
Part 14
"Lala, pelan-pelan jalannya. Kamu masih sakit," ucap Kana yang melihat kekasihnya terlihat begitu panik untuk menemui Bima.
Kaila menghela napas panjang dan mengusap keringatnya. Keringat dingin keluar dari sekujur wajah perempuan itu. Ia benar-benar tak mempedulikan kondisinya.
Keberadaan Bima kali ini, benar-benar membuat Kaila panik.
Lantaran, ia tak tahu jika laki-laki itu berada disini. Dan tiba-tiba ia mendapat kabar dari pihak kepolisian jika Bima telah menabrak seseorang.
Tentu saja hal itu membuat Kaila sangat khawatir.
"Ayo, Na. Kita harus cepet sampai di sana," ucap Kaila yang sudah berdiri di depan mobil Kana.
Kana mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
Kana menoleh pada Kaila. "Pihak kepolisian udah kasih tahu alamatnya dimana?" tanyanya.
Kaila mengangguk dan meraih ponselnya. "Dia baru aja kirim alamat."
Kana mengambil alih ponsel Kaila dan membacanya. "Ini gak jauh, nanti begitu sampai, kamu jangan terlalu capek ya. Biar aku bantu urus permasalahannya."
Kaila mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya. Ia benar-benar lelah. Keringat dingin terus bercucur di tubuhnya.
Sesekali Kana menoleh pada kekasihnya. Mengulurkan tangan dan menempelkan ke dahi Kaila. "Kamu masih demam. Tapi keringat kamu dingin. Kamu istirahat di belakang aja ya?"
Kaila menggeleng. "Aku di depan aja."
"Gak papa?" tanya Kana khawatir.
Kaila mengangguk dan tersenyum. Meraih tangan Kana dan meletakannya di pipinya. "Aku gak papa, kok."
Kana menghela napas dan mengangguk dengan senyuman. Mengusap pipi Kaila, lalu beralih ke pucuk kepala. "Aku sayang kamu."
"Aku juga," jawab Kaila lalu menatap lurus ke depan.
-o0o-
"Aji," lirih Keiza saat keduanya sampai di depan pintu aula.
Aji menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
"Kita yakin mau masuk di saat acara udah dimulai?" tanya Keiza tak yakin.
Aji mengedikkan bahunya. "Kenapa gak yakin?"
Keiza memejamkan mata, menghela napas dan kembali menatap Aji. "Kita dokter baru disini. Masa iya kita dateng tanpa rasa bersalah gitu aja."
"'Kan memang kita gak salah?" Aji menaikkan kedua alisnya, merasa apa yang ia ucapkan adalah benar.
Keiza berdecak. "Kita telat, Aji. Dan di dalam isinya dokter senior semua. Apa kata mereka kalau lihat kita telat kaya gini."
Aji menguap seraya menutup mulutnya. "Persetan dengan omongan senior. Yuklah!" ucap Aji lalu menarik tangan Keiza untuk masuk.
Keiza tak bisa menahan, tangannya ditarik oleh Aji bahkan sampai ke dalam.
"Aji, kita diliatin," lirih Keiza yang risih dengan tatapan para senior yang menatap ke arah keduanya.
Aji tak menghiraukan. Laki-laki itu terus berjalan seraya menarik tangan Keiza. Namun, jika diperhatikan Aji tak terlihat menarik Keiza, tetapi terlihat seperti menggenggamnya.
Keiza terus beristigfar dan berdoa, berharap tak ada kata-kata pedas yang akan seniornya lontarkan untuknya.
"Aji!"
Keiza melebarkan mata saat mendengar suara begitu nyaring.
__ADS_1
Tunggu!
"Kamu baru dateng?"
Keiza mengangkat wajahnya dan melihat orang yang berbicara berada di atas panggung.
"Ketua direktur?" lirih Keiza.
Keiza terlihat bingung, ia menoleh pada Aji.
Dan dilihatnya Aji tengah tersenyum seraya melambaikan tangan pada orang itu. "Kakek!"
Semua orang menoleh pada Aji, saat ia memanggil ketua direktur dengan sebutan kakek. Semua dibuat bingung, begitupun dengan Keiza. Ia tak percaya jika orang di hadapannya ini adalah cucu dari ketua direktur rumah sakit.
"Pantes aja, dia kerjanya sesuka hati," lirih Keiza seraya memutar bola matanya.
Aji menoleh dan tersenyum.
"Maafkan cucu saya ya, atas keterlambatannya di acara ini," ucap ketua direktur.
Semuanya mengangguk dengan senyuman, terkecuali Keiza. Perempuan itu masih dibuat bingung dan tak percaya.
"Ayo!" seru Aji kembali menarik tangan Keiza dan membawanya untuk menuju ke kursi.
Saat semua kembali fokus dengan acara. Keiza masih diam, ia masih teringat dengan semua kata-kata yang ia lontarkan pada Aji.
"Kalau gue tahu Aji cucunya, gue gak bakal ngomong seenak itu," lirih Keiza dan berdecak.
