KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 48


__ADS_3

Part 48


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.


Kaila belum juga tidur hingga saat ini. Wanita itu masih memikirkan suaminya yang belum sampai di rumah hingga saat ini.


Khayla terus memandangi jam dinding. wanita itu terlihat panik dan khawatir. Ia takut terjadi apa apa kepada suami dan juga kakaknya.


Kaila menggigit bibir bawahnya dan bolak balik melihat arah pintu ruang depan dan kembali masuk ke kamar untuk melihat keadaan bayinya.


naka dan kala sudah tidur sejak tadi. Khayla mengambil kelambu untuk menutupi ranjang kedua bayinya dan berjalan keluar untuk menunggu suaminya di ruang tengah.


Perasaan Kaila semakin tidak tenang. Wanita itu terus mencoba menghubungi suaminya, namun hingga saat ini sambungan itu belum juga diangkat oleh Kana.


"Kana, aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan Bima."


'Tok! Tok! Tok!'


Kaila melebarkan mata. Itu ada suara ketukan pintu dari luar. Kaila segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu utama.


'Tok! Tok! Tok!'


"Iya, sebentar!" teriak Kaila dan berjalan bukakan pintu.


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan seseorang di luar sana. Kaila menyunggingkan senyumnya saat laki laki yang ia tunggu telah berada di depannya. Ia menghampiri laki laki itu dan memeluknya.


"Kak Bima!" ucap Kaila memeluk lelaki itu.


Wanita itu benar benar bahagia melihat kakak nya sudah kembali dengan selamat. Ia melepas pelukan itu dan menatap wajah Bima. Ia melihat ada beberapa luka pada wajah Bima. Sepertinya itu adalah bekas luka yang terjadi akibat kecelakaan pesawat waktu itu.


"Kak Bima?" ucap Kaila dengan panik saat melihat luka yang berada di lengan Bima yang cukup parah.


Bima tersenyum. "Ini udah sembuh kok," ucap Bima dengan senyuman.


Kaila mengangguk mengerti. Benar itu adalah luka yang sudah mengering. Namun luka itu terlihat sangat parah. Sepertinya saat itu Bima benar benar terluka parah. Untunglah ada orang baik yang telah menolong kakaknya. Kaila sangat bersyukur akan itu.


"Ayo kak masuk."


Bima mengangguk dan masuk ke dalam.


Sebentar, Kaila merasa ada sesuatu yang kurang.


"Kana mana kak?" ucap Kaila akhirnya.


Benar, sesuatu yang ia maksud adalah Kana.


Bima melebarkan mata. "Bukannya Kana gak bisa jemput?"


Kaila melebarkan mata. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia meraih ponsel nya dan kembali menghubungi suaminya, namun nomor itu tidak aktif.


"Jadi Kana gak jemput kakak?"


Bima menggeleng. "Tadi kana telepon katanya dia nggak bisa jemput aku, terus dia menyuruh temannya si Kevin buat jemput aku."


"Jadi Kevin yang jemput kakak?"


Bima mengangguk.


"Terus sekarang Kevin nya mana?" tanya Kaila penasaran. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan sekarang perasaannya semakin panik dan tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Kana.


"Kevin langsung pergi, katanya dia ada urusan. Memangnya Kana nggak ada di rumah sekarang?" tanya Bima bingung.


Kaila menggeleng. "Kana belum pulang juga. Dia udah pergi dari sore tadi, tapi sampai sekarang dia belum pulang juga. Aku pikir dia jemput kak Bima sekarang. Terus dia ke mana sekarang ya?"


Bima terlihat bingung. Ia pun tak tahu keberadaan Kana.


Terakhir kali tadi Kana meneleponnya dan mengatakan dia tidak bisa menjemputnya sehingga Kana menyuruh temannya yang bernama Kevin untuk menjemput Bima. Dan saat dalam perjalanan, Kevin tidak memberitahu apa-apa.


"Jadi Kevin juga nggak tahu di mana Kana sekarang?"


Bima menggeleng. "Waktu aku tanya sama dia kenapa Kana nggak bisa jemput, Kevin juga bilang nggak tahu. Dia cuma dapat telepon dari Kana dan nyuruh dia buat jemput aku."


Kaila menggigit bibir bawahnya bingung. Ia menoleh pada jam dinding waktu sudah semakin malam. Ia takut terjadi apa apa kepada suaminya tersebut.


"Udah jam 12, dan Kana belum juga sampai?"


'Drrtttt! Drttttt! Drttttt!'


Ponsel Kaila berdering nyaring.


Kaila menoleh pada ponselnya dan menatapnya penuh rasa takut dan penasaran.


