KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 43


__ADS_3

Part 43


Kiara menatap laki-laki di depannya.


Saat ini, keduanya tengah berada di kafe depan sekolah mereka.


Bicara soal sekolah, Kiara melanjutkan SMA-nya di Jakarta. Rencana untuk melanjutkan di Jerman telah gagal.


Kiara bersyukur. Karena kebahagiaan Kiara sepenuhnya disini, bukan di Jerman.


Aldo berdeham. "Aku senang kamu lanjut SMA disini. Seenggaknya, aku masih bisa lihat kamu." Aldo menghela napas dan mencoba tersenyum.


Kiara tersenyum dan mengaduk minumannya. "Aku ngajak kamu ketemu disini, karena aku pengen ngomong sesuatu sama kamu."


Aldo menaikkan kedua alisnya. "Mau ngomong apa?"


Kiara yang menunduk pun mencoba menatap wajah Aldo. "Maafin gue ya kalau selama ini udah sengaja bikin lo kesel."


Aldo tersenyum miring. "Gue juga, 'kan?"


Kiara mengangguk. "Lo juga! Bahkan lo yang selalu mancing duluan."


Aldo tertawa, lalu meraih tangan Kiara. "Gue sengaja."


Kiara diam.


"Gue sengaja bikin lo kesel karena pengen cari perhatian sama lo. Gue kangen moment-moment gue sama lo, Ra."


Kiara menatap mata Aldo dan mencari sebuah kebohongan disana.


Meskipun wanita yang saat itu bersama Aldo adalah sepupunya. Tapi Kiara tetap meragukan Aldo. Ia belum percaya sepenuhnya pada lelaki itu.


"Lo mau cari kebohongan?" ucap Aldo.


Kiara diam dan menunduk. "Gue masih ragu sama lo."


Aldo menggeleng. "Gue gak mainin lo, Ra. Lagipula gue beneran sayang sama lo. Kalau gue mainin lo, sama aja gue jelekin nama Bang Aji depan lo."


Benar. Apa yang Aldo katakan benar.


Jika ia memainkan Kiara, tentu nama Aji akan ikut jelek.


Aldo tak mungkin melakukan itu.


"Please, Ra. Percaya sama gue. Gue kesiksa kalau tiap hari kaya gini. Gue bisa lihat lo tiap hari, tapi gak bisa milikin lo. Itu menyakitkan."


Kiara tertawa.


"Kok lo malah ketawa?" ucap Aldo bingung.


Kiara menggeleng dengan senyuman. "Enggak— enggak. Sorry."


"Please, please."


Kiara berdecak dan menatap Aldo kesal. "Lo dari tadi plas, plis, plas, plis, tapi gak jelasin tujuannya. Jadi tujuannya apa?"


"Tujuannya gue pengen lo balikan sama gue," ucap Aldo.


Kiara mengangguk. "Oke!"


Aldo melebarkan mata. "Hah? Apa?"


Kiara berdecak. "Kita balikan Aldo."


"Beneran?"


"Gak! Bohongan."


"Asikkkk!" seru Aldo membuat beberapa menoleh.


Aji tersenyum malu. "Sorry, sorry."


Kiara terkekeh dan menutup wajahnya malu. "Lo ini, malu-maluin, ah."


Aldo tersenyum malu. "Yaudah yuk, kita pergi aja."


Kiara mengangguk. "Mau kemana tapi?"


Aldo tampak berpikir. "Keliling kota?"


Kiara tampak berpikir. "Oke! Ayo!"


Aldo terkekeh dan menarik tangan Kiara.


'Drrrttt!'


Ponsel Kiara bergetar.


Kiara mengerutkan dahinya saat Kana menelponnya.


"Siapa?" tanya Aldo.


"Kak Kana."


-o0o-


Bima tersenyum pada Siska yang tengah mengantarkannya sampai Bandara.


Hari ini, Bima akan kembali ke Jerman untuk beberapa hari.


Laki-laki itu akan mengurus perusahaannya yang di Jerman untuk ia pindahkan ke Indonesia.


Sebelumnya, lelaki itu sudah mengurus semuanya dengan bantuan temannya yang berada di Jerman. Setelah semua tahap hampir selesai, dan kinilah waktunya Bima datang langsung dan mengurusnya secara sendiri.


"Kamu gak papa ke Jerman sendiri?" ucap Siska.


Bima mengangguk dan mengusap rambut Siska. "Gak papa. Aku bisa urus ini kok."


"Tapi kamu gak lama 'kan? Selesai urusan disana langsung pulang?"


Bima mengangguk. "Setelah urusan selesai, aku bakal lamar kamu di depan orangtua kamu langsung."


Siska tersenyum dan mengangguk. "Aku tunggu kamu."


Bima terkekeh dan membuka tangannya lebar-lebar agar Siska masuk ke dalam pelukannya.


