
Part 47
Tiga bulan sudah berlalu.
Hingga saat ini, tak ada yang tahu dimana keberadaan Bima.
Apakah laki-laki itu benar masih hidup ataupun sudah meninggal, tak ada yang tahu.
Semuanya sudah tahu jika Bima mengalami kecelakaan pesawat. Kaila pun sudah diberitahu langsung oleh suaminya.
Awalnya Kaila memang benar-benar syok. Bahkan wanita itu sampai terjatuh pingsan.
Untunglah, Kana segera menyadarkannya dan menenangkannya. Setidaknya, Kaila masih bisa sedikit menerima meskipun ia belum bisa mengikhlaskan kepergian Bima.
"Lala," lirih Kana yang melihat istrinya tengah diam di kamar menatap kedua bayinya.
Kaila menoleh dan tersenyum.
"Lagi ngapain?" ucap Kana mengusap rambut istrinya.
Kaila menggeleng dengan senyuman. "Aku lagi kepikiran aja, mungkin kalau Bima masih ada, dia sekarang lagi ajak main dua keponakannya ya?" ucap Kaila dengan senyuman yang terasa sakit.
Kana menghela napas, tersenyum dan mengusap rambut istrinya. "Udah Tiga bulan, tapi kamu masih selalu bayangin Bima," lirih Kana tak tega.
Kaila tersenyum. "Aku masih gak percaya dia ninggalin kita."
"Kita berdoa yang terbaik ya? Untuk Bima."
Kaila mengangguk setuju dan memeluk suaminya.
-o0o-
Beralih ke Siska. Gadis itu berubah menjadi gadis pendiam. Ia tak banyak bicara sekarang. Sangat jauh dari Siska sebelumnya yang selalu ceria dan selalu membuat orang di sekitarnya tertawa.
"Siska, sayang," panggil Sara membuat gadis itu menoleh.
"Iya, Ma?"
Sara tersenyum dan menghampiri putrinya. Mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Makan yuk? Kamu dari pagi belum makan."
Siska tersenyum tipis. "Siska gak pengen, Ma."
"Kalau kamu gak makan, nanti kamu sakit, sayang."
Siska tersenyum miring. "Gak papa Siska sakit, Ma."
"Siska, jangan gitu."
"Buat apa Siska sehat tapi gak ada Bima disini."
"SISKA!" bentak ibunya membuat Siska tersentak.
Siska menoleh pada Ibunya dengan tatapan takut.
"KAMU SADAR GAK? UDAH TIGA BULAN KAMU KAYA GINI? SELALU BIMA, BIMA, BIMA DAN BIMA! KAMU GAK PERNAH MIKIRIN DIRI KAMU SENDIRI! KALAU KAMU SAKIT, MAMA YANG SEDIH!"
Siska terdiam dan menunduk. "Maaf, Ma."
Sara menghela napas dan mendekat, lalu memeluk putrinya. "Mama tahu kamu kehilangan Bima. Tapi kamu harus sadar, masa depan kamu masih panjang. Gak semua hidup kamu tentang Bima, Bima, dan Bima. Sadar Siska, lihat mama, mama sayang sama kamu mama gak mau liat kamu kayak gini."
Siska Terdiam dan menatap ibunya dengan perasaan bersalah. Ia tahu ia sudah kelewatan, namun ia tak bisa menutupi rasa sakitnya. kepergian Bima benar benar membuat kosong hatinya. Siska tidak ingin seperti ini, namun kenangan Bima dan semua momen manis bersama Bima selalu memenuhi pikirannya.
"Maafin Siska, Ma. Siska nggak tahu harus gimana. bayang bayang Bima selalu memenuhi pikiran Siska. Siska udah coba ngelupain Bima, tapi nggak bisa, Ma! semua kenangan tentang Bima terlalu sulit buat Siska lupakan. Kalau mama tahu, sebenarnya sih saya juga nggak mau Ma kayak gini. Tapi Siska nggak bisa apa apa."