Dengan rasa ragu, akhirnya Kaila mengangkat ponsel tersebut dan meletakannya di telinga.

__ADS_1


"Halo?" ucap Kaila dengan perasaan takut dan penasaran.


"Selamat malam, apa betul ini dengan ibu Kaila?" ucap seorang wanita di seberang sana


Kaila Reflek mengangguk. "Iya betul ini dengan saya. Ada apa ya?"


"Baik Bu, terima kasih. Sebelumnya Perkenalkan saya Ria dari UGD rumah sakit Amanda. saya ingin mengabarkan jika ada pasien korban kecelakaan lalu lintas di Jalan Pangeran Antasari tepat berada di depan gedung SMK 1. Korban kecelakaan ini atas sama Kana Bintang Artana. Apa betul ibu istrinya?"


Kaila melebarkan mata. "Iya, betul. Saya istrinya--"


'Prakkkk!'


Kaila terjatuh pingsan. Ponselnya ikut terjatuh membuat panggilan itu terhenti.


Bima melebarkan mata dan mengangkat adiknya untuk membawanya kamar.


Setelah menaruh tumbuh Kaila ke atas kasur, Bima berlari keluar dan mengambil ponsel Kaila. Ia mencoba menghubungi nomor tadi dan untunglah tersambung.


"Halo? apa betul ini rumah sakit Amanda?"


-o0o-


Kaila turun dari mobil bersama Bima, memasuki area rumah sakit Amanda dan masuk ke IGD.


Dua orang itu mencari keberadaan Kana.


"Permisi, Apa ada pasien bernama Kana di sini?" ucap Bima.


Kaila yang berjalan di belakang Bima memperhatikan lelaki itu. Ia baru menyadari dan melihat jika Bima berjalan dengan tidak normal. Kaila Sangat yakin jika itu akibat dari kecelakaan pesawat waktu itu. Namun ia tak ingin membahasnya sekarang. Yang terpenting kali ini adalah mencari keberadaan Kana yang mengalami kecelakaan.


"Biar saya antarkan," ucap seorang Perawat kepada Bima dan Kaila.


Perawat itu membawa Kaila Dan Bima menuju ruangan intensif.


Kaila sudah menangis sejadi-jadinya saat Perawat itu membawanya ke ruangan tersebut. Bima mencoba menenangkan nya dan mengatakan agar ia tetap baik baik saja.


"Kamu yang tenang, Kana pasti bakal selamat. Kamu jangan nangis," lirih Bima.


"Mana bisa aku gak nangis ketika aku lihat suami aku kayak gini?"


Bima mengangguk mengerti. "Iya aku tahu, tapi kamu yang tenang. Kana pasti selamat."


Kaila mengangguk.


Bima tersenyum tipis dan memeluk perempuan itu.


"Selamat malam, saya dokter Dwi yang menangani Dokter Kana. saya baru menyadari jika dia adalah teman saya. Saat warga membawanya ke sini, saya tidak tahu jika itu adalah dokter Kana."


Kaila mengangguk mengerti.


"Kalau boleh tahu, bagaimana keadaan suami saya sekarang dok? Apakah dia baik baik saja? Dia masih hidup 'kan?" tanya Kaila dengan sangat panik. Ia takut terjadi apa apa kepada Kana.


dokter Dwi sedikit menunduk, lalu kembali menatap do orang dihadapanNya dengan senyuman tipis. "Keadaan dokter Kana saat ini dalam keadaan serius, ia sampai sekarang belum sadarkan diri. Kita bisa menunggunya satu atau dua jam. Jika sampai saat itu dia tidak sadarkan diri juga kita menyatakan dia mengalami koma. Yang kita harapkan saat ini adalah kesadarannya, mari kita berdo'a agar dokter Kana segera sadarkan diri."


Kaila mengangguk, namun perasaannya terasa hancur. Jika boleh, ia rasanya ingin pingsan sekarang juga.


"Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi dok sampai Kana seperti ini?" ucap Bima penasaran.


dokter Dwi mengangguk dan mulai menjelaskan semuanya. "Menurut saksi warga, tadi saat hujan sedang deras-derasnya, dokter Kana melaju dari Dari arah Selatan, dengan kecepatan sedang. Karena menurut warga jalan itu lumayan licin sehingga dokter Kana cukup hati hati dalam membawa mobil. namun, dari arah berlawanan terdapat sebuah truk puso Yang melaju sangat kencang yang membuat dokter Kana hilang kendali."


Kaila melebarkan mata. Ia menutup mulutnya tak percaya dengan atas apa yang sudah terjadi kepada suaminya tersebut.


