KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 25


__ADS_3

Part 25


"Semuanya, cepat, bentar lagi kita berangkat!" teriak Gisele pada seluruh teman sekelasnya.


Kaila menghela napas dan menoleh pada laki-laki disebelahnya.


"Kana," panggilnya membuat laki-laki di sebelahnya menoleh.


"Kenapa? Kok cemberut gitu?" tanya Kana.


Kaila mengerucutkan bibirnya. "Aku sedih gak bisa sekelompok sama kamu dan Wilka Kevin."


Kana terkekeh dan mengusap punggung kekasihnya. "Jangan sedih ya? Kita 'kan cuma kepisah sehari," ucapnya.


Kaila menunduk. "Iya, sih."


Kana tersenyum dan mengangkat wajah kekasihnya. "Setelah kegiatan ini, aku janji bakal nurutin kemau7an kamu untuk berburu kuliner."


Kaila melebarkan mata dan tersenyum. "Seriusan?"


Kana mengangguk. "Tapi jangan sedih lagi ya?"


"Siap!" jawab Kaila dengan cengiran kuda.


Kana terkekeh dan berjalan ke depan menghampiri Gisele untuk mengecek kelengkapan kelasnya.


"Teman-teman, saya absen dulu ya!" teriak Kana pada teman sekelasnya.


"Oke, Kana!"


"Siap Pak Ketua!"


Kaila tersenyum ia melipat kedua lengannya dan menatap laki-laki yang kini menjadi pusat perhatian.


"Amara Astika?!" teriak Kana.


"Hadir, Kan!" jawab Amara.


"Aura Hamizah?!"


"Hadir, Kan!" jawab Aura.


"Beni Anggara?!"


"Hadir, Kan!" jawab Beni.


"Kaila Zeline Qirani?!"


"Hadir, woy! Dari tadi lo ngobrol sama sapa kalau bukan sama Kaila?!" teriak Kevin membuat teman-temannya tertawa.


Kana menahan senyumnya dan kembali mengabsen.


"Kevin?!"


"Haderrr ngab!" teriak Kevin.


Kana tertawa kecil lalu melanjutkan absennya.

__ADS_1


"Kenzo Alvaro!"


"Hadir Bosque!"


Dan masih banyak lagi nama-nama yang harus Kana panggil.


-o0o-


Setelah selesai mengabsen, Kana beserta teman-temannya yang lain naik ke dalam bus yang telah di sediakan oleh kampus. Seluruh mahasiswa berjumlah Dua puluh lima orang, dimana mereka terbagi Lima kelompok dengan masih-masing kelompok berjumlah Lima orang.


Bus kali ini akan membawa mereka menuju sebuah kecamatan di Yogyakarta. Dimana, lima kelompok tersebut akan diturunkan pada lima desa yang berbeda.


"Baik anak-anak, apakah semuanya sudah lengkap? Tidak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Bu Anita pada seluruh mahasiswanya.


"Izin menjawab Bu, semua sudah berada di bus, Bu," jawab Kana selaku ketua tingkat.


"Terima kasih, Kana."


"Sama-sama, Bu."


"Baik, karena semuanya sudah berada di dalam, ibu mau mengumumkan jika kalian mahasiswa tingkat satu akan kami beri kesempatan untuk melakukan penyuluhan pada desa yang telah di bagi pada masing-masing kelompok. Ibu atas nama kampus, memohon kepada kalian agar kalian semua tetap menjunjung tinggi almameter kita dan menunjukkan kepada mereka etika yang baik."


"Siap, Bu!" jawab seluruh mahasiswa.


Bu Anita tersenyum. "Ibu juga berharap semoga kalian semua telah menguasai materi, sehingga tidak ada yang salah dalam menjawab pertanyaan dari masyarakat. Apa kalian semua sudah menguasai materi yang akan diberikan pada mereka?"


"Sudah, Bu!" jawab seluruh mahasiswa dengan kompak.


"Untuk kelompok satu, apa yang akan kalian berikan?" tanya Bu Anita.


Bu Anita bertepuk tangan mendengar jawaban Kana. "Bagus! Ibu suka dengan jawaban dari kelompok satu. Lalu bagaimana dengan kelompok dua?"


Ratih mengangkat tangan. "Izin menjawab, Bu. Kami dari kelompok dua akan memberikan penyuluhan mengenai cara mengurangi resiko jatuh pada lansia, Bu. Sebab, dari yang banyak kami denger, jika jumlah lansia pada desa yang akan kami tuju cukup besar, Bu. Hampir Tiga puluh persen dari mereka adalah lansia."