Siska menghelanapas dan menatap ibunya penuh arti.
"kalau boleh milih Siska juga pengen lupakan Bima dan pengen hapus semua kenangan tentang Bima dalam pikiran Siska, tapi Siska nggak bisa."
Sara diam dan menata putrinya. "Mama tahu ini berat buat kamu, tapi kamu harus sadar nak, masih banyak pria lain yang mau sama kamu. sekarang mama tanya, apa kamu yakin Bima masih hidup? Apa kamu yakin Bima bakal kembali setelah ratusan orang yang dinyatakan meninggal dalam kecelakaan pesawat tersebut."
Siska diam dan menunduk. Ia menggeleng dan tak tahu. Hati Siska benar benar sakit, ia tak tahu sekarang. Haruskah ia menunggu Bima yang tidak tahu kabarnya atau melupakan lelaki itu dan mencoba membuka hati yang baru.
Sara tersenyum dan mengangkat wajah putrinya. "Apapun pilihan kamu, mama harap itu bisa bikin kamu bahagia. mama nggak menyuruh kamu buat lupain Bima, tapi mama pengen, kamu bisa menerima semua ini."
Siska mengangguk dan tersenyum tipis, meskipun hatinya seperti teriris.
Sara mendekat pada putrinya dan memeluknya. "Mama yakin kamu pasti bisa."
-o0o-
jika semua orang sudah mulai mengikhlaskan kepergian Bima dan percaya jika lakilaki itu telah meninggal, lain halnya dengan Kiara. Kiara satu-satunya orang yang selalu mengatakan jika ia percaya kakaknya masih hidup, walaupun sudah banyak bukti seperti jaket dan barang-barang Bima lain yang ditemukan di dalam laut.
Kiara tetap percaya dan yakin jika kakak nya kan kembali.
Kiara meraih ponselnya dan juga tasnya, lalu berjalan keluar kamar.
Ia tersenyum saat melihat Angga tengah duduk di ruang tengah.
"Pa."
Angga menoleh dan menatap kiara penuh tanya.
Kiara menunduk sebelum melanjutkan ucapannya. "Pa."
"Iya, Kiara?"
Kiara tampak ragu mengatakan ini, namun— ia tak bisa menahannya lagi. "Kiara mau izin pengen jengukin Papa Hendry di penjara. Udah hampir sepuluh tahu Kiara gak ketemu Papa Hendry. Kiara pengen lihat keadaannya. Boleh 'kan?"
Angga mengangguk dengan senyuman. "Tentu boleh, Kiara. Mau Papa antar?"
Kiara menggeleng dengan senyuman. "Gak usah, Pa. Kiara bisa sendiri."
"Kamu yakin?"
Kiara mengangguk. "Kiara yakin, Pa. Yaudah Pa, kalau gitu Kiara berangkat dulu."
Angga mengangguk dan membiarkan Kiara pergi. "Hati-hati Kiara, kabari papa kalau kamu udah sampai."
Kiara mengangguk dengan senyuman dan berjalan pergi.
Bicara soal Kiara. Kiara memang masih tinggal bersama Angga. Namun, ia lebih sering menginap dirumah Keiza ataupun Kaila, meski sesekali tetap pulang ke rumah dengan Angga.
__ADS_1
Meskipun Angga sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ada rasa canggung bagi Kiara tinggal berdua saja dengan Angga. Ia merasa tak enak menjadi beban Angga, meskipun agak tak mempermasalahkannya.
sesampainya di depan, Kiara tersenyum tipis dan menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya.
Taksi itu berhenti dan menaikkan Kiara yang akan pergi ke rumah tahanan.
Sebenarnya, ini adalah dua kalinya Kiara pergi ke tempat itu. Sebelumnya ia sudah kesana bersama Bima. Namun mereka hanya sampai depan dan tidak masuk. Hal itu di karenakan Bima yang menolak untuk masuk. saat itu Kiara sudah mencoba membujuk Bima, namun Bima tetap menolak dan tidak mau melihat ayahnya. Luka yang diberikan Hendry kepada Bima masih menyisakan sakit yang mendalam.