Dokter Dwi terlihat sedih dan kembali Melanjutkan ucapannya. "Warga bilang, awalnya dokter Kana akan menghindari truk itu dan mengarahkan mobilnya ke Sisi kiri. Namun dokter Kana Urungkan karena disisi kirinya terdapat seorang pedagang sate yang sedang berjualan. karena tak ingin menabrak penjual sate itu dan kecepatan truk yang tidak bisa dihindari lagi, membuat dokter karena harus bertabrakan dengan truk tersebut."


Dokter Dwi menghelanapas dan melanjutkan ucapannya. "Sebelumnya dokter karena masih sadarkan diri, dan ia menelpon seseorang yang bernama Bima dan Dokter Kevin."


"Iya saya Bima dok. Lalu apakah Dokter Kevin tahu akan kecelakaan ini?" tanya Bima.


Dokter Dwi menggeleng tak tahu. "Sepertinya dokter Aji tidak tahu kejadian ini."


Bima menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. Air mata laki laki itu mulai menetes. Bima merasa menyesal karena sudah membuat karena Celaka seperti ini. Mau bagaimana pun Bima merasa ini semua karena nya. Mungkin jika ia tidak menelpon Kana dan meminta untuk menjemputnya, semua ini tidak akan terjadi kepada Kana. Dan tentunya tidak akan membuat Kaila menjadi menderita seperti ini. Bima benar benar menyesal pada dirinya.


"Jam berapa kejadian itu dok?" ucap Kaila dengan mata yang sudah sembab.


"Kecelakaan itu terjadi pada jam sembilan malam tadi. warga setempat langsung membawa korban ke rumah sakit ini."


"Lalu bagaimana keadaan supir truk itu dok? Apakah dia selamat?" tanya Kaila.


Dokter Dwi Terdiam beberapa saat, lalu menggeleng. "Terdapat dua korban dalam truk tersebut. Mereka berdua telah meninggal dunia. Salah satu dari mereka meninggal di tempat, dan yang satunya lagi meninggal saat akan dibawa ke rumah sakit. Hanya dokter Kana yang selamat akan kecelakaan tersebut."


Kaila menutup mulutnya dengan perasaan sedih.


"Permisi," ucap seseorang membuat Kaila, Bima dan juga dokter itu menoleh.


"Apa betul keluarga dari korban?" tanya orang itu.

__ADS_1


Kaila mengangguk. "Saya suaminya. Ada apa pak?"


"Saya saksi yang melihat kejadian tersebut. Sebelumnya, saya juga sempat berbicara dengan korban. Namun tak lama dari itu korban tak sadarkan diri."


Bima melebarkan mata. "Boleh saya berbicara dengan bapak di luar?"


Orang itu mengangguk.


Bima menoleh kepada Kaila. "Aku bicara di luar dulu ya sama bapak ini. Kamu jagain Kana."


Kaila mengangguk dan membiarkan Bima pergi bersama orang itu.


"Mari, Pak," ucap Bima dan mengajak orang itu keluar.


Sesampainya di luar Bima mengajak orang itu untuk duduk dan mulai bertanya tentang apa yang sudah terjadi kepada Kana Pada kecelakaan tersebut.


"Saat kejadian, saya sedang lewat untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki. saat itu hujan turun deras, saya melihat sebuah mobil melaju dari arah yang sama dengan saya. Dan di depan mobil itu ada sebuah truk Puso melaju sangat kencang yang membuat mobil tadi tidak bisa menghindarinya. Kejadian itu tepat terjadi di depan mata saya. Saya langsung menghampiri mobil tadi dan mencoba membuka pintu. Keadaan mobil itu sudah benar benar hancur. Untunglah saya berhasil membuka pintu itu dan membawa korban keluar dari mobil. Namun korban Sudah dalam keadaan luka yang cukup parah pada area kepala dan juga tangannya."


Bima mengangguk mengerti dan menunggu orang itu melanjutkan ucapannyaa.


"Saat saya bawa dia keluar dari mobil, dia meminta saya untuk mengambilkan ponselnya dan mencari kontak yang bernama dokter Kevin dan Bima. Saat sambungannya berhasil, saya memberikan ponsel itu lagi kepada dia dan dia mulai berbicara dalam keadaan luka yang cukup parah. Tak lama dari itu, ia mengatakan kepada saya jika nanti ia tidak bisa selamat, ia ingin istrinya yang bernama Kaila untuk tetap menjaga dua malaikat kecilnya. Dia juga mengucapkan maaf sebesar besarnya kepada istrinya karena tidak bisa menemani istrinya hingga dua malaikat kecilnya tumbuh dengan besar."


Air mata Bima sudah menetes dengan deras. Ia tak menyangka karena akan mengatakan hal itu dan seolah olah ia sudah siap untuk pergi selama lamanya.


