat ini sepasang suami istri itu sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


"Sayang, bukan gitu maksudnya," ucap Kana mencoba menyentuh lengan istrinya.


"Gak usah pegang-pegang!" Kaila menyingkirkan tangan Kana dari lengannya.


"Yah, kamu malah marah," ucap Kana.


Kaila berdecak. "Aku gak marah. Aku sebel aja sama kamu."


"Yaudah aku minta maaf," ucap Kana.


Kaila tak menjawab, wanita itu menatap ke arah lain tanpa menoleh sedikit pun kepada Kana.


Kana menghela napas dan terus membujuk istrinya. "Kamu mau apa?"


"Gak!"


"Mau aku bakar sate lagi?"


"Enggak!"


Kana menatap Kaila sedih. "Terus mau apa dong?"


"Pulang!"


"Beneran mau pulang? Gak mau kemana dulu gitu?"


Kaila berdecak dan menatap Kana kesal. "Aku bilang pulang ya pulang."


Kana menghela napas dan mengangguk. "Oke, kita pulang ya?"


Kaila tak jawab. Wanita itu masih sangat kesal.


-o0o-


Setelah sampai rumah, Kaila langsung masuk ke kamar.


'Brak!'


Wanita itu menutup pintu itu sangat keras.

__ADS_1


Terlihat sekali jika suasanan hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Kana tersenyum tipis dan melemparkan tubuhnya ke sofa. Meraih ponselnya dan menghubungi seseorang disana.


"Halo, Kana?" ucap seorang wanita di seberang sana.


Kana bangkit dari duduknya dan berjalan pergi untuk berbicara di luar.


-o0o-


Kaila menyipitkan matanya. "Dia nelpon siapa?" Kaila tampak berpikir penuh tanya.


Wanita itu pun membuka pintu dan mencari keberadaan Kana.


Ia melangkah pelan, dan melihat Kana tengah menelepon seseorang di depan.


"Mood Kaila lagi jelek banget," ucap Kana.


Kaila melebarkan mata mendengar hal itu.


"Udah coba ditanyain mau apa, tapi malah marah. Sekarang lagi dikamar orangnya."


Kaila menggigit bibir bawahnya menguping pembicaraan suaminya dengan seseorang di seberang sana.


"Iya, nanti aku coba. Oke Mayang."


Kaila melebarkan mata. "Mayang?"


Jantung Kaila berpacu cepat. Hatinya membara. "Siapa Mayang?" batinnya yang sudah terbakar api cemburu.


Kaila mengintip ke jendela. Kana akan segera masuk.


Kaila segera berlari ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Menarik selimut hingga menutupi seluruh badan.


"Lala sayang," ucap Kana yang sudah berada di kamar.


Kana terkekeh melihat tubuh istrinya di tutupi selimut.


"Emm—" Kana memeluk istrinya dengan hangat. "Jangan marah mulu dong," ucap Kana.


Kaila tak menjawab. Wanita itu pura-pura tidur.


"Lala, sayangku, hei."


Kaila tak menjawab.


Kana terkekeh dan membuka selimut yang menutupi wajah istrinya. "Yah, masa tidur? Gak asik banget."


Kaila berdecak dan membuka matanya. "Siapa Mayang?" ucapnya menatap Kana kesal.


Kana melebarkan mata. "Mayang?"


Kaila mengangguk. "Selingkuhan kamu?"


Kana tak mengerti. "Maksudnya?"


Kaila berdecak. "Gak usah bohong. Siapa Mayang?"


"Mayang siapa?" ucap Kana bingung.


"Selingkuhan kamu 'kan?" Kaila menatap Kana tajam. "Kamu jelek-jelekin aku depan dia. Bilang mood aku jelek. Biar apa? Biar dia hibur kamu?"


Kana masih tak mengerti. "Maksudnya?"


Kaila berdecak. Mencoba duduk dan melipat kedua lengannya. "Tadi aku denger kamu telponan sama Mayang di depan. Nadanya lembut banget lagi."


Kana tertawa. "Astaga, itu Mama Alina."


"Bohong! Jelas-jelas kamu manggilnya Mayang."


Kana mneghela napas. "Beneran sayang. Aku manggil Mayang, maksudnya Mama Sayang."


Kaila terdiam. "Iya juga?" batinnya. "Batin kalau ternyata Kana bohong?" batinnya lagi.


"Kamu masih gak percaya?" ucap Kana dengan cengiran.


Kaila menatap Kana tajam dan menyerahkan tangannya. "Mana hpnya? Aku mau lihat."


Kana tertawa dan menggelengkan kepala. Meraih ponselnya dan memperlihatkan riwayat panggilan.


"Nih, Mama Alina."


Kaila meraih ponsel itu dan membaca nama kontak. "Yakin kamu nelpon Mama Alina?"


Kana mengangguk.


"Aku telpon Mama Alina ya?" ucap Kaila dengan tatapan tajam.


"Telponlah, silahkan." Kana tersenyum dan melipat kedua lengannya.


Kaila mencoba menekan nomor itu dan menghubunginya.


'Tut! Tut! Tut!'


"Halo, sayang? Kenapa lagi? Kamu udah coba bujuk istri kamu?"


Kaila terdiam. Itu suara Alina.


Kaila berdeham dan melirik Kana.


Kana sudah tersenyum menang menatap istrinya.


Kaila mendekatkan ponselnya ke telinga. "Halo, Ma. Ini Kaila."


"Oh Kaila! Gimana sayang?"


Kaila tersenyum dan menggeleng. "Gak papa, Ma. Tadi Kana nelpon Mama ya?"


"Iya. Tadi dia nelpon. Katanya kamu lagi gak mood."


Kaila tersenyum malu. "Iya, Ma."


"Kamu pengen apa sayang? Bilang aja. Nanti Mama kesana sama Papa."


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Emm— gak usah, Ma. Kaila gak pengen apa-apa kok."


"Beneran?"


Kaila mengangguk. "Iya, Ma."


"Ya sudah, kalau kamu pengen apa-apa, bilang aja ya sama Mama."


"Iya, Ma. Yaudah, Ma. Kalau gitu Kaila matiin ya telponnya. Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam."


'Tit!'


Kaila menyerahkan kembali ponselnya pada Kana dengan wajah kesal dan malu.


Kana tertawa. "Kamu sih, gak percayaan sama suami."


Kaila tak menjawab. Wanita itu menarik selimutnya dan menutupi wajahnya karena malu.


Kana terkekeh dan memeluk istrinya.


"Nana! geli!"


Kana tak mendengarkan. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya meskipun istrinya sudah meneriakinya.


"Buka dulu geh, selimutnya."


Kaila berdecak dan membuka selimut. Menatap mata Kana yang saat ini tengah menatapnya.


"Ngambekan," ucap Kana sembari mencubit pipi Kaila dengan gemas.


"Nyebelin sih!"


"Gak papa nyebelin, daripada ngambekan," ucap Kana lalu mencium istrinya membuat Kaila tertawa karena geli.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2