Dan sekarang, tepat hari ini Kiara sendirilah yang akan kesana.
"Mau gimana pun, Papa Hendry tetep Papa aku," ucapnya dengan senyuman tipis.
Butuh waktu lama untuk Kiara sampai di tempat tersebut. Kiara mencoba meraih ponsel nya yang berada di dalam tas dan membuka beberapa pesan yang masuk yang dikirimkan oleh teman temannya.
ia men-scroll semua pesan itu dan membacanya satu persatu. Berharap ada pesan yang masuk dari Bima.
kiara menghela nafas dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. menoleh ke Sisi kanannya dan melihat banyak sekali orang pengendara motor yang melewati jalanan.
Hampir satu jam Kiara dalam perjalanan, dan kini gadis itu telah sampai di sebuah rumah tahanan yang berada di pusat kota Jakarta.
kiara turun dari taksi dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taksi, lalu berjalan memasuki gedung tersebut.
kiara kembali tersenyum tipis, iya tak sabar untuk bertemu dengan ayahnya. Berharap ayahnya masih mengingatnya dan merindukannya.
langkahnya terhenti tepat di depan beberapa polisi. Ia memberi tahu maksud dan tujuannya untuk menjenguk seorang tahanan yang bernama Hendry.
"Hendry?"
kiara mengangguk. "Apa saya bisa bertemu dengannya?"
"Anda siapa?"
"Saya putrinya. Putri bungsunya yang bernama Kiara. Bisa saya bertemu dengannya sekarang juga?"
polisi itu tampak bingung. Ia menoleh pada rekannya dan menunjukkan rasa bingung.
kiara tak mengerti ia merasa aneh dengan polisi di depannya.
"Maaf, tapi ada keperluan apa Anda kemari?"
kiara tersenyum aneh. "Ya saya ingin bertemu ayah saya, Pak. Memangnya ada apa apa? Ayah saya ada di sini 'kan?"
Polisi itu hanya diam. kedua polisi itu saling memandang membuat Kiara merasa aneh.
Kiara mengurutkan dahinya bingung.
"Maaf, tapi ada sesuatu yang harus anda ketahui."
kiara mengerutkan Dahi nya. "Ada apa ya pak?"
salah satu polisi itu berjalan pergi dan mengambil sesuatu. Ia kembali dengan sebuah kotak yang berada di tangannya. Polisi itu menghampiri Kiara dan menyerahkan kotak itu kepada gadis tersebut.
"Ini adalah titipan dari ayah anda."
kiara mengernyit bingung dan mengambil kotak itu.
"Itu adalah kotak yang almarhum pak Hendri ingin berikan kepada putrinya yang bernama Kiara, ataupun putranya yang bernama Bima."
Polisi itu mengangguk. "Beliau sudah meninggal lima tahun yang lalu karena bunuh diri."
Kiara melebarkan mata dan menutup mulutnya tak percaya.
"Sebelum memutuskan untuk bunuh diri, beliau memberikan ini kepada saya. Ia bilang, jika putranya yang bernama Bima atau putrinya yang bernama Kiara datang, tolong berikan ini kepadanya. Awalnya saya tidak tahu jika ia akan memutuskan untuk bunuh diri, sehingga saya menerima kotak itu dan menyimpannya, berharap sebentar lagi putra atau putrinya datang. Dan setelah meninggal nya pak Hendry, saya masih menunggu keluarganya datang. Namun hingga beberapa tahun kemudian pun tak ada satupun keluarga yang datang."
Polisi itu tersenyum. "Saya sangat senang anda telah datang, dan saya rasa pak Hendry sudah tenang di alam sana."
tanpa sadar, air mata Kiara menetes. Kaki gadis itu terasa lemas, ia menyesal tidak datang sebelum ayahnya bunuh diri.
"Maafin Kiara, Pa." kiara menoleh pada dua polisi tersebut. "Kalau boleh tahu di mana ayah saya dimakamkan?"