"Aku sayang banget sama kamu," ucap Bima sembari mengusap punggung kekasihnya. "Aku janji, pulang dari Jerman aku bakal lamar kamu. Dan setelah urusan perusahaanku di Indonesia kelar, aku langsung nikahin kamu."


Siska melepaskan pelukan itu dan menatap Bima. "Beneran?"


Bima mengangguk. "Aku udah niatin ini dari lama. Jadi aku gak bakal buang-buang waktu setelah ini. Aku bakal ngebahagiain kamu."


Siska tersenyum dan kembali memeluk Bima. "Inget aku ya waktu di Jerman. Jangan lirik-lirik cewek lain."


"Iya, sayang. Kamu juga. Jangan lirik-lirik cowok lain. Pokoknya, setiap kamu lihat cowok yang lebih ganteng dari aku, kamu harus sebut namaku tiga kali."


Siska tertawa. "Memangnya apaan? Terus kalau aku sebut nama kamu tiga kali, kamu bakal dateng?"


Bima mengangguk. "Dateng dalam pikiran kamu."


Kaila tertawa. "Gombal ya!" ucapnya seraya mencubit pinggang Bima.


Bima tersenyum dan mengecup kening Siska. "Aku pergi dulu ya?"


Siska mengangguk. "Hati-hati."

__ADS_1


Bima tersenyum. Melepas pelukan itu dan berjalan pergi.


Siska masih berdiri, menatap punggung Bima yang mulai menjauh.


"Bima!" teriak Siska.


Bima membalikkan badannya dan melambaikan tangan.


"Jaga diri baik-baik! Aku sayang kamu!" teriak Siska membuat beberapa orang yang berada disitu menoleh.


Setelah punggung Bima tak terlihat lagi, Siska menghela napas dan menunduk.


"Kenapa rasanya berat buat pisah sama dia?"


-o0o-


"Berarti danau yang waktu itu kita datengin, beneran mitos ya?" ucapnya membuat Aji menoleh.


Kedua orang itu baru saja keluar dari pemakaman dan naik ke mobil.


Aji tersenyum dan menganguk. "Aku dari awal juga memang gak percaya sama mitosnya sih. Jadi lebih menikmati keindahan alamnya."


Keiza tersenyum dan mengangguk.


"Kita mau kemana? Mau kembali ke rumah sakit?" ucap Keiza.


Aji tampak berpikir beberapa saat. "Gak usah ya? Mood kamu lagi gak bagus kalau mau kembali kesana."


Keiza tersenyum dan mengangguk. "Terus mau kemana?"


"Ke rumah Mama gimana?" ucapnya menawarkan diri.


Keiza terdiam dan tampak berpikir.


Aji tersenyum. "Yaudah kita ke ruko Oma aja ya? Kita makan kue disana."


"Ruko Oma?" ucap Keiza.


Aji mengangguk. "Omanya Kana. Mamanya Tante Alina. Mau gak?"


"Yuk!" ucap Keiza.


Aji tersenyum dan mengangguk, lalu melajukan mobilnya.


"Mau dengerin musik gak?" ucap Aji.


Ia mengatakan hal itu barangkali bisa menaikkan suasana hati Keiza.


Keiza tersenyum dan mengangguk.


"Mau lagu apa?" ucap Aji.


"Lagu terakhir yang kamu dengerin," ucap Keiza.


"Lagu kesukaan kamu dong? 'Kan aku dengerin lagunya bareng kamu dimobil," ucap Aji membuat Keiza tertawa.


"Yaudah aku idupin ya." Keiza menekan tombol yang langsung terhubung dengan lagu terakhir yang ia dengarkan saat berangkat tadi.


Suasana hati Keiza sepertinya telah membaik. Wanita itu mendengarkan lagu itu sembari ikut menyanyikan bait-bait yang ia hafal.


Keiza membuka mulutnya dan ikut menyanyikan bagian reff lagu Pesan Terakhir milik Lyodra tersebut. "Genggam tanganku sayang dekat denganmu peluk diriku, berdiri tegak di depan aku, cium keningku yang terakhir. Ku 'kan menghilang jauh darimu tak terlihat sehelai rambut pun. Tapi dimana nanti kau terluka, cari aku, ku ada untukmu. Hoo—"


Keiza menarik napasnya panjang.


"Genggam tanganku sayang dekat denganmu peluk diriku, berdiri tegak di depan aku, cium keningku yang terakhir. Ku 'kan menghilang jauh darimu tak terlihat sehelai rambut pun. Tapi dimana nanti kau terluka, cari aku, ku ada untukmu," ucap Keiza memegang lengan Aji.


"Serem amat," ucap Aji membuat Keiza tertawa.


"Ya namanya juga lagu, sayang. Suka-suka yang buatlah."