"Kenapa sih?" tanya Aji yang berada di sampingnya.
Keiza menghela napas dan menatap Aji. "Kenapa kamu gak bilang dari awal?"
"Kalau aku cucunya?" tanya Aji seraya menunjuk kakeknya.
Keiza mengagguk.
Keiza tersenyum dan mengangguk. Meskipun demikian, ia masih merasa tak enak dengan Aji.
-o0o-
"Ayo, La."
Kana membukakan pintu untuk Kaila turun.
Keduanya pun berjalan memasuki kantor kepolisian yang masih berada di wilayah kediaman mereka.
Kaila terlihat panik, ia mengitari pandangannya mencari Bima.
Dan,
"Itu Bima," lirih Kana membuat Kaila ikut memandang ke arah yang Kana maksud.
Keduanya berjalan mendekat, dan melihat apa yang sudah terjadi.
"Permisi," ucap Kana membuat semua menoleh.
Bima ikut menoleh, namun tatapan laki-laki itu berada pada Kaila.
"Kaila," lirih Bima.
Kaila menggigit bibir bawahnya dan menatap Bima dengan tatapan sedih. Ia takut, Bima akan di penjara dan bagaimana nasibnya?
Kaila menggeleng. "Gak, gak, aku gak bisa liat Kak Bima di penjara," lirih Kaila.
Bima tersenyum dan bangkit, lalu memeluk Kaila.
Melihat Kaila di peluk oleh Bima, membuat Kana melirik tajam.
__ADS_1
Cemburu? Tentu saja ia cemburu. Namun ia tak bisa melarang, Bima adalah kakak Kaila, meskipun keduanya bukan lahir dari darah yang sama.
"Aku takut Kak Bima di penjara."
Bima terkekeh, melepas pelukannya dan menatap Kaila. "Kamu gak usah khawatir, aku gak papa kok."
"Kak Bima udah nabrak," lirih Kaila.
Bima mengangguk membenarkan. Lalu menatap wajah Kaila dengan jeli. "Kok kamu pucet?" Bima meletakkan tangannya di dahi Kaila. "Badan kamu panas, La."
"Dia lagi demam," ucap Kana membuat Bima menoleh.
"Dia demam?"
Kana membenarkan.
"Ayo ke rumah sakit," ucap Bima.
Kaila menggeleng. "Aku udah mendingan kok. Sekarang kita urus ini, Kak."
Bima menggeleng. "Enggak, kesehatan kamu yang paling utama, Kaila. Ayo kita ke dokter."
"Buat apa, Kak? Dokternya udah ada disini," ucap Kaila menunjuk Kana.
Bima menoleh pada Kana. "Oh, iya. Kamu udah kasih dia obat 'kan?"
Kana mengangguk. "Panas dia lumayan turun setelah aku kasih obat. Dia juga udah makan kok."
Bima menghela napas lega. "Syukurlah."
"Kak, udah, jangan mikirin aku. Sekarang yang terpenting masalah Kak Bima," ucap Kaila.
"Permisi," ucap seorang perempuan membuat mereka menoleh.
Bima memukul dahinya dan kembali duduk di kursi. Sepertinya orang itu adalah keluarga korban.
"Dia yang nabrak?" tanya perempuan itu pada polisi seraya menunjuk Bima.
Polisi mengangguk.
Kaila memejamkan mata. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah ini.
Kasus ini tak mungkin bisa diselesaikan dengan kekeluargaan, tentu saja semua akan berakhir di persidangan. Dan Kaila, ia tak sanggup jika akhirnya Bima akan dipenjara menyusul ayah Bima yang sudah di penjara hampir Sembilan tahun ini.
"Baik, karena semua keluarga dari pihak pelaku dan juga korban sudah berada disini, saya akan menjelaskan kronologi kejadian yang sudah saksi jelaskan," ucap polisi itu membuat Kaila semakin takut. "Pada pukul—"
"Cukup!" ucap keluarga korban membuat semua menoleh. "Saya rasa disini pelaku tak sepenuhnya bersalah. Korban memang memiliki gangguan pendengaran. Jadi, saya tidak akan menyalahkan pelaku karena sudah menabraknya sampai meninggal."
Kaila melebarkan mata. Begitupun dengan Kana.
"Gak habis pikir," lirih Kana.
"Saya keluarga korban, dengan ini menyatakan telah memaafkan pelaku," ucapnya dan bangkit lalu pergi.
"Tunggu!" teriak Bima mengikuti langkah perempuan itu.
Kaila masih tak habis pikir, bagaimana bisa masalah ini diselesaikan begitu saja?
"Maaf Pak, sebenarnya usia korban korban yang sudah kakak saya tabrak?" tanya Kaila pada pihak kepolisian.
Polisi itu tersenyum. "Seekor anjing berumur Dua belas tahun, Mbak."
Kana dan Kaila saling memandang.
Jadi, yang Bima tabrak adalah seekor anjing?
-o0o-
__ADS_1