
Part 17
Bagi sebagian orang, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menyambut hari dengan senyuman. Namun sepertinya kalimat itu tidak berlaku bagi Kana pagi ini.
Paginya benar-benar kacau.
Hal itu terlihat dari kantung mata yang menghitam dan raut wajah yang tak dapat ia sembunyikan lagi. Kana benar-benar kacau, dari semalam hingga pagi ini, ia bersama Bima dan geng motor Bima lainnya mencari keberadaan Kaila. Namun sayangnya usaha mereka tak membuahkan hasil. Mereka sama sekali tak menemukan petunjuk tentang keberadaan Kaila.
Kana turun dari motornya dengan wajah masamnya. Ia berjalan lurus tanpa mempedulikan gadis-gadis lain yang berteriak memanggilnya.
"Kana! Kana! Tungguin!"
Tunggu— Kana mengenali suara itu. Ia menghentikan langkah dan berbalik badan. Raut marah tercipta di wajah Kana.
Gadis itu mundur beberapa langkah melihat Kana yang nampak lain dari biasanya.
"Lo kenapa?" lirih Adinda yang tak berani menatap sorotan mata Kana.
Kana tak menjawab. "Mana Aji?" tanyanya.
Adinda menggeleng. "Gue gak tahu."
Kana menghela napas panjang dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Aji.
'Brakkk!'
Kana mendorong pintu dengan keras membuat beberapa temannya yang berada di kelas terkejut. Termasuk Aji.
Aji bangkit dari duduknya saat melihat Kana menghampiri. "Kan, gimana Kaila—"
'Bug!'
"KANA!" teriak Adinda melihat Kana meninju wajah Aji.
Kana menaikkan wajahnya. "Brengsek lo Ji! Lo kenapa kemarin ninggalin Kaila?" Kana mengangkat kerah baju Aji membuat beberapa teman sekelasnya ketakutan.
"Gue gak sengaja, Kan."
'Bug!'
"Lo bilang gak sengaja? Kaila di culik gara-gara lo!"
Aji melebarkan mata. "Kaila di culik?"
Kana menatap sahabatnya dengan tatapan tajam dan menunjuknya. "Gue gak akan tinggal diam kalau terjadi apa-apa sama Kaila!"
"KANA! LO KENAPA KAYA GINI SIH?" teriak Adinda seraya menarik baju Kana.
Kana menoleh dan menatap sahabatnya tersebut dengan emosi yang meluap. "Apa lo bilang? Gue kenapa kaya gini? Gue gak akan kaya gini kalau dia gak ninggalin Kaila demi lo!" bentak Kana membuat Adinda tersentak dan menangis.
"Lo berubah, Kan." Adinda menatap Kana dengan tatapan sedih.
Kana mengajak rambutnya frustasi. Pikirannya sedang kalut. Ia juga sangat marah dengan Adinda. Tetapi ia tidak dapat menuduh jika Adinda pelakunya.
Adinda memang tidak suka dengan Kaila, namun bukan berarti Adinda-lah yang sengaja menculik Kaila.
"Lo tega Kan, lo tega ngehajar sahabat lo sendiri." Adinda menunjuk Aji yang tengah memegang bibirnya yang terluka.
Kana menoleh pada Aji. Tak ada perubahan sedikit pun. Ia tetap marah pada laki-laki itu.
"Gak usah peduliin gue lagi!" Kana membenarkan tasnya dan berjalan pergi.
"KANA!" teriak Adinda.
"Udah, biarin Kana nenangin diri dulu," ucap Aji seraya menahan Adinda untuk tidak pergi.
__ADS_1
"Lo gak papa?" tanya Adinda.
Aji mengangguk. Rasa sakit di bibirnya tak terasa di bandingkan kehawatirannya terhadap Kaila. Aji benar-benar merasa bersalah. Ia tak menyangka jika semuanya akan terjadi seperti ini.
Aji bangkit dari duduknya membuat Adinda menoleh. "Lo mau kemana, Ji?"
Aji mendekat ke Adinda dan menyentuh pundak gadis itu. "Gue harus bayar kesalahan gue. Gue harus cari Kaila."
"Tapi Kaila di culik bukan karena lo, Ji."
"Karena gue, Din. Karena gue ninggalin dia, dia di culik."
Adinda menggeleng. "Enggak, Ji."
Aji tersenyum. "Lo jaga diri ya. Gue pergi dulu," ucapnya dan berjalan pergi.
"AJI!" teriak Adinda namun tak di hiraukan oleh Aji.
-o0o-
Kaila berjalan menyusuri jalanan yang tidak ia ketahui. Ia benar-benar tidak tahu tempat ini. Ia tak membawa apapun, ponsel dan dompetnya pun tak ada dalam genggaman. Ia benar-benar hampa dan sangat terluka.
Luka serta lebam di wajah Kaila sangat terlihat. Sebut saja ia telah di hajar oleh para preman dan laki-laki itu.
Kaila menghela napas. Dadanya sangat terasa sesak. Ia begitu lapar dan haus.
Jalanan disini cukup sepi. Tak ada angkot ataupun angkutan umum lainnya. Sungguh benar-benar jauh dari keramaian.
"Gue harus kemana?" lirih gadis itu dengan tubuh yang begitu lemah.
Ia menoleh dan menyadari di hadapannya terdapat sebuah halte. Halte ini benar-benar sepi. Tak ada seorang pun di sampingnya. Tiba-tiba, ia teringat ucapan laki-laki semalam ;
"Mungkin kamu perlu tahu saya siapa."
Kaila melebarkan mata saat laki-laki itu melepaskan maskernya.