Aji tertawa dan menggelengkan kepala. "Abisnya, lagunya sedih amat. 'Kan serem dengernya. Dan kaya mau pergi jauh aja."


"Yaudah ntar aku demo, kamu temenin ya?"


Keiza tertawa keras. "Ntar aku bantu bawa spanduknya ya?"


Aji mengangguk. "Jangan lupa ajak Kana sama Bima, kaum-kaum penentang galauers," ucap Aji tertawa.


Keiza menggelengkan kepala dengan obrolan tak jelas ini.


"Ada-ada aja," ucapnya tertawa.


"Itu ruko Oma," ucap Aji dan menghentikan mobilnya di depan sebuah toko kue yang sangat terkenal di kota ini.


Keiza membulatkan bibirnya. Ini adalah pertama kali baginya datang kesini.


"Jadi ini toko kue yang pernah Kaila kerja part time buat cari Mama Nabila?" ucapnya.


Aji mengangguk. "Dan disini juga pertama kali aku ketemu Kaila." Aji tersenyum. "Bahkan, kisah cinta Kana juga dimulai disini. Aku gak tahu kenapa, tapi kue Oma sangat berjasa dikisah cinta Kana dan Kaila."


Keiza tersenyum. "Aku pernah denger dari Bima, katanya kamu pernah berantem sama Kana karena Kaila hilang?"


Aji tersenyum dan mengangguk. "Waktu itu karena aku ninggalin Kaila sendiri. Dan dia di culik. Kamu udah tahu 'kan siapa yang nyulik?"


Keiza mengangguk. "Bima udah cerita. Karena itu dia benci banget sama Papanya."


Aji tersenyum dan merangkul pundak. "Yaudah yuk, ke dalem. Kamu harus kenalan sama Mbak Susi. Dia asistennya Oma. Baik banget orangnya."


Keiza mengangguk.


"Assalamualaikum!" ucap Aji dan Keiza saat sampai di dalam.


"AJI? CUCU OMA?" teriak Raisa yang melihat kedatangan Aji dan langsung memeluknya. Raisa menoleh pada Keiza. "Eh, Keiza, sayang!" Raisa beralih memeluk Keiza.


Keiza tersenyum dan membalas pelukan Raisa.


"Kalian tumben kesini? Gak bareng Kana sama Kaila?" ucap Raisa.


Aji tersenyum dan menggeleng. "Enggak, Ma."


Raisa mengangguk dan merangkul Keiza. "Ayo Keiza, kita makan kue."


Raisa tersenyum dan mengikuti langkah Raisa menuju meja.


"Ini meja khusus untuk keluarga. Jadi kalian berdua duduk disini aja ya?"


Keiza dan Aji mengangguk dan duduk menarik kursi.


"Sebentar, Oma panggilin Susi dulu." Raisa menoleh ke arah wanita yang tengah menyiapkan pesanan.


"Susi!" teriak Raisa.


Susi menoleh. "Iya, Oma!"


"Sini!" teriak Raisa.


Susi mengangguk dan berjalan menghampiri. "Loh, Mas Aji?"


Aji tersenyum. "Halo, Mbak!"


Susi tersenyum dan menoleh pada Keiza. "Mbak Kei? Kakaknya Kaila?"


Keiza tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mbak Susi."


"Cantik banget Mbak Keiza, waktu itu kita ketemu di pernikahan kalian. Tapi pasti gak inget sama Mbak Susi. Soalnya Mbak Susi beda kalau lagi pakai make up sama enggak," ucap Susi membuat Aji, Keiza, beserta Raisa tertawa.

__ADS_1


"Malah curhat," ucap Raisa.


"Hehe, maaf Oma. Gimana? Gimana? Perlu bantuan apa?" ucap Susi dengan ramahnya.


"Kamu keluarin kue-kue kesukaan Aji kesini ya? Keiza perlu nyobain," ucap Raisa.


Susi mengangguk. "Siap, Oma!" Susi tersenyum pada sepasang suami istri itu dan berjalan pergi.


"Aji dari kecil sering banget kesini, Kei. Kue Oma udah dia jadiin makanan pokok. Pokoknya, kalau gak cocok sama masakan dirumah. Dia bakal lari kesini minta kue sama Oma."


Keiza terkekeh mendengar cerita Raisa.


"Aji waktu kecil nakal gak Oma?" ucap Raisa.


"Nakal sih, enggak. Malah dia ini anaknya penyayang. Apalagi sama Kana. Di tambah dia memang usianya lebih tua satu tahun 'kan dari Kana. Jadi kalau kecil dulu dia sering jagain Kana sama jagain temennya yang cewek itu, siapa namanya? Yang udah meninggal?" ucap Raisa.


"Adinda, Oma," jawab Aji.