Polisi itu tersenyum. "Akan saya antarkan ke makamnya."
Kiara mengangguk dan mengikuti polisi tersebut. Ia masuk ke dalam mobil polisi dan duduk di belakang.
Mobil itu berjalan melewati jalan raya. Kiara mengitari pandangannya. gadis itu sepertinya tahu kemana ia akan pergi.
dugaan Kiara benar. Mobil polisi itu memasuki area pemakaman.
"Makam Mama Bina 'kan ada disini."
Ia turun dari mobil dan mengikuti langkah polisi menuju makam.
Ia tersentak saat melihat sebuah Gundukan tanah yang berada di samping makam Bina. rupanya Hendry dimakamkan di samping Bina.
"Saat mayat pak Hendry ditemukan, terdapat sebuah surat. Di situ ia menuliskan jika ia ingin dimakamkan di makam ini di samping makam istri pertamanya."
"Dan di situ juga pak Hendry mengatakan untuk jangan memberitahu keluarganya jika ia telah meninggal. Pak Hendry bilang ia ingin keluarganya sendiri yang datang tanpa diberitahu."
mendengar hal itu membuat hati Kiara semakin sakit. Ia semakin menyesal tidak menemui ayahnya sejak saat itu. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dan memeluk makam ayahnya.
"Maafin kiara, Pa. Kiara nggak tahu kalo papa udah meninggal."
polisi itu nampak tak tega. Ia mendekat kepada Kiara. "Kamu nggak papa kalau kami tinggal?"
kiara mengangguk. "Gak papa, Pak. saya bisa sendiri."
polisi itu mengangguk dan berjalan pergi bersama rekannya dan meninggalkan Kiara sendiri di makam itu.
kiara masih menangis. Bahkan tangisnya semakin pecah setelah kedua polisi itu pergi. Gadis itu masih menyesali karena ia tidak datang tepat waktu untuk menemui ayahnya.
Air mata Kiara menetes. "kiara nggak tahu harus gimana, Kiara udah nggak punya siapa siapa lagi sekarang. Mama Nabilah udah meninggal, kak Bima nggak tahu kabarnya sampai sekarang, dan sekarang Kiara harus dapat kabar kalo papa udah nggak ada. kiara harus gimana Pa? kiara sebatangkara sekarang. kiara benar benar sendiri."
gadis itu menunduk dan menangis. membuka kotak yang polisi berikan tadi dan mengambil sebuah surat yang berada di dalamnya.
tangan Kiara meraih surat itu dan membacanya.
'Assalamualaikum nak.
papa nggak tahu ini Bima atau Kiara, tapi yang jelas papa mau minta maaf ke kalian berdua karena udah bikin kalian berdua menderita karena ulah Papa.
kalau kalian baca surat ini, berarti saat ini papa udah pergi jauh meninggalkan kalian. Maafin papa karena selalu gagal menjadi seorang ayah. Papa ngerasaa nggak becus.
__ADS_1
papa tahu kesalahan papa begitu berat sampai bikin kalian terauma sama papa, tapi papa mohon, tolong maafin papa untuk pertama dan terakhir kalinya.
Sosa papa terlalu besar pada kalian dan mama kalian.
Tapi papa harap, setelah kalian membaca surat ini kalian nggak benci sama papa. Papa tahu papa pantas dibenci, tapi papa nggak sanggup kalau yang benci papa itu anak papa sendiri. Jadi papa mohon, Tolong maafin papa dan semua kesalahan yang udah papa perbuat.
Di kotak ini ada sertifikat rumah, Papa harap kalian bisa kembali ke rumah itu dan menjalani kehidupan tanpa Papa.
papa harap kalian selalu bahagia.'
Kiara Meremas surat itu dan menangis jadi jadinya.
"Kenapa semua orang jahat sama Kiara? Kiara udah nggak punya siapa siapa sekarang."
Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.
-o0o-
'Drrrrttttt!'