"Apa betul dia bilang begitu?" tanya Bima.


Orang itu mengangguk. "Dia juga bilang, kepada semua orang yang mengenal dia, dia minta maaf. Dan meminta semuanya untuk mengihklaskan dia jika terjadi sesuatu kepadanya."


Air mata Bima semakin deras. Ia menggelengkan kepala tak habis pikir apa yang sudah Kana katakan. karena tak mungkin meninggal. Bima mengangguk. "Iya! aku sangat yakin Kana nggak mungkin pergi Secepat ini."


"Kalau begitu saya permisi dulu ya mas. Saya harus pulang ke rumah."


Bima mengangguk mengerti. "Makasih banyak ya pak sudah menolong adik saya."


"Sama-sama Mas, saya permisi."


Bima mengangguk dan membiarkan orang itu pergi.


setelah orang itu pergi dan tersisa Bima sendiri di sini, laki laki itu terlihat sangat sedih. Ia mengusap air matanya dan menjambak rambutnya dengan kuat. "Kenapa Semua ini terjadi sama Kana?!"


"Kana, maafin gue! Ini semua gara gara gue!" Bima menjambak rambutnya dan menangis sejadi-jadinya.


-o0o-


Di ruangan, Kaila terlihat sedang menangis sembari memeluk lengan suaminya. Wanita itu menangis di atas ranjang suaminya dengan tangan yang menggenggam suaminya.


"Kenapa bisa seperti ini, Na? Bangun Na, bangun, kamu harus bangun. Demi aku, demi Naka, demi Kala, demi keluarga kamu." Kaila mengusap air matanya dan kembali menatap suaminya. "Bangun, Na. Aku nggak mau kamu gini. Aku nggak mau liat kamu kayak gini. aku mau lihat kamu sehat lagi. Aku pengen liat kamu sadar. Aku pengen lihat senyum kamu lagi."


Kaila menghela napas dan menangis sejadi-jadinya.


"Bangun Na, aku mohon. Ayo bangun demi anak kita. Kita butuh kamu, aku butuh kamu, Na. Aku nggak bisa lihat kamu kaya gini, Na. Bangun, Na. Ayo kita bikin acara aqiqah anak kita. Ayo, Na, anak kita butuh kamu."


Tanpa Kaila sadari, Bima telah melihat ke arahnya. laki laki itu menangis. Ia sangat merasa bersalah kepada adiknya tersebut. "Maafin aku, La. Semua ini gara-gara aku."


-o0o-


Semua keluarga sudah diberi tahu. Mereka semua terkejut dan tak menyangka akan terjadi seperti ini. Mereka senang Bima sudah kembali, namun mereka harus dibuat menangis karena karena hal yang menimpa Kana.


Sudah satu hari karena belum juga sadarkan diri. Dokter mengatakan karena mengalami koma dan tidak tahu kapan laki-laki itu akan sadar. Yang saat ini mereka semua butuhkan adalah doa untuk kesadaran karena.


Kala dan Naka sudah dibawa ke rumah Kavin untuk dijaga oleh Alina sampai Kana keluar dari rumah sakit.


orang tua karena sangat syok mendengar hal tersebut, bahkan Alina sampai jatuh pingsan karena syok dengan kabar yang khayla berikan pagi hari.


Kaila memang mengabarkan keluarganya pada pagi hari tepat pukul 05.00 WIB. Ia tidak ingin mengabarkan malam malam karena ia juga sudah yakin juga keluarganya sudah tidur malah tadi. Selain itu ia tak ingin membuat panik dengan memberi kabar pada malam hari seperti itu.


Dan saat ini, di rumah sakit terdapat Kaila dan juga Aji yang menjaga Kana. Awalnya disitu ada Keiza, namun Aji menyuruh istrinya tersebut pulang karena melihat istrinya sedang dalam keadaan hamil.


Kaila menatap suaminya dengan pandangan kosong.


Aji yang berada di depannya pun merasa tak tega. Ia tahu bagaimana perasaan kelas saat ini. tentu sangat berat menerima kenyataan jika suaminya harus koma seperti ini.


"La."


Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnnya.


"Yang kuat ya? Demi Naka dan Kala."


Kaila menggigit bibir bawahnya menahan agar air matanya tidak jatuh. Wanita itu mengangguk dan mencoba tersenyum, namun sayang, air matanya kembali jatuh.


Kaila menoleh pada suaminya dan memeluknya dengan tangisan.


"Kapan kamu sadar, Na?" ucap Kaila dengan suara parau.


Tanpa sadar, air mata Aji ikut menetes. Laki-laki itu ikut menangis melihat Kaila harus mengalami penderitaan seperti ini.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2