Raisa mengangguk. "Iya, Adinda. Nah, dulu waktu kecil Adinda sering banget berantem sama Kana. Kana itu waktu kecil nakal banget. Kalau kamu nakalin dia, bakal di bales sampai nangis sama dia," ucap Raisa menjelaskan watak cucunya waktu kecil.


Aji mengangguk.


"Pokoknya kalau Adinda sama Kana udah mulai berantem, Aji yang misahin. Tapi pas masuk SD, mereka udah mulai akur. Gak ada berantem-berantem lagi," ucap Raisa.


Keiza tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Indah banget masa kecil mereka. Berbeda jauh sama masa kecil gue dan Kaila," batin Keiza dengan sedih.


"Keiza?" ucap Raisa membuat Keiza tersadar dari lamunannya.


"Iya, Oma?"


Raisa tersenyum. "Kamu kenapa? Ada masalah?"


Keiza tersenyum tipis dan menggeleng. "Gak papa, Oma."


Raisa terdiam. "Kamu sedih karena Oma bahas-bahas Adinda ya?"


Keiza menggeleng dengan senyuman. "Gak papa, Oma. Keiza Cuma keinget Kaila aja."


"Ohh iya," ucap Raisa dengan senyuman.


"Kue datang!" seru Susi yang datang dengan sebuah nampan berisikan beberapa kue favorit Aji.


"Ini Keiza, cobain. Semua ini, kue-kue kesukaan Aji," ucap Raisa.


Keiza mengangguk dan meraih kue itu namun—


'Drtttt!'


Ponsel Keiza bergetar.


Wanita itu meraih ponselnya dan melihatnya.


"Kana yang nelpon."


Aji dan Raisa melebarkan mata.


"Angkat, yang."


Keiza mengangguk dan mengangkat panggilan itu. "Halo?"


"Kak, Kaila mau melahirkan."


"Ka— Kaila mau melahirkan?"


-o0o-


"Lala, bertahanlah, aku yakin kamu pasti kuat," ucap Kana saat mengantarkan istrinya ke ruang bersalin.


"Kak Kana!" teriak Kiara yang sudah datang dirumah sakit saat di telpon oleh Kana.


Kana menoleh. "Kamu udah kabarin keluarga yang lain?"


Kiara mengangguk. "Aku juga udah telpon Tante Alina sama Om Kavin."


Kana tersenyum. "Yaudah, aku mau anter kakakmu ke ruangan dulu ya?"


Kiara mengangguk.


Kana berjalan masuk menuju ruangan itu.


"Dokter Kana, suaminya?" ucap seorang dokter yang akan membantu persalinan Kaila.


Dokter itu sepertinya menganal Kana.


Kana tersenyum. "Iya, Dok."


Dokter itu tersenyum dan kembali fokus pada Kaila yang sudah tidak dapat menahannya lagi.


"Ayo bu, dorong lagi bu," ucap dokter tersebut.


Kana mengusap keringat yang keluar dari wajah Kaila. "Ayo sayang, aku yakin kamu pasti bisa. Tarik napas, hembuskan," lirih Kana di telinga Kaila sembari mencium istrinya agar tetap kuat.


"Aaaaa!" teriak Kaila.


Wanita itu sudah mencoba menahan agar tidak teriak. Namun, rasa sakit itu membuatnya tak dapat menahannya dan akhirnya berteriak.


"Ayo bu, dorong sedikit lagi. Ya, terus bu. Ayo, dorong. Ambil napas perlahan, lalu buang."


Kaila mengangguk dan mengikuti arahan.


"Ya, lagi bu tarik napas, lalu buang, terus dorong lagi, bu."


"Ahhh!" Kaila menghela napas panjang. "Gak kuat," ucapnya dengan lemah.


"Ayo bu, dikit lagi, Bu."


Kana mengecup dahi istrinya. "Ayo sayang, kamu bisa. Ayo."


Jemari Kana mengeratkannya pada jemari Kaila. Laki-laki itu mencoba memberi kekuatan pada istrinya.


"Kamu pasti bisa," lirihnya.


Kaila mengangguk.


"Ayo Bu, lagi. Tarik napas, buang, dorong, Bu."


Kaila mengangguk dan kembali mengikuti arahan.


"Aaaaaaaa!" Wanita itu berteriak sekuat-kuatnya.


"Oek! Oek!"


Dokter itu bernapas lega. "Bayinya laki-laki, Bu."


Kana dan Kaila tersenyum lebar. Lebih lagi Kana, laki-laki itu sangat senang bisa mendapatkan bayi laki-laki.


"Oek! Oek!"


Setelah bayi mereka di bawa oleh perawat untuk dibersihkan, tiba-tiba—


"Masih ada lagi," ucap Dokter itu.


"Ma—maksudnya kembar?" ucap Kana.

__ADS_1


Dokter itu mengangguk.


-o0o-


__ADS_2