Bu Anita mengangguk dengan senyuman. "Bagus, sekali Ratih. Baik, menurut Ibu, semua materi yang akan kalian berikan bagus semua dan semoga berguna bagi masyarakat setempat."


"Aamiin, Bu."


"Kalau begitu, kita jalan ya?" ucap Bu Anita dan kembali ke kursinya yang berada di depan.


Tak berselang lama, kini bus yang mereka tumpangi pun mulai melaju. Semua tampak senang. Sebab, ini adalah pertamanya kalinya bagi mereka turun langsung ke lapangan dan memberikan sebuah penyuluhan.


"Cie calon-calon dokter mau penyuluhan," bisik Wilka pada Kevin yang berada di sampingnya.


Kevin tersenyum. "Gak nyangka ya, cita-cita kita buat jadi dokter kesampaian."


Wilka mengangguk dan tersenyum. "Oh ya, Kaila duduk dimana ya?"


"Oh iya! Kayanya dia duduk di belakang deh, dia 'kan kelompok lima," ucap Kevin.


Wilka mengangguk mengerti, lalu berdiri dan menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan sahabatnya tersebut. Senyumnya melebar saat melihat Kaila tengah duduk menatap ke arah jendela.


"Kai!" teriak gadis itu membuat sang pemilik nama menoleh.


Tak hanya Kaila yang menoleh, melainkan Kana. Dan tanpa Wilka duga, Kana dan Kaila malah saling bertatapan.


Wilka menghela napas. "Yah manggil siapa, malah yang pandang-pandangan siapa."

__ADS_1


Kevin tertawa mendengarnya, lalu menatap gadis di sebelahnya tersebut. "Gimana kelanjutan kamu sama Flero?"


Wilka menghela napas dan kembali duduk. "Sepupu kamu gak jelas. Dia setiap di tanyain soal cewek yang nge-DM aku, malah selalu ganti topik yang lain."


Kevin mengerutkan dahinya. "Jadi, bisa jadi Flero ada hubungan sama cewek itu?"


"Ya kalau gak ada hubungan, ngapa dia selalu ganti topik? Kenapa dia gak jawab aja kalau dia gak kenal atau apa gitu?"


Kevin mengangguk mengerti. "Iya, sih. Sorry ya, Wil?"


Wilka mengerutkan dahinya. "Sorry untuk apa?"


"Karena aku udah ngenalin kamu ke dia," lirih Kevin dengan tatapan tak tega.


Wilka tertawa. "Ih, gak papa kali, Vin," ucap Wilka dengan senyuman.


Melihat senyum Wilka, membuat Kevin merasa tenang. Laki-laki menatap gadis di sebelahnya dengan tatapan teduh.


-o0o-


Tak terasa, kini semuanya telah sampai di tempat yang tuju. Sebelumnya mereka menurunkan kelompok Satu lebih dahulu. Sebab, desa yang paling dekat adalah desa yang akan di datangi oleh kelompok satu.


"Vin, pegangin!" seru Wilka saat hendak turun dari bus.


Kevin mengangguk dan meraih tangan Wilka.


Di lain sisi, Kana sudah berada di bawah. Ia berjalan mengitari bus untuk melihat Kaila. Dan di saat yang bersamaan, Kaila membuka jendelanya dan melambaikan tangan pada kekasihnya tersebut.


"Sampai ketemu nanti malam ya?" ucap Kana.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Aku tunggu."


Kana mengangguk. Lalu membentukkan jarinya membentuk hati.


Kaila terkekeh, lalu membalasnya.


"Kana! Ayo!" seru Gisele menganggu sepasang kekasih itu.


Kana menghela napas. "Aku pergi dulu ya?" ucapnya lagi pada Kaila.


Kaila mengangguk. "Hati-hati! Fighting!" serunya membuat Kana tersenyum lebar.


"Kana, ayo!" seru Gisele lagi.


Kaila menghela napas panjang dan menatap gadis yang kini tengah menatap tajam ke arahnya.


"Gue pinjem Kana lo," ucap Gisele dengan tatapan tajam dan mengikuti langkah Kana.


"Ihh, apasih?" ucap Kaila kesal.


"Hati-hati, Kai. Nanti Kana direbut sama tuh cewek. Keliatan banget soalnya gerak-geriknya," ucap Amara, gadis yang duduk di sebelah Kaila.


Mendengar kalimat itu, membuat hati Kaila semakin panas.


Kaila mencoba tersenyum dan menggeleng. "Gak. Kana gak akan tergoda," ucapnya lalu menutup jendela.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2