"Saya suami Mama kamu. Kamu tahu kenapa saya membawamu kesini?"
Kaila menggeleng.
Laki-laki itu tersenyum. "Karena saya tak ingin kamu muncul di hadapan istri saya. Istri saya cukup menderita selama ini. Jadi saya minta, kamu tinggalkan kota ini dan kembali ke asalmu."
Kaila menggeleng.
"Atau kamu mau Mama kamu semakin menderita?"
"Enggak, Om!" teriak Kaila dengan air mata yang mengalir.
"Sekarang, saya minta kamu harus berjanji pada saya untuk tidak mencari Mamamu lagi."
"Tapi, Om—"
Laki-laki itu menjambak rambut Kaila. "Saya bilang, jangan cari Mama kamu lagi. Jangan pernah muncul di hadapannya."
"Tapi saya belum pernah bertemu Mama saya, Om."
"Bohong! Dari mana istri saya tahu kamu disini jika kamu tidak muncul di hadapannya!"
"Mama saya tahu saya disini?" tanya Kaila dengan air mata yang mengalir.
"SAYA BILANG, JANGAN CARI-CARI MAMA KAMU LAGI! ATAU MAMA KAMU YANG AKAN MERASAKAN AKIBATNYA!" bentar laki-laki itu membuat Kaila tersentak dan memangis.
Laki-laki itu menatap Kaila tajam. "Saya bilang, jangan pernah berusaha mencari Mamamu. Mengerti?" ucapnya seraya kembali menjambak rambut Kaila.
Kaila mengangguk. "Saya, janji."
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum miring. "Lepaskan dia!" titah laki-laki itu pada anak buahnya.
Para preman itu mengangguk dan melepas semua ikatan pada tubuh Kaila. Mereka mendorong Kaila sampai terjatuh membuat gadis itu semakin tersiksa.
"Sekarang, pergi kamu dari sini!"
-o0o-
Kaila mengusap wajahnya gusar. Kejadian itu telah terjadi semalam. Namun hingga siang ini, semuanya terasa terngiang di pikirannya.
"Jadi Mama udah punya suami baru? Kenapa suami Mama jahat sama Kaila? Kenapa dia malah ngelukai Kaila seperti ini, Ma? Apa Mama juga gak sayang sama Kaila? Kaila kangen Mama," ucap Kaila dengan air mata yang luruh di pipinya.
Kaila memejamkan mata dan menyenderkan tubuhnya pada kursi yang tengah ia duduki. Ia benar-benar sakit. Hatinya benar-benar hancur.
"Kaila!"
Kaila mengangkat wajahnya saat seseorang memanggil namanya. Senyumnya tercipta saat Bima berada di hadapannya.
"Kaila! Lo kemana aja sih? Gue panik banget tahu gak? Gue sampai nyuruh semua temen-temen gue buat nyari lo, tapi gak ketemu."
Kaila tersenyum. "Lo kenapa bisa disini?"
"Gue yang seharusnya nanya, Kaila. Lo kenapa bisa disini? Lo baik-baik aja 'kan?" Bima melebarkan mata. "Astaga Kaila, wajah lo kenapa biru-biru gini? Lo di apain sama mereka?"
"Kaila!"
Kaila dan Bima menoleh saat Aji dengan motornya berada di hadapan mereka.
Aji turun dari motor dan berlari menghampiri gadis itu. "Kaila."
"Aji?" ucap Kaila dengan senyuman.
Bima menoleh pada Aji. "Lo ngapain kesini? Lo sadar gak sih, lo itu yang udah buat Kaila di culik!" ucap Bima dengan tatapan tajam.
Aji tak merespon ucapan Bima. Ia terlalu fokus pada gadis di hadapannya. "Lo kenapa bisa gini sih, Kai?"
"Ya karena lo, lah! Kalau lo gak ninggalin Kaila, semua gak akan seperti ini. Kalian gak mungkin di culik dan di hajar kaya gini!"
"Gue tahu gue salah, tapi semua ini gak ada hubungannya sama lo!" ucap Aji yang tersulut emosi.
"Ya jelas ada hubungannya-lah!"
"AJI! BIMA!" bentak Kaila membuat kedua pria itu diam dan menoleh padanya.
"Ada apa, Kaila?" tanya Bima dengan wajah panik.
Kaila menangis. Ia mengusap air matanya dan menatap kedua laki-laki itu dengan tatapan sedih. "Gue mohon, tolong jangan berantem."
"Kaila gue minta maaf," lirih Aji seraya meraih tangan Kaila.
"Gak usah pegang-pegang!" Bima menjauhkan tangan Aji dari tangan Kana.
Kaila mengangguk. Ia menghela napas dan menatap lurus ke depan. Senyumnya mengembang membentuk bulan sabit saat seorang laki-laki berdiri menatapnya.
"Kana," lirih Kaila membuat Aji dan Bima menoleh ke belakang.
Kana tersenyum. Ia berlari dan menarik Kaila dalam pelukannya. "Gue khawatir sama lo, Kai."
Kaila mengangguk. Ia menangis dalam bidang Kana.
Kana melepas pelukannya dan menatap wajah Kaila. "Wajah lo terluka, Kai. Ayo kita obatin!" Kana menarik gadis itu dan membawanya ke motor.
Keduanya pergi meninggalkan dua laki-laki yang tengah berjongkok dengan tatapan hampa.
"Gara-gara lo, Kaila di bawa Kana!" bentak Bima pada Aji.
__ADS_1
Aji tak terima. "Maksud lo apa? Lo yang ngajak ribut gue duluan!"
-o0o-