Ponsel Kana terus berdering membuat Kiara menoleh dan meraihnya.
"Siapa sih yang nelpon?" ucap Kaila saat melihat nomor baru yang menelepon suaminya.
Wanit itu mengangkat telponnya dan mendekatkan ke telinga. "Halo? Dengan siapa ini?"
"Kaila?"
Kaila melebarkan matanya. "Kak Bima?" Ia membaca nomor itu lagi dan kembali meletakkan ponselnya ke telinga. "Ini Kak Bima? Kak? Halo kak?"
"Iya, Kaila. Ini Kak Bima."
Air matanya Kaila menetes. "Kak Bima dimana sekarang? Please, kasih tahu kita."
"Aku ada di Tanjung Priok, sekarang, Kai."
Kaila melebarkan mata. "Tanjung Priok? Gimana bisa, Kak?"
"Ceritanya panjang. Ada pelaut yang nolongin kakak. Nanti kakak ceritain kalau udah sampai dirumah. Tapi kakak gak bisa pulang sendiri sekarang."
Kaila mengangguk. "Iya, nanti aku suruh Kana jemput kakak."
"Makasih, Kai. Kakak tunggu. Ini kakak pinjem hp orang. Nanti kakak share lokasinya."
Kaila mengangguk. "Iya, Kak."
Jantung Kaila berpacu cepat. "Yaudah, Kaila mau ngabarin Kana dulu. Kak Bima jangan kemana-mana."
"Iya, La."
"Kenapa?" ucap Kana yang sudah kembali ke kamarnya.
Kaila mengusap air matanya. "Kak Bima, sayang."
Kana mengangguk. "Bima kenapa?"
"Kak Bima masih hidup."
"Bima?"
Kaila mengangguk. "Iya, dia masih hidup sekarang."
"Terus dia dimana?" tanya Kana.
"Dia ada di Tanjung Priok sekarang. Ada pelaut dari Indonesia yang nolongin dia waktu kecelakaan itu. Tapi dia gak bisa pulang kesini."
"Yaudah, aku jemput dia," ucap Kana.
Kaila mengangguk lalu menoleh ke arah jendela. "Tapi cuacanya gelap banget sayang. Kamu yakin?"
Kana meraih tangan Kaila. "Bima salah satu kebahagiaan kamu, aku harus jemput Bima sekarang."
Kaila menggigit bibir bawahnya dan memeluk dada bidang Kana. "Kamu hati-hati ya? Jangan kebut-kebut, cuaca lagi gak bagus."
Kana terkekeh. "'Kan aku memang gak bisa kebut-kebut."
Kaila tersenyum tipis dan mengangguk. "Kabari aku kalau udah sama Kak Bima ya?"
Kana mengangguk. Mengusap pucuk kepala istrinya dan mencium keningnya. "Jaga anak kita," ucapnya lalu berjalan pergi.
Kaila mengangguk dan mengantarkan Kana sampai depan. "Hati-hati! Kabari aku kalau ada apa-apa!"
Kana mengangguk. "Aku pergi dulu!"
Kaila tersenyum dan menatap suaminya yang masuk ke dalam mobil dan berjalan pergi.
'Jedderrr!'
Sebuah petir menggelegar membuat Kaila tersentak kaget. Ia menyentuh dadanya dan berdegub kencang.
"Kenapa perasaan aku gak enak?"
'Oekkk! Oekkk!'
Suara tangisan Naka dan Kana membuat Kaila menoleh.
Wanita itu segera menutup pintu dan berlari ke dalam untuk menghampiri kedua bayinya.
-o0o-
...a/n :...
...Please guys, perasaan aku ikut gak enak....
...Gak tahu kenapa, tahu aku jadi ikut overthingking kaya Kaila....
...Ahhhh, apa yang akan terjadi?...
...Tunggu aku update lagi ya. Aku janji bakal update hari ini kok....
...Insyaallah, aku bakal selesai Season ini hari ini juga. Jadi siap-siap mabuk penasaran....
__ADS_1
...Hihihihi....